I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 56 - Perjuangan Seorang Ibu


__ADS_3

Malamnya, sekitar pukul 21.13, posisi aku duduk sendirian di kamar, sementara Kak Anta masih bekerja di kantor. Yang aku tahu memang dia memiliki jadwal patroli malam, hari ini. Ku pandangi langit yang legam, sambil berulang kali memainkan tombol power ponsel. Sebenarnya aku ingin sekali mendengar suara kak Anta, aku ingin berada di dekatnya, karena seharian itu entah kenapa aku berubah jadi manja dan mudah terlanda perasaan melankolia, padahal selama kehamilan tak ada masalah serius, tapi seharian ini apapun yang aku lakukan atau katakan, Ingin selalu ada kak Anta di dekatku.


Memang sejak pagi hari aku merasakan sering sakit di perut, tapi aku beranggapan itu kontraksi palsu akibat kelelahan atau banyak pikiran, jadi aku berpikir untuk tidak memberitahukannya dengan Kak Anta. Ya, terlalu banyak pikiran dan lelah, banyak pikiran karena selalu memimpikan Petra yang jahat, dan lelah karena kurang tidur. Mungkin itu alasan kenapa sikapnya berubah menjadi manja aleman.


Tapi tiba-tiba, saat tengah menikmati panorama malam, aku kembali merasakan hal yang sama, keram dan kesakitan lagi. Kali ini jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya, sampai aku tersaruk-saruk menahannya. Rasanya mau jungkir balik, pinggang mau copot agar aku puas dari rasa sakit.


Karena sudah tidak mampu menahan sakit, ku raih ponsel untuk menelpon Kak Anta, tapi tak ada jawaban. Akhirnya ku hubungi dokter Rani, untuk membantu ku.


"Halo Kania, Ada apa telpon malam-malam? Apa terjadi sesuatu?" Ucap dokter Rani dari telpon.


"Dok,---" Aku merintih, "Perutku sakit sekali dokter Rani."


"Hah? astaga! Anta Reza di mana?" katanya, dia mulai panik terdengar dari nada bicaranya.


"Kak Anta masih patroli malam dok, aku sudah telepon tapi tidak diangkat."


"Tunggu di sana Kania, ingat ambil posisi yang paling nyaman. Tunggu aku sepuluh menit, aku segera ke sana!"


Setelah menyampaikan perintahnya, Dokter Rani langsung mematikan telepon dan mungkin langsung bersiap ke mari.


Sekitar pukul 21.30, sebuah mobil berhenti di depan rumah. Beruntung sebelum tidur di ranjang aku menyempatkan diri untuk membuka kunci pintu depan, agar saat dokter Rani sampai dia bisa langsung masuk.


Bersamaan dengan itu, suara lembut milik dokter Rani memekik memanggil namaku.


"Kania....?!"


"Dokter," kataku lirih, "Aku di kamar dok ... "


Begitu aku mengeluarkan jawaban, pintu kamar ku langsung terbuka dan dokter Rani datang lengkap dengan tas berisi alat periksa nya.


"Kania! tunggu biar ku periksa."

__ADS_1


Pemeriksaan berlangsung sekitar 30 menit, dan dokter Rani mulai menjelaskan hasil pemeriksaannya padaku sepanjangan. Setelah merasa lumayan baikan, ponsel ku berdering. Sebuah panggilan dari Kak Anta.


"Kania, kenapa tadi telepon? kamu butuh sesuatu? maaf tadi sedang apel untuk bersiap patroli." Ucap Kak Anta di kejauhan sana.


"Aku sudah periksa dengan dokter Rani Kak, aku sudah pembukaan satu. Kata dokter Rani, mungkin melahirkan antara satu atau dua hari ke depan," jawabku di telepon.


Sontak saja, sama seperti ku, Kak Anta juga merasa kaget saat mendengarnya. Padahal prediksi dokter Rani, aku melahirkan di pekan kedua bulan Januari. Apalagi malam ini Kak Anta ada jadwal patroli malam, semenjak kehamilan ku semakin besar, Kak Anta memang lebih sering minta izin. Dan ku rasa malam ini, jatah izin untuknya akan sulit untuk diberikan Tapi malam ini dia memang telah bertekad, jika tidak diberikan izin pulang lebih awal pun, dia tetap akan pulang ke rumah.


"Aku akan pulang sekarang, tunggu aku di sana sayang! maaf aku tutup dulu teleponnya." Begitu dia menegaskan tadi.


Keesokan harinya, Aku dan Kak Anta segera bersiap untuk menginap di rumah sakit, dokter Rani dan Rambo pun turut membantu. Lalu Kak Anta menyampaikan kabar tersebut kepada atasannya di kantor. Beruntung, alasannya termasuk kondisi darurat dan wajib diberikan cuti, jadi tak ada masalah di kantor.


"Sayang, ada perasaan aneh tidak?" Katanya sambil menggenggam tanganku.


"Belum ada Kak," kataku.


Namun ternyata, setelah menunggu hingga tiga hari, tak ada perkembangan dengan kehamilanku. Hanya ada kontraksi-kontraksi sesaat dan tak tentu intensitasnya. Saat diperiksa kembali oleh dokter di rumah sakit juga dokter Rani, perawat pun mengatakan adalah hal yang wajar jika terjadi kontraksi singkat menjelang akhir masa kehamilan, dan menyuruh kembali memeriksakan kondisi ku ketika aku sudah benar-benar tak bisa beraktivitas.


