
Pada tengah hari yang panas, Rambo duduk santai di sofa tamu untuk menyantap onde-onde kacang hijau yang ia kemas sebagai santapan makan siang. Ia terkejut begitu melamun menghadap langit-langit, awalnya ku kira dia tengah khidmat menikmati bola-bola manis penuh wijen itu. Tetapi rupanya dia tengah memikirkan hal lain;
"Omong-omong kalian akan pulang naik apa besok?" Sahutnya dari sofa sana.
"Aku akan pesan taksi online kak. Kata dokter Rani kalau kendaraan online, waktu subuh pun sudah ada." Jawabku kemudian membuang kulit buah apel yang tadi ku kupas.
Rambo kembali diam setelah menggelengkan kepala, sambil menggosok dagunya yang berjanggut tipis.
"Aku benar-benar lupa soal ini. Jangan pesan taksi, biar ku antar kalian pulang ke rumah. Tenang saja, cukup bayar pakai roti goreng cinnamon waktu itu ... " Katanya menaik-naikkan alis matanya yang tebal dan rapi, "Yang kamu bawa ke klinik waktu bekerja dulu!" Ungkapnya dengan tegas dan detail.
Oh, sialnya! mengapa Rambo malah menyebutkan hal itu, tentu Kak Anta akan menanyakan soal ini. Mendadak suasana hening. Rambo yang polos baru membelalak, sadarlah dia atas ucapannya barusan. Dengan mulut sedikit terbuka, dia bengong, berhenti mengunyah. Benar-benar terlihat bodoh ....
"Oh, maaf. Sudah pukul 13.30, waktu makan siang sudah habis. Aku harus cepat balik ke kantor sekarang." Dengan gelagat cemas, dia pura-pura lihat pergelangan tangannya yang kosong, seakan tengah melihat jam melalui arlojinya yang ghaib.
Dia segera bangkit untuk meraih gagang pintu dan keluar, sementara aku dan Kak Anta masih diam memperhatikannya.
"Besok jangan naik taksi ya! tunggu aku jemput." Tegasnya dengan mata nanar, dan menggaruk punggung kepala.
Kini tinggallah kami berdua, aku dan Kak Anta. Dengan adrenalin yang mengalir deras, aku meletakkan lagi buah kembali ke keranjang dan melesat ke kamar mandi untuk mengalihkan perhatian Kak Anta atas ucapan Rambo yang menyebalkan.
"Maksud Rambo tadi, bagaimana ya?" Ucap Kak Anta, membuat langkah ku terhenti sebelum aku masuk ke kamar mandi.
"Kamu bekerja? di klinik Mbak Rani?" Sambungnya tanpa basa-basi.
Dalam situasi sekarang, rasanya memang bukan waktu yang tepat untuk ku katakan bahwa alasanku bekerja karena butuh penghasilan, agar saat diceraikan Kak Anta aku sudah punya pegangan untuk terus melanjutkan hidup.
Aku diam sejenak, sambil menghela napas setelah puas menggigit kecil bibir bawahku. Ku balikkan badan dan kembali mendekat, menghampiri Kak Anta.
"Ya, kak. Baru, dua minggu tidak sampai. Maaf karena tidak izin dulu dengan kakak." Kataku mula-mula.
"Buat apa, Kania? aku masih bisa beri kamu uang."
"Aku tahu Kak. Kita bahas di rumah saja, ya!" ucapku dengan nada pelan sambil memegang bahunya.
"Kakak baru mau sembuh, jangan dibahas sekarang, nanti di rumah kita bicarakan semuanya secara terbuka dan menyeluruh. Baik dari aku juga dari Kak Anta."
Dia mengerjap menerawang jauh ke arah jendela. Kemudian kembali menatapku dengan sendu. "Baiklah. Maaf, apa pun alasanmu, aku akan menunggu penjelasannya nanti. Jujur aku sedikit terkejut. Terlebih karena aku sangat mengkhawatirkan keadaanmu yang hamil. Aku takut terjadi hal tak diinginkan kalau kamu terlalu lelah."
