I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 74 - Patah Hati yang Sesungguhnya


__ADS_3

"Aku mencintai kamu Om," ucap Marwah. "Ku nyatakan cinta ini, karena ini adalah milikmu."


"Bagus," timpal ku. "Bicaralah dengan tegas seperti itu nanti di depannya."


Marwah meneguk air mineral dan mengisap wangi aromaterapi untuk menenangkan hatinya. Aku paham sekali butuh keberanian besar untuk seorang wanita mengungkapkan perasaannya, aku pun terharu oleh keberaniannya menanggung dan mengungkapkan perasaan dengan ekspresi yang murni dan Rendah hati. Rasanya aku seperti disayat sebilah pisau tajam, di satu sisi aku senang bila perasaan ini tak bertepuk sebelah tangan dan terbalas sedang di sisi lain aku tak tega pada calon tunangan Kak Rambo jika benar itu terjadi.


"Dadaku berdebar kuat sekali Kania, tapi terima kasih sudah bantu telepon Om Gondrong untuk ketemu. Aku sudah cemas kalau mengganggu waktu kerjanya." Dia tersenyum simpul dan, dengan sedikit gugup menepuk-nepuk dadanya pelan sambil menghela napas.


"Justru lebih santai kan? karena Kak Rambo rupanya sedang ada di pusat perbelanjaan." Aku berkata untuk sekadar menenangkannya.


Tak ada sedikitpun aku menaruh curiga tentang Kak Rambo yang rupanya ada di pusat perbelanjaan saat jam kerja, yang terpikirkan olehku hanyalah mempertemukan dua orang yang hampir asing ini agar dapat saling mengungkapkan rasa. Hingga setelah kami sampai di tempat yang di katakan Kak Rambo padaku di telepon, kami mendapat kejutan lain;


"Oh Kania, kamu di sini?..." Seorang wanita cantik menghampiri ku dan Marwah, seorang dokter kandungan kakaknya Kak Rambo.


Aku sedikit terkejut saat melihat Kak Rambo keluar dari sebuah toko perhiasan bersama beberapa wanita, satu di antaranya aku kenal, seorang yang baru saja menegurku, dokter Rani, kakak kandungnya. Sedangkan dua wanita lainnya aku tak kenal.


"Ya Dok," jawabku.


"Sama siapa?" Katanya sambil melirik ke arah temanku.


"Marwah Dok, sahabat Kania dan Kak Rambo."


"Oh, ya? salam kenal. Aku tidak tahu Rambo punya teman lain selain kalian berdua Anta. Ha ha." Mereka saling berjabat tangan.


"Kalau begitu harus kenalan dulu sama Bella, tunangan Rambo... dia baru kembali ke sini, sudah tahu kan kalau bocah besar ini akhirnya bisa menikah?" lanjutnya sambil menunjuk gadis yang berdiri di ujung kiri kak Rambo.

__ADS_1


"Senang bertemu kalian, namaku Bella." Dia mengulurkan tangannya, dan Marwah menyalaminya dengan gugup.


Belum selesai ku pandangi gelagat Marwah setelah bersalaman dengan calon istri kak Rambo, yang dalam pikiran ku memang sangat cantik dan elegan. Dokter Rani melanjutkan;


"Aku rasa kalian sudah tahu, kami akan mengadakan pernikahan antara Rambo dan Bella awal bulan depan."


Bergetar aku mendengar kabar itu, langsung ku alihkan pandangan tepatnya pada Marwah di sampingku, dia membisu sementara matanya membulat, memandang pada kak Rambo di depannya.


"Begitu yah---" Katanya pelan patah-patah. "Selamat untuk pernikahan mu, O-m Kak----"


"Terima kasih." jawab Kak Rambo datar.


Kemudian tanpa basa-basi soal alasanku untuk memintanya bertemu, tanpa kata-kata lagi Kak Rambo menerobos meninggalkan kami tanpa pamit, entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Dia pergi begitu saja.


"Marwah?" Kataku sambil memegang lengan Marwah agar ia tersadar dari diamnya sekarang. "K-kak Ram---"


Marwah menggeleng pelan, menatapku dengan mata berkaca-kaca.


"Tapi kamu... " Kataku lagi.


"Memang sudah seharusnya ku simpan sendiri, Kania." Jawabnya, "Aku mau pulang sekarang."


"Lalu perasaanmu pada Kak Rambo bagaimana?"


"Kamu dengar kan tadi? mereka akan menikah awal bulan depan, hanya 2 minggu lagi dari sekarang. Jadi perasaan ini memang sudah seharusnya ku buang jauh-jauh, aku tidak mau jadi duri dan perusak di pernikahan mereka."

__ADS_1


Sungguh aku terenyuh pada air mata Marwah yang sendu, semangat yang susah payah ku berikan dan keberanian yang susah payah ia kumpulkan kini telah sirna, bersama dengan kabar pernikahan Kak Rambo dan Bella yang tinggal menghitung hari. Aku pun tak sampai hati untuk menguatkan Marwah, atau bahkan memaksanya untuk berani mengungkap rasa. Sebab, aku tahu betul Marwah pun tak karuan saat ini.


"Baiklah kita pulang sekarang ya."


...****************...


Pagi yang sepi. Aku terkejut melihat Marwah tiba-tiba muncul di depan pintu rumahku, tepat tiga hari setelah pertemuan itu. Dia diam, membisu bagai arca. Mengenakan setelan kaus dan rok polkadot yang mengembang. Dia membawa tas besar berisi pakaian ku rasa. Dia berusaha tersenyum, menatapku.


"Marwah?" Ucapku sambil memeluknya. "Sudah jarang sekali ke sini, kenapa tidak katakan saja kalau mau ketemu, biar aku yang ke tempat kamu."


"Tidak perlu repot-repot begini," Dia tersenyum. "Aku ke sini cuma mau pamit denganmu."


"Kamu mau ke mana?"


"Ke tempat yang jauh. Mungkin ke luar kota."


"Iya, tepatnya ke mana?"


...****************...


Haloo besttt ini author 🙋


Apa kabar?


Terima kasih author ucapkan untuk kalian semua atas dukungannya untuk novel ini 🥺. Walau jujur di BAB ini author semakin yakin kalau author sepertinya jahat banget sama semua pemeran cewek di sini 😭😂🙏, ya tah?

__ADS_1


__ADS_2