
Aku tenggelam dalam pelukan Marwah, dan menangis di dalamnya.
"Aku cuma bisa melampiaskannya saja untuk sekarang."
"Aku mengerti, tak apa. Jangan menanggungnya sendirian, kamu masih punya tempat untuk berbagi." Ucap Marwah setelah melepas pelukannya.
Ia memelukku lagi, erat. Dia mengelus-elus punggungku dengan hangat, sementara aku kembali tenggelam di dadanya, terharu dan sedih. Kemudian dia mengangkat wajahku, dan dibenahinya rambutku yang kusut.
"Kita masak sekarang yuk?! biar ku bantu."
Aku mengangguk kecil sambil menyeka sisa manik bening di pelupuk mata.
"Eh, omong-omong. Kalau ku perhatikan kamu sudah akrab sekali dengan Kak Rambo," Aku senyum simpul untuk melihat reaksi Marwah.
"Om Gondrong?"
Dasar Marwah yang polos dan lucu, suka sekali memberi panggilan unik untuk orang lain, "Iya," kataku tertawa kecil karena ucapan Marwah.
"Kakak. Panggil dia kakak, Marwah."
Dia tersenyum manis sambil menguncir rambut panjangnya ke belakang.
"Tapi lebih cocok dipanggil Om .... " katanya.
Sambil memotong sayur aku tergelak kecil mendengar seloroh Marwah yang menggoda, "Kalau lihat sikap kamu sekarang, aku jadi teringat tentang ku dan suamiku dulu waktu awal kami bertemu kemudian menikah."
"Oh, ya? bagaimana?"
"Dulu, sama seperti kamu. Aku panggil suamiku dengan sebutan 'Pak'. Dia protes waktu itu katanya risih dipanggil begitu sama istri sendiri, jadi aku langsung berubah sebutan dan memanggilnya kakak, Kak Anta." Kataku.
"Kalau suami kamu wajar dipanggil begitu, masih cocok. Mukanya masih muda dan segar. Tapi kalau Om Gondrong----"
"Suamiku dan Kak Rambo itu seumuran loh, mereka satu angkatan." Sergahku.
Marwah menatapku, matanya yang jelita berpadu dalam keindahan kelopaknya yang lentik. Memang, penampilan Kak Rambo jauh lebih sangar dari Kak Anta. Tapi karakteristiknya jauh melebihi dari apa yang ia pancarkan lewat penampilan. Dan bila ku perhatikan, karakter Marwah ini dapat melengkapi Kak Rambo yang mustakim.
Berpikir tentang mereka, aku jadi teringat sesuatu; Kania, bantu aku cari jodoh, tolong! teman sekolahmu dulu juga tidak apa-apa. Aku pusing!
Kak Rambo pernah mengatakan itu dulu padaku, hanya aku lupa kapan. Sudah lama sekali ...
"Kania----"
"Kania?! jangan melamun!"
Begitu aku tersadar rupanya Marwah tengah menggoyangkan telapak tangannya di depan mataku.
__ADS_1
"Kamu melamunkan apa? sampai senyum-senyum begitu." Kata Marwah padaku.
"Bukan apa, aku cuma teringat Kak Anta." Aku menjawab asal-asal sekadar untuk mengalihkan topik pembicaraan tentang lamunanku yang agaknya bakal menemukan jalan.
"Aku hampir lupa, sebenarnya aku cukup terkejut lihat kamu datang hari ini dengan Kak Rambo. Kok bisa?" Tanyaku padanya.
"Dia membantuku Kania. Om Gondrong memang baik, ya tapi aku harus tetap bayar untuk itu. Dia membiayai pengobatan adikku di rumah sakit, dan aku menawarkan untuk menggantinya nanti. Jadi kami sepakat, seluruh biaya pengobatan itu akan ku ganti dengan gaji bekerja dengannya."
"Kerja?" Kataku.
"Iya, aku kerja dengannya." Marwah mengulum bibirnya yang manis, kemudian melanjutkan. "Ya walau aku pun tidak tahu sebenarnya kerja jadi apa, tapi kalau dia sudah perintah aku, aku harus menurut. Jujur ini agak membingungkan, tapi asalkan adikku bisa sembuh, kan tidak masalah."
"Kerja sampai kapan?"
"Aku kerja dengannya sampai gaji ku cukup melunasi biaya pengobatan adikku di rumah sakit."
"Marwah, maaf menanyakan ini. Memangnya gaji kamu dengan Kak Rambo berapa?" tanyaku.
"Begini," dia terdiam sejenak, berpikir. Matanya menerawang ke atas, ke langit-langit dapur yang putih. Lehernya yang jenjang seperti angsa putih yang elok, bibirnya setengah terbuka, menampakkan giginya yang rapi dan dagunya yang runcing bagaikan tombak yang manis.