Akhirnya aku pun berkeinginan untuk kembali ke rumah kami, tentunya dengan izin dari dokter Rani juga. Bahkan setelah kembali ke rumah, Kak Anta rajin membawaku keluar rumah untuk sekedar menenangkan pikiran, kami juga masih sempat pergi ke bioskop dan menghabiskan waktu berdua di taman. Hingga pada hari Minggu dini hari, momen yang telah kami tunggu selama lebih kurang sembilan bulan itu sepertinya akan tiba.


"Ya Tuhan, basah ... " Kataku pelan. Setelah menarik selimut.


Aku menoleh ke bawah kiri, ke wajah Kak Anta. Ku lihat untuk pertama kalinya dia tidur sampai menganga, mungkin sudah sangat lelah. Aku tahu seperti apa lelahnya dia menjalani hari-hari di usia kehamilanku yang sudah tua ini.


"Maaf ya kak," kataku. Lalu aku melanjutkan lagi tidur, meski dengan kondisi kasur yang sedikit basah.


Kemudian pukul 5 paginya, aku mengetahui hal yang sama dan Alih-alih air seni, cairan yang ku keluarkan itu malah tidak berwarna dan tidak berbau, bahkan aku sendiri tidak merasakan saat buang air,


"Apa ini air ketuban?" aku pun langsung menebak, itu pasti air ketuban.


Segera aku menarik ponsel dari nakas dan mencari tahu di internet tentang pecahnya air ketuban dan pertanda persalinan;

__ADS_1


"Apa yang kamu lakukan?" tiba-tiba tanpa ku sadari rupanya Kak Anta telah bangun dan memergoki aku tengah "bermain" dengan telepon genggam.


"Mimpi buruk lagi? kamu ingat kan, harus banyak istirahat. Berhenti main ponsel! sejak kapan kamu bangun." dia langsung menegur ku dan merampas ponsel genggamku, dan menyuruhku kembali tidur.


Namun ternyata, Aku tak mampu menyembunyikan rasa gelisah karena kejadian tadi dan Rupanya kak Anta menyadari raut kekhawatiran terpancar dari wajahku. Kami yang telah hidup bersama hampir satu tahun lamanya langsung mengetahui pasti ada sesuatu yang tidak beres.


"Ada apa Kania? apa yang terjadi?" katanya, kemudian meraih kedua belah pipiku dan menatapku dalam dalam. "Coba tatap aku,"


"Katakan sayang, apa yang kau rasakan, dan apa yang ada dalam pikiranmu sekarang?" dia berusaha untuk mendesak ku dengan nada yang lembut dan tenang


"Aku mengompol dua kali malam ini, kak." Kataku, "Tapi, aku khawatir kalau ini bukan lah mengompol air seni, melainkan sudah pecah ketuban."


Kak Anta langsung bangkit dari kasur dan bersiap ambil kunci mobil. Saat mendekati masa-masa persalinan, memang sudah menjadi kewajiban seorang suami untuk bersiaga, karena itulah ada istilah 'Suami Siaga' (siap antar-jaga), meski Kak Anta terlihat mendengus dan bicara kecil;


"Kenapa tidak langsung bangunkan aku sayang... hal-hal yang seperti ini, harus ditangani dengan cepat dan tepat!" katanya.


Memang wajar kalau dia kecewa padaku karena tidak segera memberitahukan hal tersebut, karena bagaimanapun, sangat penting untuk segera melahirkan bayi saat air ketuban sudah pecah.


"Halo Mbak, pecah ketuban!" Ucap Kak Anta, dia terus telponan dengan dokter Rani sepanjang jalan. "Iya mbak, sudah dua kali." lanjutnya.


Pagi itu, Kami pun bergegas berangkat ke rumah sakit. Setibanya di sana, dokter Rani telah menunggu karena sebelumnya memang kami telah saling berkabar.


Setelah diperiksa, dokter menyarankan agar Kamu tinggal di klinik karena diperkirakan sore hari persalinan akan terjadi. Hatiku bergetar mendengar hasil pemeriksaan dokter tadi, Karena aku pun memang berkeinginan untuk melahirkan secara normal.


Namun ternyata, setelah seharian berada di ruang rawat, hal besar itupun tidak kunjung terjadi, meski aku sendiri sudah menerima induksi dan merasakan kesakitan akibat kontraksi, bahkan beberapa kali mengalami pendarahan. Sakit sekali, seperti nyawaku akan menghilang saat itu juga.


Melihat aku yang tengah berjuang seperti itu, untuk pertama kalinya Kak Anta menangis di dahiku, sambil terus berusaha menguatkan dengan menggenggam kedua tanganku. Dia selalu berbisik bahwa dia benar-benar salut sekaligus terharu, dan sangat menghargai wanita dalam level tertinggi.


Dan aku pun merasakan demikian, ku ingat lagi ibuku yang sudah berada di surga karena melahirkan aku. Beliau meninggal tepat setelah aku keluar melihat dunia, Kesabaran dan ketangguhan seorang ibu benar-benar luar biasa.


Saat tak ada perkembangan, sambil menahan sakit, aku masih tetap berusaha berjalan-jalan di sekitar ruang rawat untuk mempermudah proses partus/persalinan dibantu Kak Anta yang memapah, meski ku rasakan bahwa dia sendiri tengah gemetar. Namun sekali lagi, hal besar tak kunjung datang. Dokter meminta kami menunggu lagi hingga esok hari.

__ADS_1


Sepanjang malam aku terus menahan sakit dan pendarahan. Dan Kak Anta tak henti-hentinya menangis sambil menciumi kening dan pipiku bertubi-tubi, memanglah kami semua menyadari, demi membawa seorang anak lahir ke dunia, kami akan siap bertaruh nyawa.


Perjuangan yang luar biasa dari seorang ibu ....


__ADS_2