I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 48 - PULIH


__ADS_3

Aku meninggalkan kursi dan bergegas keluar mencari dokter untuk memeriksa Kak Anta. Begitu dokter masuk melewati pintu, Aku segera menyingkir lagi ke ujung ranjang, namun tiba-tiba aku mendengar suara lirih dari Kak Anta berkata, "Kania... di mana!"


Dokter segera memeriksa dada Kak Anta pakai stetoskop. Lalu melempar senyum ke arahku.


"Dia sudah melewati koma, aku akan datang lagi nanti untuk periksa."


Aku mengangguk berkaca-kaca, "Terima kasih, dokter."


Tatapan ku bertemu dengan mata Kak Anta menyiratkan keheningan dan kerinduan yang tertahan sama saat membayangkan kemungkinan yang terjadi jika masa ini tak lagi kami dapatkan. Kemudian aku mencondongkan tubuh ke dekat wajahnya dan ku peluk dia erat-erat. "Aku menyayangimu, Kak Anta. Aku sangat bersyukur kau akan baik-baik saja."


"Aku juga. Aku sampai ketakutan setengah mati bila harus menghadap Tuhan lebih dulu sebelum menyampaikan permohonan maaf padamu."


Aku mulai sesenggukan, "Apa kakak merasa kesakitan?" Kataku begitu melepas pelukannya. "Aku bisa panggilkan dokter lagi jika kakak merasa ada yang sakit atau tak nyaman."


"Tidak." Jawabnya tersenyum. Tatapannya dalam menyusuri sorot mataku yang terharu. Lantas dengan susah payah dia berusaha mengangkat tangannya untuk menyentuh wajahku. "Maafkan aku, lagi-lagi buat kamu menunggu sendirian di ruang makan-----"


"Tidak, jangan pikirkan soal masalah itu lagi. Kita bisa makan malam terus berdua. Kalau kakak sembuh dan pulang dari sini, kita bisa makan berdua di rumah sama-sama."


"Jangan menangis,"


"Tidak, aku tidak menangis. hanya terharu dan sangat bersyukur." Jawabku.


Dari luar angin malam terus menyerbu masuk. Ku rapatkan selimut Kak Anta untuk menghindari hawa dingin yang menyiksa. Jam dinding menunjukkan malam sudah larut. Dari kaca jendela, langit tampak cerah dengan warna biru kelam. Ada beberapa bintang di sana, dengan cahaya sayup-sayup menyapa dari ketinggian, seakan ingin menemaniku, menemani dia, yang kini sudah sadar dari koma, dengan perasaan yang sulit dipahami.


Aku masih belum percaya akhirnya dapat bicara dan melihat matanya yang coklat lagi. Ini adalah kesempatan dari Tuhan untukku kembali berbakti padanya sebagai istri.


Aku membetulkan posisi duduk dengan menaruh salah satu lengan di atas kasur Kak Anta. Ku pandangi dia, lekat-lekat setiap guratan di wajahnya kini bisa ku lihat detailnya lebih dekat. Namun, kenikmatan dan rasa syukur itu segera menggema begitu aku memperhatikan pahatan hidungnya yang bagus di atas garis bibir yang sempurna. di topang dagu yang agam sehingga membentuk padanan yang seimbang dengan latar belakang jakun yang menonjol terutama saat dia minum.


"Aku tidak bisa tidur!" Tiba-tiba dia membuka matanya, membuatku tersentak dan segera mengangkat kedua tanganku.


"Kalau kamu pandang aku terus seperti itu, aku tidak bisa tidur."


Aku merasa kikuk, namun aku hanya bisa duduk tenang di hadapannya sambil menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya. Dia menarik napas pelan-pelan, tersenyum dan memejamkan mata, kemudian memandangku dengan saksama.


Dia terdiam sejenak memandang jauh ke jendela.


"Kapan ya aku boleh pulang?"


Aku menatap lurus-lurus Kak Anta sebelum memalingkan pandangan menatap ke luar jendela pula. "Begitu dokter mengizinkan kakak pulang, kita akan ke rumah lagi."

__ADS_1


Langit malam terasa begitu teduh dengan bintang bersinar menggantung. Sementara bulan mulai bersinar, menampakkan tahtanya yang tinggi di puncak malam. Di luar sana, dekat tower yang legam, mataku menangkap satu atau dua bintang yang jatuh, ekornya begitu indah mengiringi perjalanannya menuju bumi.


