
Aku disesaki oleh berbagai perasaan sentimentil yang akan membunuh ku jika ku tatap Kak Anta sekarang. Masing-masing hati kami dipenuhi para Hewan hewan kecil bergigi tajam, yang siap menerkam jika kami salah ambil tindakan.
Kami saling berpandangan, menduga-duga adakah yang berubah pada diri kami masing-masing.
"Aku belum memaafkan kakak, jadi jangan temui aku dulu." Kataku setelah beberapa saat bungkam.
"Masih lama ya? tapi aku tidak akan menyerah." jawabnya sambil menyunggingkan senyum di kedua ujung bibirnya.
Aku hanya diam, hingga kemudian dia merogoh saku celana mencari sesuatu, "Aku mau memberikan ini." ucapnya sambil mengulurkan telpon genggam di tangannya.
"Ponsel?" kataku.
"Kamu boleh periksa dulu, biar percaya."
"Kakak bisa menghapusnya, tidak perlu."
Dia menunduk sambil menghela napas, napas yang dalam. Kemudian di angkatnya lagi wajahnya dan balik menatapku.
Berdiri di depan pintu, bertemu di ruang terbuka, di mana dia masih berdiri di hadapanku dan aku berdiri di muka pintu, sehingga hawa dingin tetap saja menusuk tajam.
"Sampai kapan ya, kita begini? Bagaimana caranya untuk membuatmu yakin?!" Ujarnya.
Ucapannya menyihir ku, mengingatkan aku lagi pada bayang-bayang dirinya yang selalu bersembunyi, bagai fatamorgana yang sulit ku raih. Aku menangkap pandangan matanya yang khidmat dan sendu menyerupai warna temaram buah manggis. Cahayanya berpijar pada kelopak yang kecil di bawah alis yang agak tebal. Auranya terpantul dari caranya menatap, sebab dia tak cukup pandai menyembunyikan perasaan di balik pembawaannya yang kaku.
"Jujur!" Seruku.
"Hah? Jujur?"
"Kamu bisa jujur padaku, kak. Adakah hal yang kamu sembunyikan dariku dan aku tidak tahu?!"
"Apa, ya?" ujarnya sambil mengernyitkan dahi. Menatapku setengah menelisik, seakan mencari kebenaran tentang dirinya dalam diriku. Jarang sekali bertanya seperti ini? adakah yang kamu ketahui tentang diriku? sesuatu yang ku sembunyikan? Mungkin itu lah dalam pikirannya.
"Kalau kamu bisa jujur dan mengatakan semua rahasiamu sendiri, apa pun alasannya, aku akan lapang dada."
Aku balik menatapnya, meski tidak sedingin sebelumnya. Berharap ia mampu jujur dan mengatakan semuanya tanpa ada kebohongan lagi yang tersembunyi di antara kami. Sehingga keyakinan ku akan meningkat seribu persen.
"Tapi----" Katanya, "Aku tidak menyembunyikan apa pun dari mu."
Dia tersenyum kecut dan menunduk lagi, menenggelamkan matanya persis seperti matahari di ujung senja, dia tenggelam dan jadilah langit gelap dan legam bagai arang. Hanya menyisakan harapan dan impian yang menggantung.
"Kalaupun ada, menurutku lebih baik di simpan sendiri dan tenggelam bersama waktu dan debu. Kita hidup begini, apa adanya dan saling menerima. Bukankah semua berjalan biasa saja?" lanjutnya, membuatku kecewa setengah mati.
"Pulanglah Kak Anta!" seruku dengan nada yang agak meninggi. Kekecewaan membuatku lupa dan kalap mata; Aku seorang pendatang berani mengusir seorang tuan dari rumahnya.
"Tidak bisa mengobrol sebentar?"
"Aku mau mengobrol jika obrolan itu penting. Sepenting hubungan kita di matamu."
Malam yang dingin, tak ada bintang. Hanya burung gereja yang berjajar di sepanjang kabel listrik. Kak Anta menelan senyumnya, agaknya dia menelan pil pahit yang sama, kecewa yang sama, dan pilu yang sama, persis seperti yang aku rasakan.
Namun, semua itu ia pendam. Sama dengan caranya menyembunyikan kebenaran tentang dia dan Petra. Tapi, aku akan coba memaklumi. Sebab aku pun tak tahu harus mengambil langkah apa jika memang ini akan dibahas secara terbuka. Bisakah secara baik-baik, atau justru berakhir dengan sakit.
"Maaf jika ada ucapanku yang salah, dan membuat kamu tidak nyaman." Ucapnya.
"Kak Anta, semua kesalahan masih bisa dimaafkan. Bahkan tentang kamu dan Mbak Isma, aku masih bisa memberi kesempatan, asalkan kamu jujur."
