
BUAT YANG KEMARIN TANYA CERITA RAMBO DAN MARWAH----SUDAH TERBIT YAA!!! MAMPIRRR!! KALAU GA MAMPIR AUTHOR NGAMBEK, KAK RAMBO SIAP TEMBAK ಥ_ಥ.
...JUDUL : BELENGGU HATI PAK POLISI...
...BLURB :...
Selama bertahun-tahun Rambo mengutuk diri dalam kehidupan rumah tangga yang telah dibinanya bersama Erin 3 bulan belakang. Sayang, tak ada ruang untuk Erin dalam kehidupan Rambo yang masih memendam cinta lama. Hidup dalam belenggu masa lalu, merasa khianat pada janjinya untuk terus mencari sang pujaan hati yang pergi, Rambo mulai kehilangan jati diri. Namun semuanya berubah ketika suatu malam ia tengah beroperasi untuk menangkap rombongan penjudi di perkampungan sempit, ia dipertemukan kembali dengan sang pujaan hati di masa lalu, Marwah.
Dipertemukan kembali dalam keadaan yang sama-sama telah menikah, Rambo yang tak bisa menahan rasa cintanya pada Marwah, akhirnya terjebak dalam konflik terlarang dalam kehidupan rumah tangganya. Dengan ancaman yang semakin banyak, terutama pada Marwah yang sering mendapat kekerasan dari suaminya, juga Erin yang tak mau melepaskan Rambo, mampukah Rambo melindungi wanita yang dicintainya... Atau haruskah ia menerima hidup bersama Erin selamanya?
"Cintaku telah habis pada satu orang.... " Rambo.
...****************...
...Cuplikan BAB :...
Cinta Sejatinya muncul lagi.
****************
Dengan jantung berdegup dan napas yang terasa tercekik, Rambo akhirnya melepaskan kata nikah itu untuk perempuan lain. Setelah sekian lama memantapkan hati hanya kepada Marwah, perjuangan itu akhirnya harus pupus sementara atas permintaan ibunya yang kedua kali.
"Sudah 5 tahun lewat kamu cari gadis itu, sekarang sudah tidak ada waktu lagi sebelum ibumu ini mati dimakan umur. Menikahlah dengan Erin, anaknya Om Ryan itu. Bapak kamu sudah atur jadwal, kalau masih kamu batalkan ibu bakal bunuh diri, titik."
"Cintaku sudah habis hanya untuk satu orang itu." Jawab Rambo melalui mulut yang sebelumnya hanya terkatup rapat mendengar permintaan ibunya yang hampir putus asa. Tatapannya menyapu pada bayangan Marwah (gadis dalam masa lalunya) yang tampak mengabur sambil terus berlari.
"Ibu tidak minta banyak, cuma mau lihat anak-anak ibu sudah menikah sebelum akhirnya ibu meninggal. Kalau kamu sudah punya istri, ibu bisa tenang. Memangnya kamu tidak sayang dengan ibumu ini? sudah 5 tahun, mungkin gadis itu bukan jalan hidupmu Rambo. Cobalah buka hati untuk gadis lain."
Rambo hanya diam tanpa memberikan jawaban. Yang dapat dilakukannya sekarang hanyalah pasrah.
Benar, 5 tahun sudah Rambo si Polisi gondrong itu mencari pujaan hatinya. Marwah, yang entah sekarang ada dimana batang hidungnya, masih menjadi pemilik dan penguasa cinta si Rambo. Apa yang terjadi padanya kini? sudahkah dia menikah? masihkah dia bernyanyi, menjadi diva di jalan hanya agar bisa makan?
__ADS_1
Sama seperti Rambo, mungkin Marwah yang berada di jauh sana juga memikirkan pertanyaan demikian tentangnya.
Dengan segala desakan dan keputusasaan yang melanda palung hatinya itu, tak pelak Rambo kali ini akhirnya menyetujui pernikahan itu.
Udara semilir di pertengahan siang dan sore, akhirnya menjadi saksi sejarah petualangan Rambo yang terpaksa beristirahat sejenak pada dada seorang gadis bernama Erin.
"Saya terima nikah dan kawinnya, Erina Widya Karisma dengan Mas kawin tersebut dibayar tunai!!"
"Sahh.... "
Akan tetapi, semua itu tidak lantas menjadikan Erin bidadari jiwa yang menarik hanya karena telah sah dipersunting Rambo. Bagi Rambo, Marwah adalah segalanya, meski saat ini ia telah menjadi seorang imam bagi wanita lain. Jiwa dan pikirannya yang tak kenal lelah mengembara pada cinta Marwah dengan perantaraan dua sayap: Janji untuk Marwah dan Cintanya yang tak pernah padam untuknya.
Kecantikan yang dimiliki Erin dan kecerdasannya yang selalu diasah terus-menerus hingga berkilauan, meski dasarnya biasa-biasa saja. Membuat Rambo tak henti-henti memandangnya seperti Marwah, satu yang membedakan dan hanya Rambo yang tahu perbedaan itu; kepribadian keduanya.
"Karena kita sudah menikah, aku mau panggil kakak dengan sebutan Mas!" Ucap Erin, di malam pengantinnya bersama Rambo.
