I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 83 - Momentum Paling Berharga


__ADS_3

Demikianlah, akhirnya dua bulan yang dinantikan Mbak Isma itu tiba. Akhirnya aku dan Kak Anta pergi bersama ke ujung jalan, tepatnya di rumah Mbak Isma yang lama untuk merayakan penyatuan cinta Mbak Isma dengan lelaki pilihannya agar cinta mereka tetap kekal. Untung sekali pernikahannya diadakan di sana, jadi aku bisa pergi juga untuk hadir meski tengah hamil tua dan perut yang besar, bukan perut saja tapi badan juga hihi ... sejak hamil kembar, berat badanku tambah sampai 30 kg.


Mbak Isma sendiri rupanya sudah lama beli lagi rumah itu, karena katanya rumah itu sarat dengan makna dan penuh kenangan. Dari ayah dan ibunya menikah dulu, sampai dia lahir dan dewasa. Persis seperti pandangan Kak Anta terhadap rumah ini.


"Yakin kita jalan kaki saja?"


"Yakin Kak," jawab ku. "Sekalian biar mudah untuk lahiran."


"Atau kamu istirahat saja ya di rumah, nanti ku sampaikan pada Isma kalau kamu belum bisa hadir karena hamil besar." Timpal Kak Anta.


Aku menggelengkan kepala pelan.


"Aku mau hadiri acara sakral Mbak Isma, aku tidak kesulitan sama sekali. Sayang kalau aku tidak datang... masih kuat loh." Meski terkesan sangat ngotot, aku tahu betul Kak Anta masih keberatan dengan keinginanku. Tapi sayangnya dia tidak bisa menolak.


"Pelan-pelan saja."


Kami pergi sama-sama, tidak berdua saja kok. Banyak ibu-ibu di perumahan ini juga jalan. Ada pak Omar dan istrinya, pak RT, Bu RT dan yang lain juga. Aku dan Kak Anta berada di posisi paling belakang, karena aku tidak bisa jalan normal lagi. Jalannya agak melebar dan langkah pun super kecil, aku jalan sambil pegang pinggang karena kesulitan dengan perut. Sementara tangan yang lain, menggandeng lengan Kak Anta yang kekarnya tidak berubah.


Hingga beberapa menit berlalu, sampailah kami ditempat acara Mbak Isma. Sayangnya kami sampai, saat akad telah selesai, jadi cuma sempat menyalami pengantin dan keluarganya saja.


"Selamat untuk pernikahannya ya Isma, semoga kehidupan keluarga kalian selalu diberkahi Tuhan dan cepat dapat momongan." Ucap Kak Anta.


Mereka saling berjabat tangan.


"Terima kasih banyak mas. Do'akan saja semoga aku cepat ketularan." Jawab Mbak Isma sambil melirik ku. Lebih tepatnya perutku.


Kini tibalah giliranku, yang bersalaman dan mengucapkan selamat; "Mbak, selamat ya! doaku hampir sama dengan Kak Anta. Semoga pernikahan Mbak Isma dan suami langgeng dan panjang umur sampai maut memisahkan."


"Kalian tetap baik seperti biasanya, tapi aku malah lupa untuk bawa oleh-oleh. Ingat tidak? dulu aku pernah janji untuk bawa oleh-oleh kalau pulang dari borneo, tapi rupanya undangan nikah hehehe.." ujarnya.


"Ini oleh-oleh yang luar biasa indah dari Mbak Isma."

__ADS_1


"Kamu sungguh tak berubah, seperti matahari pagi. Baik sekali.... Pasti repot sekali ke sini dengan perut sebesar itu, sudah berapa bulan?"


"Delapan bulan, 2 minggu Mbak."


"Aah, sebentar lagi mau lahiran. Do'akan aku bisa secepatnya ya?"


Aku tersenyum dan mengangguk. Lalu Mbak Isma memelukku.


"Terima kasih Kania, selamat juga untuk kehamilanmu." Ucapnya.


Acara salam-salaman dengan pengantin pun selesai. Lalu lanjut dengan acara makan-makan, aku duduk di samping istri Pak Omar dan bu RT, sedangkan Kak Anta masih antri di meja prasmanan, ambilkan makan untukku juga si kembar.


Awalnya semua baik-baik saja, dan aku pun menikmati suasana sambil mengobrol kecil dengan Istri Pak Omar dan Bu RT. Aku tak merasa hal aneh apa pun, sampai tiba-tiba istri Pak Omar histeris lihat bawah kaki ku sudah penuh air, air meluber dari dalam pakaianku. Ketuban?


