I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 79 - Pagi Istimewa


__ADS_3

Aku terbangun ketika cahaya matahari menusuk mataku. Namun pagi ini seperti ada yang beda, perutku tidak berat seperti biasanya. Kemana Kak Anta? biasanya tangan besar dan kekar itu selalu berada di perut dan pinggangku. Tapi sekarang tidak ada.


Aku bangun, dan berjalan menuju dapur, namun aku dibuat kaget melihat Kak Anta dan Rania di dapur. Mereka sedang apa? buat sarapan kah? tumben sekali mereka bangun pagi begini, biasanya mereka tidak akan bangun sebelum aku yang bangunkan, meski dulunya Kak Anta memang mandiri. Tapi sejak 3 tahun ini, aku sudah paham dengan kewajiban ku sebagai istri, jadi aku selalu mengerjakan tugas rumah dan Kak Anta ku minta untuk fokus di pekerjaannya saja.


"Kak Anta? Rania? sedang apa?" Kataku seraya menghampiri mereka.


Rania berdiri di samping sambil merangkul kaki Kak Anta, sedangkan Kak Anta masih sibuk dengan penggorengan. Demi Tuhan, andai bisa ku jelaskan gambaran dalam pandangan mata ku saat ini, sungguh aku berani jamin orang-orang pun akan merasakan kebahagiaan yang terbungkus kata 'gemas' ini, sama seperti ku. Alangkah imutnya...


"Sebentar, sebentar... " jawab Kak Anta, untuk pertama kalinya, ia terlihat gaduh sekali.


"Mam-ma---"


Rania kemudian berjalan pelan ke arahku, sambil memeluk boneka beruang yang dibelikan Kak Anta bulan lalu.


"Apa sayang?" Ku ambil posisi duduk jongkok di depannya.


"Rania dan Papa sedang apa di dapur?"


"Ma-mam--" ucap Rania, memang belum terlalu fasih. Tapi aku sudah paham yang dia maksudkan.


"Rania dan Papa buat sarapan, ya?! baik sekali, anak mama makin pintar, ya."


Namun saat Kak Anta datang, aku sungguh tak menyangka saat melihat penampilannya, dia menggunakan celemek dengan seragam polisinya lagi tapi kali ini sungguh kacau, dia nampak lucu dan begitu repot, dapur sangat berantakan karna ulah mereka. Terutama wajah Kak Anta, tepung menghiasi wajah tampannya.


"Kania maaf, aku mau buat pancake untuk kamu tapi malah gagal, aku cuma bisa masak telur dadar." Ujar Kak Anta, dia memegang piring isi telur dadar.


"Sungguh padahal dulu aku biasa buat makanan sendiri, apalagi sekedar pancake, itu gampang. Tapi entah kenapa sekarang jadi kacau, tiba-tiba aku lupa cara buat dan takarannya. Mungkin karena sudah jarang pegang urusan dapur setelah 3 tahun. Maat tidak bisa masak seperti kamu, tapi aku janji bakal belajar lagi kok."

__ADS_1


"Suamiku tersayang, bicara apa sih? aku suka sekali telur dadar, terima kasih ya Kak Anta." jawabku, dan berjalan menuju kursi makan sambil menggendong Rania.


Kak Anta menyerahkan telur dadar buatannya padaku, warna nya agak sedikit gelap, dia terlalu lama menggorengnya. Wajar saja, seperti yang dia katakan barusan, sudah 3 tahun tak pernah sentuh dapur lagi. Jadi tidak mengerti lagi cara memasak. Aduhai Kak Anta, kamu sangat lucu kalau begini.


Dia kemudian mengambil Rania dari pelukanku, sedangkan aku mulai memotong telur itu dan segera memakannya.


Tapi begitu ku coba---- Ya Tuhan, Kak Anta balas dendam untuk masa lalu atau bagaimana? telur buatannya asin sekali. Kalau setiap hari dia yang masak, aku bisa darah tinggi. Namun begitu ku sadari sorot matanya yang menyala-nyala karena tak sabar menunggu pendapatku, aku tidak tega jika tidak habiskan makanannya. Melihat perjuangan mereka, Kak Anta dan Rania; antusias mereka, bangun pagi pagi, dan menyempatkan masak untukku. Aku benar benar tidak tega.


"Kania bagaimana rasanya? kamu suka?" tanya Kak Anta.