Sementara hak sepatu Rambo mengetuk-ngetuk lantai marmer saat ia mengganti pakaian. Erin tahu ia sedang dicueki. Lagi-lagi. Erin merasakan tatapan mata Rambo yang menusuk dadanya, bahkan di saat sedang mencoba dekat, mencari peluang yang ia tahu takkan ia temukan.
"Kamu bisa buatkan kopi?" Seru Rambo mendekat.
Begitulah jawaban Erin yang belum genap 24 jam menjadi istri Rambo itu.
"Begini, mas. Aku baru saja lulus dan kerja di kantor impian, baru kerja setengah tahun. Harus benar-benar fokus di situ, karena pimpinan baru saja memandangku. Jadi tidak ada waktu untuk di dapur. Dari kecil mama tidak pernah suruh aku kerja-kerja rumah tangga, cuma fokus untuk belajar dan berkarir. Maafkan aku ya Mas!"
Begitulah kenyataannya, meski Erin cantik, kaya, dan cerdas. Dia bukanlah sosok wanita yang sempurna. Dia memiliki kelemahan permanen sebagaimana perempuan pada umumnya dan yang paling penting bagi Rambo, kelemahan ini sungguh berbanding terbalik dengan Marwah. Erin terlalu : Manja, dan kurang perhatian, nyaris bagaikan binatang peliharaan yang terlalu disayang tuannya.
Dia juga terlalu bangga pada sisi intelektualnya sehingga kecerdasannya jadi agak mudah terpengaruh oleh perasaannya. Kelemahan lainnya adalah kemampuannya untuk sadar pada posisi dan kewajiban istri. Erin tak bisa merawat bahkan memperhatikan Rambo sebagai suaminya, dan ia terlalu sadar bahwa hal mendasar itu merupakan cara untuk memanjakan suami dan melanggengkan hubungan.
Pernikahan yang penuh kedataran tanpa kasih sayang dan kedekatan itu, rupanya mampu bertahan lebih dari dua bulan. Masing-masing dari mereka memiliki alasan tersendiri untuk bertahan, Rambo yang tak bisa lagi membantah arahan kedua orangtuanya sampai mati rasa dan Erin yang tak mau menjanda di usia muda.
Hingga hari itu tiba, puncak dari segala pencarian dan penantiannya. Rambo mendapat tugas untuk melakukan operasi penangkapan gembong judi di perkampungan sempit. Ia akhirnya dipertemukan lagi dengan gadis impiannya, Marwah, si pemilik warung kopi tempat para buron main judi.
"Angkat tangan semua!!" Rambo dan rekannya mulai menodongkan pistol pada para pelaku.
__ADS_1
"Ampun pak!"
Kemudian Rambo masuk ke dalam warung untuk cari terduga pelaku yang lain. Namun, yang ia temukan hanya seorang wanita yang sembunyi dibawah meja.
"Pak tolong jangan ditangkap! saya tidak tahu apa-apa, cuma jual kopi saja pak!" Perempuan yang diketahui sosoknya adalah Marwah, memohon histeris di hadapan Rambo.
Harus diakui Rambo, saat mendapati sorot mata dan suara Marwah kembali, jantungnya berdebar hebat seperti ia telah menemukan kembali napas kehidupannya. Tiap guratan di wajah Marwah tak ada yang berubah sedikitpun, masih sama cantiknya dengan lima tahun yang lalu saat mereka pertama kali bertemu.
"Marwah----" Ucap Rambo pelan sekali, persis keadaan tubuhnya yang sekarang lemas tanpa tenaga. Sementara Marwah memberi respon yang sama, mulutnya terkatup rapat dengan mata berlinang.
Puncaknya adalah saat Rambo meraih tubuhnya, memeluknya dalam rengkuhan dadanya yang atletis. Semakin lama dan semakin erat. Meluapkan gairah kerinduan yang begitu hebat, hingga ia lupa pada statusnya sebagai suami dari Erin.
"Kamu masih ada disini! kamu di kota ini selama ini! kenapa pergi dariku.... "
"Om?----"
"Ya, aku di sini Marwah. Kenapa kamu pergi tinggalkan aku waktu itu? aku sudah cari kamu bertahun-tahun. Kamu membuatku merasakan neraka bahkan sebelum aku mati."
Sambil menyeka air matanya, Marwah mulai bicara. "Aku tidak bisa tinggal lagi di dekatmu, Om. Kamu bakal menikah waktu itu, lalu apa maksudmu mencariku bertahun-tahun?"
"Aku mencintai kamu!"
Akhirnya Kata itu terucap setelah tertunda sekian lama. Kata yang sakral untuk keluar dari mulut seorang Rambo. Bahkan tak pernah sekalipun terlontar untuk Erin, istrinya sendiri.
"Omong kosong, kamu bicara apa Om!"
"Aku memang cinta dengan kamu! aku cari kamu untuk mengatakan perasaan ini, tapi kamu sudah pergi jauh dariku. Aku cari kamu kemana-mana, begitu sulitnya sampai aku berulang kali jatuh bangun." Tegas Rambo. "Wajah kamu kenapa? bibir kamu bengkak?"
Sebelum tangan besar Rambo itu menyentuh wajahnya, Marwah segera berpaling.
"Hei coba lihat aku sebentar!" Rambo menegaskan ulang kata-katanya. "Siapa yang menyakiti kamu?!"
"Aku dipukul suami---"
__ADS_1
JANGAN LUPA SUBSCRIBE DAN ABSEN YAAA!!! TA TA