
Empat hari berlalu setelah kepergian Marwah, dan satu minggu lagi menjelang pernikahan Kak Rambo. Aku terkejut dengan kedatangan Kak Rambo tiba-tiba ke rumah ku, saat itu tanpa Kak Anta, karena dia sedang ada urusan sehari di luar kota.
Ku pandangi dia yang tengah merenung di depan teras rumahku, sambil mungkin menunggu aku membuka pintu. Langsung ku tanyakan apa hal yang membuatnya datang ke sini setelah sekian purnama berlalu.
"Aku butuh bantuan kamu." Ucapnya.
Sesudah mengatakan kalimat itu, dia langsung menyampaikan maksudnya, setelah berbasa-basi sebentar tentang persiapan pernikahannya, di samping yang paling tak ku duga dia menanyakan keadaan Marwah.
"Syukurlah kalau dia baik-baik saja, dan ku pikir dia juga makin produktif, kalau melihat dia kerja seharian di jalan. Dan itu artinya kehidupannya semakin positif.... "
"Melihat Marwah kerja seharian?" Selaku.
"Aku hanya sering lewat, di jalan tempat dia kerja." jawabnya. "Sejujurnya sejak rencana pernikahan ku, aku merasa kami telah semakin jauh. Sementara aku tak ingin kami berakhir asing, meskipun aku tak bisa menolak kenyataan tentang itu sekarang. Jadi, bisakah kamu sampaikan undanganku ini padanya? aku merasa kecil hati untuk bertemu dengannya."
"Sayangnya dia telah pergi dari sini," Kataku.
"Oh ya? kemana? untuk apa?"
"Sudah dari seminggu yang lalu. Aku pun tak tahu pastinya di mana, dia hanya mengatakan akan hijrah ke luar kota, nomor ponselnya pun sudah tak bisa dihubungi. Entah sampai berapa lama dia pergi..."
"Aku bahkan tak tahu tentang ini," ucap Kak Rambo pelan. "Jadi dia sungguh tak akan datang ke pernikahan ku... "
"Begini Kak, mungkin Marwah memang tak bisa hadir ke acara kakak. Tapi, dia telah menitipkan sesuatu untuk itu." Jawabku. "Tunggu sebentar,"
Aku masuk ke kamar tidur. Sementara Kak Rambo tetap menunggu di teras sambil meratapi nasib, entah apa yang dia pikirkan. Acaranya seperti akan berakhir buruk sekali karena Marwah sudah pasti tak akan hadir.
"Ini titipannya. Seharusnya memang ku serahkan saat acara resepsi, tapi setelah dipikir-pikir bagiku ada baiknya di serahkan langsung ke calon pengantinnya, agar filosofi dari hadiah Marwah ini dapat meresap dan sampai ke hati mu Kak."
__ADS_1
Begitu Kak Rambo mengambil kado itu dari tanganku, dia diam sejenak sambil memandangi hadiah itu sampai gemetar. Entah karena motif kertas kadonya yang membuat phobia nya kambuh, atau karena dia tengah memikirkan diri si pemberi kado.
"Bolehkah jika ku buka sekarang?"
"Itu sudah menjadi hak Kak Rambo, jadi lakukanlah sesuai keinginan Kakak."
Sesudah itu dia segera merobek bungkusnya membabi buta, hingga terlihatlah wujud kotak kardusnya.
"Sepasang gelang dengan lambang 'Pragma' atau 'Cinta yang abadi'. Marwah ingin Kak Rambo memakainya dengan pasangan Kakak, agar cinta kalian matang dan berkembang sebagaimana makna dari lambang 'Pragma' itu sendiri." Jelasku.
Angin sore berembus. Awan putih tebal menggantung di tengah-tengah cakrawala yang biru. Sementara mawar putih yang kemarin ku petik untuk menghiasi dapur telah memunculkan putiknya lagi.
Ku pandangi Kak Rambo. Dia diam sambil merem4s gelang itu kuat.
"Dia telah berusaha keras untuk mendapatkan gelang itu sebagai hadiah pernikahan yang pantas untuk Kakak. Dia bekerja siang malam menyisihkan uang agar bisa membelinya. Jadi kuharap kakak bisa menjaga pemberiannya itu dengan baik."