"Tenang saja, aku akan baik-baik saja Kak." Aku tersenyum. Kemudian memeluknya, "Aku ini calon ibu, ingat? seorang ibu tercipta dengan bahu dan hati yang kuat, aku bisa menjaga diri."
Entah mengapa, kini aku lebih berani untuk menyentuh Kak Anta secara Fisik. Mengingat mungkin karena aku telah merasa semenjak perpisahan itu, kami menjadi lebih akrab dan dekat.
Kak Anta diam terlihat seperti sedang menggumamkan sesuatu yang nyaris tidak bisa ku pahami. Sehingga untuk mengalihkan perhatian Kak Anta dari topik itu, aku berkata; "Tolong ceritakan bagaimana Kakak saat kita berpisah, Kakak tinggal di mana?"
"Huh," Katanya sambil mendengus, "Berat sekali, aku seperti bujangan luntang lantung. Bangun tidur, bekerja, pulang kerja, tidur. Begitu terus, berulang-ulang sampai aku bosan, dan tersiksa kesepian."
"Oh, ya? Kasihan sekali ... " Kataku sambil mengelus lembut rambutnya. "Kakak tinggal di mana waktu itu?"
"Asal kamu tahu saja, aku terpaksa tinggal agak jauh dari tempat tinggal kita. Padahal aku mau sekali mengontrak di rumah Pak Makmun, tidak jauh dari rumah kita bahkan dekat sekali cuma bersebrangan, karena bisa mudah memperhatikan kamu------"
"Terus ... kenapa tidak jadi?" Kataku menyela.
"Aku tidak ingin ketahuan oleh orang-orang dan tetangga kalau kita sedang ada masalah. Kalau aku mengontrak di kontrakan rumah Pak Makmun, sama saja memberi bahan mentah untuk dikonsumsi warga di warung sayur." Katanya menggerutu.
Lantas setelah itu dia berseloroh dengan ekspresi muka yang lucu, memparodikan ibu-ibu saat bergosip di warung Pak Omar.
"Anta Reza dan istrinya sedang ribut besar, sampai pisah rumah."
"Ha ha ha, kakak lucu sekali! Pandai sekali mengejek."
"Aku benar! apalagi kalau kamu ikut belanja di situ, aduh aku cemas sekali bakal banyak korban jiwa di sana. Kasihan Pak Omar." katanya menggelengkan kepala, mulai mengejekku.
"Korban jiwa apa?"
"Kemarahan kamu, kamu bisa gasak habis mereka semua. Seperti nyonya Willis."
"Kan mereka yang salah!" balas ku.
__ADS_1
"Makanya, kamu tuh kalau sudah marah bisa seperti macan purba. Taringnya tajam begitu mengancam."
Dasar Kak Anta yang sudah sakit masih sempat mengejekku. Ku pikir dia adalah orang yang sepanjang hidup akan terus bertahan dengan ekspresi yang kaku dan pelit senyum. Tapi hari ini, aku melihat sisi lain dalam dirinya. Kak Anta itu bila dia sudah membuka diri, dia akan tampil dengan Karakter yang sesungguhnya. Dia orang yang suka mengejek kalau sudah merasa dekat.
"Beruntung kakak tidak ku makan, padahal sering buat aku marah."
"Tapi langsung diusir!" Katanya nakal.
Kemudian pergi tidur. Dan aku masuk ke kamar mandi.
Besok paginya, sekitar pukul delapan pagi. Kak Anta dan aku telah siap untuk pulang dari rumah sakit. Semua pakaian dan peralatan lain telah selesai ku kemas. Sekitar sepuluh menit kemudian Rambo datang dengan gagahnya pakai seragam kepolisian.
"Pagi, bos." dia menyapa dengan penuh semangat. "John Rambo siap mengantar kalian pulang!"
Aku tertawa mendengar humor kecilnya, sementara Kak Anta memasang ekspresi datar yang menyebalkan.
"Sudah izin dengan komandan?"
