I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 39 - Takdir Kesakitan


__ADS_3

"Eh, balik lagi ke topik yang ku kira tadi. Kamu mau kasih kejutan untuk dia apa? aku bingung mau kasih kado apa? soalnya terakhir aku beri kado malah di selorohnya dengan sebutan "Maho", Sumpah aku jadi trauma untuk beri dia hadiah lagi. Memang dasar!" Lanjut Rambo.


"Kania? hei! kamu melamun."


Dia menggoyangkan telapak tangannya di depan wajahku, sambil mengulang kalimatnya dan membangunkan lamunanku.


"Kak, Terima kasih ya untuk waktunya. Sungguh aku sangat beruntung karena diberi tahu soal ini."


"Tentu saja, sama-sama." Rambo memalingkan mukanya, berpura-pura marah. Padahal aku tahu, dia sebenarnya sedang bersikap manja kepadaku teman barunya. "Kania, bantu aku cari jodoh, tolong! teman sekolahmu dulu juga tidak apa-apa. Aku pusing!"


Aku tertawa kecut untuk merespon permintaannya.


"Nanti ku bantu carikan! Tapi maaf, mungkin terkesan kurang sopan. Tapi, aku pamit pulang duluan ya Kak?!"


"Yes! Baik, tidak masalah. Hati-hati di jalan, ya? atau mau ku antar?"


"Aku sendiri saja, Kak. Terima kasih, selamat malam."


Aku mengambil lagi foto Kak Anta yang masih terpampang di atas meja. Ku simpan lagi baik-baik di dalam tas kecil. Kemudian berdiri dan sedikit menunduk sebelum akhirnya pergi.


"Hati-hati!" Katanya memekik sambil melambaikan tangan, membuatnya jadi pusat perhatian para pengunjung Resto. Aku hanya tersenyum sambil menaikkan tangan.


"Taksi!" Kataku sambil melambai tangan dari pinggir jalan.


Sepanjang jalan, di dalam taksi, pikiranku melayang-layang tidak keruan, bertubrukan dengan semrawutnya pemandangan kota yang penuh hiruk pikuk oleh kendaraan dan orang-orang yang berlalu-lalang. Mampukah aku mengambil keputusan setelah mendapati kenyataan ini? Mampukah aku memendam perasaanku untuk semua masalah hidup ini, bila ternyata kami masih atau mungkin ditakdirkan untuk masih berjalan bersama?


"Pembohong! Kenapa kamu buat aku jadi sakit begini Kak Anta!!"


Apa pun yang terjadi akan ku terima. Dia membuatku sembuh dari trauma dan dia pula ternyata bagian dari rasa sakit itu. Tapi, bagaimana kelanjutan ini? adakah hal lain yang dapat menguatkan hatiku untuk bersikap tenang? Tuhan yang Maha Pengasih, berilah aku kekuatan dan rasa sabar serta petunjuk dari cintamu di atas para makhluk.


"Putar ke kiri, Pak. Masuk ke jalan itu."


Taksi berputar pelan dan tiba-tiba hatiku berdebar-debar hebat. Apa yang akan terjadi ke depannya? Aku melihat seorang wanita hamil berpakaian lusuh di perempatan sambil menyodorkan gelas plastik ke para pengendara, tatapannya lesu berharap belas kasih, ada seorang anak melintas di sampingnya, bebannya yang berat membawa cangcimen dan tisu wajah, Namun dia tetap tegar berkeliling sambil menawarkan dagang asongannya ke para pengguna jalan.


Tapi astaga, sejauh aku mengalihkan perhatian, tetap saja aku merasa kecewa dan derita. Ucapan Rambo masih terngiang di telingaku. Memenuhi hampir seluruh hati dan berdetak bersama dengan aliran nadiku. Jantungku berpacu cepat dan hebat, seakan di dalamnya ada genderang perang yang meluap-luap. Ini begitu mengejutkan meskipun inilah kebenarannya. Misteri apa lagi yang tersembunyi di antara kami? dan adalah sesuatu lagi yang kami sembunyikan?


