I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 52 - Sejarah Baru


__ADS_3

Selesai semua pembicaraan itu, dengan penuh suka cita aku pergi memasak di dapur sementara Kak Anta dengan manja dan sabar menunggu di meja makan. Hari yang penuh sentuhan dramatis, dan sungguh tak kusangka di balik musibah dan nasib naas yang diderita kak Anta, ada sebuah hikmah yang begitu besar.


"Tahu goreng spesial dengan kuah bayam bening ... "


Aku berjalan sambil membawa satu mangkuk besar berisi sayur bayam kuah, kesukaan Kak Anta. Kemudian ku bawa lagi piring putih berisi tahu goreng sesuai permintaannya.


Dia yang sudah menunggu, berusaha bangkit dari kursi untuk membantu tapi ku tahan. Lantas setelah itu, Ku bantu tuangkan nasi beserta lauk dan segala macam t3tek bengeknya.


"Terima kasih." Ucap Kak Anta. Dia mengambil makan malam bagiannya kemudian menyantapnya dengan lahap.


"Bagaimana rasanya, Kak?" Tanyaku padanya sambil bertopang dagu di atas meja makan.


Begitu mendengar pertanyaanku, Kak Anta berhenti mengunyah dan dalam sorot matanya dia tengah menatapku dalam-dalam, meski sekilas kulihat dia menyunggingkan senyuman tipis di wajah. Aku mencoba menerka-nerka apa yang akan dia katakan.


"Enak," Jawabnya singkat sambil mengacungkan ibu jari di depan ku. "Kamu makin pandai memasak, bahkan makanan sederhana dari bahan apa adanya pun terasa sangat enak dan nikmat karena kamu sudah pintar mengolahnya. Hebat!"


Tentu aku bangga! tak jarang dia memuji namun aku yakin bila soal masakan atau hal lain yang dulu menjadi kelemahanku, Kak Anta dengan sigap selalu mampu memberikan aku kepercayaan diri yang benar-benar berasal dari hatinya. Sehingga aku mampu menarik diri dari keterbatasan.


"Aku sudah selesai makan malam, Terima kasih. Masakan kamu sangat enak dan aku sungguh sangat merindukannya, setelah beberapa waktu cuma bisa makan makanan dari luar terus." Katanya mulai menggoda.


"Makanan dari luar kan jauh lebih enak, apalagi yang dari resto resto itu." Kataku.


"Tidak! salah besar. Makanan dari luar kalau dimakan lebih dari dua atau tiga kali saja, kita bisa bosan dan begah. tapi, lain hal masakan rumah. Dimakan sejuta abad pun tak akan pernah buat bosan, apalagi kalau dinikmati bersama-sama dengan keluarga. Sedap----"


"Bisa saja! Kakak tunggu di sini dulu, aku mau cuci piring sebentar."


Aku beranjak dari meja makan sambil membawa tumpukan piring kotor milikku dan Kak Anta. Sementara ku minta dia menunggu sambil menonton televisi. Atau sekadar buka ponsel untuk melihat berita di sosial media.


Malam yang panjang, setelah semua keributan yang terjadi Kak Anta akhirnya kembali pulang dan kami pun mampu menikmati masa ini kembali, berdua. Duduk bersama di teras saat senja, makan malam berdua di meja makan, dan sekarang adalah saat kami akan tidur bersama.


Setelah selesai mencuci piring, aku menengadah ke dinding atas, ku lihat jam sudah menunjukkan pukul 21.00 malam. Sudah cukup malam untuk Kak Anta istirahat, mengingat kondisi kesehatannya yang memang harus dijaga. Aku segera membantunya untuk ke kamar.


"Istirahatlah yang baik kak, biar ku bantu pakaikan selimut." Kataku, begitu dia telah naik di atas ranjang.


"Terima kasih Kania," Katanya tersenyum simpul. Lantas setelah itu aku bangkit dan bersiap untuk tukar posisi dengannya yang tidur di sofa selama ini.


"Kamu mau kemana?"

__ADS_1


Aku langsung menoleh ketika dia bertanya demikian.


"Ke sofa---" Jawabku.


"Untuk apa?"


"Tidur. Kak Anta kan sudah tidur di ranjang. Jadi kini kita bertukar tempat, biar aku yang gantian dengan kakak tidur di sofa."


"Tidak, jangan di sofa."


"Lalu di mana? Kalau di kamar lain, aku tidak bisa mengawasi kakak, mungkin nanti Kak Anta butuh sesuatu. Mau ke kamar mandi, mau minum, dan lain-lain, bakal repot kalau aku tidak ada di dekat kakak."


