I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 38 - Rahasia Besar Anta


__ADS_3

"Petra?"


Aku terdiam di kesunyian malam, bersama dengan hujan yang turun berintikan. Hawa dingin membuatku tenggelam, tenggelam dalam bayang-bayang rasa penasaran.


"Mengapa Kak Anta bisa berfoto bersama Petra? dalam satu frame? ada hubungan apa di antara mereka? apakah mereka saling kenal?"


Malam yang membingungkan. Satu hal yang menyelamatkanku dari gelisah adalah berangkat tidur. Tapi, sebelum itu aku harus mematikan weker ku untuk beristirahat. Aku ingin beristirahat sampai matahari naik ke langit tinggi. Menenangkan jiwa-jiwa ku yang telah melayang, melambung bebas, dengan semua kenyataan dan hal-hal yang datang hari ini. Sementara urusan tentang Mbak Isma dan Foto Kak bersama Petra, akan ku pikirkan besok. Saat hatiku mungkin jauh lebih tenang.


Besok paginya, embusan angin yang memukul pepohonan yang penuh embun membuat aroma hujan yang telah reda tetap bertahan membangunkan aku dari rasa lelah yang panjang.


Aku bangun dengan perasaan malas.


Foto yang ku temukan semalam masih ada dalam genggamanku. Ku pikir hanya mimpi, mimpi yang ingin segera ku akhiri. Sebab, aku tak mau dipenuhi prasangka buruk tentang Kak Anta hanya karena selembar foto.


Aku segera bangkit sambil membersihkan kamar, kemudian melanjutkan dengan beres-beres rumah.


Di tengah berlalunya waktu, dan lalu lalang burung gereja, di tengah langit biru yang di terangi matahari dan awan putih, perasaanku seperti diserbu melankolia. Selain melihat kegigihan Mbak Isma untuk merebut kembali Kak Anta dari sisiku, aku sebenarnya tak tahu apakah masih bisa mempertahankan Kak Anta, bila mengetahui kebenaran di balik foto ini.


Dari pada menjadi gila karena pikiran yang melayang-layang. Mungkin karena terlalu banyak rahasia semesta yang bermunculan akhir-akhir ini. Akhirnya ku putuskan untuk mencari tahu kebenarannya. Tak ada yang menemaniku, selain kursi kayu dengan dudukan empuk di depan beranda. Sambil memandangi jemuran, aku berpikir, "Siapa yang bisa membantuku untuk menguak misteri foto ini?" Mbak Isma? tidak mungkin... hubungan ku dengannya tidak baik, sedang memanas.


"Kak Rambo!" Seruku.


Lantas setelah mendapat ide cemerlang itu, ku ambil ponsel di atas nakas kamar. Lalu ku cari kontak atas nama Rambo.


"Kalau mau bahas soal menikah lagi nanti saja. Aku masih betah sendiri. Bahas lain waktu saja, aku sibuk!" jawabnya ketus dari kejauhan sana.


"Halo, Kak." Ucapku.


"O-h, Halo, maaf ini siapa?"


"Karunia Kak, istri Anta Reza."


"Oh, nyonya Anta. Maaf tadi ku pikir ibu ku yang telpon, seharian Ini dia sudah menelpon ku sampai empat kali. Cuma untuk bahas yang bukan-bukan."


"Tidak masalah Kak,"


"Omong-omong, Ini pertama kalinya kamu menelpon ku, Ada apa?"


"Maaf Kak, apa kakak sekarang sedang bersama Kak Anta?"


"Tidak, aku sendirian. Anta Reza masih di ruangan. Kamu cari dia? apakah dia sulit dihubungi? biar ku bantu marahi kalau begitu."


"Bukan kak, aku hanya ingin memastikan. Aku tidak cari Kak Anta, tapi aku memang ada keperluan denganmu Kak."


"Denganku?"

__ADS_1


"Ya. Apakah kakak punya waktu untuk bertemu denganku hari ini?"


"Bisa, malam nanti aku tidak ada jadwal patroli. Tapi Anta Reza ada, atau tunggu hari libur saja bagaimana?"


"Hanya kakak, tidak perlu ada Kak Anta. Jadi, malam ini saja."


"Waduh?! Anta Reza bisa marah loh kalau kita pergi berduaan."


"Rahasiakan dari Kak Anta, aku mohon. Soal aku menghubungi mu dan soal aku mengajak bertemu, ini karena aku hanya memiliki keperluan dengan kakak saja."


Tak ada jawaban dari Rambo, dan aku menunggu beberapa saat. Mungkin dia sedang berpikir. Kemudian, barulah ada respon darinya.


"Sedang ada masalah dengan Anta Reza, ya? Kamu tidak berniat untuk menjadikan aku selingkuhan karena sering ribut dengan Anta Reza kan? Aku memang jomblo lapuk, tapi aku tidak berniat jadi selingkuhan." Katanya berseloroh.


"Siapa yang mau jadikan kakak selingkuhan? ada satu hal yang ingin aku tanyakan tentang Kak Anta dengan Kakak. Karena itu aku memilih diam-diam untuk bertanya dengan sahabat dekatnya."


"Oh, haha maaf maaf. Baiklah, nanti malam bisa jam delapan malam. ketemuan di mana?"


"Di restoran tempat kakak dan aku ketemu kemarin bagaimana? aku hanya tau tempat itu soalnya."


"Bisa. Mau ku jemput atau bagaimana?"


"Aku pergi sendiri saja, kak." Jawabku, "Dan omong-omong, tolong rahasiakan soal ini dengan Kak Anta, ya?"


"Siap. Kamu mau kasih kejutan, pasti ku dukung."


"Baiklah, sampai ketemu nanti malam."