"Bu Anta, itu ketubannya pecah!"


Lalu Bu RT langsung memekik histeris panggil Kak Anta yang masih sibuk pilih lauk.


"Pak!!!!"


Bu RT terus panggil Kak Anta sambil memainkan tangannya menyuruh Kak Anta secepatnya ke tempat kami. Sedangkan aku bengong kebingungan, sekaligus menahan malu yang tak keruan, bikin gaduh di acara orang. Bu Omar pun tak henti-henti coba untuk menenangkan aku.


Dan kini, semua mata tertuju ke arahku, panik dan gelisah tak kepalang. Kak Anta cepat-cepat menghampiri ku,


"Sayang? astaga. Kamu tunggu di sini sebentar, biar aku ambil mobil di rumah. Tak apa kan? Tolong kali ini jangan minta pakai mobil polisi! situasi gawat darurat." Ucap Kak Anta. "Bu, ibu. Saya titip istri sebentar!"


Setelah Kak Anta kembali lagi, aku tak kunjung berhenti mengatur napas. Bu RT dan istri Pak Omar pun bantu antar ke rumah sakit, mereka duduk di sampingku sambil bantu tenangkan.


"Tarik napas bu."


"Buang pelan-pelan bu---"

__ADS_1


"Sakit Kak.... Kak cepat Kak, anaknya mau keluar Kak!!!!" kataku memekik.


Tidak bisa digambarkan bagaimana riwehnya suasana tak terduga itu, benar-benar di luar dugaan. Malu ada, sakit ada, bahagia juga ada... Untung Mbak Isma dan keluarganya sangat memaklumi. Dan acara sempat ditunda beberapa menit.


Kak Anta sampai ngebut di jalanan, sedangkan kami bertiga di bangku penumpang berapa kali teriak-teriak. Ya Tuhan, ya Tuhan!!!


Kak Anta sempat lawan lampu merah, namun untungnya tidak terjadi hal yang menakutkan. Bu RT sampai buka jendela dan teriak agar orang-orang pengguna jalan tidak salah paham.


"Mau lahiran Pak, mau lahiran bu... Maaf! maaf!"


"Tolong kasih jalan!!! tolong kasih jalan."


"Kak!!!!! aku tidak tahan Kak!!! anak kamu mau keluar Kak!!!" Aku memekik histeris membuat Kak Anta makin cemas dan tekan gas makin dalam. Sat set sat set, seperti jet kilat yang kejar waktu.


Hingga sampailah kami di rumah sakit di pusat kota, dokter pun cepat ambil tindakan. Aku langsung di tangani, hingga kemudian diambil lah keputusan untuk operasi.


Aku dioperasi sampai 1 jam setengah. Aku sungguh tak merasakan apa-apa lagi tenagaku sudah habis seluruhnya, Kak Anta tetap bertahan di posisinya duduk di samping pipiku, sambil membisikkan doa. Yang paling membekas dan berdesau dalam hatiku adalah saat dia berkata:


"Ma, mama tolong jangan menyerah. Ingat anak-anak ma! mereka butuh kamu. Jangan pikirkan tentang aku lagi, tolong jangan berhenti sebut nama Tuhan ma! bertahanlah untuk anak-anak, Rania, si kembar yang mau lahir. Mereka masih terlalu kecil kalau harus kamu tinggalkan ma!"


Pertama kalinya dia mengubah panggilan, dan memanggilku seperti Rania, 'Mama'. Aku tak henti meneteskan air mata, begitu juga Kak Anta.


Sampai akhirnya ku dengar tangisan bayi yang kuat, seakan membangkitkan lagi semangatku.


"Sudah lahir satu bu, Bayinya laki-laki! tinggal satu lagi." Kata dokter.


Mataku makin basah, dan tak henti memuja Tuhan. Kak Anta menangis juga, sampai berkali-kali cium pipi ku.


Dan yang terakhir, suara anak kami keluar lagi.


"Sudah lahir lagi bu, laki-laki juga. Saya observasi sebentar, biar nanti bisa secepatnya ketemu."

__ADS_1


Aku terharu sekali, rupanya aku belum sekarang dipanggil Tuhan. Aku masih bisa mendengar suara anak-anak ku.


Puncaknya adalah saat aku sudah berada di ruang rawat, dan dokter menempelkan bayiku tepat di sebelah pipi kiri, dan yang satunya lagi di pipi kanan. Aku kembali terisak, begitu juga Kak Anta.


__ADS_2