"Kenapa aku se-kecewa ini padamu, Kak!"

__ADS_1


Keluar dari taksi, pemandangan malam tampak begitu indah dan tenang, dengan langit yang sedikit cerah serta udara yang terasa bersih. Sebab, di kejauhan sana, di sebelah barat langit, awan mendung menggantung, seakan mengancam ku. Aku masuk ke dalam rumah dan segera pergi ke ruang tengah, menuju kamar.


Kak Anta itu, adalah pelipur lara yang ku pikir dia adalah obat dari perasaan pilu. Dia datang bagai pahlawan, dan dengan gagah berani mengambil tanggung jawab untuk masa depan seorang gadis. Meski begitu dia bukanlan sosok yang sempurna, dia memiliki kelemahan permanen yang membuatku akhirnya paham bahwa tidak ada seorang pria yang mau menikahi wanita asing yang mengandung anak orang lain dengan sukarela, sebagaimana pemikiran orang lain pada umumnya. Hingga akhirnya aku mengetahui, bahwa ia memiliki alasan lain yang lebih masuk akal, selain dari yang telah dia ucapkan.


Dia ini adiknya Anta Reza, adik sepupu sih, karena Reza kan anak tunggal.


Dengan semangat emosional Ku seret selimut ke lantai, lalu ku ambil bantal dan membantingnya


"Bahkan kenyataan ini jauh lebih menyakitkan ku ketimbang persoalan tentang Mbak Isma, Kak." Aku histeris, dalam rengkuhan kasur yang empuk.


"Kamu menikahi aku bukan karena kasihan! Tapi, untuk melindungi adikmu sendiri! Jahat!!" Kataku, "Jahat!!"


Aku tidak ingin menangis, tetapi oh Tuhan, mungkinkah ini caramu memberikan karma untukku? karma karna aku berbuat tak senonoh di luar dari apa yang engkau halalkan? Tapi, Tuhan Jangan buat aku dilema. Pernikahan antara aku dan Kak Anta ini apakah murni sebuah karma yang buruk? atau mungkinkah ini karma baik? Aku hanya bisa menerka-nerka, sambil mencerca diri yang begitu hina.


"Kenapa hanya aku yang jadi mainan? kenapa hanya aku yang selalu dibohongi?"


Aku merenung, sambil sesegukan. Busa lembut kasur menyerap air mataku. Dan aku terdiam.


"Kak Anta kenapa?" Pikirku, "Kenapa harus kamu?"


"Jika bukan karena mu, Kamu yang paling tahu seberapa kecewanya aku. Seberapa putus asanya aku."


Kania maaf malam ini tidak bisa telepon kamu. Aku ada jadwal patroli malam, kamu ingat? Jangan lupa makan malam, ya? Kalau mau sesuatu segera kabari aku. Jangan bergadang, selamat malam...


Ku pandangi layar ponsel dengan wajah datar membaca pesan singkat kaku tapi romantis, dari Kak Anta. Tapi hanya Ku baca, tak ku balas.


"Apakah kau merasa menyelamatkan aku, setelah aku terpuruk?"


"Aku mencintai kamu, tapi kamu menikahi ku karena terpaksa untuk menyelamatkan adikmu... "


Keterpaksaan yang ku maksud, menghantuiku dalam imajinasi bayangan masa depan. Aku dan anakku ini tidak bisa berharap pada orang lain, aku seorang ibu, dan aku harus berjuang untuk anakku. Aku dibohongi, di permainkan, lempar ke sana sini, bagai bola tak bertuan. Aku merasa begitu bodoh dan lemah karena hanya bisa menunggu tanggung jawab dari orang lain. Mereka begitu, karena menganggap ku rendahan dan tak mampu berbuat apa pun.


