I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 69 - Kesempatan Kedua


__ADS_3

"Maafkan aku---"


Langsung ku tutup lagi pintu rapat-rapat, begitu ku dapati siapa tamu yang datang itu. Petra, melihat wajahnya lagi membuat tubuhku bergetar hebat. Apa ini? setelah semua berlalu dan aku telah bahagia dalam lembaran baru bersama Kak Anta, orang ini, tiba-tiba datang lagi di hadapan ku.


"Kania... Aku tahu kamu benci padaku, tapi tolong buka pintunya aku mau bicara. Beri aku kesempatan walau sebentar saja!"


"Pergi!!! jangan ganggu aku lagi!"


"Tidak akan! sebelum kamu beri aku kesempatan untuk bicara."


Dia mengetuk pintu rumahku berkali-kali, tapi aku enggan menyahut. Berharap dia segera pergi, segera ku bawa dan baringkan pula Rania ke kamar sehingga dia tidak mendengar ketukan dari pria di luar. Aku merenung di dalam kamar, sambil menunggu orang itu pulang, atau kalau bisa Kak Anta yang pulang untuk mengusirnya. Sialnya, Kak Anta meninggalkan ponselnya di dalam kamar.


Matahari yang terik menampar muka ku. Demi Tuhan, saat ini saja aku ingin pendengaran ku menghilang sebab suara dia, Petra terus masuk ke gendang telingaku, menyakitkan dan memusingkan.


"Tolong Kania!"


Tapi dia tak kunjung pergi. Aku pun kembali ke pintu depan untuk mengamatinya. Sampai beberapa waktu, rupanya dia masih terus berjuang untuk mengutarakan tujuannya datang ke sini.


"Baiklah kalau kamu tidak mau buka kan pintu, aku akan berteriak agar orang-orang berkerumun. Dan mereka semua akan tahu kalau anakmu itu adalah hasil hubungan terlarang dengan pria lain, sebelum suami kamu!"


"B4jingan kamu!" Kataku lantang. Terpaksa aku membuka pintu setelah mendengar ancamannya, "Kenapa masih mau mengganggu ku?! aku sudah pergi dari hidupmu, jadi untuk urusan apa lagi, mau kamu apa sebenarnya?"


"Nah begini dari tadi, aku tidak perlu terpancing emosi. Kita bisa mengobrol dengan baik dari tadi."


"Aku tidak perduli padamu! cepat katakan mau mu apa?" kataku.

__ADS_1


"Baiklah, baiklah." Dia menghela napas, kemudian mulai bicara, "Kamu sudah melahirkan, kan? berdasarkan perhitungan ku jawabannya adalah iya, atau jangan-jangan bayi yang kamu timang tadi adalah anak kita?!"


"Jangan berani-berani kamu menyebut anakku dengan sebutan itu! mulut kamu kotor!" Jawabku sambil menunjuk-nunjuk wajahnya, yang menurutku lebih pantas untuk dihantam atau disiram. "Dia bukan anak pria br3ngsek seperti kamu!"


"Hey tenang. Tidak perlu kasar begitu kan?! aku cuma mau ketemu anak kita, mau bagaimana pun aku ini tetaplah ayahnya."


"Sejak kapan kamu mengakui anakku itu adalah anakmu? Apa sih peduli kamu dengan anakku? Dari awal aku mengandung sampai aku melahirkan, apa kamu pernah mengakui dia? sekali pun kamu tak pernah ada di sisiku sampai akhirnya aku menikah dengan pria lain. Dan sekarang? tanpa angin tanpa hujan tiba-tiba kamu datang mengakui anak ku itu adalah anak kamu?"


"Stres!!!" Lanjut ku.


"Jangan bicara begitu," jawabnya berjeda, "Oke aku akui saat itu aku salah. Kamu tahu sendiri alasanku enggan bertanggungjawab saat itu karena aku belum siap menikah muda dan menjadi seorang ayah, aku masih terlalu muda. Kuliah saja baru masuk. Tapi kan sekarang keadaannya sudah beda, aku sungguh minta maaf Kania, aku sekarang sadar kesalahanku. Tolong berikan aku kesempatan."


