I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 53 - Aku Sudah Mencintai Kamu


__ADS_3

"Apakah suatu saat kakak bisa membuka hati dan mencintai aku? sama seperti malam ini, saat Kak Anta mengizinkan aku untuk tidur di samping kakak?"


"Aku sudah mencintai kamu."


"Dari awal aku tatap matamu, kamu menarik ku untuk terus menyelami kehidupanmu. Di saat air matamu jatuh karena perbuatanku, betapa kecewanya aku, dan di saat kita mulai terpisah, aku mulai menyadari betapa gundahnya hidupku aku terus merindukan kamu, karena itu aku selalu mencari-cari alasan untuk bisa bertemu dan melihat kamu, mengantar susu, beli buah, beli rujak, menelpon, semua aku lakukan untuk melepaskan hasrat kerinduan ini."


"Aku sangat mencintaimu, Kania. Kau seperti udara yang ku hirup, dan tanpamu aku kesulitan bernapas dan hidup. Kamu adalah alasan kenapa badai harus berlalu, layaknya matahari saat pagi. Ternyata hatiku memanggil namamu, aku mencintai kamu." Ujarnya dengan napas yang berat.


Dia terdiam sejenak membetulkan posisi tidurnya, lalu kembali berkata.


"Bagimu mungkin ini sesuatu yang aneh. Bagaimana mungkin aku bisa mencintaimu? aku adalah pria yang terakhir kali mengaku masih butuh waktu untuk menumbuhkan rasa padamu. Tapi, rupanya aku salah menilai hatiku sendiri. Aku mencintaimu."


Aku gemetar mendengar suaranya. Aku membisu, apa yang baru saja dia katakan masih terngiang di telingaku. Aku mencoba untuk meragukannya, tapi kalimatnya hidup lagi, tepat setiap saat aku mencoba menatap matanya.


"Kata-kata ini ... yang selama ini ingin aku dengar." kataku.


"Ku nyatakan cinta ini karena ini memanglah milikmu, sebab kepadamu lah cinta ini dialamatkan. Dan sungguh jahat menyembunyikan sesuatu kepunyaan orang lain. Maka bukan kuasaku melainkan kuasa cinta ini lah yang membuatku harus menyatakannya kepadamu. Kita harus bersyukur untuk semua perasaan ini." tegasnya.


Malam kian terasa sunyi. Ada sebutir bintang yang menyendiri, jauh dari gugusan bintang di sekitarnya. Namun bintang itu begitu terang dan sangat tegar dalam orbitnya di puncak cakrawala sana. Barangkali Kak Anta dan aku tak jauh berbeda dari bintang itu. Kami menanggung nasib sendiri-sendiri, dan perasaan sendiri-sendiri, namun perasaan cinta itu tak lekang atau hilang hanya karena gelapnya malam, dia akan semakin bersinar dan terang ... meski kami sendiri tak menyadari kapan perasaan itu datang.


Ku pandangi lagi Kak Anta, dia masih menggenggam tanganku. Aku terharu, bersama angin yang berkitar di dalam kamar, saksi sejarah baru telah tercipta.


Dia melihatku dengan mata coklatnya yang jernih. Dan begitu ku tangkap sorot mata itu, perasaanku membuncah, seperti ombak yang berdesir.


"Aku juga mencintai Kak Anta." Kataku. "Aku tidak akan lagi menemui pelita lain untuk menerangi jalan hidupku selain pada kakak."


"Begitu juga aku. Tema pembicaraan kita malam ini begitu sentimentil, sehingga kita jadi terjaga. Tapi, sekali lagi aku ingin mengingatkan, bayi kita tengah berkembang. Mari istirahat! kamu harus menjaga dirimu untuk terus fit, karena aku tak mau jika kamu atau bayi kita sakit."


Aku terdiam, lalu dia menarik bantal dan mendekati ku. "Kemari lah, biar ku peluk."

__ADS_1


Dia memelukku erat dan aku tenggelam dalam dadanya yang hangat. Ku rasakan kenikmatan dan ketenangan dalam dekapannya, hingga mataku mengerjap dan perlahan pandanganku mengabur. Semua bagai mimpi ...


Hingga terakhir ku rasakan saat dia mengecup keningku beberapa saat.


Sekitar pukul delapan pagi, besok harinya. Aku mulai bersiap untuk pergi ke klinik dokter Rani, karena hari ini adalah jadwal untuk periksa kandungan setelah bulan kemarin. Awalnya aku ingin pergi sendiri, mengingat kondisi Kak Anta yang baru pulang dari rumah sakit, tapi setelah aku izin ketika kami sarapan tadi, dia langsung memaksa untuk ikut.


"Kak, biar aku sendiri saja ya? nanti ku sampaikan pada dokter Rani kalau aku akan mundur dari pekerjaan." Kataku.


"Tidak, aku sudah sehat Kania. Jangan di cemaskan. Aku harus melihat langsung bagaimana kondisi kehamilanmu, juga harus ku temui langsung mbak Rani untuk meminta maaf karena kamu tidak bisa lagi bekerja dengannya okay?"


"Baiklah, Kak. Tapi kita naik taksi saja." Lanjut ku meski sedikit berat hati, karena masih mencemaskan kondisi kesehatan Kak Anta.


