I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 28 - Anggur yang Memabukkan


__ADS_3


...Karunia Avisha & Anta Reza...


...(2 Mei 2023)...


...****************...


Sementara aku masih memulihkan diri dari dampak ucapan dan penampilan Kak Anta saat di jalan tadi, kami sudah sampai di rumah. Kami mendapati pintu pagar sudah terbuka, rupanya di kursi teras sudah ada Mbak Isma yang duduk di sana.


Kami berhenti di depan pagar, Ku pandangi Kak Anta yang membisu. Pandangannya lurus ke depan, tepat pada sosok Mbak Isma yang bahasa tubuhnya tidak tenang.


Perasaanku jadi tidak enak, sepertinya masalah baru akan datang.


"Kak... "


"Ayo kita masuk!" Ujar Kak Anta..


Meski sangat mengkhawatirkan kehadiran Mbak Isma lagi di dekat kami, tapi berkat genggaman tangan Kak Anta yang erat, rasanya aku dapat menepikan rasa resah dan gelisah. Aku yakin Kak Anta telah benar-benar yakin untuk memilih ku.


"Isma!"


"Mas Reza-----" Mbak Isma lantas bangkit dari kursi setelah mendengar suara Kak Anta memanggil namanya. Dengan penuh suasana sentimentil, dia memeluk Kak Anta sambil terisak di dadanya, bagai seekor kuda yang hilang kendali. Tak perduli lagi ada aku di sampingnya.


"Isma, tolong jaga sikap!"


Kak Anta mendorong tubuh Mbak Isma dengan kedua tangannya. "Ada apa? apa yang terjadi?"

__ADS_1


Kendati merasa kecewa karena keintimannya dengan Kak Anta itu harus berakhir sebelum ia benar-benar menginginkannya, sebelum ia benar-benar menuangkan seluruh dilema hati dan pikirannya sekarang. Mbak Isma berusaha tegar sambil menyeka air matanya.


"Maaf Mas, aku tidak bermaksud untuk macam-macam. Tapi aku mohon bantu aku Mas---" Ucap Mbak Isma, "Abah, Mas! Abah baru dijemput polisi! Mang Aris laporkan abah karena sengketa tanah rumah Mas?!"


"Sengketa tanah yang mana? Mang Aris kan adik kandung abah, Kok tega?!" Raut wajah Kak Anta berubah. Berubah penuh gelisah.


"Tanah tempat bangunan rumah kami Mas, Mang Aris menuntut karena menurutnya itu tanah masih warisan milik Aki dan harus dibagi."


"Tolong bantu abah Mas! tolong temani aku temui abah ke kantor polisi!"


Mbak Isma menatap Kak Anta dan Kak Anta balik menatapnya, kemudian dia menatap wajahku yang mulai masam. Dia menatapku dengan tatapan yang bersungguh-sungguh sambil menganggukkan kepalanya, tanda meminta.


"Karunia, aku mohon Kania, Izinkan Mas Reza membantuku kali ini saja! Aku benar-benar membutuhkan bantuannya saat ini," Dia mengambil tanganku dan menggenggamnya erat-erat.


Tiba-tiba Mbak Isma menurunkan posisi tubuhnya, bersimpuh di bawah kaki ku. Tentu saja aku lekas menurunkan posisi badan menyamai Mbak Isma, Namun ia tetap bersikeras untuk tetap berada di bawah kaki ku, sampai aku mengizinkan Kak Anta untuk pergi membantunya.


Mbak Isma itu bagai minuman anggur. Memabukkan dan membuat kita tak mampu menjauh jika sudah berhadapan dengannya, dan siang ini, di teriknya matahari hari ini, Aku dihadapkan pada anggur yang memaksa untuk ku tenggak.


Dengan hati-hati dan agak gemetar, aku mengangkat gelas. Sampai di bibirku, gelas ku tahan sebentar sehingga aroma minuman itu tertangkap di hidungku. Harum, sedap dan menyesakkan. Persis dengan Mbak Isma.


Ku pejamkan mata, lantas dengan perlahan-lahan anggur ku tuang ke dalam kerongkongan. Rasanya sedikit pahit dan agak sengak. Namun, ketika ku telan, dadaku perlahan terasa hangat dan keringat keluar di bagian leher dan dadaku. Aku membuka kembali mataku.


Dan tepat di hadapanku, wajah Mbak Isma yang Masygul masih menunggu harapan. Aku memang khawatir dengan anggur, tetapi aku terlalu jahat jika menelantarkan orang lain yang butuh bantuan. Seharusnya aku mampu bercermin, bahwa posisi Mbak Isma sekarang tak jauh berbeda dari aku beberapa waktu dulu.


"Baiklah ...." Kataku berusaha menahan rasa pusing yang membuat pikiranku melayang-layang.


Kini, ekspresi wajah Mbak Isma berubah total. Matanya yang tadi sayu kini membulat berbinar-binar. Ku bantu dia kembali berdiri.

__ADS_1


"Kak, bantulah Mbak Isma menemui ayahnya."


Suasana kian terik pikiranku sedikit mengabur dalam tatapanku yang mulai berat menanggung khayalan. Aku mencoba untuk menatap mata Kak Anta yang cokelat bening, untuk mengurangi rasa gusar yang pekat. Sejenak ku tundukkan kepalaku, lalu ku angkat lagi dan tak lama kemudian keadaanku mulai segar. Aku pun tenang kembali, atau berpura-pura tenang kembali.


"Bersiaplah Kak, Keadaan genting begini tidak bisa di tunda." Kataku.


Kak Anta lekas masuk ke dalam rumah mengambil jaket, tas dada dan kunci mobil.


"Terima kasih, Kania." Ucap Mbak Isma setelah itu.


Aku mengangguk untuk menjaga suasana.


Tak lama kemudian Kak Anta keluar dari dalam, dia sudah siap. Tetap dengan ketampanan dan karismanya yang maksimal. Aku bangga memilikinya. Satu hal yang membuatku terkejut, yaitu setelah dia memundurkan mobil dan Mbak Isma masuk ke dalam, duduk di sebelahnya. Kak Anta turun dan kembali menghampiriku.


"Terima kasih, Aku janji akan pulang sebelum makan malam. Jangan buka kan pintu untuk siapa pun, kecuali saat aku pulang."


Dia mengecup keningku dengan lembut dan khidmat. Seakan dia mencium tidak hanya dengan bibir, melainkan juga dengan jantungnya. Aku gemetar begitu bibirnya menyentuh wajahku, seperti tengah memberiku Kejujuran dan anugerah yang mengejutkan.


"Hati-hati!" Kataku setelah itu.


...****************...


Hai best...


jangan lupa mampir ke sini


__ADS_1


__ADS_2