Kemudian kami saling memandang dan tersipu-sipu. Aku beranjak dari tempat duduk dan menghampiri wastafel di kamar mandi. Tak jauh dari sabun cuci terdapat bunga mawar putih dalam vas samping cermin. Ku ambil satu tangkai bunga itu dan ku bawa keluar bersama dengan baskom dan kain lap, Kemudian ku serahkan padanya. Dia membalas pemberianku dengan senyuman manis, semanis roti kismis dan seindah tanaman-tanaman bunga yang ditanamnya di rumah. Lalu, kami pun saling berpelukan, erat dan hangat, seakan ada magnet yang menyatukan kami.


"Kakak berkeringat, jadi biar ku bantu lap dulu." Kataku sambil memerah kain lap untuk mengusap wajah Kak Anta.


Dia mengangguk, aku memahami betapa dia merasa risih dengan lingkungan terutama tubuhnya yang mudah berkeringat padahal udara sudah dingin.


"Tadi seorang kakek dan cucunya ke sini untuk sekalian jenguk kakak."


"Oh ya? siapa?" katanya sambil mengernyitkan dahi.


"Seorang gadis hampir kamu tabrak dan kamu selamatkan di jalan malam itu."


Kak Anta diam beberapa saat, hingga teringat lah dia dengan peristiwa itu. Setelah dia menemukan ingatan itu, sebuah pesan masuk dari ponselku.


Kania, aku pamit pulang ya! aku senang lihat Anta Reza sudah sadar. Besok ku jenguk lagi, bersama Rambo. Dia pasti senang karena sahabatnya telah sadar.


Aku benar-benar melupakan soal Dokter Rani yang menemaniku seharian menunggu Kak Anta. Rupanya dia telah menyadari soal perkembangan Kak Anta ini.


Terima Kasih dokter. Maaf aku sampai tak mengantar lagi ke depan. Kak Anta tiba-tiba saja sudah sadar. Bahagia sekali.


"Kakak tahu! ada banyak sekali cerita yang ingin ku sampaikan saat kakak tertidur selama beberapa hari ini. Pertama, Aku dan Mbak Isma sudah berdamai loh!" ucapku.


"Memangnya kalian sedang bermusuhan?"


"Tentu saja! aku merasa kami sempat menegang karena kejadian kemarin dulu. Bahkan hari pertama kakak kecelakaan, kami sempat ribut lagi. Aku bahkan sampai menamparnya!"


Ku lihat Kak Anta mulai tertawa kecil meski sambil menahan sakit, "Memang Isma buat ulah apa lagi?" katanya.


"Kak ... " Jawabku pelan, "Menurut kakak apakah aku dan anak ku ini adalah pembawa sial untukmu?"


Tak ada jawaban, tapi Kak Anta hanya mengangkat tangannya ke arahku. Dia tersenyum dan aku menangkap isyarat hatinya untuk mendekat. Ku condongkan badan, dan dalam sekejap aku mendapati diriku dalam pelukan Kak Anta. "Tidak ada, Manusia pembawa sial. Setiap orang yang lahir selalu di berkahi kecenderungan alami dari orang tuanya. Aku melakukan ini karena insting tidak ada hubungannya dengan kamu dan anak kita. Kalian itu adalah pemberian Tuhan untukku, dan harus aku jaga." Dia berbisik dalam dekapan.


Kak Anta menangkup belakang kepalaku sembari membelainya untuk waktu yang lama. "Jangan dengarkan lagi."


Setiap kali mendengar bisikan Kak Anta, aku selalu teringat pada karakteristik nya dalam membina ku untuk mengarungi hidup; bahwa di balik ketenangan hidup tersimpan sisi spiritual yang tenang dan lembut, di mana terkadang kita harus mampu menuli atas ucapan orang lain agar kita mendapatkan rasa tenang dan tentram, dan dalam bicara dan bersikap kita harus mampu secara lembut, di mana orang lain akan menerimanya dengan lapang dada dan tertempa pada kehalusan kita saat berbicara. Bila semua baik maka yang kita dapat juga baik ...


Kak Anta memelukku semakin erat. "Kamu telah banyak menderita."

__ADS_1


Aku sepakat, tetapi kamu, Kak Anta. Telah menarik ku keluar dari belenggu yang mematikan itu, dari luka masa lalu dan dari caraku bertahan hidup. Dan semenjak denganmu, sampai hari ini aku telah menjadi wanita yang berbeda.


Meskipun begitu menginginkan momen ini berlangsung selamanya. Aku khawatir situasi seperti ini akan mengganggu proses penyembuhan Kak Anta, karena jarum infus bergerak ke sana kemari mengikuti tangannya. Dengan perlahan aku melepaskan diri dari pelukan Kak Anta. "Semua itu akan ku kubur. Aku hanya bersyukur karena kakak sekarang sudah sadarkan diri."


