I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 88 - EKSTRA PART 1


__ADS_3

Minggu, 5 tahun berjalan.


Setelah perjalanan pernikahan antara aku dan Kak Anta berlangsung hampir lebih dari 5 tahun, kini Rania sudah sekolah di taman kanak-kanak, dia tumbuh layaknya anak perempuan yang gemar urusan rumah tangga dan bersolek. Sosok kakak penyayang untuk kedua adiknya, tapi meskipun ia perempuan, Rania juga memiliki sifat memimpin untuk Angkasa dan Samudera.


Sementara si Kembar, Angkasa dan Samudera mereka sudah berusia tiga tahun 8 bulan sekarang. Pertumbuhan dan perkembangan mereka jauh lebih cepat dari anak seusianya, Angkasa bahkan sudah pandai mengenal huruf dan angka. Sementara Samudera sudah pintar meniru ucapan orang lain.


Bisa ku sebut, kalau Angkasa itu adalah copyan Kak Anta versi mini. Dia anak yang pendiam, dingin, dan tak suka disentuh sembarang orang. Tapi, dia adalah anak yang baik, di balik sifat dinginnya itu, Angkasa memiliki kasih sayang sedalam Kak Anta. Intinya dia perhatian, meski tak terlihat.


Beda dengan saudara kembarnya, Samudera, si bungsu. Mungkin, benar kata petuah zaman dulu, anak kembar belum tentu wataknya juga sama. Kalau Angkasa dingin, maka bisa ku sebut Samudera memiliki sifat super hangat. Dia tak malu untuk menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya, Samudera itu paling gampang meminta maaf dan super sabar untuk anak seusianya. Hal kecil begini bisa terlihat, misal kalau dia lapar sementara aku belum selesai masak. Samudera bakal bantu aku, atau paling tidak dia akan menunggu dengan baik, tidak rewel sama sekali di kursi makan.


Anak-anak sendiri, banyak dekat dengan Kak Anta. Karena bersama papanya mereka akan banyak diajarkan hal baru, Kak Anta senang bahkan sudah ajari Rania, Angkasa dan Samudera bela diri. Tapi, ini tidak mengurangi rasa sayang mereka terhadapku sebagai ibunya, kok. Terutama Samudera yang paling menyanjung ku.


Dan pagi ini, pagi yang cukup sibuk untuk kami sekeluarga. Sebagai istri sekaligus ibu aku termasuk yang paling ribet mengurus hari ini. Kami harus memenuhi undangan pernikahan Kak Rambo dan istrinya. Syukurlah, setelah sekian lama ia berjuang tanpa haluan mencari Marwah. Kini, ia telah dipertemukan dengan jodoh lain. Wanita pilihan keluarganya lagi.


"Siapa kak, nama calon istri Kak Rambo?" tanyaku pada Kak Anta.


Sementara Kak Anta masih sibuk memasangkan sepatu untuk Angkasa dan Samudera.


"Erina Widya Karisma." Jawab Kak Anta. "Kakak Rania mana? mau pakai bando atau kepang? biar Papa ambilkan di lemari."


"Rania sudah siap, Kak. Tadi sudah ku pakaikan bando." Sahutku dari meja rias.


Memang agak tiba-tiba, bahkan tak ada obrolan lagi dari Kak Rambo sebelumnya kalau ia akan menikah, kami bahkan dapat surat undangan dari Dokter Rani, bukan Kak Rambo langsung. Kalau ku tanya pada Kak Anta, dia cuma jawab pakai senyum. Lalu singkatnya begini, "Rambo itu orang yang paling bersemangat kalau mengejar sesuatu atau menyambut sesuatu yang diinginkannya."


Ya, aku cukup paham saja.

__ADS_1


Kak Anta sudah siap berdiri di belakangku, bersama dua ajudan kecilnya yang sudah lincah berjalan bahkan bicara.


"Mama super cantik---"


Samudera berdiri di hadapanku malu-malu. Sambil bersandar di pangkuanku dan sesekali menghadap ke pantulan cermin, seakan ia ingin meyakinkan aku, bahwa semua ucapannya bukanlah kebohongan.


"Jelas. Istri siapa dulu?" ucap Kak Anta dengan nada mengejek, dia paling suka memancing sisi cemburu pada diri Samudera.


"Istri Papa, Mamanya Sam."