"Nah, ini susunya, Rania loh yang buatkan tadi, ya walau ku bantu juga." sambungnya dan menggeser susu di tangannya ke padaku.


Aku langsung meminum susu itu, bagaimana tidak telur buatan Kak Anta asin sekali, mulutku sudah serasa air laut.


Tapi susu buatan Rania, Katanya. Juga tidak kalah aneh, manis sekali, dia terlalu banyak menuangkan susunya (apanya yang dibantu? bantu tuang airnya mungkin).


"Rania sayang susunya enak sekali, manis seperti anak mama, terima kasih ya nak." ucapku seraya memainkan ujung hidungnya, dan tak tinggal, kucium pula keningnya, dia sangat senang.


"Kak Anta, telur nya juga enak sekali, rasanya sangat pas, dan di masak pakai api yang sedang. Terima kasih ya Kak" ucap ku sambil tersenyum pada Kak Anta.


"Tapi, kamu kok tidak cium aku seperti Rania, Kania?" jawab Kak Anta, dia mendekatkan wajahnya kepadaku.


Ada apa dengannya? Rania kan anak kecil ya wajar saja, kan? tapi kalau ku cium dia sungguhan, tidak baik kalau Rania lihat.


"Kak Anta, ada Rania di sini tidak baik kalau cium kakak di depannya." Aku berbisik pada Kak Anta.


"Rania, mau main dengan Papa sayang?"

__ADS_1


Rania mendongak untuk melihat Kak Anta yang sedang bicara padanya. Lalu dia mengangguk.


"Bagus, nama permainannya peluk Papa erat-erat, tidak boleh lepas dan buka mata. Ayo siap-siap, Papa peluk Rania sekarang, ya!" ucap Kak Anta dengan melirik Rania. Atas perintahnya itu Rania menurut dan langsung memeluk tubuhnya erat, membelakangi aku.


"Nah sudah kan? Rania tidak lihat loh, perlakukan aku seperti dia tadi, aku mau dimanja juga seperti Rania barusan." Ucap Kak Anta seraya kembali mendekatkan wajahnya padaku, aku yang hamil, tapi malah dia yang manja. Aneh.


"Kak Anta, terima kasih ya makanannya enak sekali." Jawabku, dan menggoyang-goyangkan ujung hidungnya. Dia sangat imut kali ini, jujur saja. Kemudian ku cium keningnya, seperti aku mencium Rania tadi.


Kak Anta tersenyum simpul.


"Yes, Rania menang!!! memang pintar anak Papa." Serunya, dia bahkan tak henti menciumi ujung kepala Rania bertubi-tubi.


"Karena kamu suka, untuk besok dan seterusnya kita bakal masak terus untuk mama ya nak?"


"Aaah, Kak. Biar aku saja yang masak, Kak Anta dan Rania tidak usah masak lagi ya, ini kan tugas ku. Lagi pula aku tidak mau cuma duduk duduk saja di rumah, nanti tubuhku bisa pegal pegal." jawabku, pokok nya aku tidak mau darah tinggi atau pun diabetes. Walaupun aku senang dengan perhatian mereka, tapi tetap saja, aku juga manusia, tidak sanggup makan begitu.


"Begitu ya, tapi aku akan pekerjakan orang untuk membantu kamu ya sayang, aku tidak mau kamu terlalu lelah." Timpal Kak Anta.


"Tidak mau Kak, aku mau mengurus sendiri Kakak dan Rania."


Tidak boleh, nanti kejadian Mbak Isma bisa terjadi lagi, kalau yang bantu masih muda dan cantik, bisa bahaya.


"Ehm, baiklah apa yang kamu katakan aku akan menurut, tapi kamu jaga kesehatan ya, aku tidak mau kamu sampai kelelahan. Ingat kata Mbak Rani. " Jawab Kak Anta kembali.


Kemudian sekitar pukul 8.00. Kak Anta bersiap berangkat kerja, dia dijemput lagi oleh sahabatnya yang nasib percintaannya sungguh tragis. Tapi sebelum berangkat, dia menerima panggilan telpon dari nomor tak dikenal.


"Reza! Adikmu, Alfatra! Arkh, pokoknya kamu cepat ke sini sekarang juga! Bibi butuh bantuan kamu untuk usir orang-orang tidak jelas ini! datang sekampung, anarkis, bibi takut."

__ADS_1


Ucap perempuan itu dari telepon.


__ADS_2