I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 70 - Perusak


__ADS_3

Sekitar pukul empat, sore harinya ketika Kak Anta pulang, dia langsung masuk saja ke dalam kamar dan tak mengunggu ku menyahut atau menyambutnya pulang seperti biasa


"Kania, apa yang terjadi?" Katanya tiba-tiba, "Banyak barang berserakan di depan itu kenapa?"


"Kita harus pindah dari rumah ini Kak!"


"Ada apa? kenapa tiba-tiba minta pindah begini, mimpi buruk seperti dulu lagi? atau bagaimana? coba katakan jelasnya kenapa."


"Ini bukan mimpi buruk lagi, tapi memang sudah jadi kenyataan. Petra, tadi dia datang bawa barang-barang maksa untuk ketemu Rania. Tanpa aba-aba datang lagi di hidupku, setelah mencampakkan aku dan Rania dia datang dan mengatakan mau bertanggung jawab."


"Petra?" Tanyanya padaku.


"Iya, adik sepupu Kak Anta." jawabku, "Dia bahkan mengancam bakal datang terus ke sini sampai diizinkan ketemu dengan Rania."


Sejenak kami saling terdiam bersama dengan angin yang berdesir dalam ruangan. Kak Anta mulai berubah ekspresi, begitu pun aku yang sejak pagi tadi pusing tidak karuan, hanya melamun seharian di kamar.


Lantas ku raih lengan Kak Anta penuh harap, "Aku bisa gila kalau dia benar-benar melakukannya Kak Anta, aku jijik melihat dia, mendengar suaranya pun aku mual serasa mau muntah. Aku mohon kita pergi dari sini, pindah ke tempat yang dia tidak tahu."


"Dia mengatakan apa saja?" Kak Anta balik tanya padaku.


"Mau Rania, bertanggungjawab dengan kami berdua, minta kesempatan, bakal datang ke sini terus kalau aku tidak buka kan pintu dia juga ngancam bakal ngomong ke warga sini kalau Rania itu anak dari hubungan terlarang ku dengan pria lain, bukan suamiku sendiri. Aku stres Kak, aku sadar memang bukan Kak Anta yang menghamili aku saat itu, tapi aku ketakutan kalau warga tahu Rania itu memang anak dari orang lain." Jawabku.


"Dasar gila anak itu! tidak berubah sama sekali. Beraninya dia menginjakkan kaki di rumah ini untuk mengancam istriku."


"Kak, aku ketakutan. A--aku takut orang-orang tahu Rania adalah hasil hubungan terlarang ku dengan pria lain, bukan kamu. Walaupun memang itu kenyataannya."


"Tak apa Kania, tenanglah. Ada aku di sini. Dia tak akan macam-macam." ucap Kak Anta sambil mengunci kedua belah sisi bahuku.


"Tidak, dia ke sini saat kakak tak ada di rumah. Kalaupun aku bisa telpon Kak Anta, kakak selalu sibuk kerja, tak pernah bisa angkat telpon ku."


Kak Anta diam lagi, bola matanya yang indah kecoklatan memutar liar ke kiri dan kanan, mungkin tengah mengingat kejadian belakangan, terutama hari ini saat dia meninggalkan ponselnya di rumah.


"Aku minta maaf sekali soal itu, ya? Setelah kejadian ini, aku janji akan buka dan mengawasi ponsel terus."

__ADS_1


Aku menggeleng kepala pelan, kemudian menyeka kedua tangannya dari bahuku. "Pindah," jawabku.


"Sayang, aku belum bisa ambil keputusan itu, rumah ini adalah satu-satunya kenang-kenangan tentang orang tua dan masa kecilku. Kalau pergi, aku tak memiliki kenangan apa pun lagi dengan mereka."


"Kalau begitu ambil tindakan tegas untuk adik sepupu kakak. Dia bakal datang terus ke sini, mau kakak yang selesaikan atau aku yang ambil tindakan?" Jawabku secara taktis, "Aku lapor Petra ke polisi kalau dia datang lagi ke sini, atau kalau kakak tidak bisa menindak tegas dia, aku mau pulang ke rumah ayah. Paling tidak di sana aku dan Rania akan aman."


"Jangan begitu. Baiklah, begini saja. Aku akan datangi rumah paman dan bibi, minta Alfatra untuk tidak mengganggu kamu lagi. Bagaimana?"


"Aku tunggu kabar baiknya." Jawabku sedikit lega setelah kemudian Kak Anta memelukku untuk memberikan ketenangan seperti biasanya.


Esok Paginya, Kak Anta sengaja menunda keberangkatan ke kantor karena permintaanku. Aku tahu kalau Petra akan datang ke rumah ini seperti kemarin, karena dia tak akan bermain-main jika sudah berkata.


Dan benar saja, dia kembali datang persis seperti jam kemarin. Diketuknya lagi pintu depan dengan kencang sambil terus memanggil namaku.


