I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 58 - 24 Jam jadi Orang Tua


__ADS_3

"Kak?"


"Ya, sayang? aku di sini."


"Kak Anta, kenapa kakak menangis? Padahal ini adalah saat-saat pertama kita menjadi orang tua, belum genap 24 jam kita melewati hari ini mengurus Rania. Kak Anta, apa yang menyebabkan kakak menangis?”


Tanyaku kepada kak Anta di tengah malam hari pertama tidur bersama Rania dalam satu ruangan, meski kami masih tinggal di rumah sakit. Tanggal 6 Februari, tepatnya Jam 11 kemarin pagi aku ditemani seorang laki-laki yang sangat ku cintai bertaruh nyawa di meja operasi untuk melahirkan karunia Tuhan yang luar biasa; Bunga Rania Ananta.


Sebetulnya tadi Kak Anta sedang tidur lelap dan tidurnya sangat awal. Wajar saja, karena aku masih belum sehat sepenuhnya, jadi dia mengurus Rania seharian, tentu menguras banyak tenaga, mental dan pikiran. Malam sebelum hari kelahiran Rania, ia tidak bisa tidur. Katanya karena rasa gugup terus memeluknya; Berkali-kali dia pergi ke toilet, serasa dia ingin terus buang air kecil. Semua karena melihat perjuanganku saat kontraksi dan pembukaan, dia khawatir padaku, juga pada Rania yang saat itu masih di dalam perut.


Peristiwa ini adalah sebuah momentum yang sangat ia tunggu dan sakral baginya. Ia akan membina rumah tangga secara utuh, sebagai suami dan juga ayah. Akhirnya kini ia akan memerankan secara utuh sosoknya sebagai pemimpin dan pembina keluarga. Yang ia mimpikan dalam setiap helaan nafas dan do'a-do'anya di sepertiga malam akhir.


Aku tak bisa menggambarkan betapa bersyukurnya aku memiliki kamu Kak Anta, kamu adalah pelangi yang hadir dalam hidup kami, kamulah pelita dan penyelamat di antara terpuruknya aku dan kecewanya ayah, kamu adalah sosok paling sempurna dalam hidupku, wujud dari semua keinginanku dan arah untukku menentukan hidup, pikirku.


Pria alumnus akademi Kepolisian, menuntaskan program master ilmu hukumnya di Belanda. Seorang polisi muda yang sudah mengukir karirnya dengan baik di kepolisian, dengan kemampuan fisik, emosional, spiritual, serta kecerdasan yang sudah sangat matang. Sering sekali aku mengagumi dirinya, perbuatan baik apa yang sudah ku lakukan sampai diberikan suami sepertinya.


"Bukan aku yang menangis, sayang. Tapi kamu?!" Ketika dia menjawab itu, aku langsung tersadar dari lamunan.


Dan saat aku sadar Kak Anta sudah berjalan ke ranjang mendekati ku.


"Ada apa Kania? Kamu menangis malam-malam begini, terus tadi bicara soal 24 jam menjadi orang tua?" Ucap Kak Anta, sambil meraih pipiku dan mengusapnya lembut.


Barulah aku menyadari sesuatu, aku terharu melihat Kak Anta di pojokan sambil mengusap tubuhnya dengan minyak urut.


"Kak, maaf ya, Kak Anta jadi lelah mengurus Rania. Padahal belum 24 jam aku menjadi ibu, tapi aku malah banyak tidur." kataku.


Lalu Kak Anta tersenyum simpul dan mengambil tanganku yang bebas jarum infus. "Yang aku rasakan sekarang, tak akan pernah bisa sebanding dengan semua pengorbanan kamu mengandung Rania selama sembilan bulan, dan perjuangan kamu saat melahirkannya. Menjadi ibu itu tidak mudah, dan sudah menjadi tugasku untuk membantumu."


"Rania itu adalah putri kita, tanggung jawab kita bersama. Jangan pernah minta maaf hanya karena aku seharian mengurusnya." Ucapnya lagi dengan suara dan intonasi yang sangat lembut, selembut tangisan Rania malam ini.


"Sebentar, ku lihat Rania dulu ya----"


Kak Anta bangkit memutar jalan untuk mengambil Rania yang ada di samping kanan ranjangku. Sementara aku terus meliriknya.


"Kenapa nak, anak Papa? Tidur ya, tidur----"

__ADS_1


Dia memasang wajah yang teduh dengan sedikit ekspresi lucu untuk berhadapan dengan gadis kecil kami. Namun sayangnya, itu tak cukup untuk menenangkan Rania. Dia terus menangis, jadi Kak Anta memutuskan untuk menariknya dari tempat tidur.


"Coba sini Kak, biar ku susui. Mungkin Rania lapar." Kataku.


"Oh, boleh sayang. Sebentar," jawab Kak Anta lembut. Dia kemudian mendekat dan menyerahkan Rania padaku.


Sejak pernyataan cinta itu, ku rasa kami sudah tak memiliki kecanggungan apa pun lagi. Bahkan saat ini pun, saat aku menyusui Rania. Kami sudah mampu bersikap lebih tenang dan tidak hanyut dalam perasaan masing-masing.