"Oh, sudah pasti! hal sepenting itu tidak mungkin ku lewatkan begitu saja." Rambo mengedipkan mata sambil tersenyum. Begitu pula aku yang menangkap selera humornya yang ringan. Seakan ingin berkata : Mantap, kalian memang cocok jadi teman, yang satu kaku dan pendiam setengah mati. Yang satu lagi, aktif dan sangat lincah persis ulat bulu.
Ketika dia selesai bicara, sementara Kak Anta masih saja terdiam, tak kuasa melihat tingkahnya yang ugal-ugalan. Rambo menyatukan telapak tangannya di depan dada dan mengangguk kepada kami berdua Kak Anta.
"Maafkan saya, Tuan." Katanya berseloroh. Kemudian bantu mendorong kursi roda Kak Anta juga mengambil tasku untuk di bebankan di bahunya.
"Berat, biar aku saja," kataku. "Kita berbagi Rambo, kamu sudah bantu dorong kursi roda Kak Anta. Jadi biar aku yang bawa tasnya. Atau sebaliknya saja."
Dia terdiam kemudian mendekat ke telingaku untuk berbisik: "Anggap saja ini bayaran karena aku keceplosan kemarin!" Katanya sambil menutup bagian samping mulutnya agar tak terdengar orang lain, terutama Kak Anta.
"Baiklah, terima kasih." Kataku.
Aku tersenyum, demikian pula dia.
Kami pun segera berangkat menuju tempat di mana Rambo memarkirkan mobilnya. Kemudian berangkat dengan lambat dan santai.
Mobil terus melaju. Melewati jalanan yang berkelok. Ini perjalanan yang sulit untuk Kak Anta karena tubuhnya kerepotan menahan guncangan. Untungnya itu tidak lama, karena setelah jalanan berkelok itu, kami masuk ke jalan besar pusat kota.
Setelah perjalanan panjang itu, sampailah kami di rumah. Rumah cat putih dengan model yang tua, tapi tetap terlihat mewah. Begitu keluar dari mobil, rupanya Ibu-ibu baru pulang dari belanja sayur di warung Pak Omar. Mereka cepat-cepat mendekat.
"Pak polisi sudah sehat?"
"Sekarang pakai kursi roda? tidak terjadi hal buruk kan pasca kecelakaan?"
Kak Anta tersenyum ramah, ekspresi yang berbeda saat dia berhadapan dengan Rambo, sahabatnya.
"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, bu. Syukur saya sekarang sudah tahap pemulihan."
"Maaf, Pak. Kami mau jenguk, tapi kata Pak Hadi (ketua RT di lingkungan tempat tinggal kami) kondisi Pak Anta tidak memungkinkan untuk dijenguk ramai-ramai. Jadi kami memutuskan untuk datang menjenguk, kalau sudah pulang ke rumah saja."
Kak Anta menatapku tersenyum dan aku balik menatapnya, kemudian dia mengalihkan pandangan menatap Ibu-ibu yang baik hati meskipun kadang julit. "Saya senang sekali mendengarnya bu, terima kasih sudah berniat baik untuk menjenguk saya."
"Pak Polisi, masuk saja dulu istirahat. Kami mau keliling kasih kabar ke warga kalau bapak sudah pulang ke rumah."
Kami segera masuk ke rumah begitu Ibu-ibu tadi pergi. Kak Anta segera menyandarkan tubuhnya di ranjang kamar setelah dibantu Rambo. Sesekali rasa sakit kembali menyerangnya, membuatku sesekali membantu untuk mengelusnya.
"Sungguh hari yang baik," Rambo membuyarkan konsentrasi ku dari tugas meredakan sakit Kak Anta. Hampir aku jadi kikuk. "lihatlah di depan!" Katanya.
Lantas aku mewakilkan dan pergi ke depan bersama Rambo. Sebuah mobil berhenti di depan rumah kami, tanda akan terjadi sesuatu yang besar hari ini. Dan astaga, yang keluar dari mobil itu adalah karangan bunga yang diantar oleh seorang laki-laki tambun seperti terung dengan rambut keriting mirip daun selada. Dengan tergopoh-gopoh lelaki itu berjalan menuju teras rumah kami.
