
Suatu kali, ketika kami sedang duduk bersama di beranda samping rumah, mengobrol dan menikmati kue serta kue, dia, Kak Anta yang tampan dan baik hati, mengutip sebuah kalimat yang membuatku semakin mengerti bagaimana cinta kami akan terlengkapi, dan tak bisa dihindari, yang harus dimuliakan, dirawat dan dipertahankan; walaupun dulunya cintanya juga membuatku pedih, gelisah, dan merasa sakit tiada tara.
"Kamu tentu tahu siapa ayah kandung Rania," Kak Anta membuka percakapan yang membuatku sedikit sensitif dan cukup menyerang hati.
"Kenapa bertanya soal itu? apa mau bahas masa lalu lagi?" Sahutku.
"Banyak orang yang tidak tahu bahwa menikah dan berpacaran itu sangat jauh berbeda, hubungan dalam pernikahan itu jauh lebih sakral. Begitu sakralnya sampai tiap detil untuk menyatukan dua insan dalam ikatan itu, diatur begitu sistematis dan terperinci."
"Kamu, boleh membenci Alfatra. Tapi, kita berdua tidak bisa menghilangkan kodratnya sebagai ayah kandung Rania. Dan karena status itu, pernikahan kita belum bisa ku katakan lengkap. Sebab, aku bukanlah pria yang menghamili kamu, meskipun aku yang menikahi mu." Ia meneguk kopinya, "Kamu tahu kenapa aku berkata begitu?"
"Tentang pernikahan kita yang menurut kakak belum lengkap? aku tidak tahu." jawabku.
"Sebenarnya, aturan pernikahan tidak memperbolehkan seorang pria menyentuh wanita yang dihamili oleh orang lain, meski dia sudah menikahi wanita itu. Kecuali, orang yang menikahi wanita itu adalah dia yang sudah menghamilinya sendiri. Tidak perlu ada pengulangan nikah untuk mereka, Tapi berbeda untuk kita berdua. Saat itu, aku memang belum terlalu paham tentang pernikahan yang begini, karena itu aku berusaha meyakinkan diri dengan bertanya kepada orang yang lebih ahli, agar kita tidak salah mengambil langkah."
Aku duduk terdiam, menyimak kata-katanya, sambil menikmati penjelasan darinya yang menggetarkan hatiku. Angin sore berhembus, mengirim hawa sejuk. Matanya menerawang jauh, dengan pandangan khidmat, seakan dia pemikir tua bangka. Ia meneguk kopi, masih dengan caranya yang khas.
"Karena aturan itu, aku belum bisa menyentuhmu secara sah. Singkatnya begini, ahli tempatku bertanya soal hubungan kita, menjawab; kalau orang yang menikahi adalah orang yang menghamili kamu, pernikahan kalian tidak perlu di ulang dan dia sah menyentuh kamu. Nah, posisinya sekarang kamu dinikahi oleh pria lain, yaitu aku. Jadi untuk mencapai asas dalam aturan pernikahan itu---"
"Kita harus menikah ulang," timpal ku.
"Tepat sekali."
"Dari dulu aku ragu untuk menyentuh kamu, bahkan tidur di sampingmu pun aku sangat ragu. Bukan karena saat itu, aku belum mencintai kamu saja. Tapi, karena aku memang meragukan keabsahan pernikahan kita. Dan sekarang, aku sudah meyakinkan."
Langit sore terasa begitu teduh dengan awan putih menggantung. Sementara matahari mulai tergelincir ke arah barat, menuju tempat istirahatnya. Di dekat beranda, pada pohon ketapang yang rimbun, mataku menangkap satu atau dua daun yang menua oleh musim dan cuaca, dikelilingi rimbunan daun yang hijau sepenuhnya. Di antara semua yang ada dalam otak Kak Anta, sungguh aku tak pernah mampu menebak apa yang ada dalam pikirannya. Dan selama ini aku hanya berprasangka dari apa yang dia tunjukkan. Aku tak tahu bahwa dalam diamnya, dalam tindakannya, dia sudah menyimpan hipotesis. Dia itu sungguh seorang pemikir yang realistis dan kompleks.
"Untuk menyempurnakan cinta kita itu, kita harus mengulang pernikahan? Kapan? sepertinya akan sangat rumit. Pernikahan satu kali saja, repot sana dan sini. Tidak terbayang jika diulang lagi. Tapi, aku akan menikmatinya selagi itu bersama Kak Anta. Lagi pula tujuannya pun mulia, agar dapat mengabsahkan cinta dalam hubungan kita." Kataku, sambil membayangkan realisasi dari ucapan Kak Anta.
