
"Selamat ulang tahun, Kak Anta." Ucapku seraya menyerahkan sebuah kado kecil yang di bungkus dengan kertas bermotif hati berwarna merah muda dengan latar warna dasar merah darah.
Dia memandangku, tersenyum. Senyumannya yang dalam bersama dengan sorot matanya yang berbinar-binar serupa bintang yang berkilauan saat malam dan sebening embun yang menetes dari atas daun. Lantas dia mendekap ku, kemudian menggenggam erat kedua tanganku, lalu berkata dengan suara beratnya.
"Terima kasih Kania. Di usia ku ini, aku senang sekali bisa merayakannya bersama keluarga. Aku, kamu dan calon anak kita yang akan lahir."
Aku mengangguk sambil tersenyum simpul.
"Aku juga."
"Aku juga sangat senang karena kita akhirnya bisa kembali berkumpul. Aku bersyukur karena kamu mau memaafkan kekhilafan ku." Ucapnya.
"Sekarang bukalah kadonya."
"Baik," Dia mengangguk, mengangguk untuk mengiyakan. "Kita lihat apa isinya... "
Dia menunduk agak lama kemudian menegakkan lagi kepalanya, menatap wajahku.
"Kania? ini-----" Ucapnya gugup.
"Aku menemukannya di koper atas lemari. Kalian terlihat sangat akrab ya? coba lihat! Keluarga kakak ya? adik?"
Aku tersenyum kecut, dan dia menyadari perasaanku itu. Raut wajahnya saat ini membuatku sadar, bahwa dia memang bukanlah pria yang ku maksud, pria yang ku anggap terbaik, dengan segala kekurangan dan kelebihannya.
"Kania----"
"Kak Anta, sepertinya aku tahu sekarang apa alasan kakak mau menikahi aku."
"Kania, ini tidak seperti yang kamu pikir..." Sergahnya.
Ku coba untuk tersenyum di hadapannya, namun dia membuat dadaku sempit dan nafasku menjadi sesak. Dia hanya menatapku, tapi aku merasa seperti di cekik olehnya. Pernapasan terganggu karena tenggorokanku di himpit oleh kedua matanya yang memilukan.
"Aku mengerti Kak Anta. Ini semua karena Adik kakak yang menghamili aku, ini semua tentang kasih sayangmu untuk adik. Bukan karena rasa iba semata."
Akhirnya, meski telah susah payah untuk terlihat tegar. Aku tetap saja terisak. Menjatuhkan air mata untuknya untuk kesekian kalinya. Ku tatap dia tak berkedip, Ku pandangi dia meski sambil menangis. Dan aku tak akan kehilangan kekuatan meski sekarang terlihat lemah dengan air mata.
__ADS_1
"Aku tidak tahu kenapa aku sesakit ini saat tahu semuanya kak, kenapa kamu begitu tega? kenapa aku selalu dibohongi? apa kalian memandangku sebagai perempuan gampangan?"
Malam yang panjang dan kelabu, pertemuan kami hanya berisi pertengkaran, cocok dengan kondisi malam yang dingin dan penuh gemuruh petir di mana-mana. Tak ada bulan, tak ada bintang. Hanya awan kabut yang memenuhi langit dan cicak yang menguping.
Lantas dia yang mulai terusik dan tahan, membanting kado itu. Kak Anta menjauh menatapku tajam dengan mata memerah, sisi emosionalnya yang meradang.
"Kenapa kamu berpikir sejauh itu?!"
"Tapi memang itu kenyataannya!" Jawabku.
"Kamu pikir yang korban di sini hanya kamu? kamu hamil karena kesalahan, sedangkan aku mengorbankan hati untuk bertanggungjawab." Kak Anta menaikkan nada bicaranya sambil mengacungkan telunjuk, menunjuk-nunjuk wajahku yang ada di hadapannya.
Aku mendekat, mendekat padanya yang tadi menjauhiku. Ku beranikan lagi untuk menatapnya meski berderai air mata, Ku dongak kan kepala memandangnya dengan angkuh seakan aku di dukung ribuan benda halus lewat spiritual dan aku memiliki keberanian karena itu.
"Lantas kenapa kakak terlibat dalam hidupku?"
Dia terdiam, membisu bagai patung.