"Dari Kantor Polisi," katanya.
"Sudah ku bilang ini hari yang indah," Ujar Rambo. "Kesatuan ini memang memanfaatkan aku kalau soal info-info."
Ku perhatikan karangan bunga ini, jika diperhatikan memiliki desain yang tidak biasa. Bunga mawar putih dengan miniatur topi polisi di tengahnya. Di tangkainya yang terbuat dari bambu menggantung secarik kertas berwarna hijau bertuliskan : Lekas sembuh Iptu Anta Reza, Kami merindukan kehadiranmu di kesatuan.
Aku tersenyum.
Baru hendak masuk ke rumah, untuk memberikan karangan bunga ini pada Kak Anta sebuah mobil bak terbuka berhenti lagi di depan rumah. Kali ini seorang pria kurus dengan rambut tipis datang menggotong papan karangan bunga yang besar. Memang terasa aneh, sungguh peran yang tertukar dengan laki-laki pertama.
__ADS_1
"Dari persatuan penikmat sayur Pak Omar." Katanya.
Rambo langsung tertawa. Dan aku hanya tersenyum. Rupanya ibu-ibu di sini sudah pesan karangan bunga, tapi di tahan sampai menunggu Kak Anta pulang.
Di papan besar itu sebuah tulisan dari kumpulan kembang tersusun indah;
SELAMAT DATANG KEMBALI, PAK POLISI! SEMOGA LEKAS SEMBUH.
Rambo berlari masuk ke dalam meninggalkan aku, sambil tertawa keras ku dengar dia mengadu di dalam kamar.
"Lihat! ada yang kirim karangan bunga untukmu besar sekali! Kamu tahu dari siapa?" Katanya berseloroh besar. Sementara Kak Anta hanya memandangnya datar, seperti biasanya.
"Dari siapa Kania?" Kata Rambo menatapku, setelah aku sampai di bibir pintu.
"Ibu-ibu," kataku.
"Bukan, bukan itu ... "
"Persatuan penikmat sayur Pak Omar." Jawabku.
Rambo kembali tertawa, nampaknya hanya dia yang merasa geli sampai terpingkal. Aku ikut tertawa, bukan karena nama kumpulan ibu-ibu yang unik, tapi karena suara tawa Rambo yang menular.
"Sial! sungguh pesonamu memang tak hilang-hilang. Sampai ibu-ibu pun senang melihat kamu."
"Sudahlah, Sudah jam sepuluh. Kembali lah ke kantor, jangan buang-buang waktu."
Rambo langsung cemberut, senyumnya hilang begitu Kak Anta menyuruhnya pulang.
"Sebal. Sudahlah, aku berangkat dulu ke kantor. Ingat kamu harus banyak istirahat!" Katanya, kemudian pamit pergi.
Sesungguhnya aku begitu iri melihat pertemanan Kak Anta dan Rambo yang sangat Akrab. Mereka saling melengkapi satu sama lain, dan selalu mendukung dalam hal baik. Beda denganku dulu, yang pilih teman tapi tidak di saring, pilih yang mana punya lingkup yang besar agar aku bisa punya teman dan pergaulan yang luas. Tapi malah menjerumuskan aku dalam sesuatu yang kelewat batas, tapi balik lagi aku juga tak boleh menyalahkan semua kembali pada caraku mengambil sikap.
"Ini bunga dari kepolisian, cantik sekali. Ku taruh di meja ya?" Kataku.
Kak Anta mengangguk, mengangguk untuk mengiyakan.
Kemudian aku pamit meninggalkan dia sejenak untuk mandi, membersihkan diri dari rasa penat yang mengganggu. Dari segala cenat-cenut kehidupan yang lalu-lalang.
Di sore hari yang cerah, tepat ketika langit senja menjingga, Kak Anta memintaku untuk membantunya duduk di beranda samping rumah, tempat jemur pakaian. Menikmati harmonisasi alam yang menenangkan dan melegakan.
