I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 31 - Bohong Lagi dan Lagi


__ADS_3

Pada hari ini, pernikahanku dengan Kak Anta sudah berjalan selama satu bulan lamanya.


"Malam ini aku memang ada jadwal patroli malam, tapi aku akan izin pulang lebih awal. Aku akan cari-cari alasan ke komandan, karena aku ingin mengajakmu makan malam, jam enam sore nanti kamu harus sudah siap. Kenakanlah sesuatu yang feminin. Aku ingin melihat kamu yang berbeda di hari spesial kita."


Begitu Kak Anta bicara padaku tadi pagi sebelum dia berangkat kerja.


Meski keadaan kami beberapa minggu ini sempat keruh dan sering bersitegang, namun Kak Anta selalu berusaha untuk menjernihkan keadaan. Saat mempertimbangkan hal itu, aku lebih suka untuk diam dan membiarkan. Lama-lama juga semua akan baik-baik saja...


Selagi menunggu Kak Anta pulang, aku memilih pakaian untuk ku kenakan saat makan malam nanti, aku bisa mengenakan gaun hitam berpotongan sederhana dan bertali bahu tipis yang diberikan Kak Anta beberapa hari yang lalu, saat aku marah padanya karena membatalkan makan siang di luar untuk membantu Mbak Isma. Dia juga membelikan aku sepasang sepatu hitam dengan hak pendek, menyesuaikan keadaanku.


Apa artinya pakaian, sepatu dan sesuatu yang feminin? bukankah semua itu, selama ini, tak pernah diperhatikan? Kenapa tiba-tiba kami jadi kehilangan jarak, membicarakan sesuatu dan melakukan sesuatu layaknya suami istri yang saling mengikat.


Mungkinkah kami mulai hanyut? atau mungkin karena cinta pada dasarnya adalah sesuatu yang alamiah, sehingga kehadirannya sama sekali tidak membutuhkan dalil yang kelewat abstrak dan ilmiah, melainkan justru perhatian pada hal-hal kecil namun konkret dalam personal. "Aku ingin melihat kamu yang berbeda di hari spesial kita." begitu dia menegaskan, dan aku jadi tersipu-sipu.


Dalam cinta, kemampuan seseorang untuk mengerti tidak berhubungan dengan tingkat kecerdasan yang dimilikinya. Mungkin karena itu pula dia akan bisa membuka hati kepadaku, wanita yang wawasannya jauh berada di bawahnya.


Ku teguk lagi susu ibu hamil yang dia belikan, sampai pada penghabisan. Dan lekas ku cuci gelasnya karena aku harus segera mempersiapkan segala sesuatu untuk perayaan kami nanti malam. Ku pikir perlu memberi kejutan untuk membuatnya terpesona, agar perayaan pernikahan kami berlangsung dengan momen berkesan dan realistis.


Apakah aku perlu memakai bedak, lipstik dan sejenisnya? haruskah aku memakai aksesoris perhiasan seperti anting atau gelang? seorang wanita sering melakukannya saat menghadapi momen romantis dengan lelaki pujaannya. Tapi apakah aku masih pantas?


Aku memikirkan gagasan konyol itu di saat mandi. Segar sekali rasanya setelah bekerja di rumah dan melamun seharian, dan cukup mengusir gangguan lemas akibat banyak berpikir. Ada kecoa di lantai, dekat toilet, mengap-mengap di atas genangan air. berpusing-pusing seperti perempuan yang menderita jatuh cinta. Sungguh kasihan. Ku singkirkan dia masuk ke dalam saluran air. Ku pikir, kecoa itu seperti cinta, tak tahu dari mana ia datang dan ke mana ia pergi.


Usai mandi, ku bongkar lemari, mencari pakaian yang diinginkan dan diberikan olehnya. Penampilan dengan gaun akan membuatku tampak feminin. Padahal, dalam hal berpakaian, aku tak ubahnya emak-emak yang selalu tempur di rumah, pakai daster tipis yang sepoi-sepoi.


Aku pun tak tinggal melakukan kebiasaan ku saat sekolah dulu, berdandan yang manis. Pakai lipstik dan pelapis bedak. Aku meyakini malam ini akan menjadi momen paling spesial seperti yang kami berdua harapkan.


Ponselku tiba-tiba bergetar, sebuah pesan singkat dari Kak Anta masuk;


Kania, maaf aku tidak bisa jemput. Sekarang masih ada urusan di kantor, jadi belum bisa izin. Kalau misalkan kamu pergi sendiri ke restorannya bisa tidak? kita langsung ketemuan di situ. Mau menunggu ku juga boleh, tapi mungkin bisa boros waktu.

__ADS_1


Aku diam sejenak memikirkan jawaban untuk pesan yang dikirimnya.


Bisa kak, aku akan tunggu kakak di restorannya. Semangat bekerja, dan hati-hati.