Ketika malam datang, aku pun segera berangkat empat puluh lima menit sebelum waktu yang kami janjikan. Sebab, waktu tempuh dari rumah ke sana menghabiskan waktu tiga puluh menit dalam perjalanan.


Motor ojek terus melaju. Jalanan berkelok-kelok, mengingat tempatnya memang agak jauh. Udara malam yang basah dan lembab, tapi kerlap-kerlip lampu di kejauhan membuat suasana menjadi hangat.


Sampailah aku di restoran The Lovers. Aku membuka pintu dengan hati-hati, agar tidak terlalu mencolok. Begitu masuk aku segera duduk di meja bagian pojok. Mataku menjelajah ke penjuru ruangan, mencari-cari di mana Rambo berada. Aku tahu, aku akan mudah menemukannya, karena tubuhnya yang tinggi besar dengan rambut panjang sebatas bahu yang aduhai, tampangnya yang seram berbanding terbalik dengan sikapnya yang luwes dan agak jenaka. Tapi tak ku dapati orang itu, mungkin belum datang. Aku pun segera mencari tempat duduk dan memesan minuman.


"Capuccino?" Kataku pada pelayan.


"Maaf, tapi sudah kosong. Kalau diganti kopi?"


"Tidak, air mineral saja." jawabku.


"Baik, silakan ditunggu."


Aku menoleh ke belakang. Dan berapa kagetnya aku saat melihat Rambo telah berada di belakang tubuhku. Dia berdiri, dengan rambut yang di kuncir cepol ke belakang.


"Kakak sudah ada di sini?!" Tanyaku.

__ADS_1


"Tadi aku duduk di situ, di belakangmu," kata Rambo sambil menunjuk meja di belakang mejaku. "Tapi matamu tidak melihatku, karena aku bersembunyi di balik dinding itu.... "


"Oh ku pikir kakak masih di telepon orang tua dan belum ke sini, kalaupun sudah di sini mungkin sedang ke toilet."


"Nah, sudah mulai berani mengejekku ya?"


"Tidak mengejek. Kenyataannya kakak sendiri yang mengatakan kalau orang tua sudah telpon berkali-kali hari ini."


"Sudahlah, aku jadi cemas kalau teringat topik telepon itu. Mau duduk di mana?" Sergahnya, sambil menunjuk kursinya dan kursiku.


"Di sini juga tidak masalah," Kataku disusul dia yang memutar segera menarik kursi di seberangku.


"Mau langsung bahas, atau basa basi dulu?"


"Langsung saja kak, jadi begini---"


Belum selesai aku bicara, namun Rambo sudah memotong duluan.


"Anta Reza itu tidak suka sebenarnya diberi barang atau makanan, tapi mungkin kalau kamu yang kasih bisa beda cerita. Dia itu orang yang sederhana, jadi jangan berikan sesuatu yang terkesan ribet atau rumit. Nah, kalau mau makanan, ku rasa kamu sudah paham seleranya itu seperti apa. Oh terus seingat ku dulu, tiga tahun yang lalu, dia menyukai sepatu merek Adasdas keluaran terbaru waktu itu, untuk dipakai olahraga. Tapi, tidak tahu sepertinya tidak jadi beli. Kalau Pakaian, dia itu suka pakai kaos biar simple, dia sering pakai dari toko Enaqlo-----"


"Ma-maaf Kak, aku bukan mau tanya soal itu. Tapi, soal yang lain." Sergahku.


"Oh, maaf haha. Katamu tentang Anta Reza, jadi kupikir tentang itu."


"Bukan," Jawabku seraya mengambil foto dari dalam tas. "Aku mau bertanya tentang ini."


Rambo mengambil foto itu dari tanganku, setelah diam beberapa saat dengan mata menyipit. "Oh, ini foto waktu dia setelah 3 tahun jadi polisi, haha. Lihat! mukanya jelek sekali, seperti mangga busuk!"


"Kalian dekat sekali, ya?!" Kataku tersenyum simpul.


"Tentu saja! Aku sudah berteman dengan Anta Reza sejak SMA, Kami jadi idola para gadis waktu itu. Sebenarnya, dia saja sih. Terus kami masuk Sekolah Polisi sama-sama, sampai tugas di divisi yang sama juga. Sepertinya kami jodoh, ya kan?"


"Syukurlah, karena itu kakak pasti tahu kan soal orang di sebelah Kak Anta? dia siapa?"


"Tentu saja tahu! dia ini adiknya Anta Reza, adik sepupu sih, karena Reza kan anak tunggal. Kamu belum tahu?"


Aku terdiam, tubuhku melemas. Rasanya masih belum percaya dengan semua ucapan Rambo. Ini sebuah tabir kebenaran yang luar biasa, dan aku hanya mampu bertahan, menguatkan tubuh dan hatiku yang gemetar.


"Aku baru tahu."


"Namanya siapa ya? aduh...." dia terdiam sejenak, berpikir. Matanya menerawang ke atas, ke langit-langit Restoran yang kelabu. Jakunnya yang kokoh, menonjol berlatar leher gagah yang kecoklatan. "Alfatra! ya namanya Alfatra, tapi dipanggil.... "


"Petra!" Seruku.


"Nah, itu! benar. Aduh sudah lama sekali, aku terakhir ketemu waktu kami pelantikan. Dia dimana ya sekarang?"

__ADS_1


"Hah?" Ucapnya dengan mata membulat, tubuhnya langsung ke depan, menatapku seakan tengah menginterogasi. "Kamu kok tahu nama panggilannya? katanya baru kenal?"


Ekspresi wajahnya yang polos, terlihat seperti orang bodoh...


__ADS_2