Aku tersenyum bangga, meski dari Pantulan cermin ku lihat Angkasa yang berdiri Kaku di belakang kursi, cuma lihat kami datar. Agak susah memang menyeimbangkan keluarga ini, terutama karena Asa (begitu kami memanggil Angkasa) terlalu dingin persis seperti papanya.


"Asa? coba ke sini. Mama mau tanya sesuatu," Kataku sambil melirik ke arahnya.


Angkasa memutar badan hingga kemudian berdiri di hadapanku, tepatnya di samping Samudera, adiknya.


Angkasa langsung memalingkan pandangan, matanya menatap pada ubin kamar yang putih mengkilap. Wajahnya tersipu-sipu malu, begitulah orang dingin kalau salah tingkah.


"Iya." Jawabnya singkat sambil mengangguk.


Aku dan Kak Anta saling pandang. Kak Anta cepat-cepat mengacungkan jempol, bangga 100 persen pada anak-anaknya.


Tapi tak ada reaksi lain, lekas ku peluk Asa. Sebersit rasa khawatir dalam hatiku, bagaimana kalau sifat ini bertahan sampai ia dewasa? bagaimana anakku ini bisa dapat pendamping kalau dengan ibunya saja bisa se kaku ini?


"Papa, Mama. Rania sudah siap."

__ADS_1


Demikianlah anak pertama kami datang dari kamarnya. Dia berdiri di muka pintu, gayanya laksana seorang putri yang sedang pamer gaun.


"Cantiknya tuan putri papa! kemari, biar Papa gendong sampai ke mobil."


Akhirnya setelah selesai menungguku berdandan, Kami mulai bersiap berangkat. Anak-anak duduk di kursi penumpang, cukup aman karena sejak mereka lepas dari pangkuan ku, kursi mobil sudah dimodifikasi Kak Anta khusus untuk mereka.


Tiba di lokasi acara, kami duduk di meja VIP. Yang sudah di sediakan khusus oleh tuan rumah yang mpunya acara. Di posisi ini kami bisa lihat lebih jelas, prosesi akad pernikahan Kak Rambo dan calon istrinya.


Ku lihat Kak Rambo duduk di singgasananya bersama sang calon istri yang super cantik dan bikin pangling. Tapi, ini hanya perasaanku saja atau memang benar; Kak Rambo begitu datar bahkan terkesan malas dengan pernikahannya sendiri. Tak ada senyum sama sekali, bahkan ia enggan untuk sebentar saja menoleh, atau menatap Istrinya. Haish, apa-apa an aku ini?! pasti cuma perasaan saja, karena jujur aku masih sangat bersedih hati, untuk kisahnya bersama Marwah. Walau sudah 5 tahun lewat, tapi jika boleh jujur, aku masih belum bisa bangkit dari berharap agar Marwah dan Kak Rambo yang bersatu di pelaminan itu.


"Saya terima nikah dan kawinnya Erina Widya Karisma dengan mas kawin tersebut, tunai!"


"SAHH... "


Cukup sekali saja, ucapan serah terima hak itu diucapkan Kak Rambo dalam satu kali hembusan napas. Bersama dengan itu pula, lenyaplah sudah semua harapan tentang Marwah, yang entah kini berada di mana.


"Selamat untuk pernikahanmu Rambo. Semoga dari sini, kehidupanmu selalu diberikan kemudahan dan kelancaran. Semoga cepat diberikan momongan, agar bisa seperti kami kemana-mana berlima." Ucap Kak Anta pada saat acara selamatan tiba.


Mereka saling berjabat tangan. Meski Kak Rambo hanya menjawab dengan senyuman saja.


Aku pun mengucapkan yang demikian, tidak berani panjang-panjang. Karena menghormati istrinya yang kelihatan kurang nyaman dengan keakraban ku pada Kak Rambo.


"Om gondrong, selamat menikah. Habis ini main lagi ke rumah ya, Rania kangen." Seru Rania dalam gendongan Kak Anta.


Memang, dia sangat dekat dengan Kak Rambo terutama karena Kak Rambo yang rajin main ke rumah dan sering main dengannya. Tapi soal panggilan Om Gondrong sendiri, kami tak tahu ia dapat inspirasi itu dari siapa. Mungkin dia sebut begitu karena lihat penampilan Rambo, tidak mungkin kan meniru Marwah?

__ADS_1


Kak Rambo sendiri seperti menemukan obat rindunya pada Marwah lewat Rania. Walaupun mungkin setelah pernikahannya ini, Kak Rambo malah kesulitan dengan sebutan itu, tapi semoga sikapnya tak berubah pada Rania.


__ADS_2