I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 60 - Dari Hati ke Hati


__ADS_3

"Kak?" Kataku.


"Apa, sayang?"


"Kenapa tinggalkan Rambo begitu saja?! aku juga belum mengucapkan salam yang baik pada Marwah. Dia itu sahabat baikku Kak dari kecil, rumah kami berdekatan di kampung. Aku sedikit terkejut mendengar kabarnya ini, jadi jujur aku ingin sekali bisa bantu Marwah."


Tapi Kak Anta tak pedulikan yang ku katakan, dia hanya senyum tipis, seakan menyimpan sesuatu dan aku tak berhak tahu sekarang. Dia hanya terus berjalan sambil mendorong kursi roda ku kemudian membantu ku naik ke mobil.


"Kita kan bawa mobil sendiri ke sini, sayang. Kalau pergi dengan Rambo, mobil kita nasibnya bagaimana?" Ucap Kak Anta. "Lagi pula, biar Rambo menjalankan tugasnya yang lebih tepat, jadi dia tidak sia-sia ke sini."


"Kak---" Aku membenarkan posisi duduk, untuk sedikit menghadap Kak Anta. "Tapi itu kan keterlaluan, berarti kita egois. Rambo kan ke sini niatnya baik untuk membantu kita, dia ingin menjenguk Rania. Dia sampai izin sebentar loh Kak, cuma untuk datang ke sini."


Kak Anta kembali tersenyum, "Kita tidak egois, tapi kita sedang membantu mereka berdua sekaligus secara tidak langsung. Jadi, jangan dipikirkan. Aku bisa merasakan sesuatu."


"Maksud kakak?"


"Kita tunggu saja nanti."


Setelah bicara dengan teka-teki itu, Kak Anta sudah siap memasang ancang-ancang untuk mengemudi. Sedangkan aku masih terus memandangnya dengan segala praduga.

__ADS_1


Mobil terus melaju, menyusuri jalan dengan pelan, mengingat kami memang sedang membawa manusia lain di sini. Manusia yang baru datang beberapa hari yang lalu ke dunia ini, tentu kami tak rela jika dia terguncang ketika menyusuri jalan.


"Kakak tahu?!" Aku bicara, memecah kesunyian antara kami. Pertemuan dengan sahabat kecilku ini, membuat hatiku sedikit tersentuh sampai aku jadi teringat dan hendak bernostalgia pada peristiwa lama.


"Apa?"


"Aku itu orang yang tidak pandai bergaul, padahal aku ingin sekali memiliki teman, apalagi saat Marwah pindah rumah. Aku benar-benar tak punya teman, Kak. Tiga tahun aku hidup menyendiri, tak ada seorang pun yang mau menegur ku, makanya saat SMA aku mulai memberanikan diri untuk terbuka dan lebih luwes. Tapi sayang, sepertinya aku tidak seberuntung itu untuk memfilter diri."


Kak Anta menurunkan tangan kirinya dari setir, kemudian menggosok lengan kananku bagian atas.


"Di usiamu saat itu, kamu masih mencari jati diri. Belum tahu mana yang benar dan yang salah. Dan kini, kamu telah matang, dari segi spiritual, emosional dan pemikiran. Aku sudah tahu soal itu, tidak diragukan lagi." Ucap Kak Anta.


"Aku pun sangat bersyukur Kak, nampaknya saat ini aku mulai memetik buah perjuangan hidup selama ini. Aku dikhianati cinta, dan kini bahagia bersama pria yang memberikan ku kepercayaan diri lagi dan cinta yang luar biasa. Aku kehilangan sahabat dan terjerumus, kini aku diberi kesempatan untuk bertemu lagi dengan sahabat kecil terbaikku." Kataku, "Kak, jujur aku sangat sedih melihat kondisi Marwah. Aku ingin sekali membantunya. Bagaimana menurut Kak Anta?"


Aku mengangguk untuk menjawabnya, Kak Anta semakin membuatku bingung, tapi biarlah aku akan memahami. Ah, seharusnya aku bertanya lengkap soal Marwah, seperti tempat tinggalnya yang jelas, atau mungkin nomor ponsel.


Setelah pembicaraan panjang itu, sampailah kami di depan rumah. Kak Anta turun membuka gerbang, kemudian masuk lagi ke mobil untuk parkir di bagasi samping.


"Kak kursi rodanya bagaimana?" tanyaku padanya.

__ADS_1


"Sebentar ya, sedang aku keluarkan."


Sinar terang di siang bolong, membuat terik masuk membakar kulitku dengan ganasnya. Segera ku tutupi wajah Rania dengan kain gendong. Dan Kak Anta cepat-cepat mendorong kami masuk ke dalam rumah.


Yang membuatku terkejut adalah, kondisi kamar yang sudah di dekor sedemikian rupa. Lucu dan imut sekali. Di dinding atas bertuliskan : Selamat Datang Anak kami tersayang; Rania.


"Kakak yang buat ini semua?"


"Memangnya siapa lagi?" jawab Kak Anta dengan bangga.


"Kapan dibuat?" Kataku.


"Kemarin, waktu pulang ke rumah sebentar ambil pakaian kamu dan Rania. Aku berpikir untuk membuat kejutan kecil."


Dan, ketika aku menikmati hadiah kejutan dari Kak Anta ini. Dia tiba-tiba sudah berjongkok di hadapan ku, lalu dia berbalik mengambil sesuatu di balik sweaternya. Sebuah cincin permata yang cantik, cantik sekali berkilauan.


"Ini hadiah kecil juga dariku untuk seorang ibu yang perjuangannya sangat besar untuk anak." katanya, kemudian memasangkan cincin itu di jemariku.


"Aku sangat mencintai kamu, Istriku; Karunia Avisha."

__ADS_1


Tepat di hadapanku kini, jakunnya yang kokoh berlatar batang leher yang maskulin kecoklatan. Indah dan nyaman sekali saat dia mengecup lembut keningku.


Begitu pun aku, suamiku. Kataku dalam hati.


__ADS_2