Dia memang menyukai beranda rumah yang teduh, juga pekarangan di mana pohon ketapang yang lebat dan hijau berdiri kokoh, lengkap dengan bunga-bunga dan burung-burung gereja yang berebut tempat hinggap di kabel listrik. Terutama di waktu sore, dia senang sekali duduk di sana untuk membaca buku, bersenandung sambil diiringi gitar, atau sekadar duduk manis menikmati harmoni alam.
Dalam setiap kerjanya selalu tak ketinggalan secangkir kopi di sampingnya, membuat wajahnya yang letih bekerja seharian menjadi segar bugar kembali. Dan yang paling ku sukai adalah bila dia memintaku untuk menemaninya dengan duduk di samping. Persis seperti hari ini, kami duduk berdua menikmati senja sambil mendengar alunan piano dari ponselnya.
"Hari ini banyak yang sangat ku syukuri. Terutama karena Tuhan memberikan ku lagi kesempatan untuk menikmati keindahan ciptaannya yang menakjubkan. Kedua, karena aku juga masih diberi kesempatan untuk menikmati senja ini di rumah, bersama denganmu, Istriku." Katanya lembut sambil menatapku.
Aku terdiam, namun bergetar hebat. Satu hal yang ku pahami, bahwa dia tidak berbohong dari sorot matanya ketika memandangku.
"Ku pikir saat sendirian, aku tak akan bisa lagi menikmati hal kecil dan sederhana seperti ini begitu kamu minta kita berpisah. Jujur aku ketakutan, kadang aku sendiri juga heran."
Dia mengalihkan pandangan ke langit. Menatapnya lembut jauh-jauh seakan dia adalah penikmat senja sejati dan seorang penyair tua bangka.
"Aku ingin kita menyatu, kita sudah ada di rumah. Bisakah soal kemarin, kamu katakan sekarang?"
Aku terdiam lagi, aku tahu yang dia maksudkan tapi aku khawatir untuk mengatakan yang sesungguhnya padanya. Aku takut dia marah, karena alasanku yang sudah kejauhan.
"Kamu tahu, kenapa aku bersikap datar pada Rambo seharian ini? Entahlah, aku masih penasaran dan apakah bisa kamu jelaskan terang-terangan?" Ucap Kak Anta lembut dan tenang.
"Kenapa Kamu bekerja dengan Mbak Rani?" Katanya lagi.
Ku hela napas begitu menangkap pandangan matanya yang dalam.
"Maaf kak, aku begitu karena memang merasa butuh pekerjaan. Sama seperti kakak, aku juga ketakutan. Aku takut kita memang akan terpisah. Dan aku berpikir harus memiliki penghasilan dan menabung untuk biaya melahirkan dan kebutuhan anakku nanti, sebab aku tak bisa bergantung pada orang lain tak terkecuali pada kakak dan Petra sekali pun. Aku harus berjuang hidup secara mandiri untuk anakku ... " kataku.
Aku menunduk, sebelum akhirnya ku beranikan untuk menatapnya lagi di depanku. Kak Anta terpaku dan membisu, matanya tiba-tiba berkaca-kaca lantas menarik tubuhku dalam pelukannya.
"Dengarlah, sekali pun tak ada sebersit niat di hati dan pikiranku untuk berpisah darimu Kania. Apa pun yang akan terjadi aku selalu mengatakan bahwa aku telah memilihmu dan selamanya akan tetap denganmu. Ku katakan ini semua sekali lagi tepat di ujung senja yang hangat, camkan dan ingatlah baik-baik." katanya berbisik.
__ADS_1
"Anta Reza selamanya adalah suamimu, dan anak di kandunganmu sekarang, Anta Reza lah ayahnya!"
Hatiku bergetar, serasa napas begitu sulit untuk ku hirup terutama saat kata-kata itu masuk di telingaku. Aku langsung membeku. Tuhan, lindungilah aku dari segala yang menyilaukan, lindungilah aku dari seluruh kesempurnaan yang engkau ciptakan dan engkau gambarkan pada sosok seseorang di depanku, suamiku, Anta Reza.