"Kalau begitu kamu tidur di sini------" Katanya, "Di sampingku."


Seketika aku membeku, jantungku berdetak kencang seperti pedal sepeda yang dikayuh Cepat-cepat. Benarkah yang dia katakan barusan? apakah dia serius dengan ucapannya? aku masih terus menganga.


"Kakak serius?" Kataku dengan mata membulat.


"Ya, aku serius."


Aku memutar arah dan naik perlahan di ranjang tepat di samping Kak Anta, ku hela napas yang mulai berat dan tidur menyamping membelakangi nya, menghadap dinding yang putih.


"Menghadap lah ke sini, aku ingin melihat wajahmu." Katanya tiba-tiba, membuat aku semakin berdegup tak karuan.


Tak ada yang bisa ku lakukan selain menuruti perintahnya, dia menatapku dan aku balik menatapnya, ketika kedua pasang mata kami ini bertemu, aku langsung mematung terutama saat ku lihat goresan senyum di wajahnya yang tegas dan maskulin.


"Kalau berada di sebelahmu begini, rasanya aku jadi sulit untuk memejamkan mata." Katanya pelan.


Lantas aku segera bangun, dia pun mengikuti.


"Kakak masih berat hati ya, tidur satu ranjang denganku? biar aku di sofa saja ya kak?!" Ucapku.


Lalu dia dengan santai dan khidmat menjawab; "Aku tidak berat hati, malah sangat ku inginkan kamu ada di sampingku. Aku sulit memejamkan mata karena ingin terus menikmati wajahmu."


Ku tatap Kak Anta lekat-lekat untuk memastikan bahwa dia tidak main-main dengan kata-katanya.


"Kak?----"

__ADS_1


"Ya?"


"Ini sungguh kamu kan? Kamu tidak kerasukan arwah lain saat koma kan?"


"Arwah lain tidak akan tahu tentang foto dan tentang kita." jawabnya.


"Kakak sedikit aneh. Semenjak sadar dari koma, kak Anta kenapa jadi sedikit aneh padaku?" Ku tanyakan lagi padanya untuk memastikan.


"Sudahlah, lebih baik kamu tidur. Sudah malam, kasihan bayi kita kalau kamu bergadang."


Kami kembali lagi ke tempat tidur, Kali ini mencoba untuk lebih santai dan tidak gugup.


"Kak----" kataku pelan.


"Belum tidur?" Jawabnya sambil menopang pipi menghadap ku.


"Aku tidak bisa tidur," Ku condongkan badan menghadap kak Anta lagi, "Menurut kakak, apa kita bisa terus begini selamanya?"


"Apa?"


"Aku bisa tidur di samping kakak, dan kakak tidak lagi tidur di sofa. Apa kita akan terus dekat seperti ini sampai akhir? pernikahan kita baru jalan dua bulan, tapi ujiannya sudah banyak sekali. Bagaimana kalau sampai bertahun-tahun ya?" kataku.


Dia mengambil tanganku dan menggenggamnya erat-erat, "Kita harus bisa selamanya seperti ini, agar rintangan macam apa pun kita akan kuat menghadapinya. Tidak ada rumah tangga yang lurus-lurus saja, tidak ada kapal yang selalu berlayar di air tenang. Semua akan menemui kelokannya masing-masing dan semua kapal pasti akan mengalami terombang-ambing."


"Kakak benar," Kataku. "Hanya aku terlalu takut bila harus menghadapi masalah berat lagi seperti kemarin-kemarin. Aku takut kita menyerah----"


"Tidak, oke? jangan memikirkan sesuatu berlebihan. Apa pun yang terjadi aku ini akan selalu ada di sisi mu, dan kamu harus selalu ingat apa yang paling sering aku katakan selama ini." Ucapnya menyela kata-kataku.


Lalu aku terdiam sejenak, dan tiba-tiba kata-kata yang dia maksud kembali terngiang di telingaku; "Aku sudah memilihmu, maka selamanya akan tetap denganmu." Kataku.


"Itu kamu ingat, sudah tidurlah. Aku akan mengawasi kamu sampai kamu tidur."


"Kak?"


"Aku tahu mungkin ini sedikit keterlaluan atau mungkin bagimu aku terkesan melunjak, tapi aku hanya ingin memastikan ..... " Aku diam sejenak menghela napas, kemudian melanjutkan kata-kataku.


"Apakah suatu saat kakak bisa membuka hati dan mencintai aku? sama seperti malam ini, saat Kak Anta mengizinkan aku untuk tidur di samping kakak?"

__ADS_1


__ADS_2