I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 37 - Di Malam yang Dingin


__ADS_3

Ternyata benar Perasaanku selama ini tentang mereka, prasangka ku itu di perkuat saat Mbak Isma sendiri yang mengatakannya tadi siang, bahwa dia menginginkan Kak Anta kembali sebagai lelaki dan bukan sekadar teman. Dia bahkan menyumpah untukku, atau dia hanya sedang mendesak ku saja.


Aku tak tahu apa yang akan terjadi. Yang pasti, malam ini aku merasa begitu lega, berbagi kesendirian dengan bintang di langit. Oh, sayangnya sejauh aku membagi pikiran dengan bintang, aku tak mampu memalingkan bayangan Kak Anta. Dia sekarang sedang apa? tinggal di mana? sudah makan atau belum.


Baru satu hari, dan aku langsung merasa sendiri. Dari jauh sana, apakah Kak Anta juga memikirkan aku? atau apakah dia tengah menengadah kepala menatap langit yang sama?


"Apa aku coba hubungi Kak Anta tentang kejadian hari ini? apa aku terlalu berlebihan minta kami berpisah sementara waktu? atau apakah lebih baik jika aku minta Kak Anta kembali dan saling memaafkan?"


Malam begitu damai meski jangkrik terasa ramai dan udaranya tidak sedingin malam kemarin, saat aku dan Kak Anta ribut. Rembulan menyala walau tidak terang, demikian pula layar ponselku yang dari tadi ku kotak katik, hidup mati, sehingga terlihat seperti lampu motor. Aku duduk tenang sambil melihat ponsel...


Sepertinya aku sedang mengharapkan kehadiran Kak Anta...


"Tidak, Aku harus memberi ruang untuk Kak Anta berpikir. Ini untuk kebaikan kami semua." Pikir ku.


"Tapi seharusnya bukan aku yang tinggal di sini, karena ini adalah rumah Kak Anta."


Saat tengah memikirkan tentangnya itu, ponsel yang dari tadi ku mainkan bergetar. Sebuah notifikasi yang dari tadi ku tunggu dan ku harapkan, sebuah panggilan masuk dari Kak Anta.


"Halo, Kania??" Sapanya dari kejauhan sana.


"Ya kak."


"Maaf menelpon malam-malam. Kamu sedang apa?"


"Kakak tinggal dimana?"


"Jawab pertanyaanku dulu, baru aku jawab pertanyaanmu."


"Aku sedang melamun melihat bintang."


"Malam ini memang beda, bintangnya berserakan lebih banyak. Tapi, bulannya agak pasi tertutup kabut. Aku pun tengah menikmatinya, malam yang dingin begini. Omong-omong susu hamilnya bagaimana? sudah diminum?"


"Sudah." Jawabku singkat, "Kak Anta belum jawab pertanyaanku. Kakak tinggal di mana?"


"Suatu tempat, di bawah langit yang sama tidak jauh dari kamu."


"Pulanglah ke rumah, Kak." Balas ku.


"Kamu sudah mau menerimaku lagi?"


"Rumah ini adalah milik Kak Anta, bukan aku yang seharusnya tinggal di sini. Pulanglah, biar aku yang keluar."


"Jangan, tidak bisa. Kalau kamu yang pergi bagaimana aku akan menjemput kamu?"


"Seyakin itu kakak akan menjemput ku? memang sudah pasti bisa melepaskan Mbak Isma?"

__ADS_1


"Tentu saja," Kata Kak Anta. "Aku sudah buat kesalahan, aku tahu perbuatan ku telah menyakiti kamu. Tapi, aku berharap belum terlambat untuk merubah dan memperbaiki semua yang hampir rusak. Mungkin ini adalah cobaan kehidupan yang Tuhan berikan untuk rumah tangga kita, lewat hatiku yang sempat goyah, lewat janjiku yang hampir khianat, dan lewat Masa lalu yang datang lagi mendekat."


