I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 66 - Tumbuh Satu, Mati Satu


__ADS_3

Setelah tiga hari menginap di kampung, hari ini kami harus kembali ke kota. Meski dengan hati, karena Kak Anta dan Kak Rambo harus kembali bekerja.


"Ayah? Kami pulang dulu ya?"


Aku berpamitan tapi senyum ayah membuatku berkaca-kaca.


"Ayah ikut kami ya? biar bisa main sama Rania terus, Karunia juga bisa rawat ayah. Kalau di sini Karunia kepikiran dengan kondisi ayah."


"Kalau ayah ikut ke kota, ayah jauh dengan ibu kamu. Nanti siapa yang tengok ibumu kalau ayah pergi?" senyum ayah terukir dalam goresan wajahnya yang mulai keriput. "Jangan pikirkan ayah disini, sudah ada Arya yang rawat. Nanti kalau kalian ada libur, main ke sini, bawa Rania dan cucuku yang lain."


Mendengar itu, aku tak mampu menyembunyikan rasa lebih dalam. Aku terenyuh saat ayah masih memikirkan mendiang ibu dalam hidupnya, padahal sudah berpisah hampir 20 tahun lamanya.


Segera aku memeluknya, sebelum pergi dan berpisah jarak lagi. "Ayah, jaga kesehatan terus ya?! maaf Kania banyak mengecewakan ayah."


"Kania berangkat dulu, walau pasti bakal merindukan ayah banyak-banyak." Kataku setelah melepas pelukan itu.


"Hati-hati nak,"


Lalu Kak Anta mendekat dan memeluk ayah untuk berpamitan.


"Terima kasih karena telah menerima putriku dengan sepenuh hati, meski dia mungkin telah jauh dari harapanmu selama ini sebagai lelaki." Ayah berkata pelan sambil menggenggam erat tangan Kak Anta.


"Terima kasih karena telah menghadirkan dan merawat putri cantik ayah ke dunia ini. Aku begitu beruntung dan sangat bersyukur karena mampu memilikinya." Jawab Kak Anta yang membuatku semakin tersentuh.

__ADS_1


Setelah berpamitan, Kak Rambo langsung menghidupkan mesin mobil dan Kak Anta menyusun barang di bagasi. Sementara mataku tak lepas memandang ayah, dia masih berdiri tegar samping tiang pondasi ditemani Arya yang sudah kami angkat menjadi keluarga.


Kemudian kami berangkat setelah puas melambaikan tangan dari jendela mobil. Hilanglah ayah dalam pandangan ku.


"Bagaimana perempuan itu? masih kerja?" di tengah perjalanan Kak Anta membuka obrolan.


Lalu Kak Rambo yang masih sibuk menyetir, menjawab dengan pertanyaan balik, "Siapa? Marwah?"


"Ya, siapa lagi kalau bukan dia? memang ada orang lain yang kamu pekerjakan?"


"Entahlah, mungkin besok aku akan melepaskan dia dari hal konyol ini. Lagi pula adiknya sudah lama sembuh dan aku sendiri sudah tidak tertarik melanjutkan main kerja-kerjaan begini."


"Main-main maksudnya?" Sela ku.


"Kamu yakin mau berhentikan dia besok?" sahut Kak Anta yang duduk di sampingnya.


"Ya, aku yakin sekali. Aku juga tidak mau nanti salah paham atau calon istriku tersinggung karena aku berinteraksi sangat dekat dengan wanita lain."


Aku langsung melotot ke depan, "Ha? Calon istri?"


Jelas aku kaget bukan kepalang, tiba-tiba saja Kak Rambo mengatakan soal calon istri. Kak Anta menoleh padaku yang duduk di kursi belakangnya, dan aku balik menatapnya, tentu aku tahu apa yang dia maksudkan meski hanya lewat tatapan mata.


"Iya, umurku ini sudah 29, mau kepala tiga. Keluarga ku sudah mulai khawatir aku tak mampu menemukan pasangan. Jadi ibu diam-diam sudah mencarikan aku seorang gadis, dan ya, aku dijodohkan." Kak Rambo menjelaskan.

__ADS_1


Dengan wajah datarnya kak Anta bertanya lagi; "Dengan siapa?"


"Anak temannya, baru pulang dari luar negeri."


"Kakak memang sudah pernah ketemu sebelumnya?" sahut ku.


"Ya belumlah, bagaimana mau lihat dia saja tinggalnya di luar negeri sana."


"Kenapa mau dijodohkan, kamu saja belum pernah ketemu. Tidak kenal dia orang yang seperti apa? karakternya bagaimana, bisa cocok atau tidak dengan dirimu. Apa kamu tidak mau berpikir dua kali dulu untuk menerima perjodohan ini?" Untuk kesekian kalinya Kak Anta bertanya lagi padanya.


Kak Rambo masih diam, seakan enggan untuk menjawab lontaran pertanyaan dari Kak Anta. Dia hanya fokus menatap jalanan di depan, ini di luar kebiasaan Kak Rambo. Tidak terlihat seperti dia yang biasanya.


Lalu bagaimana dengan Marwah?, pikirku.


"Sudahlah, aku juga sebenarnya berat hati untuk nikah dengan cara begitu, maunya cari sendiri. Tapi, mau bagaimana lagi, sepertinya aku harus berlapang dada menerima mungkin ini sudah takdir. Lagipula kan, tak kenal maka tak sayang."


Suasana jadi hening, suasana sore yang tenang saat di perjalanan. Sementara kendaraan masih jauh dari ujung kota, pemandangan di jalanan yang penuh pohon. Mobil terus melaju menelusuri jalanan yang berkelok, di tengah semua itu dan diamnya Rania dalam timangan ku, kami tahu bahwa kami jadi hening dan kikuk. Bahkan Kak Rambo pun yang biasanya humoris dan cerewet kini menjadi diam dan serius.


"Pembicaraan kita terlalu berat, Rambo jadi makin terlihat tua kalau diam begitu. Kalau Marwah lihat, bisa dipanggil kakek kakek, kamu!" Kak Anta berseloroh untuk menggoda sahabat karibnya itu.


"Makanya dia harus cepat-cepat dipecat! dasar bocah tengil, orang tampan begini dipanggil Om Om."


Begitulah semua berlangsung, Kak Rambo memang menjawab dengan balasan banyol tetapi aku bisa lihat dari spion dalam bagaimana matanya berbicara.

__ADS_1


Saat dia berkata itu, dia sedang sedih dan terluka ....


__ADS_2