Sudah ku katakan, namun dia hanya membeku bagai patung yang baru dipahat. Tak ada yang spesial dari caranya menatap, nampaknya dia akan tetap memilih bungkam. Tetap menyembunyikan sesuatu yang dia simpan begitu baik, hingga baru ku ketahui kebenaran ini dari kecurigaan yang telah nampak selama ini.
__ADS_1
Kak Anta mendekat dan memelukku.
"Terima kasih Kania, senang sekali aku mendengarnya. Baiklah, aku akan pulang. Jaga dirimu, jangan telat makan dan jangan bergadang." bisiknya. Kemudian setelah melepas pelukannya, Kak Anta mengelus rambut kepala ku lembut, penuh kasih sayang. Sentuhannya begitu hangat seperti mentari yang baru terbit waktu pagi.
"Satu lagi----" Ucapnya,
"Jangan menangis lagi ...."
Dia pamit, pergi meninggalkan rumah.
"Jangan lupa pakai helmnya... " Pekik ku, sebelum dia benar-benar pergi.
"Tentu saja, keselamatan nomor satu. Walau jarak dekat sekalipun."
Lantas setelah kepergian Kak Anta itu, aku meletakkan kembali semua oleh-oleh pemberiannya. Memang semua terlihat menggiurkan dan sedap sekali bila langsung dinikmati, tapi entahlah, aku tak nafsu.
Ponselku bergetar. Segera aku mengelap tangan dengan serbet dan mengambil ponselku dari saku. Bodohnya aku berharap itu notifikasi dari Kak Anta, padahal nyatanya itu panggilan telepon dari sahabatnya, Rambo.
"Halo, Kania."
"Ya, Kak. Aku di sini."
"Aku sebenarnya sudah temukan pekerjaan, tapi maaf aku takut merendahkan Anta Reza. Sebab pekerjaan ini, bagaimana ya----"
"Aku paham Kak, aku tidak masalah jadi tukang bersih-bersih, atau kerja jadi pelayan restoran. Aku bisa semuanya, karena aku butuh penghasilan sendiri."
"Karena itu, aku sebenarnya tidak enak beri pekerjaan ini apalagi karena Anta Reza."
"Tidak masalah Kak, jangan merasa tak enak. Aku sangat berterima kasih untuk bantuan kakak, karena aku benar-benar membutuhkannya."
"Oke, aku akan ceritakan. Sekarang?"
"Besok saja, sekalian aku bawa ke tempat kerja kamu. Kalau alasanmu masuk akal."
"Terima kasih, Kak."
"Astaga, maafkan aku ya kalau terkesan menyebalkan."
"Tidak, aku tidak tersinggung sama sekali. Aku mengerti posisi kakak bagaimana. Pokoknya, Terima kasih banyak, ya kak!"
"Syukurlah, aku sampai kepikiran dari tadi. Baiklah, aku matikan teleponnya ya. Jangan lupa istirahat yang baik, besok hari pertama kamu untuk bekerja."
"Siap!"
Berbarangan dengan kata penutup itu, Rambo mematikan Panggilan telponnya.
Demikianlah setelah itu, keesokan paginya aku hampir bangun kesiangan. Di atas langit sana, matahari sudah naik, dan aku terbangun karena sinarnya yang menyilaukan mataku.
Segera ku seka selimut dan bangkit dari tempat tidur, lekas beres-beres lalu pergi bersiap.
Sekitar dua jam kemudian Rambo sudah ada di depan jalan dengan mobilnya yang hitam, terlihat garang persis seperti penampilannya yang macho, seperti Mafia Italia yang selalu siap pistol di tubuh. Dan siap menghantam mu bila kamu buat masalah.
"Hai, selamat pagi." Sapanya dari dalam mobil.
"Pagi, kak. Terima kasih sudah mau menjemput ku."
"Jangan pikirkan. Sebelum ke tempat kerja, aku bawa kamu ke cafe sebentar, ya. Biar kamu lebih nyaman untuk bercerita." Katanya dengan Kaca mata hitam yang bisa kukatakan cukup keren, cocok untuk visual manly nya yang kental.
__ADS_1
Mobil berjalan pelan, menyusuri jalanan yang mulai agak ramai mungkin karena matahari sudah lumayan tinggi. Beruntung aku pakai jaket, jadi aku selamat dari hawa dingin dari AC mobil Rambo yang menusuk. Biasanya kalau naik mobil bersama Kak Anta, dia selalu paham apa yang cocok untukku dan yang telah menjadi kebiasaanku.
Begitu mobil berhenti, sampailah kami di sebuah cafe kecil namun kekinian. Lembut dengan nuansa warna coklat muda dan hijau pastel. Rambo kemudian mengajakku untuk duduk di kursi yang telah dia pilih.
"Jadi, bagaimana?" ucapnya membuka obrolan.
