I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 77 - Cinta Yang Tertunda 2


__ADS_3

"Coba katakan padaku!" ucap Kak Anta "Sudah tiga bulan berlalu, mau sampai kapan kamu patroli malam setiap hari dan keliling sampai ke luar kota?!"


"Bukan urusan kamu----"


"Haish! Kamu ini, tidak pikirkan keluargamu?" Kak Anta mendengus, "Begini, apa yang kamu pikirkan selama ini? sejak membatalkan nikah, kamu jadi tertutup dan tidak bisa atur tujuan, seperti penyair yang hilang arah. Karena itu aku mengajakmu kemari, kita coba ciptakan lagi ruang untuk saling bicara dan terbuka. Ada yang sedang kamu cari?"


"Apa Kakak cari Marwah?" Selaku, setelah menaruh teh untuk mereka berdua di atas meja.


Di tengah cahaya remang, mataku memperhatikan sosok Kak Rambo yang kini sama temaramnya dengan langit malam. Dia tampak lesu dan kalut, seperti tengah berjuang mati-matian namun hasilnya nihil. Bila melihat pikiran dan tingkahnya 3 bulan ke belakang, nampak dengan jelas bahwa praduga ku ini tidaklah salah; Kak Rambo tengah mencari seseorang, bahkan dia rela menghabiskan waktunya untuk patroli malam setiap hari.


Bagaimana seseorang yang sangat malas dan datar soal perasaan ini dapat tiba-tiba berubah jadi melankolis bahkan lebih cepat dalam h-satu minggu pernikahannya? Aku tak tahu. Tapi, malam ini kami berdua Kak Anta tengah berusaha menemukan jawabannya langsung pada diri Kak Rambo.


"Betul apa yang dikatakan Kania?" tanya Kak Anta.


Kak Rambo meneguk salivanya beberapa saat, baru kemudian menjawab. "Tidak salah," jawabnya.


"Orang yang selalu sembunyi karena takut adalah seorang yang pengecut. Karena energi positif yang sesungguhnya dapat mengalir dari totalitasnya terhadap apa yang dia perjuangkan," urai Kak Anta, setengah menasehati. "Minumlah dulu tehnya."


"Cukup air putih saja," Katanya. "Ada?"

__ADS_1


Aku mengangguk, tanpa basa-basi segera kembali ke dapur untuk ambil teko kecil berisi air putih sesuai permintaan Kak Rambo. Baru kemudian setelah sampai lagi di ruang depan, aku menuang minuman itu di gelas Kak Rambo dan dia langsung meneguknya.


"Terima kasih." Ucap Kak Rambo padaku.


"Tambah?" tanyaku.


Dia menggelengkan kepalanya pelan.


"Bahkan kalian pun menyadari, aku sendiri tak tahu harus menyebutnya apa. Mungkinkah sekarang ini aku tengah merasakan penyesalan? atau aku memang benar telah hilang arah dan tujuan setelah membatalkan pernikahan dan lagi-lagi mengecewakan keluarga. Aku tak tahu, apa yang harusnya ku rasakan, yang pasti sampai saat ini aku masih ingin terus mencari bocah yang berikan ini---" Kak Rambo membuka kembali obrolan, sambil kemudian dia mengeluarkan lagi gelang sepasang pemberian Marwah yang paling ku ingat.


"Marwah," Kataku pelan begitu Kak Rambo memperlihatkan kotak itu lebih jelas di hadapan kami. "Kak Rambo cari Marwah sampai sekarang? bahkan selama tiga bulan lamanya?"


"Ya, ku rasa." Kak Rambo menatap gelang itu sayu. "Jangankan tiga bulan, bahkan bertahun-tahun pun aku tak akan menyerah untuk mencarinya. Karena gelang ini tak akan ku pakai dengan perempuan mana pun, selain dia."


"Aku tak bisa jawab itu." Jawab Kak Rambo datar. "Aku tahu, terlambat bagiku untuk datang padanya, sementara saja kini dia telah pergi jauh entah kemana. Tetapi, hanya seperti kata yang selalu ku katakan; Mencoba belum tentu berhasil, menyerah sudah pasti gagal. Jadi ke sudut dunia mana pun Marwah pergi, dan bertahun-tahun pun aku akan tetap mencarinya, aku tak akan menyerah."


"Kenapa bisa sampai begitu? Apakah karena Kakak mencintai Marwah?"


Kak Rambo diam beberapa saat. Baru kemudian menjawab, meski tanpa menatapku.

__ADS_1


"Aku berkata kalau tak akan pernah memakai gelang ini bersama siapa pun, kecuali dia. Ku rasa kamu tidak salah, aku memang telah jatuh cinta padanya."


"Kenapa baru sekarang bicara Kak? kenapa setelah Marwah pergi, rasa itu baru ada? Kak Rambo tak tahu betapa Marwah hancur karena menahan perasaan saat tahu kakak akan menikah. Dia itu sangat mencintai kakak, sampai memilih pergi jauh dari sini." Kataku hampir histeris. Di samping Kak Anta yang menggenggam tanganku erat, berusaha menjagaku agar tidak lepas emosi.


Dan Kak Rambo kembali diam.


"Mau mencarinya sampai bertahun-tahun? ini bahkan sudah jalan 3 bulan, dan kamu cuma menyiksa diri dengan mencari sesuatu yang tak pasti, pergi ke sana ke mari tanpa tujuan. Meskipun kamu laki-laki, kamu tetaplah manusia, ingatlah usiamu sebentar lagi kepala 3. Kasihan orang tuamu, mereka berharap untuk bisa melihat kamu segera menikah." Ucap Kak Anta.


"Itu, mungkin sudah menjadi hukuman untukku karena menyia-nyiakan gadis seperti dia. Aku dihukum Tuhan untuk mengalami sakit yang dirasakan olehnya, disiksa oleh rasa rindu dan terkubur dalam biang penyesalan. Tersiksa karena terus di gentayangi bayangan cinta bagai mutiara yang melayang, hanya sebatas fatamorgana, tak nyata. Dan itu semua sungguh menyakitkan." Jelas Kak Rambo.


"Jangan pikirkan tentangku, kamu tahu sendiri aku bukan pria yang mudah menyerah. Aku yakin pasti akan menemukan dia, walau entah kapan. Mencarinya memang tidak mudah, tapi bila aku menyerah itu hanya membuatku semakin tersiksa."


Lalu aku kembali menyela, tapi kali ini dengan emosi yang lebih baik. "Kakak yakin?"


"Seribu persen." Jawabnya.


...****************...


Dan semua itu memang bukan sekedar kata-kata. Setelah hari itu, Kak Rambo membuktikannya, dia telah berusaha keras mencari Marwah bahkan sampai bertahun-tahun.

__ADS_1


Hingga hari ini pun tiba. Kak Rambo tetap menunggu Marwah walau 2 tahun telah lewat sudah.


Tak terasa....


__ADS_2