Aku tak akan membiarkan, diriku dan anakku kelak bernasib yang sama dengan wanita dan anak yang berdagang di perempatan tadi. Tidak boleh, dan tidak akan ku biarkan.


Dalam pikiranku, jika aku terus menangis, maka rasa sakit ini hanya akan semakin membekas, dan luka ini hanya akan bertambah lebar. Maka dari itu, rasa cinta ini tak akan ku biarkan menjadikan aku lemah. Aku akan bangkit dari keterpurukan, dan berjuang menjadi handal. Agar mereka dan keluarganya tahu, bahwa aku bukan hanya gadis desa yang menarik hanya untuk di nikmati dan di bodoh-bodohi.


Tetapi, aku adalah aku. Seorang gadis yang dibesarkan karena aku karunia pemberian Tuhan yang tak boleh seorang pun yang menghancurkan dan menyakitinya, karena ayah mati-matian untuk menjaga dan memeliharaku, bahkan setelah ibu tiada. Begitu yang selalu ayah katakan.

__ADS_1


Aku tidak bisa terus berharap dari Kak Anta, belum lagi setelah terungkapnya semua kenyataan ini. Karena itu aku harus mengambil langkah awal untuk persiapan dan rencana perubahan. Pertama-tama aku harus bekerja, agar punya penghasilan yang mandiri. Dengan semangat yang beriring rasa sakit. Ku ambil kembali ponsel, dan coba menghubungi lagi satu-satunya seseorang yang dapat membantuku;


"Halo, Kak?" Kataku setelah panggilan telepon ku diterima.


"Ya, aku di sini. Ada apa?"


"Maaf, menelpon lagi. Kakak sudah pulang atau masih di restoran?"


"Aku baru mau pulang, tadi merokok dulu sambil nonton bola online."


"Maaf sepertinya aku akan merepotkan, Sebenarnya aku butuh bantuan Kakak lagi... " Jawabku gugup hampir terbata-bata.


"Jangan sungkan begitu, bantuan untuk apa? aku senang membantumu."


"Bisa bantu aku cari pekerjaan? Kerja apa saja, untuk lulusan SMA. Aku bisa melakukannya."


"Kenapa tiba-tiba begini? Apa Anta Reza tidak menafkahi kamu? atau hubungan kalian sedang tidak baik?"


"Kami baik-baik saja, Kak."


"Terus kenapa tiba-tiba minta kerja? Kamu sedang hamil, tidak boleh terlalu capek. Aku beri tahu dengan kakakku, ya?! hayo... "


Justru karena hamil, aku harus bangkit. Aku harus mandiri, mengumpulkan uang untuk biaya melahirkan, membeli keperluan bayi, makanan. Aku harus mampu untuk tidak bergantung pada orang lain, baik itu Kak Anta atau mungkin Petra. Demi Tuhan, mengingat namanya saja sudah membuatku mual. Petra adalah masa lalu yang harus di kubur, sedalam mungkin.


Aku tidak hidup untuk di mainkan, dan aku tidak lahir untuk jadi Parasit dari rasa kasihan.


"Aku butuh pekerjaan Kak, untuk alasannya nanti juga kakak akan tahu. Bisa bantu aku?"


"Bagaimana, ya?" Jawab Rambo, "Anta Reza tahu?"


"Belum. Tapi nanti dia pun akan tahu."


"Kalian berdua ini memang rumit, susah sekali ku pahami. Tapi, baiklah. Ku bantu. Akan ku kabari kamu secepatnya."


"Terima kasih Kak."


Telepon ku matikan. Dan pikiranku kembali lagi pada Kak Anta. Sejauh aku berusaha membenci semua tentang Petra, apakah kamu juga bagian dari rencana mereka? rencana mereka yang membenci kehadiran anakku.

__ADS_1


Kak Anta, posisiku begitu sulit. Salahkah aku jika membenci takdir? Kamu adalah rasa sakit yang paling ku cintai dan kamu adalah rasa cinta yang paling sakit...


__ADS_2