Aku terenyuh oleh kata-katanya yang menyentuh, menggetarkan seluruh ragaku. Jiwaku terasa penuh, hidupku seketika menjadi luas tak berbatas. Segala yang keruh dalam perasaanku tersaring sedemikian rupa hingga yang tinggal menyisakan suasana yang jernih, semacam kata dari hati yang tidak semata kata hati, melainkan kata hati yang didukung oleh suatu kesimpulan yang lahir dari perenungan yang panjang. Meski bukan aku yang menemukan kesimpulan itu, aku merasa begitu bahagia dapat mendengarkannya dari hasil perenungan seharian ini, sehingga membuatku harus melipatgandakan rasa syukur atas jawabannya ini.


"Kania... Kamu masih di situ?"


Saat suaranya terdengar, aku menyadari sudah berapa waktu ku habiskan untuk melamun dan terdiam.


"Ya, Kak. Aku di sini."


"Terima kasih sudah memberikan aku kesempatan." ucapnya pelan.


"Jadi, Karena itu Kak Anta blokir Mbak Isma? Karena itu Kak Anta tidak menjawabnya lagi?"


"Kamu tahu?" tanyanya padaku.


Aku kembali terdiam, aku menatap ke depan sambil menggigit bibir. Hingga akhirnya ku putuskan untuk memberitahu Kak Anta perihal peristiwa tadi siang.


"Tadi siang Mbak Isma ke sini, Dia cari kakak dan marah-marah padaku karena Kak Anta blokir nomor ponselnya."


Kak Anta diam sejenak, kemudian menjawab dengan nada yang lembut, selembut desiran angin malam ini.


"Maafkan aku, ya. Semua ini salahku jadi sampai panjang dan selarut ini. Tapi, jika boleh jujur aku memang tak berniat kembali pada Isma, jika aku sudah mengatakan maka aku pasti akan membuktikan, sama seperti saat aku "memilihmu untuk selamanya" waktu dulu. Niatku memang murni untuk membantunya, meskipun mungkin aku masih belum bisa melupakan dia sepenuhnya. Pada intinya ini semua memang kesalahanku karena terkesan memberi harapan dan malah menyakiti semua orang."


"Meskipun kalian masih saling cinta? Kak Anta tidak berharap untuk kembali menjalin kasih dengan Mbak Isma? Sedikitpun?"


"Baiklah, tapi ucapan ini bukan berarti aku telah mempercayai kakak. Karena ini masih hari pertama kita hidup terpisah, aku khawatir ini hanya sekedar kata-kata dan janji manis."


"Aku mengerti. Aku akan menemani dan meyakinkan kamu meskipun dari kejauhan. Aku akan segera menemui kamu lagi di rumah jika sudah berhasil membuatmu yakin denganku lagi."


"Omong-omong, Kakak tidak patroli malam?"


"Tidak, hari ini libur. Kamu tidak ingat?"


"Maaf, lupa."


"Sudah makan malam?" balasnya.


"Ya, sudah. Kak Anta bagaimana? Makan apa?"


"Kamu masak apa? kalau tadi aku makan nasi ayam goreng di kedai dekat kantor, bersama Rambo. Kamu ada mau sesuatu? aku akan belikan sekarang."


"Tidak Kak. Aku sudah masak sayur bening dan ayam goreng."


"Pasti enak. Kalau begitu tidurlah, sudah malam. Ibu hamil jangan banyak bergadang."

__ADS_1


"Baiklah, selamat malam Kak Anta."


"Selamat tidur, Kania. Sampai ketemu sebentar lagi... "


Begitu telepon ku matikan, aku terdiam lagi sejenak, berpikir. Mataku menerawang ke atas, Ke langit malam yang kelabu, Malam kian meraja dalam keagungannya, dengan bintang-bintang yang berkedipan. Angin malam berdesir kian kencang. Tubuhku menggigil.