Kak Anta mengangguk, mengangguk kecil, demi menjaga gengsinya.


Akhirnya setelah merasa lumayan beres, kami berangkat dengan taksi yang sebelumnya sudah dipesan Kak Anta secara online.


Kami terus melaju sepanjang jalan raya yang masih basah dan licin. Pak sopir harus lebih berhati-hati menyetir agar kami tidak tergelincir. Kami terus menyusuri jalanan yang ramai, bercakap-cakap sambil sesekali memandang ke luar jendela.


"Eh, kamu ikut ke sini?" Dokter Rani menghampiri kami.


"Ya, mbak," jawab kak Anta. "Aku sudah baikan, jadi tidak masalah kalau pergi antar Istri. Penasaran dengan perkembangannya."


"Syukurlah," kata dokter Rani sambil melirik ke arahku tersenyum.


Mereka saling berjabat tangan.


"Baiklah, mari ku periksa."


Kami kemudian dituntun menuju ruangan periksa, begitu masuk seperti biasa aroma khas ruang klinik dan rumah sakit begitu menyengat, tapi untungnya aku sudah cukup terbiasa karena selalu rutin membersihkan ruangan ini sebelum Kak Anta terkena musibah dan aku harus kembali fokus untuk merawatnya. Dokter Rani memintaku naik ke ranjang periksa, dan Kak Anta membantu memegangi tanganku agar tetap imbang.

__ADS_1


Begitu berbaring, seperti umumnya Dokter Rani melirikku untuk menarik bagian bawah baju yang ku pakai, kemudian melirik ke arah Kak Anta.


Dokter Rani sempat tercengang, melihat perubahan kami yang jauh signifikan, berbeda dari bulan sebelumnya di mana aku malu untuk periksa di depan kak Anta, dan Kak Anta yang enggan melihat bagian tubuh ku terbuka.


"Sekarang sudah tidak masalah ya, kalau aku periksa. Tidak malu-malu lagi." Ucapnya dengan tawa kecil.


"Maaf mbak, sekarang kami bisa lebih santai." sahut Kak Anta yang begitu tegang menantikan pemeriksaan.


"Nah, memang harus begitu. Baiklah, kita lihat bagaimana si kecil di dalam."


Dokter Rani mulai menempelkan alat yang tentu saja aku tak tahu namanya apa, tapi yang jelas sekali lagi aku bisa melihat bayiku dalam monitor tempat dimana alat itu menjelajah perutku. Rasanya terharu sekali, dia sekarang jauh lebih berkembang dan kelihatannya sangat sehat.


Demikianlah setelah pemeriksaan itu selesai, dokter Rani meminta kami duduk di depan meja kerjanya untuk menjelaskan secara detail.


"Janinnya sehat. Nah, nanti kalau usianya sudah 4 bulan kita bisa lihat jenis kelaminnya. Jangan lupa perbanyak asupan asam folat, karena itu sangat baik untuk ibu hamil. Kania juga jangan terlalu banyak pikiran. Sejauh ini sepertinya itu saja dulu, jaga kesehatan selalu ya?! kalian calon orang tua yang hebat." Ucap dokter Rani sambil memberikan hasil USG dan vitamin penunjang kesehatan lainnya.


Kak Anta mengambil foto dan vitamin itu dari tangan dokter Rani, kemudian berkata; "Terima kasih, mbak. Saya pasti akan berusaha untuk terus mengawasi kesehatannya, makanan dan lain-lain. Kalau boleh tahu, asam folat itu bisa ku dapatkan dari makanan apa saja mbak?"


"Oh, banyak. Dari sayuran hijau, kacang-kacangan, buah juga, alpukat contohnya."


"Baiklah mbak, hari ini akan aku stok di rumah semua itu. Tapi Kania malas sekali makan buah-buahan tok Mbak, kalau dibuat rujak baru dia suka. Memang boleh, kalau setiap hari makan rujak?"


Dokter Rani tertawa kecil mendengar ucapan Kak Anta. Aku langsung tersipu malu, menggelengkan kepala.


"Bisa di variasikan kok. Ibu hamil memang biasanya suka rujak."


"Baiklah kalau begitu Mbak," Jawab Kak Anta. "Sebenarnya ada hal lain juga yang ingin kami sampaikan padamu Mbak, tentang Kania yang kini berstatus jadi pegawai klinik mu. Jujur, aku merasa khawatir dengan kehamilannya jika bekerja terlalu keras. Karena itu Mbak, aku sudah mengajaknya berunding untuk hal ini dan kami sudah menyepakati untuk mengundurkan diri Mbak. Aku harap Mbak Rani tidak keberatan."


Dokter Rani tersenyum. "Aku sangat mengerti kok, Syukurlah kalau kalian sudah memikirkan lagi hal ini. Kania, suami mu sangat memikirkan kamu dan bayi kalian jadi apa pun keputusannya untukmu, memang itu lah yang terbaik."

__ADS_1


Aku mengangguk penuh haru melihat ketulusan dari sorot mata Dokter Rani yang begitu lembut. "Terima kasih, dokter. Aku tak keberatan sama sekali."


__ADS_2