"Kenapa?" kataku melotot, "Kenapa kamu memasuki hidupku?" Ku pukul kuat-kuat dadanya yang bidang. Sementara dia hanya diam menerimanya.
"Kamu yang paling tahu, betapa putus asanya aku. Kakak merasa lebih baik, setelah melihatku terpuruk?"
"Sudah berakhir, aku akan menghilang dari hidupmu." Ucapnya sambil mendorong tubuhku, menjauh darinya.
Ketika dia hendak berbalik, mencoba pergi entah kemana. Meninggalkan aku dengan semua kepastian yang menggantung.
"Tidak. Aku tidak percaya satu patah katapun dari ucapan kakak." Kataku agak memekik agar dia mendengarnya.
Dan tentu saja itu berhasil, dia menoleh dan kembali berhadapan denganku. Kini kami saling memandang, saling menerka-nerka apakah yang akan kami lakukan satu sama lain. Apa yang akan terjadi? dan apa yang akan kami hadapi setelah ini? Kata pertama apa yang akan kami ucapkan? lalu bagaimana kami harus memberikan respon.
"Bagaimana kalau begini;" katanya memecah keheningan.
"Karunia Avisha----" "Kau wanita yang ku nikahi Satu bulan dan dua minggu yang lalu. Tetapi, Mulai hari ini, detik ini... Aku Anta Reza menceraikan kamu!"
Hancur hatiku, hancur pikiranku terbang melayang bersama bintang di puncak cakrawala yang tidur.
__ADS_1
AAAAAARRRRRRRKKKKKHHH!!!!
Aku teriak histeris sambil membanting lagi semua barang yang ada di dekatku.
"Aku tidak sanggup! bahkan membayangkannya saja aku tidak sanggup! Kak Anta kamu menjebak ku dalam belenggu kesakitan, menyiksaku sangat dalam."
Baru membayangkannya saja hatiku sudah sesakit ini, rasanya aku tak mampu saat dia mengucapkan perpisahan itu untukku. Benarkah? benarkah kami akan bernasib begitu, ketika aku membahasnya. Mengapa hidup ini begitu sulit---
Bagaimana aku harus menghadapi ini?------
"Kamu obat tapi kamu juga sumber rasa sakit ku."
Suara ketukan pintu menyadarkan aku untuk kembali bersikap tenang, ku hela napas dalam-dalam dan setelah merasa lebih baik aku segera menuju ke pintu depan.
Malam yang larut. Aku terkejut melihatnya muncul di depan pintu. Dia diam, membisu bagai arca. Masih mengenakan seragam kepolisiannya. Dia membawa dua plastik besar berisi oleh-oleh. Dia terpaku, menatapku.
"Kania.... " Sapanya setelah aku membuka pintu rumah.
"Aku datang bawa buah segar dan susu ibu hamil, Aku khawatir sudah habis. Kebetulan di perjalanan tadi aku ketemu rujak buah, ibu hamil biasanya suka. Kamu juga kan? Kamu jarang sekali ngidam, jangan sungkan katakan padaku. Atau memang belum waktunya ngidam, ya?"
"Kak Anta?! Ke-kenapa ke sini?" Jawabku gugup sambil terbata-bata.
Begitu dia mendapati wajahku, dia segera meletakkan oleh-olehnya di kursi teras. Lalu mencondongkan wajahnya ke depan mengerutkan keningnya di depanku.
"Matamu merah dan sembab, kamu menangis? apa ada masalah lagi hari ini? katakan padaku, siapa yang ganggu kamu!"
"Bukan apa-apa," kataku seraya berpaling muka. namun itu tak cukup untuk menghentikan rasa penasaran Kak Anta yang terus mencari sorot mataku untuk bertemu.
"Hei! coba tatap aku. Kamu kenapa? siapa yang ganggu kamu? kenapa sampai menangis? Isma? Isma ganggu kamu lagi? siapa? katakan padaku... jangan diam begini!"
"Kenapa masih saja diam?" Katanya, "Kamu sudah makan, kan?" dia mengambil wajahku dan memegangnya untuk bicara padaku.
"Jangan menangis---" Katanya, memohon padaku dengan mata berbinar, berharap agar aku menangkap isyarat dan perintah hatinya? "Sudah terlalu banyak air mata yang kamu jatuhkan, nanti bayi nya cengeng!"
"Atau kamu menangis karena aku?" Ucapnya.
__ADS_1