Kak Anta langsung mengambil posisi untuk duduk di sampingku, dan mengelus-elus pelan pipi Rania yang lembut.


"Dia memang lapar," ucap Kak Anta melirik ku. "Gemas sekali, mirip kamu."


"Oh, ya?" Aku tersenyum, dan Kak Anta menjawab dengan anggukan kecil. "Aku juga berharap semoga nanti Rania memiliki sikap dan kepribadian yang sama seperti Kak Anta." Kataku.


"Jangan berlebihan begitu, aku mungkin tidak sepantas itu untuk jadi acuan Rania, aku khawatir hanya mengecewakan ekspektasi mu nantinya."


"Kamu jauh lebih sempurna dari yang selama ini aku ekspektasi kan, kak." Jawabku sambil menatap sorot matanya yang temaram. "Paling tidak, kamu adalah manusia dengan karakter terbaik yang pernah ku temui, karena itu aku berharap anak-anak kita mampu menyerap sikap dan karakter Kak Anta sebagai ayahnya."


"Aku tidak merasa sebagai orang yang baik, tapi aku akan berusaha untuk menjadi ayah terbaik untuk anak-anak kita nanti. Akan ku pastikan itu!" Katanya.


"Pertama kali aku menyaksikan perjuanganmu sebagai ibu, jujur aku berasa mau mati setiap melihat kamu kesakitan di ranjang rawat, melihat kamu jalan tergopoh-gopoh agar memudahkan Rania lahir nanti, melihat kamu mengandung sembilan bulan dengan perut besar, itu semua bukanlah hal yang gampang. Karena itu, aku sakit hati bila membayangkan mimpimu selama ini menjadi nyata."


Kak Anta yang dari tadi menunduk, akhirnya mengangkat wajahnya di hadapanku.


“Kania, maafkan aku!”


“Kenapa kakak malah minta maaf?” 


Mengetahui tanggapan Kak Anta yang tiba-tiba dramatis ini, aku bingung. Hatiku jadi gelisah. Apa yang menyebabkan suamiku berkaca-kaca, dan kenapa juga dia minta maaf.


"Maafkan aku, karena adikku memberikan kamu kesakitan yang sakitnya bukan main, maaf karena dia membuatmu harus menanggung hal berat ini sendirian. Aku tahu hidupmu selama ini sudah sangat menyakitkan, dan aku tak akan pernah bisa mensirnakan masa lalu itu untukmu."


"Kak----" Kataku, sambil ku pandang dia dalam-dalam. Andai aku tak sedang menimang Rania, mungkin sudah ku genggam tangannya saat ini, ku genggam erat-erat, bahkan ku peluk dia bila perlu.


"Aku tak akan pedulikan masa lalu itu lagi, bagiku saat ini bagaimana cara membina rumah tangga dan membangun masa depan lebih baik bersama Kak Anta, Rania dan anak-anak kita nanti. Aku sangat bersyukur karena diberikan pria seperti Kakak. Aku bisa menghadapi dan menghargai hari ini, semua karena kebaikan dan kehadiran kakak. Lupakan soal kesedihan, aku sudah lama melupakan itu. Aku sudah merusak masa lalu ku, karena itu aku tak akan membiarkan masa depan juga berantakan." Lanjut ku.

__ADS_1


Dan Ketika Kak Anta hendak memelukku, aku segera menahannya, karena ingat Rania.


"Maaf, aku lupa." Katanya.


"Rania sudah tidur Kak," jawabku pelan.


"Sini, biar ku tidurkan lagi dia di kasurnya."


Setelah Kak Anta mengambil Rania, dan menidurkannya lagi di kasur. Dia kembali duduk di sampingku dan berkata;


"Sekarang giliranmu, tidurlah. Aku akan mengawasi kalian."


Aku menggeleng-geleng pelan, "Tidak sekarang, sebelum ku bantu kakak."


"Bantu apa?"


Lalu aku mengulurkan tangan di depannya, "Sini minyaknya, biar ku bantu oleskan ke badan Kakak."


"Aku bisa, kamu tidurlah." Jawabnya.


"Ya sudah, aku tidak akan tidur sekarang."


Karena merasa khawatir dengan ancaman ku, akhirnya Kak Anta menurut, dia bangkit menuju sofa untuk mengambil minyak urutnya dan memberikannya padaku.


Demikianlah setelah itu, ku oleskan pelan-pelan sambil ku berikan sedikit pijatan di tubuhnya meski pakai satu tangan. Memang benar, dia memiliki tubuh atletis yang sempurna, di setiap sudut. Indah dan memang dia pekerja keras.


"Enak?" tanyaku padanya.


"Sangat, sangat, sangat." Jawabnya sambil memejam mata, "Tidak usah dipijat, dioles saja sudah enak sekali. Tapi kalau diolesnya pakai tangan kamu."


"Memangnya kenapa kalau tangan orang lain?"


"Aku tidak suka disentuh orang lain!" katanya singkat.


Dan memang ku akui kalau itu benar, karena aku sudah pernah mengalaminya. Dulu.

__ADS_1


__ADS_2