"Begini," dia mengulang kalimatnya dan membangunkan rasa penasaran ku. "Sejujurnya aku pun tak tahu berapa gajiku. Ah, bodoh. Kok aku tidak tanya dulu ya? aku main setuju saja dengan tawaran Om Gondrong. Kalau tidak tahu nominal gajiku, kan aku tidak tahu kapan lunasnya? ya kan Kania?" tanya Marwah sambil menggaruk kepalanya penuh kegilaan.
"Dalam pemahamanku, ya," jawabku.
"A-ah sial! nanti ku tanyakan dulu dengannya jelas-jelas." Marwah menaikkan suaranya, berpura-pura marah. Padahal aku tahu, dia sebenarnya sedang bersikap kolokan pada keadaan.
Aku tersenyum, ini memang membingungkan. Terutama karena Kak Rambo yang sulit ditebak, dia memang suka membantu dan sangat peduli kadang pula dia terlalu luwes, apakah dengan pekerjaan ini akan ada sesuatu yang mengejutkan?
Malam harinya aku segera pergi ke ruang tamu untuk membukakan pintu depan, setelah ku dengar suara mobil masuk ke dalam halaman. Itu Kak Anta dan sahabat karibnya yang pulang. Ya, memang mereka hari ini tak ada jadwal patroli malam.
"Selamat datang Kak."
Dia segera memelukku, mencium kening ku dengan lembut. Dan aku pun tenggelam dalam dadanya, mengabarkan gairah kerinduan yang sama hebatnya dengan yang kumiliki. Aroma harum parfumnya yang masih membekas, tercium hidungku dan merasuk ke dalam diri.
"Terima kasih, Kania Istriku." Katanya setelah melepas pelukan itu.
"Apa? Kamu mau juga?" sahut Kak Rambo yang baru muncul di muka pintu, sambil melirik ke belakangku, tepat ke arah Marwah yang berdiri kaku.
"Sini, biar ku beri kamu yang begitu." lanjutnya.
"C4bul!!" jawab Marwah dengan sinis sambil melirik ke arah Kak Rambo, berpura-pura benci.
Seketika aku dan Kak Anta kikuk, terlalu rindu sampai lupa kalau kami tidak hanya berdua di sini.
"Ayo pulang, tukang marah!" balas Rambo. "Aku antar kamu ke rumah sakit."
__ADS_1
Marwah mendekat dan berpamitan padaku dan Kak Anta. Kami menunggu di teras sementara mereka mulai beranjak dalam tatapan ku. Sayup-sayup ku dengar mereka ribut lagi...
"Om, kamu mau gaji aku berapa? Kerja-kerja saja tapi uangnya tidak jelas! bagaimana mau bayar hutang kalau nominal uangku saja tidak ada." Ucap marwah.
"Baru pulang, langsung bahas uang!" Jawab kak Rambo.
"Nanti aku lupa, Om!"
"Halah! tidak usah berkelit begitu, aku paham sekali, itu sifat alamiah wanita."
"Paham sifat wanita, tapi sampai sekarang masih jomblo!"
"Singgung saja terus soal itu. Kalah sedikit mulai bawa-bawa status." Jawab Rambo ketus.
"Jangan marah lah, Om!"
"Hatiku terluka, tahu!!"
Keributan itu tidak hilang, bahkan saat mereka beranjak dengan motor dan perlahan mengabur dalam tatapanku. Tidak terbayang riuhnya mereka kalau selalu bersama! tapi lucu... dan aku suka.
"Sahabat kita itu cocok sekali ya?!" Sahut Kak Anta membangunkan lamunanku.
"Maksudnya?" tanyaku.
"Kamu bakal paham nanti. Masuk yuk!"
Sampai di kamar setelah makan malam, kami menghambur di ranjang jelita, pembaringan tempat kami berbagi cinta. Dan beruntung, malam ini Rania tidak rewel, dia tidur pulas dalam crib nya.
Aku tidur dalam pelukan Kak Anta yang hangat, harum tubuhnya bagai kembang di taman kembali hadir dalam diriku. Nikmat dan menenangkan... apalagi saat Kak Anta menopang kepalaku dengan lengannya yang kekar penuh otot.
"Marwah kerja dengan Kak Rambo untuk ganti biaya pengobatan adiknya." Kataku sambil mendongak menatap wajah Kak Anta yang rupawan.
"Oh, ya?"
"Iya, tapi Marwah tidak tahu nominal gajinya berapa dan kerjanya jadi apa. Ini di luar kebiasaan Kak Rambo, aku sempat bingung tadi kak."
Mendengar ucapanku Kak Anta langsung tertawa, "Rambo itu tidak memperkerjakan Marwah, kok. Cuma istilah saja!"
"Maksudnya kak?"
"Kamu bakal paham nanti. Tidurlah! aku mau lihat Rania." Katanya.
"Rania kan sudah tidur?! Mau lihat apa lagi?" kataku.
"Mau lihat Rania sudah besar belum, biar kita bisa beri adik untuknya... "
__ADS_1
Dasar Kak Anta!!!!!!!! dia tahu sekali membuat wajahku merah dan jantungku berdebar hebat.