I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 80 - Trouble Maker


__ADS_3

"Petra kenapa lagi??" Tanyaku pada Kak Anta, setelah panggilan telepon itu berakhir.


"Tidak tahu, yang pasti sekarang rumah mereka didatangi banyak orang. Jadi bibi minta aku ke sana sekarang bantu tenangkan keadaan dan buat orang-orang itu pergi."


"Tidak boleh!!!" Seruku, "Kalau itu jebakan, bagaimana? maaf kak, tapi mereka itu licik. Kakak tahu sendiri bagaimana Petra dan keluarganya mengancam kita selama ini. Aku masih takut kak, bahkan aku selalu terbayang tentang ucapannya yang mengatakan bakal rebut Rania kalau dia sukses. Sekarang sudah lewat 2 tahun, dia pasti sudah lulus kuliah Kak. Jangan----jangan pergi ya Kak! aku takut ini hanya akal-akalannya saja untuk menjebak kita." Kataku.


"Tenanglah, kita tak akan tahu yang sebenarnya kalau tidak melihatnya langsung kan?" Jawab Kak Anta sambil menatapku dalam-dalam, berusaha menenangkan.


"Tapi---Ka"


"Jangan khawatir, aku tidak pergi sendirian kok. Ada Rambo yang menemaniku, kan Rambo?"


Kak Rambo mengambil sikap siap, lalu berkata; "Siap, ndan!!"


"Baiklah, tapi tolong jangan matikan ponsel. Dan kabari aku kalau sudah sampai di sana."


"Siap!" Jawab Kak Anta tersenyum, kali ini dia menatapku tegas, sambil meniru sikap siap Kak Rambo barusan, gayanya laksana seorang anggota yang sedang diberi perintah.


Aku juga berusaha tersenyum.


Setelah mereka benar-benar pergi aku bergegas ke kamar menemani Rania yang sedang menggambar. Aku sendiri tersipu-sipu sambil melirik ke hasil gambar Rania yang abstrak, hampir tak bisa ditebak rupanya karena karyanya hanya berupa coretan berbagai warna dari krayon.


"Ini apa?" kataku.


"Nia mau gambar kita; Pap-pa, Mam-ma dan itu," Jawabnya terbata sambil menunjuk perutku. Mungkin maksudnya calon adiknya yang kini tengah ku kandung.

__ADS_1


"Rania gambar adik juga?!" tanyaku.


"Ya," jawabnya.


Nah, Petra kalau kamu macam-macam dengan keluarga kami, Rania pasti bakal benci kamu setengah mati. Saat ini, yang dikenal Rania sebagai sosok ayahnya hanyalah Kak Anta. Kalau kamu buat rencana untuk menjebaknya sekarang, lihat saja, akan ku balas. Aku tahu memang kamu ayah kandungnya tapi tetap saja, bila mengingat bagaimana caramu dulu aku masih sangat sakit hati dan kecewa.


Sudah siang, tapi masih belum ada kabar dari Kak Anta. Perasaanku makin gusar dan gelisah, tidak karu-karuan. Karena sudah terlalu lama, dari dia mengabari ku pagi tadi, jadi ku putuskan untuk mengambil ponsel dan menelponnya agar hatiku bisa tenang.


"Halo sayang?" jawab Kak Anta dari jauh sana.


Dalam hati, aku sungguh lega dan tenang bisa mendengar suaranya. Itu berarti dia baik-baik saja.


"Belum selesai? atau sekarang sudah balik ke kantor dengan Kak Rambo?"


"Belum," jawabnya.


"Belum pergi, sekarang masih buat perjanjian dan mengurus surat-surat untuk nikah. Petra menghamili adik tingkatnya di kampus!"


Oh, betapa terkejutnya aku mendengar berita itu dari Kak Anta! aku sedikit gugup. Mengingat peristiwa yang terjadi padaku dulu terulang lagi pada gadis lain.


"Hmmm... " Aku tergagap. "Jadi yang datang ramai-ramai itu, rombongan dari si perempuan? Maksudku keluarganya yang datang marah-marah itu?"


"Benar, mereka minta pertanggungjawaban. Karena setelah lulus kuliah Alfatra hilang tanpa kabar dari perempuan itu. Aduh anak ini memang tukang buat onar! sampai sekarang pun masih tidak mau ngaku, bibi juga sama saja tetap bersikeras. Kalau aku tidak paksa, Petra sudah habis oleh mereka."


Oh, kali ini aku tidak akan terkejut. Petra memang begitu, persis seperti yang ku alami. Entah sungguh aku turut bersedih untuk wanita yang menjadi korbannya lagi.

__ADS_1


"Apa yang kakak lakukan? jangan katakan kalau kakak lagi yang ambil tanggung jawab! menikahinya seperti yang kakak lakukan dulu untukku?!" Tanyaku sedikit mengintrogasi. Jujur, agak takut bila kejadian ini terulang lagi. Dan sama persis.


"Hei! bicara apa?! mana mungkin aku melakukan itu! aku sudah punya kamu, kenapa harus nikah lagi?! tidak! jangan berpikir macam-macam okay."


"Lalu yang menikahinya siapa kalau Petra dan ibunya saja masih bersikeras tidak mau ngaku? Kak Rambo?"


"Bukan, Rambo kan sudah cinta mati dengan sahabatmu. Lihat saja dia tetap setia cari dan menunggu Marwah. Sudah, yang menikahinya itu tetap Alfatra. Aku yang beri jalan tengah dan pengertian tadi, ya sedikit ancaman juga sih."


"Bagaimana? apa yang kakak negosiasikan?"


"Keluarganya anarkis, jadi ku katakan pada Bibi kalau Alfatra tetap yakin pada kata-katanya, keluarga si perempuan juga tidak akan pergi sebelum keinginannya terpenuhi sedangkan aku dan Rambo tidak sanggup bila harus mengatasinya sendirian. Aku sarankan mereka untuk telpon kantor dan menyelesaikan masalahnya di sana, nanti ketahuan siapa yang salah dan siapa yang benar. Mereka sempat diam beberapa saat, dan saat aku mau keluar rumah menyampaikan maksudku tadi pada keluarga wanita, Alfatra dan bibi langsung menghalangi ku dan ya, mereka akhirnya setuju untuk tanggung jawab." Jelas Kak Anta.


"Makanya langsung hari ini nikah?" tanyaku lagi.


"Iya, mungkin keluarga perempuan takut Alfatra bakal berkhianat lagi, seperti sebelumnya."


"Ya, baguslah. Memang sudah seharusnya begitu." Kataku.


"Aku matikan dulu teleponnya tak apa kan? jangan lupa makan siang, Rania dimana?"


"Boleh dimatikan kak, jangan lupa makan siang juga. Rania ada, tidur siang. Tadi pagi dia gambar, gambar kita semua, katanya. Walau hasilnya cuma coret-coretan warna saja, tidak ada wujud manusianya."


"Oh, ya? ha ha nanti pulang kerja aku mau lihat. Simpan ya?"


"Baik... " Jawabku, kemudian mematikan telepon.

__ADS_1


Aku sungguh tenang, rupanya Kak Anta tidak sedang diperdaya. Pikiran ku yang dari tadi tidak karuan, dan gelisah sepanjangan akhirnya kini lenyap sudah.


Petra.... kamu itu tidak pernah berubah, keputusanku untuk menjauhkan Rania darimu tampaknya sudah pilihan yang paling tepat...


__ADS_2