
Suasana tenang menyelimuti kami. Suasana tenang yang tercipta dari udara sore yang ramah. Hujan dan badai petir tadi sudah surut dan hawa sejuk mengalir di sekeliling, mengusap-usap punggung dan pikiran yang penat. Ku seduh kopi untuk melawan rasa kantuk yang lumayan mengganggu Kak Anta yang sedang bersiap kembali berangkat kerja, sehingga keadaannya perlahan-lahan kembali segar.
Angin sore berembus mengelus batang leher Kak Anta yang jenjang, sejuk dan silir-semilir. Kak Anta mereguk kopi yang nikmat dan segar. Dia memasang sepatu yang modelnya sangat gagah persis seperti orang yang memakainya. Sementara dia sibuk memasang sepatu, aku tegak di belakangnya, menunggu.
Mataku menerawang ke depan, ke tempat di mana seseorang memasuki pagar rumah kami. ia datang dengan rambutnya yang panjang dan bergelombang, mengenakan pakaian sederhana warna merah yang menarik. Dia tersenyum kepadaku.
Dia, Mbak Isma datang dengan mata berbinar-binar dan wajah yang cerah dan segar. Melihat kedatangannya Kak Anta langsung berdiri. Aku seakan menyaksikan sosok putri yang menebar aroma bunga yang mahal, wangi dan lembut. Dia tersenyum, mungkin agar jiwaku bergetar. Mungkin agar aku menangkap isyarat dalam lirikan matanya. Lihatlah! mau seperti apa pun kamu, masa lalu lah pemenangnya. Aku hanya dapat menangkap kehadirannya yang penuh energi, membiarkan diriku hanyut dan hilang ditelan kalbunya yang memabukkan pria di tengah-tengah kami ini.
"Mas---" Sapanya lembut.
Kak Anta hanya mengangguk tanpa mengeluarkan suara. Lantas setelah itu Mbak Isma mendekat padaku dan langsung menyalamiku.
"Mas Reza tumben sudah di rumah jam segini?" katanya.
"Cuma pulang sebentar Isma, ini sudah mau ke kantor lagi. Ada apa kemari?"
"Di rumah tadi aku buat bubur ketan hitam, agak banyak. Jadi aku mau membaginya untuk Mas dan Kania." Jawabnya lembut sambil menyerahkan kotak makan dalam bungkus paper bag warna abu-abu itu. "Ketan hitam cocok sekali untuk kesehatan ibu hamil, Kania. Semoga kamu suka ya?!"
Aku melirik Kak Anta sebelum menerima bingkisan, dan dia mengedip seakan berisyarat bahwa dia mengizinkan. Setelah itu aku kembali memandang Mbak Isma dan mengambil bungkusan itu dari tangannya, dengan senyum merekah karena kebaikan hatinya yang masih memperhatikan kesehatan janinku. "Terima kasih, Mbak. Tentu saja, Siapa yang tidak suka makanan seperti ini?!"
Di tengah keheningan senja, mataku memperhatikan sosok Mantan Kekasih suamiku yang satu ini, Mbak Isma. Sejak awal hatiku telah mengatakan bahwa dia cantik, dengan wajah teduh dan senyum molek bagaikan kunci surga yang mengandung kesyahduan saat dia mulai menyungging. Dia tampak begitu bersahaja, bukan hanya karna wajah dan penampilannya; Namun juga karena jiwanya yang lebih matang dari dalam.
"Harus! Mas Reza yang tidak hamil saja sangat menyukainya loh, ha ha ...." Mbak Isma terkekeh, bahkan sebelum Kak Anta pergi bekerja. Dia lalu berkata untuk melanjutkan;
"Kamu tahu Kania, Mas Reza itu suka sekali dengan bubur ketan hitam, bahkan sering merebut punya ku kalau miliknya sudah habis! Aku ingat sekali dulu saat kecil, dia meminta padaku dengan wajah memelas. Tapi, aku tidak mau membaginya. Dia menangis, ngadu ke Emak. Cengeng sekali."
__ADS_1
Tawa Mbak Isma itu meledak, saat dia melanjutkan kembali cerita nostalgia antara Kak Anta dan dirinya dulu. "Ku pikir itu hanya terjadi waktu kami kecil. Tetapi rupanya sampai kami dewasa pun dia masih suka merengek untuk dibuatkan ketan hitam. Jadi, saat SMA aku belajar masak bubur ini untuknya. Bahkan sampai kami kuliah, lalu Mas Reza menjalani pendidikan di Sekolah Polisi. Aku sering membuatkan dia bubur ini. Kalau tidak dibuatkan dia bakal marah padaku. lucu sekali, seperti anak kecil. Padahal sudah jadi polisi. ha ha ha----"
Aku menatap Kak Anta. Cerita Mbak Isma itu mungkin mengingatkan dirinya dan diriku bahwa Kak Anta mungkin lebih banyak mengalami hubungan romansa yang intim di usianya yang masih belia dulu dengan satu gadis, dari pada denganku, istrinya. Dalam seluruh hubungannya dengan kaum wanita.
Mbak Isma menyeringai sebelum menatap sekilas ke arahku. "Kamu tidak lupa soal itu kan, Mas?"
Tanpa memberi kesempatan untuk Kak Anta menanggapi, dia kembali menyahut, "Tentu saja ingat. Itu sebabnya Kania, kamu harus cepat-cepat makan bagianmu nanti ya?! kalau tidak dia bakal merayu mu untuk menghabiskan, persis seperti yang dia lakukan dulu padaku." bisik Mbak Isma.
Wajahnya, yang sekuning rembulan begitu dekat dengan wajahku. Ia masih berbisik lembut. beberapa helai rambutnya menyentuh bahuku, sedangkan matanya melirik mataku, Tiap tatapan dan bisikannya itu bagai sembilu yang menyayat hati, Pedih.
