
Setelah tiga hari di rumah sakit, kami pun diberikan izin untuk kembali ke rumah. Sejak adanya Rania, setiap malam adalah jadwal lembur bagi kami. Terkadang Rania membuat kami terbangun setiap satu jam sekali karena buang air atau lapar. Tapi semua kami jalani dengan penuh kesabaran. Terus terang semua kerepotan ini masih tidak sebanding dengan kegembiraan yang kami rasakan.
Pagi ini kami tengah bersiap untuk pulang kembali ke rumah, dan seperti biasa, Rambo dengan baiknya selalu menawarkan bantuan untuk kami, padahal Kak Anta sendiri bisa menyetirkan mobil, tapi Rambo enggan dan tetap menjemput kami di rumah sakit.
"Sudah ku katakan tidak usah bantu jemput! Kamu kan bisa jenguk Rania kalau sudah pulang kerja. Kamu itu izin izin terus, ditegur komandan tahu rasa!" Kak Anta menggerutu sepanjang koridor. Sementara Rambo menggumam dengan ekspresi mengejek Kak Anta.
"Kamu tuh marah-marah terus! aku ke sini cuma mau antar keponakan ku yang cantik, bukan kamu. Kalau kamu mau pulang sendiri, ya silahkan." Kata Rambo mulai mengejek, lalu mendekatkan wajahnya pada Rania.
"Rania mau ikut om kan, ya?"
Bagai dua insan yang sehati, ketika Rambo mendekati dan bicara pada Rania yang ada dalam timangan ku, Rania tersenyum tipis padahal matanya tertutup.
"Nah, kamu tersenyum loh! " ucap Rambo girang, "Lihat! Anta Reza. Anakmu saja setuju mau pulang bersamaku!"
Kak Anta menghela napas sambil membawa tas pakaian dan barang-barang kami, "Ya sudah, kalau begitu tolong bawakan ini, ya!" katanya sambil menggantungkan tas di bahu Rambo.
Dasar Anta Reza yang mengesalkan, mungkin itu yang ada dalam pikiran Rambo ketika ia mengerucutkan bibirnya,
"Menyebalkan seperti biasanya!" katanya menggerutu.
Aku hanya tertawa kecil, mereka memang sahabat karib. Jarang sekali ku lihat mereka bersitegang, meski pertama pernah ku dapati, yaitu waktu aku ditolong Rambo saat di restoran dan mereka saling pukul karena itu. Memang Rambo adalah sosok sahabat yang baik dan setia, di balik pembawaannya yang menyala-nyala dan seram, tersimpan karakteristik yang hangat dan bersahaja. Dan aku sangat menghormati dia, memang mereka sangat cocok berteman.
"Ayo sayang, ku bantu ku duduk di sini." Ucap Kak Anta sambil memapah ku untuk duduk di kursi roda.
"Terima kasih, Kak."
Lalu setelah membantu ku duduk, Kak Anta memutarkan lagi pandangannya ke belakang, arah Rambo.
"Ayo jalan, kamu di depan!" Kata Kak Anta padanya.
"Ih, kamu sajalah. Kan sekarang kalian yang di depan." Sahut Rambo dengan ekspresi kesal.
Kak Anta meliriknya dengan cahaya temaram, dan mulai menggoda Rambo; "Aku baik padamu, kasihan kamu kalau lihat keluarga kecil ini sepanjang jalan di depan mata. Jadi jomblo itu berat, apalagi di umur yang sekarang."
"Anta Reza!!!"
Rambo menaikkan sedikit nada bicaranya, kemudian pergi melengos. Aku tahu dia tidak benar-benar marah soal itu, tapi memang Rambo suka bermanja apalagi saat Kak Anta menggodanya, sesuatu yang jarang bahkan tidak pernah.
__ADS_1
Aku sedikit merasa terhibur dalam dorongan kak Anta ini, terutama bila menyaksikan Rambo dengan rambut gondrongnya yang mantap. Dia menggerutu sambil menenteng tas besar, seperti bapak-bapak yang dipaksa bawa belanjaan di pasar.
Bila melihat persahabatan mereka ini, aku kadang iri, aku tak memiliki sahabat sebaik ini saat sekolah dulu. Tapi ... ini bukan hal mutlak, karena dulu aku pernah memiliki sahabat waktu kecil.
"Suster, adik saya itu lagi sekarat. Kenapa tidak langsung diperiksa?!" Ucap seseorang dengan suara melengking.
Tepat saat kami sampai di pintu depan rumah sakit, aku melihat ada sedikit kegaduhan di meja resepsionis. Seorang gadis yang nampaknya seusia denganku, berpakaian agak lusuh, marah-marah pada suster di depannya.
Lalu suster yang terdesak, berusaha untuk menjelaskan; "Iya, selesaikan dulu administrasinya. Nanti baru ada dokternya."
"Ini rumah sakit apa pencatatan sipil sih suster? administrasi administrasi, adik saya itu sakit, itu parah." Jelas si gadis, "Tolonglah diperiksa dulu, soal uang nanti saya usahakan suster. Nyawa orang tidak sebanding dengan uang, kalau saya bisa obati adik saya sendiri, tidak mungkin saya bawa ke sini."
Sementara kami tetap di tempat, menyaksikan perdebatan ini. Memang bukan hal yang fana, jika melihat kejadian ini terjadi di rumah sakit. Hanya mungkin, sebagian orang akan diam dan pura-pura tak dengar.
