
"Tentu saja, Kak Anta tidak akan mengerti, Sebab anak ini, memang bukan anaknya. Mau haram, mau bukan, Tidak akan masuk ke hatinya ..."
Mau Anakku disakiti seperti apa pun, mau dikatai seperti apa pun juga, Kak Anta tak akan tersinggung. Jantungku seakan melonjak. Ku hembuskan napas dengan gemetar.
Kami memang menikah tanpa cinta, Kami sama-sama memiliki alasan untuk mau hidup bersama. Karena itu seharusnya aku sadar dari awal, aku bukanlah perempuan dalam hidupnya. Dia telah memiliki nama lain yang segalanya melebihi diriku. Bukankah aku ini hanya gadis tidak berpendidikan dan hamil di luar nikah? tak lebih dari wanita yang penuh catatan buruk, dengan masa lalu yang tak dipertanggungjawabkan.
Seharusnya aku tak perlu bersedih hati begini, bila kenyataannya Kak Anta memberi reaksi lain. Anakku ini adalah akibat yang harus ku tanggung dan ku lindungi sendiri. Kak Anta mau menikahi ku saja seharusnya sudah lebih dari cukup. Tapi, entah mengapa, rasanya tetap saja sakit. Sakit sekali ....
"Kania... "
"Karunia Avisha,"
"Ku mohon buka pintunya," ucapnya sambil terus mengetuk pintu.
Aku memilih untuk membisu, tak ada yang bisa dilakukan mulutku kecuali menggigit lengan. Mengeluarkan erangan lewat tindakan. Menyakiti fisik, jauh lebih baik ketimbang omongan. Psikologis ku tak akan kuat.
Aku terbuai mimpi hingga ke ujung kaki, seharusnya aku tahu dari awal kalau akan sakit begini. Aku mencoba berpaling, tetapi yang terlihat kini hanyalah dia. Biasanya memang kami saling mengerti dan menghargai. Mungkin karena aku terlalu tenggelam dalam lamunan panjang, atau karena aku terlalu bahagia dengan semua perhatiannya, sementara aku memandang lantai dan menggigit lengan sendiri. Kak Anta masih sibuk memohon di luar sana.
"Karunia Avisha ...." Katanya mulai bergetar. "Maafkan aku,"
Karakternya telah membuatku, tanpa sadar, memasuki dunianya, sementara dia hanya menjalankan kewajiban perannya secara wajar. Hatiku sakit, jauh di bagiannya yang terdalam... Aku butuh dia, butuh perhatiannya, butuh kasih sayangnya. Tapi, siapa lah aku.
"Sakit ya, Sayang?"
__ADS_1
Dan benar adanya ucapan Kak Anta. Aku ini masih kebawa sifat remaja. Sayangnya aku tak mampu menahan luka. Bukan luka fisik, bekas dihantam nyonya Willis. Semua orang pun tahu apa wujudnya...
Ku elus perut yang mulai keram. Sial sekali, di saat begini malah merasa keroncongan. Bagaimana aku harus melegakannya? makan lengan sendiri?
"Karunia Avisha,"
"Maafkan atas sikapku yang kasar tadi."
Kak Anta mulai merintih, dia memanggil namaku dengan suaranya yang mulai serak. Kepalan tangannya sudah tak sehebat tempo di awal, saat dia memukul pintu agar ku bukakan.
Aku terdiam lama, memikirkan betapa beratnya mengayuh sepeda di jalanan terjal. Terpingkal-pingkal aku dibuatnya, terseok-seok bagai seorang kakek tua yang tergopoh. Aku kesulitan bertahan. Tetapi, sepedaku tak mau aku menyerah; ayo kayuh, aku mau sampai ke puncak.
"Kamu bukan anak haram, mama berani maju untuk kamu."
Sementara manik ini mengalir, mataku lumayan perih. Lenganku juga mulai sakit. Aku mau teriak, jauh dan kencang. Tetapi hanya lengan dan lutut ku yang menemani, mereka membungkam ku kencang sampai aku tak mampu mengerang. Aku hilang arah,
Seharusnya aku tak berharap lebih padamu, tetapi hatiku sakit sekali saat kamu tak mampu jadi penopang kesedihanku. Begitu sakitnya sampai lengan dan mataku yang jadi saksi...
"Kania... " dia terus memanggil nama ku dari luar, namun ku abaikan.
Dari meja ujung, roti goreng sisa cemilan Kak Anta semalam menggodaku dengan warna dan gula halusnya yang menawan. "Cintailah anakmu sebagaimana rasa sakit mu karena membelanya. Makanlah aku!"
Ku pandangi dia lekat-lekat.
__ADS_1
"Kamu lapar, nak? Tapi kita tidak punya makanan, Roti sisa tidak masalah?"
Akhirnya ku hampiri nakas itu dan ku ambil roti di atasnya. Menyedihkan...
"Roti ini buatan mama, enak kan?" Tak ada jawaban, Jelas. "Tidak, rasanya berkurang karena kita makannya sendiri."
Dan memang bakal sendiri, dengan berat hati dan perlahan-lahan. Ku seka air mata sambil mengunyah makanan sisa Kak Anta. Tak peduli tentang makanannya, hanya saja Makan saat menangis itu, paling tidak enak.
Kita terpaksa memenuhi kebutuhan saat kondisi diri sedang tidak baik-baik saja.
Sangat sesak dan menyakitkan...
"Karunia.... Avisha,"
Sementara begitulah, Kak Anta terus memanggil namaku.
...****************...
Haloo bestt...
Mohon maaf malam ini upnya kemalaman dan cuma sempat satu bab doang, author dukung Indonesia dulu dongg ðŸ˜ðŸ˜. alhamdulillah penantian author ga sia-sia, timnas menang ya Tuhan.
udah gitu aja.
__ADS_1
mampir ke sini juga yak!!!