Ku pikir, pergi sendiri juga tidak masalah, yang penting saat di restorannya kami bisa menghabiskan waktu lebih banyak untuk menciptakan kenangan paling indah di bulan pertama pernikahan.


Setelah merasa lumayan beres, aku segera melangkah ke luar rumah untuk segera masuk ke dalam taksi online yang sudah ku pesan. Saat kendaraan memasuki jalan raya, pemandangan kota begitu ramai oleh mobil-mobil orang yang baru pulang kerja, dan orang-orang yang berlalu lalang di pinggir jalan, sebuah suasana yang berbeda dengan suasana senyap di rumah, setiap Kak Anta pergi bekerja. Kota ini memang sangat indah saat malam hari.


Di tengah-tengah itu semua, perasaanku di serbu Melankolia, melihat keadaan kami sekarang, tidak ku sangka pernikahan dengan suami dadakan bisa bertahan bahkan sampai satu bulan. Memang masih seumur jagung tapi lebih lama dari perkiraan ku.


Aku menghela napas saat mobil memasuki tempat parkir restoran yang sudah kami janjikan. Aku mencoba tetap tenang, walaupun aku sangat gugup setengah mati. Aku masuk ke dalam Restoran dan segera naik ke lantai dua, menuju kursi yang di pesan oleh Kak Anta.


Setengah jam aku duduk sendirian, sambil memandangi suasana resto yang temaram dan penuh bunga. Terasa suasana romansa yang begitu kental. Sesekali sambil memainkan ponsel sekadar mencari kesibukan agar tak terlalu terkesan sendirian.


"Teh hangat?" tanya pelayan agak terkejut.


"Tidak ada. Tapi, ada cappuccino."


"Boleh, itu saja... "


Restoran mulai dipenuhi pengunjung. Musik mengalun lembut, sebuah instrumen saxophone baru saja di mainkan. Di luar, angin malam yang basah terus berkitaran di ruangan yang kian menghitam.


Di tengah cahaya remang, mataku memperhatikan layar ponsel. Ibu jari hampir 4 kali menekan tombol power hanya sekedar untuk melihat jam dan notifikasi pesan atau telpon dari Kak Anta.


Langit kian legam, dan udara semakin dingin dan basah. Di atas langit sana awan mendung sudah menghitam, siap menghantam dengan guyuran air berkubik-kubik. Untuk kelima kalinya, ku tekan layar ponsel, sudah pukul 22.45. Berapa kali ku hubungi ponsel Kak Anta untuk meminta kabar darinya, namun panggilan ku dialihkan. Begitu seringnya sampai baterai ku hampir habis.


Sementara suasana Restoran mulai menyepi, dan perlahan semakin sunyi perlahan mengabur dalam tatapan ku yang mulai berat menanggung khayalan. Aku meneguk tetes terakhir cappucino sebelum akhirnya memutuskan untuk angkat kaki besama para pengunjung yang siap pergi.


Malam begitu panjang dan kelabu, di bawah kucuran air hujan aku berjalan menyusuri aspal. Angin menerpa bagai topan yang menghantam dandanan ku yang telah ku buat demikian feminin sesuai keinginannya.

__ADS_1


Sayang, bahkan sampai dandanan ini rusak bersama hujan. Sosok pria itu, tak mampu menyaksikannya.


"Loh, nyonya Anta!"


Aku menoleh setelah sinar terang dari motor berkilauan menyilaukan mataku. Samar-samar ku dapati sosok pria berambut gondrong dengan badan tinggi dan otot yang bisa ku katakan profesional.


"Kak... Rambo?" Kataku dengan mata menyipit.


"Apa yang kamu lakukan di sini, hujan-hujan begini? Kamu sendirian? Anta di mana?"


Aku hanya diam, kemudian menggelengkan kepala pelan.


"Sialan!" katanya mengumpat. Rambo lantas melepas jaketnya kemudian memasangkannya di tubuhku. Dia juga melepas helmnya dan memasangkannya di kepalaku. "Biar ku antar kamu pulang, ya?! Jangan menolak! aku tidak pernah menerima penolakan dari siapa pun."


"Dasar laki-laki kanebo! Bisa-bisa nya membiarkan seorang wanita hamil hujan-hujanan sendirian. br3ngsek!"


Begitulah Rambo mengumpati Kak Anta sepanjang jalan. Aku hanya bisa diam, melawan dinginnya hujan dan hatiku. Pupus lah harapan dan bayangan indahku tentang malam spesial ini.


"Kalau tau bakal begini, aku pasti pakai mobil! Maaf ya, kamu jadi kedinginan." Ucap Rambo.


Apa pun alasannya, Lagi-lagi Kak Anta berbohong.


...****************...


...🌻🌻🌻...


Mampir ke sini yaa besttaaayy 🔪💣⛏️


__ADS_1


__ADS_2