Dan kali ini, si gadis mulai berkaca-kaca, ketika dia hendak bersimpuh pada suster, tanpa gerakan yang bisa kami duga, Rambo langsung ke depan, menghalangi.
"Om, jangan halangi saya dulu." Ucap gadis itu pada Rambo. Aku mulai menangkap wajahnya, agak tidak asing dalam ingatanku. Tapi, siapakah dia?
"Ini salah satu usaha biar adik saya bisa diperiksa segera tanpa t3tek bengek administrasi yang bla bla." Lanjutnya, seraya berusaha melepaskan tangan Rambo yang menggenggam tangannya.
Aku dan Kak Anta saling berpandangan dan saling melempar senyum. Nampaknya kali ini Rambo akan menunjukkan lagi sisi malaikatnya yang terang. Menyelamatkan harga diri seorang gadis, dan tidak menutup kemungkinan juga Rambo akan memberikan gadis itu bantuan untuk permasalahannya.
"Kamu jangan ribut di sini," Ucap Rambo pada sang gadis.
Sambil menggeser tubuh gadis tadi agak maju, mendekat ke meja resepsionis. "Agak ke pinggir sedikit, soalnya kami mau lewat." Rambo menunjuk pintu keluar.
Oh, memang sahabat Kak Anta ini agak lain. Hancurlah bayangan kami berdua Kak Anta tadi, ketika Rambo mengatakan hal yang berlawanan. Tentu saja bukan hanya aku dan Kak Anta saja yang agak kaget dengan tingkah unik Rambo ini. Melainkan si gadis juga.
"Ku pikir kamu mau membantu, om?!" ucap si gadis dengan Mata melotot dalam balutan ekspresi yang datar.
Mata Rambo menyipit, kemudian menggelengkan kepalanya pelan-pelan. Lantas setelah itu dia menoleh ke belakang, arah ku, Kak Anta dan Rania.
Gadis itu juga memandang kami, dan Detik itu juga aku bisa menyaksikan dengan jelas wajah sang gadis, matanya yang lentik dan indah. Sosok yang bisa santai meskipun hatinya gusar habis-habisan. Akhirnya bisa ku ingat dengan baik dia, tidak lain dan tidak bukan; Cantika Marwah. Sahabat kecilku yang dulu tinggal di samping rumah, dekat danau.
"Marwah?" kataku, "Kamu Cantika Marwah? yang rumahnya dulu dekat danau, samping rumah ku?"
Dia mengerutkan dahi, sambil menatapku dengan mata menyipit. Mungkin sedang berusaha untuk mengingatku, persis seperti yang aku katakan.
__ADS_1
"Sayang, kamu kenal?" Bisik Kak Anta di telingaku.
"Iya kak, dulu kami berteman baik. Tapi waktu masuk SMP Marwah pindah ke kota, karena orang tuanya mau merantau." Jawabku.
Mendengar itu, gadis yang ku yakini adalah sahabat kecilku, Marwah langsung menyahut; "Kania? Karunia Avisha?" Katanya menjerit.
Aku langsung mengangguk, dan dia langsung mendekat untuk memelukku.
Dia memelukku tidak lama, mungkin sadar aku tengah menggendong Rania. Setelah dia melepaskan pelukannya, aku langsung bertanya "Apa yang terjadi?"
"Adik ku sakit, Kania. Aku pusing sekali, mau berobat saja susahnya minta ampun."
"Kamu kan anak tunggal, sejak kapan punya adik?" Kataku.
"Sejak orang tua ku meninggal," Jawabnya berusaha tegar, "Seperti yang kamu lihat! aku hidup di jalanan, kadang jual koran, kadang mengamen, dan karena kerasnya hidup di jalan aku jadi bertemu dengan anak-anak yang bernasib sama denganku. Ku angkat mereka menjadi adik, dan aku kembali memiliki keluarga."
Aku terenyuh ketika mendengar kabar tentangnya, lama menghilang, ku pikir Marwah sudah hidup bahagia bersama kedua orang tuanya di kota. Sebab banyak yang bilang mereka sudah sukses setelah merantau. Tapi rupanya setelah 8 tahun berpisah, aku malah mendapati dia dalam nasib yang lain.
"Ini kamu kenapa di rumah sakit?" Tanya Marwah padaku.
"Aku baru selesai melahirkan,"
Pupil matanya langsung membulat, "Kania, kamu sudah punya anak. Seriusan? A-aku terharu sekali... "
Tiba-tiba dari belakang Rambo menarik bahu Marwah. "Adik kamu, jangan lupakan." kata Rambo datar.
Marwah langsung menepuk jidatnya, "Sebentar Kania," Katanya, kemudian berbalik lagi ke arah Rambo.
"Om, tolonglah aku om. Yakinkan suster ini agar mau memeriksa adikku."
Sementara dari belakang, Kak Anta rupanya mendorong lagi kursi roda ku. Dan mendekat ke arah Rambo untuk mengambil tas kami.
"Nah, Rambo! kamu bantulah dulu gadis ini. Biar aku saja yang antar Rania dan istriku pulang." Ucap Kak Anta sedikit menggoda.
"Wo-woy, jangan langsung tinggalkan aku begitu!" Kata Rambo.
Sayangnya Kak Anta memilih tutup kuping, dan kami pergi meninggalkan Rambo dan Marwah di meja resepsionis. Ketika aku mendongak, ku lihat kak Anta tersenyum tipis, seakan dia memiliki rencana untuk permasalahan ini.
__ADS_1