
"Hati-hati bu Anta, apalagi temannya juga lumayan cantik gitu."
Aku diam sejenak sambil melirik Marwah yang masih sibuk mengurus Rania di teras. Bahkan dia terlihat sangat akrab dan dekat, telaten sekali mengurus bayi. Memang, Marwah itu cantik. Penampilannya yang lusuh seperti kemarin pun, tak mampu menutupi wajahnya yang jelita. Sementara Kak Anta, terlalu sempurna untuk ku jelaskan. Mbak Isma dan aku saja sampai bergulat batin memperebutkannya. Dengan semua kelebihan itu, memang tak menutup kemungkinan jika wanita lain akan mengagumi sosok Kak Anta.
Tetapi, oh Tuhan ...
Apa yang aku pikirkan? Kak Anta bukan pria yang gampang tergoda, dan Marwah bukan perempuan yang suka merebut milik orang lain. Apalagi soal pria, itu mustahil dalam prinsip hidupnya.
"Suami saya tidak suka berbuat hal murahan seperti yang ibu khawatirkan. Saya percaya padanya bu, Jadi tidak masalah. Tapi nasihat dari ibu tadi akan saya terima dengan baik untuk berjaga-jaga." Kataku berusaha untuk tetap sopan.
Lalu ibu itu tersenyum, "Nah, benar begitu. Jangan percaya-percaya saja. Kucing kalau diberi ikan asin pasti mau bu Anta, makanya kita harus bisa jaga-jaga."
"Iya bu," Kataku.
"Sudah selesai?" Sahut Marwah yang muncul di belakangku. "Rania sudah cukup berjemur, kalau sudah selesai kita masuk, yuk!"
Aku langsung menoleh ke belakang, apakah Marwah mendengar ucapan ibu-ibu di sini? semoga tidak.
"Oh, iya sebentar. Aku cari tepung dulu ya?!" kataku.
Lantas ibu-ibu yang melihat kehadiran Marwah bersama bayiku, langsung sumringah dan mendekat pada kami.
"Cantiknya Rania---"
"Mirip sekali dengan Pak Anta, cantik pol!"
"Matanya mirip ibunya, lentik dan bulat. Alisnya tebal seperti rambutnya. Kalau sudah besar pasti jadi idaman."
Aku sedikit mengerjap ketika mereka menyebut Rania mirip dengan Kak Anta, entah bagaimana caraku menanggapinya. 'Mirip Kak Anta' sedangkan ayah kandungnya saja bukan Kak Anta, jika mereka tahu ayah Rania sebenarnya, apa mungkin kata-kata itu masih bisa ku dengar?
__ADS_1
Dari kejauhan, mataku menangkap sosok yang sudah berbulan-bulan tak ku temui lagi batang hidungnya sejak peristiwa hebat yang terjadi di antara kami 8 bulan lalu.
"Halah jadi idaman, mana ada ibu yang mau anak laki-lakinya menikahi anak haram!"
Nyonya Willis, benar. Dan aku tak akan terkejut mendengar kata yang keluar dari mulutnya. Entah karena masih dendam atau bagaimana, aku tak tahu. Intinya, Rania baginya tetaplah 'anak haram'.
Mungkin karena sudah biasa, aku tak terlalu menanggapi nyonya Willis juga tidak lagi berapi-api seperti dulu, tapi lain lagi dengan reaksi sahabatku yang satu;
"Yang ibu sebut anak haram, siapa?" Marwah melotot ke depan.
"Ya siapa lagi kalau bukan anak yang sedang kamu timang itu!" ucap nyonya Willis ketus.
"Kenapa sebut keponakan saya anak haram?"
"Memang dia anak haram! ibunya itu hamil duluan sebelum menikah!"
Marwah menatapku, dan aku hanya bisa diam. Aku tak tahu harus menghadapi nyonya Willis bagaimana lagi, anak sudah masuk penjara, sudah ku pukul habis-habisan, juga sudah mengasingkan diri beberapa bulan. Tapi, tiap bertemu denganku nyonya Willis masih tetap sama. Memang benar, tidak semua perangai itu dapat berubah, kecuali jika tuannya tahu bahwa itu salah.