"Kesempatan? Kesempatan apa lagi yang kamu mau?"


"Sinting!" Jawabku.


"Pergi kamu, atau ku lapor polisi sekarang juga."


"Kania!!! kalau memang enggan untuk menerima ku sekarang, tak apa! aku tak akan memaksa untuk kamu maafkan sekarang, aku akan beri kamu waktu berpikir, oke! Tapi tolong izinkan aku untuk bertemu anak kita, sebentar saja untuk melihat wajahnya, untuk ku dengar suaranya."


Kemudian dia menunduk untuk mengambil barang bawaannya, yang seperti aku katakan isinya oleh-oleh juga sekilas ada perlengkapan bayi.


"Lihat! aku sudah belikan barang-barang kebutuhan anak kita. Oh, aku juga belikan kamu buah-buahan, wanita seperti kamu kan pasti butuh asupan segar dan penuh vitamin setelah menyusui."


"Cukup! pergi dari sini, dan jangan pernah ganggu hidupku lagi."

__ADS_1


"Tidak, aku tidak akan pergi."


"Kita sudah biasa hidup masing-masing, aku tanpa kamu dan kamu tanpa aku, kamu bisa hidup bahagia tanpa memikirkan kami, dan aku pun sudah memiliki kebahagian dengan keluarga kecilku. Lalu apa lagi mau kamu sekarang tiba-tiba datang ke sini tanpa angin tanpa hujan, mengakui anakku dan minta kesempatan untuk bertanggung jawab. Otak kamu sudah hilang ya? Pergilah, tak akan pernah ada kesempatan untuk kamu lagi di hidupku. Tak akan pernah ada!!" Jawabku.


Angin pagi berhembus. Awan putih menggantung di langit. Matahari semakin tinggi menembus pohon ketapang menjadi bayang-bayang yang legam. Sedangkan mawar putih di teras memunculkan putiknya lagi. Semua ini terlalu indah untuk kehadiran pria tak berotak ini.


"Aku dan anakku sudah bahagia dengan laki-laki lain yang jauh lebih bertanggungjawab dari pada kamu!"


"Sial! Jangan sombong begitu, Kania. Kamu boleh bicara begini sekarang. Tapi, aku tak akan menyerah, aku akan terus ke sini sampai bisa bertemu anak ku dan menimangnya seperti ayah pada umumnya."


Aku hanya diam, menunggu kata yang mungkin masih akan keluar dari mulutnya, tapi dengan perasaan berat, karena aku tahu betul siapa orang di hadapanku ini.


"Aku datang ke sini baik-baik, aku hanya ingin bertemu anakku, itu saja. Tapi lain yang ku dapat, kamu meluap-luap seperti rumah yang kebakaran hebat. Jujur saja aku sangat marah dan tersinggung dengan sikap mu ini. Tapi tak apa, sungguh aku akan memaklumi, karena kamu mungkin belum bisa menerima kehadiranku. Jadi ku pastikan, aku akan terus berusaha untuk bisa bersatu dengan anak ku. Kamu maklumi saja." Lanjutnya.


Tak lama kemudian dia mengangkat tangan dan menghempas barang-barang bawaannya ke lantai. Lalu berpamitan.


"Aku pulang dulu, barang-barang ini ku tinggalkan. Terserah mau kamu pakai atau buang."


Dia menghilang di balik pintu pagar dan pergi jauh meninggalkan ketakutan, gelisah dan emosi pada diriku yang diacak-acak sedemikian parah.


Lantas ku ambil plastik besar itu, dan ku banting-banting ke depan sampai isinya buyar tidak karuan. Bahkan ada pula buah yang sampai hancur, tapi tidak ku pedulikan, sebab hidupku jauh lebih hancur dibandingkan itu.


"Aaaaaakkkkkkkhhh!!!"


Aku tak tahu masalah apalagi yang akan mendatangi ku kali ini. Hanya di antara seluruh masalah, mengapa harus Petra lagi? Dan kini aku terlelap, tenggelam dalam kegilaan.

__ADS_1


__ADS_2