I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 26 - Serangan Tiba-tiba


__ADS_3

Aku meletakkan sarapan Kak Anta di meja. Saat ini pagi yang indah. Matahari sudah nyaris meninggi muncul di balik cakrawala. "Baru bangun Kak? Cepatlah cuci muka lalu sarapan. Kakak bangun kesiangan, jangan sampai terlambat masuk kerja." Kataku.


Kak Anta tersenyum. Spontan dalam hati, aku tak bisa menyembunyikan rasa kagum atas pesona Kak Anta yang memabukkan. Saat dia tertidur dan saat dia terbangun, tubuhnya selalu memanggil getaran dalam jantungku untuk mendekat dan memujanya. Oh, Tuhan. Lindungilah aku dari keindahan ciptaan mu satu ini, bagiku... engkau terlalu sempurna menciptakannya.


"Aku tidak masuk kerja hari ini, sudah izin."


"Ada apa? kenapa tiba-tiba?"


Kak Anta menggigit bibirnya, "Ini hari yang bagus, jadi sesekali harus dinikmati bersama denganmu."


Aku terenyuh mendengar ucapan Kak Anta. Dia telah berusaha sebaik mungkin untuk menikmati waktu denganku. Secara emosional, dia telah berhasil meyakinkan aku bahwa dia adalah Pemimpin terbaik yang di anugerahkan Tuhan untukku.


"Hari ini ada rencana mau pergi keluar rumah?"


Aku menatapnya dengan sorot terkejut. Aku tidak ingin berpikir bahwa maksud dari pertanyaannya itu adalah mau mengajakku jalan-jalan, tapi pikiran itu malah makin memenuhi pikiranku dan hatiku jadi berharap karenanya.


"Tidak ada Kak. Kalau pun keluar paling hanya ke swalayan buat beli susu dan Minyak."


"Kalau begitu aku ikut, kita beli sama-sama."


"Kakak serius? aku bisa pergi sendiri kok."

__ADS_1


"Memangnya kapan aku bercanda? biar ku temani."


Dia mereguk kopinya, Kemudian berangkat menuju wastafel untuk mencuci muka dan kembali lagi ke meja makan untuk sarapan bersama.


Kami berbagi tugas untuk mengurus rumah tangga, awalnya aku menolak namun dia bersikeras. Dia mencuci piring, aku menyapu lantai. Dia menjemur pakaian, aku masak nasi. Benar kata pepatah; Berat sama dipikul, Ringan sama dijinjing. Pekerjaan berat akan terasa ringan bila dikerjakan bersama-sama.


Sekitar pukul 14.00 siang, setelah makan siang dan semua pekerjaan rumah selesai. Aku dan Kak Anta pergi jalan berdua ke Swalayan. Rasanya seperti sedang berpacaran, malu-malu dan tersipu-sipu. Dan yang lebih memalukan adalah karena aku berharap kami berjalan sambil berpegangan tangan. Tapi asa itu harus ku telan mentah-mentah, karena Kak Anta terlalu kaku untuk terlihat mesra di ruang publik.


Siang ini matahari sangat terik, kami berjalan kaki cukup jauh, beruntung di swalayan mesin pendingin nya berfungsi dengan sangat baik. Jadi, aku menikmati waktu untuk berlama-lama di dalam. Sayangnya Kak Anta begitu cepat menyelesaikan pembayaran di kasir. Jadi, terpaksa kami harus kembali berduel dengan sinar matahari yang panasnya minta ampun.


"Tunggu sebentar!" Katanya tiba-tiba, "Kunci rumah hilang? ada di kamu tidak?"


Aku menggeleng-geleng.


Aku mendengus. Sejujurnya aku ingin mengamuk, apalagi ketika ku pandangi langit yang cerah dan menyilaukan, belum lagi kulitku yang terasa terbakar karena teriknya. Aku rasa tidak akan sanggup kalau harus mutar jalan lagi ke swalayan untuk cari benda kecil, seperti kunci.


"Aku tunggu di sini saja ya, Kak? tidak kuat, panasnya bukan main."


"Bagaimana ya? sendirian tidak apa-apa?"


Aku mengangguk dengan wajah lemas sambil menyeka keringat.

__ADS_1


"Kalau begitu, tunggu di situ ya, aku janji akan kembali lagi lebih cepat."


Kak Anta bergegas, dan aku duduk di kursi panjang warung yang tutup. Sambil sesekali meneguk air mineral yang baru kami beli, setidaknya sedikit melegakan dahaga ku.


Sementara saat seluruh indraku berputar pada bayangan Kak Anta yang kupikir sudah ada di dekatku, aku merasakan tangan seseorang mencekam pundakku dari belakang. Aku mencium aroma alkohol sebelum mendengar orang itu berkata, "Kamu bahkan terlihat lebih cantik dari yang di sampaikan ibuku, pantas kalau banyak pria berhasrat padamu."


Aku memberontak seketika itu, tetapi gerakan itu tanpa sengaja membuat botol air mineral milikku terjatuh dari tangan. Aku menjerit kaget ketika botol itu terempas ke jalan.


Ketika aku menengadah dan melihat orang itu adalah seorang pria dewasa yang tidak ku kenal sebelumnya, Aku belum pernah melihat dia. Badannya besar dengan perut buncit, kumis agak tebal dan pakai kalung rantai yang menurutku agak besar, Persis seperti preman jalan yang kuat dan sangar.


Aku mendadak gusar, "Mabuk atau tidak, aku tak punya urusan denganmu. Pergilah jangan menggangguku."


Alih-alih pergi Pria menyeramkan ini menatap tubuhku dari inci ke inci, dari kepala ke kaki, dari kaki ke kepala, sambil mengusap-usapkan ibu jaringa ke bawah bibir.


"Baiklah, kalau begitu aku yang pergi!"


Aku mulai beranjak menuju ujung jalan, sekali lagi sambil menoleh kiri dan kanan berharap ada orang lain agar bisa dapat bantuan. Atau yang lebih ku harapkan adalah, aku menemukan Kak Anta.


"Siapa yang mengatakan kalau kita tidak punya urusan? jelas saja ada, karena kamu yang berani memukul ibuku sampai parah. Tidak ku sangka, lawannya ternyata hanya bocah. Mudah saja ku habisi." Ucap pria itu dari balik punggungku, seraya menyambar pinggang ku tiba-tiba.


Sontak aku mengikuti keras perut pria itu, dia mengaduh pelan, dan suara yang terdengar berikutnya sangat menyenangkan di telingaku, meskipun dia tetap berusaha maju.

__ADS_1


Kemudian dalam sekejap semuanya berubah. Tiba-tiba ada yang mengunci leher si Pria preman itu dari belakangnya, sementara tangannya dipelintir ke punggung. Lantas aku mengangkat pandangan gamang ke orang yang melumpuhkan Preman itu, yang ku kira awalnya adalah tukang pukul daerah sini.


Tatapanku nyaris silau karena kilat keperakan yang meluluhkan. "Kak Anta-----"


__ADS_2