__ADS_1
"Tidak rumit kok, kita menikah lagi cukup dihadapan ayahmu dan dua orang saksi. Dan hmm begini sayang. Cinta itu adalah perasaan yang matang, dan tidak mentah. Dalam cinta, dorongan s3ksual merupakan kekuatan inti yang begitu kuat sekalipun mungkin segala sesuatu yang seksual belum tentu dilandasi cinta-----"
"Seperti yang Petra lakukan padaku," timpal ku.
"Pemikiran orang itu tidak bisa ditebak, karena itu kita harus mampu membentengi diri, meskipun kita mencintai seseorang begitu dalam. Karena itu, seperti yang ku katakan cinta yang matang itu mampu mengalihkan dorongan s3ksual dari pemuasan jasmaniah menuju pemuasan hati dan rasionalitas, sehingga perasaan seseorang menjadi kuat." Kak Anta diam sejenak kemudian mengalihkan pandangan menatap langit.
"Kalau kamu terbenam dalam cinta yang mentah, seperti cinta yang umumnya dirasakan oleh anak remaja belasan tahun seperti kamu dulu. Cinta itu hanya akan membuat kita mati, rusak dan hancur ... "
Kemudian suasana jadi hening, setelah kak Anta diam lagi beberapa saat untuk menikmati kue sampai hampir terkesan rakus. Sementara aku memandangnya dengan saksama, layaknya pengagum.
"Kania---"
"Ya, Kak?"
"Berhubung Rania telah lahir, mari kita menikah lagi! mengabsahkan cinta kita dan melengkapi hubungan ini dengan baik,"
"Kapan?" tanyaku.
"Besok kita berangkat ke kampung, menemui ayahmu sekalian bawa Rania. Aku sudah membicarakan ini sebelumnya di telpon dengan ayah, tidak lupa aku juga menghubungi Rambo untuk jadi saksi. Jadi kita bisa pergi sama-sama besok ke sana."
Begitulah Kak Anta menjelaskan dunia dalam dirinya yang dalam dan matang.
Pagi harinya kami segera berangkat setelah dijemput Rambo, dan kali ini dia datang sendirian tanpa ditemani Marwah. Sepertinya kami memang tak akan melibatkan Marwah dalam rencana kepergian ke kampung. Sepanjang jalan aku berpikir, inilah saat di mana aku dan Kak Anta akan mensakralkan hubungan kami. Mengulang pernikahan yang keadaannya sudah jauh berbeda, di mana kami telah memiliki rasa cinta dan mengasihi.
Sesampainya di rumah, rupanya ayah telah menunggu di depan teras, dengan dibantu Arya, anak tunawisma yang bekerja sebagai pegawai di warung kopi ayah, dia menyambut kami dengan jalan tergopoh-gopoh, sepertinya asam uratnya kambuh lagi.
"Anak mantu dan cucuku sudah datang!"
__ADS_1
"Ayah---"
Aku segera memeluknya, dan ayah mencium ku bertubi-tubi. Aku tahu sudah berapa banyak tabungan rindu diantara kami selama ini.
"Mana cucu ayah?"
"Ini... " Ucap Kak Anta. Kemudian memberikan Rania ke dalam timangan ayah.
"Sania... "
"Rania, ayah." Sela ku.
"Siapa? Vania?"
"Rania, Ayah. Bunga Rania Ananta." kataku lagi.
Ayah menatapku dengan mata menyipit, aku sadar betul kemampuan mendengar ayah memang sudah berkurang. Jujur, aku sendiri juga kepikiran dengan kondisi ayah yang tinggal sendiri sejak aku menikah. Tapi, tiap kali ku ajak untuk tinggal bersama di kota, ayah selalu menolak. Alasannya karena tidak mau meninggalkan ibu sendirian di kampung. Ayah memang tak pernah tinggal untuk mengunjungi makam ibu tiap sore setelah warung kopi tutup. Cinta mereka terlalu besar bahkan setelah maut memisahkan, mungkin ini lah gambaran cinta yang matang seperti kata Kak Anta.
Kemudian saat siang menjelang sore, kami sudah bersiap, di mana Kak Anta dan ayah telah berjabat tangan. Dan kami di kelilingi oleh orang-orang terdekat yang sudah siap menjadi saksi. Dalam hati, ini sama mendebarkannya dengan yang pertama bahkan lebih menyentuh.
"Saya terima nikah dan kawinnya Karunia Avisha binti Raisman Hartono dengan Mas kawin tersebut. Tunai!"
"Bagaimana saksi? sah?"
"Sahhhh... "
Akhirnya......
__ADS_1
Cinta kami telah absah secara lengkap, dan aturan dalam ikatan kami pun telah rampung.