Marwah langsung maju ke depan, aku memang tahu dia, darah petarung mengalir dalam darahnya. Beruntung, aku segera menahan sebelum nyonya Willis kembali berakhir ke Puskesmas seperti waktu itu. Atau mungkin bisa lebih parah lagi, karena Marwah ini memang bukan hanya perempuan yang lembut dan penyayang, tapi dia juga aktif dan kuat.
"Kania! dia mengatai anak kamu loh." Ucap Marwah pelan.
Ku tatap Marwah lekat-lekat, kemudian ku gelengkan kepala pelan.
"Heh, Bu Willis! ngomong anak orang haram! anak kamu tuh preman! tukang palak!"
Tiba-tiba ibu-ibu di sampingku menyahut, menyahut untuk membela ku dan Rania.
"Iya! ngurusin anak orang, anak sendiri tidak diurus----" Sahut yang lain.
__ADS_1
"Mending tengok anaknya di penjara, kasihan. Siapa lagi yang peduli dengannya kalau bukan ibunya sendiri. Kalau Rania kan banyak yang sayang, anaknya baik-baik. Jadi kamu tidak usah khawatirkan soal Rania."
"Siapa juga yang khawatir dengan anak haram?! tidak penting."
Nyonya Willis menggerutu, bisa ku dapati sorot matanya yang tajam dan sinis padaku dan Rania.
"Kalau tidak mau belanja sana pulang!" Ucap Marwah kemudian.
"Siapa juga yang mau beli sayur di sini. Pembelinya pada norak."
Setelah mengatakan itu, nyonya Willis memutar badan dan pergi jauh ke depan. Entahlah, sejujurnya aku tak mau ribut terus dengannya. Aku tahu nyonya Willis sebenarnya orang baik, hanya memang ada beberapa perangainya yang kurang cocok untuk hidup rukun dalam masyarakat. Biarlah waktu yang bisa menghapus perasaan tak baik di antara kami.
"Jangan dengarkan bu Anta! tidak apa-apa, simpan saja itu dalam pribadi kalian. Tidak akan mengubah pandangan kami tentang keluarga Pak Anta di sini."
Ibu di sampingku mendekat dan menggosok punggungku pelan-pelan.
"Terima kasih bu, saya benar-benar bersyukur untuk itu."
Setelah ku bayar belanjaan tadi, akhirnya selesailah moment dramatis yang berlangsung pagi ini. Hanya yang ku sayangkan adalah ribut dengan nyonya Willis di depan sahabatku Marwah.
Tentang 'Anak haram', jelas itu lah yang ku yakini berada dalam kepala Marwah saat ini.
Setelah menidurkan Rania di kamar, dia langsung menarik ku keluar. Dia menatapku seperti menyelidik, seakan dia berharap agar aku menangkap isyarat dalam pikirannya.
Marwah mengambil tanganku dan menggenggamnya erat-erat. "Jujur ada yang mengganjal perasaanku setelah mendengar ucapan ibu yang tadi. Tidak ada seorang ibu pun yang terima kalau anaknya terang-terangan begitu disebut haram. Kalau kamu memang butuh teman cerita, ada aku di sini ya?! jangan menahan diri, aku tahu betul kamu menanggung beban berat ini sendirian, bukanlah hal yang mudah. Aku tahu ini memang kurang pantas bila diceritakan, sebab ini masalah pribadi."
Kejadian ini mengingatkan aku tentang peristiwa tempo dulu, hanya sekarang aku mendapat respon yang berbeda. Aku dibantu, aku didukung, aku tidak langsung disalahkan, aku diberi kesempatan untuk didengar dan ibu-ibu membelaku untuk menghadapi nyonya Willis. Semua, semua berbeda. Dan ini yang dulu sangat aku harapkan!
Jangan dengarkan bu Anta! tidak apa-apa, simpan saja itu dalam pribadi kalian. Tidak akan mengubah pandangan kami tentang keluarga Pak Anta di sini.
__ADS_1
Tidak ada seorang ibu pun yang terima kalau anaknya terang-terangan begitu disebut haram. Kalau kamu memang butuh teman cerita, ada aku di sini ya?! jangan menahan diri-----