Aku menghirup napas panjang, baru setelah itu mulai mengambil ancang-ancang untuk bercerita; "Aku dan Kak Anta sedang ada masalah---"
Aku bercerita panjang lebar, ku ceritakan semua permasalahan antara aku dan Kak Anta pada Rambo secara runtut dan beratur. Sementara Rambo menyimak dengan sempurna, dengan bertopang dagu dan tak kehilangan kontak mata denganku.
"Karena semua itu, aku butuh pekerjaan. Aku butuh penghasilan sendiri karena aku tak bisa berharap dan bergantung pada Kak Anta. Sebab, dengan semua kenyataan ini, aku yang sudah tahu rahasianya, dan jika dia tahu aku sudah mengetahui semuanya. Aku khawatir baik Kak Anta atau pun aku, bisa berakhir... karena sudah tak ada lagi alasan untuk kami bertahan, selain cinta."
"Berat sekali. Aku tak tahu jika masalah kalian sesulit ini, melihat posisi Anta Reza yang diam-diam saja, aku pikir kalian juga baik-baik saja. Meski memang semenjak menikah, dia sering melamun, tapi aku tahu sebagai sahabatnya dan sudah mengenalnya hampir sepuluh tahun, terlihat sekali kalau, dia itu sayang padamu." Rambo memundurkan tubuhnya dan bersandar pada sandaran kursi di belakangnya. Dia menghela napas berat. Seberat persoalan yang tengah dihadapi sahabat karibnya.
"Aku hanya butuh kejujurannya saja, Kak. Sisanya aku yakin masih ada jalan untuk memperbaikinya, jika memang harus diperbaiki."
"Dia tidak menghindar, tidak juga memperpanjang kebohongan, jangan sedih. Dia masih mempertimbangkan semua yang baik untukmu," ucapnya sambil menepuk-nepuk pundak ku.
Setelah selesai, dan dia mendapati alasan yang dapat dia pahami dengan baik, Rambo bangkit dari kursi, untuk pertama kalinya dia tidak menghabiskan kopi hitam kesukaannya.
"Baiklah, mari ku antar ke tempat kerja."
Aku mengangguk, mengangguk untuk mengiyakan. Sekitar lima belas menit kemudian, kami sampai di depan sebuah gedung yang tak asing, dalam ingatanku. aku pernah datang ke sini sebelumnya.
"Kak? ini?"
"Iya, ini Klinik kakak ku, dokter kandungan kamu juga. Ya, memang pekerjaannya hanya sebagai pelayan bersih-bersih. Tapi, aku setidaknya bisa tenang menempatkan kamu di sini, Kakakku bisa periksa kesehatan kamu, bisa pantau perkembangan janin mu. Kamu juga tidak perlu bekerja terlalu ketat, kalau sudah lelah istirahat. Kakak ku tak akan marah. Ya kan?" Jawabnya sambil melirik dokter Rani yang cantik, yang muncul tak lama setelah kami datang.
"Dasar tengil!" ucap dokter Rani sambil menyikut Rambo dengan gemas.
"Selamat pagi, dokter Rani." Sapaku sambil mengulurkan tangan di depannya, dan Dia membalas uluran tanganku dan menyalaminya.
"Pagi, Kania. Selamat bergabung di sini, dan maaf kalau pekerjaannya kurang pas untukmu."
"Tidak dokter, ini jauh melebihi apa yang saya harapkan. Terima kasih karena sudah mau terima saya bekerja di sini."
"Jangan terlalu formal begitu, oke. Santai saja, anggap kita adalah teman akrab."
"Syukurlah, akur-akur kalian berdua. Kamu juga jangan terlalu kejam dengan Kania, aku berangkat kerja dulu." ucap Rambo menyela, kemudian pergi meninggalkan kami.
"Heh!! dasar!!" Pekik dokter Rani.
"Maaf ya Kania, anak itu memang badung!" Lanjutnya.
Aku hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
...****************...
Halo best..!!!
Author ucapkan Terima kasih untuk semua dukungan kalian selama ini untuk Kak Anta. Satu hal yang pasti, author sangat senang dengan semua tanggapan dan respon kalian untuk tiap bab Kak Anta yang publish. Membalasnya, adalah salah satu kesenangan author karena bisa membuat author merasa dekat dengan kalian 🥺.
Tapi, jujur author mohon maaf karena akhir-akhir ini jarang berkomunikasi lewat komentar, karena kejar-kejaran dengan tulisan perbab. Maaf kan author besstt!!! jangan jera untuk komentar ya, meskipun author belum bisa respon seaktif dulu.
Sekali lagi author ucapkan Terima kasih loppp....
NB : Author akan usahakan untuk update 2-3 bab sehari, tapi kalau bisa 3. Tolong jangan bosan 😔!!
__ADS_1