Sekilas aku melihat sorot penuh teka-teki yang terpancar di mata Kak Anta. Kenyataan bahwa dia tidak berusaha menghentikan Mbak Isma membuat hatiku dipenuhi kekecewaan. Mungkinkah Kak Anta juga tenggelam dalam bayang masa lalunya, atau mungkinkah ia hanyut dalam nostalgia kebersamaannya dengan Mbak Isma dan merindukan moment mereka itu? Entahlah. Yang jelas aku tak bisa menyembunyikan ekspresi masygul di depannya.
"Isma," Ucap Kak Anta.
Mbak Isma segera berbalik, menatap Kak Anta "Ya, Mas?"
Rupanya dia melihat sikapku yang gelisah, tatapan mataku yang penuh kecewa, dan sakit hatiku karena ucapan mantan kekasihnya. Tapi, yang lebih mengejutkan, dia juga mungkin mengalami hal yang sama.
"Kania mungkin bisa marah karena ucapanmu yang membuatnya kurang nyaman. tapi Karena dia telah menghormati mu sebagai sahabat kecilku, maka aku harap kamu juga bisa menghormati Kania, sebagai Istriku."
"Sahabat kecil," Sahut Mbak Isma, "Maaf Kania, jika kata-kataku membuatmu kurang nyaman. Aku hanya tak mampu bersikap seperti biasa saja saat berdiri di hadapan Mas Reza. Kita sama-sama kehilangan ikatan, kehilangan suasana yang nakal dan ceria. Aku tak lagi bisa membicarakan sebuah film sekadar untuk mengejeknya karena jarang menonton bioskop. Dan dia yang tak lagi memanggilku gimbal semata karena potongan rambutku. Semua itu musnah. Kami berubah secara mendadak, dan terkejut melihat perubahan yang terjadi pada diri kami... "
Dia terisak, tetapi mencoba tersenyum lagi, sambil matanya terus menatapku, seakan sedang menyelidiki perasaanku dengan berbagai lontaran isi hatinya yang selama ini berusaha untuk di sembunyikan; "Bagaimana mungkin kami bisa berubah begitu cepat? Psikolog akan bingung menganalisa perkembangan kami. Tapi sudahlah, psikologi adalah ilmu yang terbatas, sementara manusia begitu penuh dengan kemungkinan."
Aku tetap diam, hanya menatapnya dengan bibir datar.
__ADS_1
"Aku berusaha untuk menerima, tapi ini terlalu menyakitkan untukku yang sudah mendampinginya dari kecil. Menanti dan menemani di semua senang dan sedihnya, bahkan semua alur kehidupannya aku telah mengetahui dengan baik. Saat mendapati Kekasihku menikahi gadis lain bahkan tanpa sepengetahuan ku, meninggalkan aku tanpa alasan yang jelas. Bukan kah kamu bisa mengerti? Hatiku tidak selapang itu untuk bisa menerimanya dengan mudah, Kania."
Aku gemetar mendengar suaranya. Aku membisu, terdiam kaku. Apa yang baru dia katakan masih jelas di telingaku. Aku tak kuasa, melihat Ekspresi kesedihannya yang menyakitkan. Air mata dan suara rintihannya, seperti suara pada piringan yang diputar sepanjang malam. Dan betapa tersiksanya aku apabila harus mendengarnya sampai pagi. Rasa bersalah kembali menghantuiku.
"Isma, pulanglah--" Sahut Kak Anta. "Kamu sudah melewati batas. Biarlah semua berlalu, dan waktu yang akan membuat kita terbiasa. Jadi, lupakanlah."
Senja terasa kian sunyi. Ada burung gereja yang hinggap menyendiri di kabel listrik, jauh dari kawanan burung di sekitarnya. Burung itu terlihat murung, namun tetap tegar pada hinggapan nya. Barangkali manusia tak jauh berbeda dari binatang itu. Setiap manusia harus menanggung nasibnya sendiri-sendiri, perasaannya sendiri-sendiri. Kalaupun kesedihannya dibagi dengan orang lain, tidak serta merta kesedihan itu musnah. Orang berbagi sekadar agar tidak terlalu berat menanggung kesedihan. Dan boleh jadi demikian halnya dengan Mbak Isma.
Ku pandangi lagi dia. dia masih terisak dan mengusap air matanya dengan punggung tangan.
"Dan menurutku, ada baiknya jika kita saling menjaga jarak, berhentilah ke sini dan istriku juga tak akan terlalu dekat denganmu. Semua itu lebih baik untuk menjaga perasaan kita masing-masing." Ucap Kak Anta.
"Maaf, Maafkan aku tidak bisa berjanji---"
Mbak Isma pergi, menghilang bersama siang. Bayangnya menjauh di telan oleh senja yang semakin gelap. Ingin rasanya aku memeluknya, walau hanya sebentar saja, sekadar agar dia tidak terlalu berat menanggung beban perasaan. Tapi, semua itu hanya keinginan yang tak bisa ku wujudkan, karena aku menyadari akulah sebab kesedihannya kala ini.
Tiba-tiba, tanpa gerakan yang dapat ku duga Kak Anta mengusap air mata di pipiku yang aku pun tak sadar kapan dia mengalir,
"Jangan Menangis---" Katanya lembut. Dia kemudian berpamitan untuk pergi ke kantor, tak lama dari itu.
...****************...
Aku tak akan mencerca, tak juga menghakimi. Aku yakin setiap perempuan tahu akan perasaan yang dirasakan Mbak Isma saat ini.
...****************...
__ADS_1
Mampir juga ke sini yuk zeyeng, nanti di kasih love banyak-banyak. Ta.. ta...