Kemuraman merusak wajah tampan Kak Anta. Di balik leher kecokelatannya, dia masih terlihat pucat. "Jika sampai ucapan seseorang itu benar, aku tidak tahu apakah masih memiliki muka untuk terus hidup bersama mu jika aku merasakan demikian."


Aku menggeleng-geleng. "Berhentilah bicara begitu! aku percaya dengan semua pilihan hidup kakak. Istirahatlah lagi yang baik, sebelum Kak Anta pingsan, letakkan lagi tangan kakak disini, jangan banyak bergerak." perintahku dengan nada pelan.


Aku takjub ketika Kak Anta benar-benar menuruti perintahku. Aku mengamati Kak Anta mengernyitkan dahi sambil memejam paksa mata. "Aku memang tak pernah bisa di andalkan untuk melindungi istri dan anak," gumamnya.


Kata-kata itu terdengar seakan benar-benar keluar dari hatinya, tetapi aku tidak percaya sedikit pun bahwa Kak Anta serius dengan ucapannya. Kak Anta masih terguncang dan sekadar bereaksi atas peristiwa yang melukai perasaan ku istrinya, sementara dia tak ada di sana, masih tak sadarkan diri.


"Jangan begitu, aku dan Mbak Isma telah berbaikan. Dia bahkan telah jujur tentang kejadian sebelum ngamuk-ngamuk di rumah karena kakak blokir nomor ponselnya. Kalau tidak bisa diandalkan, tidak mungkin kakak ucapkan salam perpisahan untuknya." Kataku.


"Aku akan mengambilkan air putih untuk kakak. Tunggu sebentar, aku akan kembali." Ketika aku kembali seraya membawa gelas, rupanya Kak Anta sudah tertidur. Dia memang lebih banyak membutuhkan istirahat daripada hal lainnya.


Ku letakkan gelas itu di atas nakas. Dan ku tatap Kak Anta dalam-dalam. Sesudah mengamati setiap guratan dan sudut wajah kerasnya selama beberapa menit, aku beranjak ke arah sofa untuk makan malam.


Untung saja aku bawa bekal dari rumah, besok sepertinya aku tak akan pulang, masih ingin menemani Kak Anta karena sekarang dia telah sadar. Ku nikmati suapan demi suapan bekal dengan sayur kesukaan Kak Anta. Meski yang tersisa cuma ayam goreng saja, karena bening bayamnya telah basi.


Sesudah makan malam, aku pergi lagi ke kamar mandi. Memandang wajahku yang mulai kusam di cermin depan wastafel. Aku tahu bahwa pikiranku tidak akan bisa beristirahat. Terlalu banyak yang terjadi di rumah tangga ku dan Kak Anta. Dari masalah orang ketiga yang datang dari masa lalunya, kemudian soal alasan pernikahan kami yang dia rahasiakan, Lalu sekarang ada kecelakaan yang sangat mengerikan menimpanya.


Tidak peduli seberapa besar aku tidak menyukai hal ini, aku khawatir ini hanya soal waktu sebelum ku bahas lagi soal Petra dalam foto itu. Harus ku tanyakan, dengan baik-baik karena aku juga butuh penjelasan darinya.


Itu hanya salah satu dari sekian banyak pikiran yang menggangguku sebelum akhirnya kembali lagi ke sofa untuk istirahat. Ucapan Kak Anta ketika memelukku, tentang dirinya yang mengaku masih belum bisa melupakan masa lalu masih terngiang di benakku. Tentu saja Kak Anta serius untuk itu, Kendati demikian aku selalu merasakan bingung sebab bila melihat dari caranya menatapku, caranya bicara, caranya bertindak, aku berani bersumpah bahwa Kak Anta memang telah memiliki rasa. Tapi entah apa yang menahannya untuk terus bersembunyi ....


Entahlah, mamang dia itu selalu memiliki daya tarik yang membuatku ingin terus menggali pengetahuan tentangnya, dia itu selalu mampu menyihir ku dengan seluruh kekuatan magisnya yang menyala-nyala.


Pada pukul delapan kurang lima menit keesokan paginya, saat aku telah selesai mandi dan sekarang tengah mengelap tubuh Kak Anta. Seseorang datang tapi hanya mengetuk pintu, tidak langsung masuk.


Aku dan Kak Anta saling berpandangan, saling menduga-duga.


"Siapa?" kataku seraya berjalan ke luar,


Pagi yang cerah. Aku terkejut melihat dia berdiri di depan pintu, mengenakan syal merah tua dan jaket kukut dipadu blue jeans. Seperti akan pergi jauh, dia menenteng keranjang oleh-oleh berisi buah-buahan.


"Mbak Isma?"


Dia tersenyum, "Maaf, aku datang lagi. Bisa kita bicara sebentar di taman?"

__ADS_1


__ADS_2