"Kania----"


"Buka pintunya Kania, aku datang lagi. Izinkan aku ketemu anak kita." Ucapnya di luar sana, "Kalau tidak kamu buka, aku bakal teriak dan ngomong ke warga sini, soal anak kita."


"Kak, dia datang lagi." Kataku pada Kak Anta yang baru saja tiba dari kamar mandi.


"Kamu di dalam jaga Rania, biar aku yang hadapi dia." Jawabnya.


Kak Anta langsung membuka pintu dan keluar menemui Petra yang jahat hati. Namun, kali ini aku enggan menuruti Kak Anta, jelas aku tetap di depan untuk menguping.


"Mas----" ucap Petra begitu melihat sosok Kak Anta keluar dari balik pintu.


"Mau apa lagi?"


"Temui anakku dan Kania, mereka ada di dalam kan?!"


"Pulang!"


"Pulang Alfatra, aku bilang!" Tegas Kak Anta, dengan nada meninggi yang selama ini belum pernah ku saksikan. "Kemarin-kemarin kemana saja kamu?! Anak kamu sudah gugur seperti mau kamu, hanya anak ku lagi sekarang. Pulang!"

__ADS_1


"Mas Reza jangan ikut campur! aku ini seorang ayah yang mau menemui anaknya, kenapa dilarang-larang?!"


"Pulang atau aku ambil tindakan untuk kamu?"


Ku lihat Petra malah tertawa kecil di depan sana, persis dengan raut wajahnya saat meremehkan orang lain, "Oh, kamu merasa hebat kah Mas mentang-mentang sudah jadi aparat hukum? Kamu jadi berlagak sok paling hebat, paling paham, paling melindungi. Kenapa mas? Kamu lupa dulunya kamu itu siapa?"


Dia menarik kerah baju seragam Kak Anta sambil melotot, aku pun jadi ikut terbawa suasana meski hanya menonton dari dalam. Sungguh wajah Petra saat itu benar-benar menyebalkan, bikin muak.


"Minggir mas, jangan halangi aku ketemu anakku sendiri. Kalau kamu masih mau menghalangi ku, ku beri tahu rahasiamu pada Kania, siapa kamu sebenarnya!"


"Pulang!" tegas Kak Anta lagi.


"Kenapa Mas? kamu takut?" Kemudian Petra menjulurkan lehernya lebih naik sambil melirik ke arah pintu, dia berteriak; "Kan-Kania, keluar lah bawa anak kita, kalau kamu izinkan aku bertemu anak kita, akan ku beri tahu kamu rahasia besar suami kamu. Kamu pasti belum tahu kan siapa dia ini sebenarnya?"


Dia bicara soal rahasia Kak Anta, aku diam sejenak. Berpikir, mungkinkah ada lagi yang tersembunyi di antara aku dan Kak Anta? Akhirnya ku putuskan untuk keluar, dari pada aku hanya di penuhi rasa penasaran dan praduga. Toh sekalian aku bisa menghantam wajah Petra bila perlu.


"Apa?" kataku, setelah kembali membuka pintu.


Kak Anta langsung menoleh ke belakang, "Kania?!"


"Ku beri tahu, asal kamu bawa anak kita keluar, dan izinkan aku bertemu dia." sahut Petra.


Kak Anta yang kesal langsung menarik lengan Petra dan mengunci lehernya dari belakang, persis saat dia melawan anak nyonya Willis dulu, "Kamu ini memang tidak bisa ditegur Alfatra, terpaksa aku ambil tindakan. Kemari kamu!"


"Lepas Mas, lepas." Petra meronta-ronta setelah digeret paksa Kak Anta, hingga dari jarak yang agak jauh dia memekik padaku untuk memberi tahu rahasia Kak Anta tadi, "Dengar Kania, asal kamu tahu ya, suami kamu ini adalah kakak ku! ya, aku adalah adik sepupunya, Kania----"


Dalam hati aku mendengus, aku merasa sangat tenang, rupanya rahasia lain yang ku khawatirkan tadi hanyalah lagu lama yang sudah dari dulu kami ketahui.


"Dengar Alfatra, ini terakhir kali aku lihat kamu ke sini, menemui istriku dan berkoar-koar minta ketemu anak. Kalau kamu masih berani mengganggu keluarga ku, aku tak akan segan-segan balas kamu. Ku ambil semua milikku, jangan pikir aku tak tahu!" Tegas Kak Anta lagi setelah melepaskan Petra dari kuasanya.


"Br3ngsek kamu Mas, dari dulu kamu selalu memiliki apa yang seharusnya milikku! kamu senang kan selalu unggul di atasku?! aku benci lihat kamu bahagia, aku benci lihat kehidupan mu yang jauh lebih bersinar di banding aku! tunggu saja Mas, kamu itu zalim! Kamu senang berbahagia di atas penderitaanku..."


Setelah ku dengar jawaban Petra itu, baiklah, nampaknya aku mulai paham apa yang membuat Petra tiba-tiba datang ke sini, koar-koar soal ayah dan sibuk minta untuk menemui Rania....

__ADS_1


__ADS_2