Kak Rambo tidak menjawab, hanya mengangguk pelan. Aku pun tak lepas dari memandangnya, dia tengah berjuang keras melawan perasaannya saat ini. Perasaan tidak karuan yang membuatnya terombang-ambing, kacau balau.
Kami kembali terdiam dan tenggelam dalam perasaan masing-masing. Kak Rambo dengan ekspresi yang tegar, berusaha menyeka air mata yang menumpuk di pelupuk matanya yang jernih dan tajam, bagai todongan pistol rakitan.
"Kania----"
"Ya, Kak?"
"Kamu sungguh tak ada petunjuk apa pun kemana dia akan pergi?"
Aku menggelengkan kepala lesu.
__ADS_1
"Terima kasih, kalau begitu aku pamit pulang sekarang. Ada urusan mendadak di rumah. Sampaikan salamku pada Anta Reza jika dia pulang nanti."
...****************...
Di beranda samping rumah, seperti biasa aku duduk bersama Kak Anta menikmati senja. Hari ini dia pulang lebih awal, karena tak ada jadwal patroli malam. Mengobrol ringan sambil menikmati Kopi dan teh, tak lepas juga bahas soal pernikahan Kak Rambo yang saat ini tinggal 3 hari lagi akan berlangsung.
Waktu berjalan begitu cepat, sungguh tidak terasa perputarannya ...
"Pernikahannya batal?" Kataku sambil mengerutkan dahi.
Jelas aku kaget bukan kepalang setelah mendengar kabar tak terduga ini, tentu ini bukan berita bohong, karena Kak Anta yang menyampaikannya langsung padaku saat ini.
"Iya, aku juga tak tahu kenapa." Jawab Kak Anta. "Sejak aku pulang dari luar kota empat hari yang lalu, Rambo memang agak aneh, dia terlalu diam dan sangat serius. Dalam 3 hari menjelang pernikahannya, bukannya sibuk persiapkan acara, dia malah sibuk patroli malam. Bahkan sampai ikut aktif patroli ke pelosok kota, seperti tengah mencari sesuatu."
Kak Anta menikmati kopinya sejenak kemudian melanjutkan.
"Terakhir ku dengar dari mulutnya sendiri, dia mengumumkan di kantor kalau pernikahannya dibatalkan. Hmm, sungguh aku bingung sekali dengan Rambo, walau dari awal memang dia setengah hati menjalankan pernikahan ini. Tapi tetap saja, membatalkan di 3 hari sebelum acara itu sungguh keterlaluan. Memangnya dia tidak pikirkan bagaimana calon istri dan keluarganya----"
Membatalkan nikah? apakah ini dampak dari pertemuannya denganku Empat hari yang lalu? yang penuh perasaan sentimentalia, sampai akhirnya mampu membuat dia menangis dan sekarang malah membatalkan pernikahan?
"Hei, kenapa diam? apa yang sedang kamu pikirkan?" Ucap Kak Anta, membangunkan lamunanku.
"Apa Kak Rambo sedang berusaha mencari Marwah?" Tanyaku pada Kak Anta.
Mata Kak Anta yang selalu ku kagumi keindahannya itu, seketika membulat menatapku.
"Kemarin dulu, sehari sebelum Kak Anta pulang dari luar kota. Kak Rambo datang ke sini menitipkan surat undangan pernikahannya untuk Marwah, padaku. Katanya canggung kalau dia yang berikan langsung, dia merasa bahwa hubungan mereka telah semakin renggang dan jauh. Berhubung Marwah sudah pergi, jadi aku mengatakan padanya yang sebenarnya Kak, sekalian ku berikan juga kado titipan Marwah untuknya. Melihat kado itu, Kak Rambo sampai menangis-----"
__ADS_1
Namun belum selesai aku bicara, Kak Anta langsung menyambar tubuhku. Dalam dekapannya dia berbisik;
"Kamu sudah melakukan tugasmu dengan baik, dan sekarang biarkanlah semesta yang bekerja."