Aku kembali ke kamar untuk langsung tidur, namun sebelum ke kasur aku mencari selimut tambahan di lemari, bahan pelengkap untuk melindungi tubuhku dari dinginnya udara malam ini.


Sementara aku membuka lemari, mencari-cari selimut, yang rupanya ada di atas sebuah koper. Koper tua yang sudah di diamkan sampai berhari, berbulan, bahkan mungkin bertahun di bagian paling atas lemari pakaian. Karena penasaran ku ambil dan ku bersihkan debunya, lalu ku buka pelan-pelan; Di dalamnya ada sepotong seragam Sekolah Menengah Atas yang warna putihnya telah berganti kekuningan, ada pula Arloji saku model lama yang terlihat mahal jika dilihat dari bentuk dan ukirannya. Dan terakhir ada sebuah album foto.


Wajahku langsung memerah ketika pikiran menyeloroh datang, album foto adalah benda keramat yang menyimpan kenangan di masa lampau, yang bila di buka dan di lihat kembali isinya, kita akan hanyut tenggelam dalam momen dan suasana saat sebuah gambar di abadikan.


Dengan pelan ku buka cover albumnya, gambar pertama yang sudah usang; ada tiga orang, seorang wanita duduk di kursi sambil memangku seorang bayi, dan seorang pria berdiri di belakangnya.


"Ini pasti ibunya Kak Anta, ternyata ketampanan Kak Anta itu menurun dari ibunya."


"Yang ini ayah Kak Anta?" kataku.


"Ayahnya ternyata seorang tentara, gagah seperti Kak Anta."


Kubuka lagi lembar selanjutnya, masih gambar yang sama, kebersamaan antara Kak Anta dan kedua orang tuanya. Hanya berbeda suasana saja, dimana lembar per lembar menunjukkan perubahan usia pada Kak Anta.


"Keluarganya harmonis sekali... " Pikirku, "Pasti mereka sangat bangga karena memiliki anak yang luar biasa. Sayang sekali... aku belum pernah bertemu mereka."


Aku mendongak Ke atas, mengawang pada dinding langit langit kamar yang biru.


"Tapi kalau bertemu mereka... belum tentu aku dan Kak Anta bisa menikah," Kataku sambil menghela napas panjang, "Lagi pula orang tua mana yang rela jika anaknya menikahi perempuan yang tidak suci lagi. Hamil di luar nikah."


Aku sempat menjadi pilu, namun langsung ku seka perasaan itu. Kemudian melanjutkan buka lembar selanjutnya.


"Ini Kak Anta waktu kecil, bahkan waktu kecil pun dia tidak senyum." Kataku mulai mengejek saat ku lihat foto formal Kak Anta yang berdiri sendirian setengah badan, begitu kaku dan seram.


Ku buka lagi lembar selanjutnya, di bagian ini Kak Anta tidak foto bertiga lagi, tapi sudah beramai-ramai dan dia sudah pakai seragam polisi kebanggaan. Saat itu, badannya terlihat kurus dengan rambut botak hampir pelontos.


"Oh, ini keluarga besarnya? di sini Kak Anta masih muda sekali, tapi aku masih bisa mengenalinya. sepertinya dia masih SMA. Orang tuanya sudah tidak ada disini."


Dan sampailah aku di lembar paling akhir; ada sebuah foto formal Kak Anta setengah badan berdua, bersama seseorang yang usianya mungkin jauh lebih muda dari Kak Anta.


"Lalu disini ada Kak Anta yang sudah pakai seragam, dia berfoto berdua dengan... "


Aku memasati foto itu dengan mata menyipit, berusaha menerawang seseorang yang ada di samping Kak Anta. Seseorang yang menurutku tidak asing, seperti pernah melihatnya. Meskipun dalam foto ini, usianya mungkin sekitar empat sampai lima belas tahun.


"Petra?" Kataku sambil mengernyitkan dahi.


"Ini mirip Petra."

__ADS_1


Sekedar mirip, atau memang itu adalah Petra?


__ADS_2