
Hancur aku berkeping-keping, bagai Kaca yang pecah. Hancur, hilang bagai mimpi dan harapanku. Roda motor Rambo berputar seperti jutaan bintang yang ada dalam dadaku ini. Entah kenapa, angin berdesir lebih hebat dari biasanya, mengepung ku dengan hawa dingin yang menusuk. Rasa gelisah menguasai ku, menghempaskan aku di antara dentum gemuruh dan rasa kecewa yang menyiksa. Seakan aku adalah makhluk Tuhan yang paling berdosa karena berharap pada ciptaannya yang telah ku anggap sempurna.
"Padahal dia izin pulang cepat. Aku yakin untuk menghabiskan waktu denganmu. Tapi, malah aku mendapati kamu begini." Kata Rambo.
Jika dia sudah izin pulang lebih awal, lalu mengapa dia tak datang? ke mana Kak Anta pergi?
Aku mengalihkan tatapan ku ke luar sana, memandang malam yang legam.
"Kak... "
"Ya? Kamu memanggilku?" Jawab Rambo.
"Bisa bawa aku keliling sebentar? Aku ingin menghabiskan air mata bersama hujan ini. Kali ini, Jangan di rumah lagi."
"Tidak bisa, kamu sedang hamil!" Sergahnya, "Mau kecewa, marah dan sedih bagaimana pun, Kamu harus bisa tenang. Kamu sekarang tidak sendiri, tubuhmu itu juga milik seorang bayi yang ada di dalam sana."
"Nikmatilah malam ini sepanjang perjalanan. Menangislah sebisa mu, dan perjalanan ini harus cukup! Kamu tidak pantas bersedih lama-lama. Biar ku pukul dia untukmu!"
Aku terenyuh mendengar ketulusan Rambo yang marah untukku. Meski kekecewaan ini tak berarah, dan segala yang keruh menguasai perasaanku, Semacam kata hati yang tak semata kata hati, apa kah hati sedemikian rumit, sampai aku tak mampu membendung semua kesakitan karna kecewa yang dalam. Hancur karena harapan dan khayalan.
Meski bukan aku yang menemukan hatinya, aku merasa cukup untuk dapat berada di sampingnya secara cuma-cuma.
Malam terasa kian sunyi. Ada kilatan berapa detik di ujung cakrawala sana. Bulan menyendiri, tanpa ada bintang di sekitarnya. Cahayanya pasi dan murung, namun tetap tegar di atas sana. Layaknya manusia yang harus menanggung nasibnya sendiri-sendiri, perasaannya sendiri-sendiri.
Hingga sampailah kami di rumah, tepat pukul 23.45 malam. Hampir satu jam perjalanan. Sudah ada mobil Kak Anta yang terparkir di garasi rumah dengan keadaan mesin menyala. Kami turun serempak, Aku dan Rambo turun dari motor, Kak Anta turun dari mobil.
"Kamu baru pulang? Aku baru mau menjemputmu!" Sahut Kak Anta menyambut ku, namun ku abaikan. "Kenapa bisa bersama Rambo?"
Aku tetap tak menggubris, hanya sibuk membuka jaket Rambo dari tubuh ku, lalu berkata. "Kak Terima kasih, ya?! Jika bukan tanpa kakak, mungkin aku masih sendirian di jalanan sana." Ucapku pada Rambo. "Jaketnya boleh ku cuci dulu? atau langsung diambil?"
"Ku ambil saja! Kamu istirahat, jangan terlalu memikirkan dan bekerja yang berat-berat."
Rambo mengambil jaketnya dari tanganku, Aku tersenyum kecut, kemudian berjalan menuju pintu depan. Namun, tiba-tiba tanganku ditarik, disambar oleh tangan yang sudah ku kenal dengan baik pemiliknya.
__ADS_1
"Jangan diamkan aku begini, aku bisa jelaskan."
Aku segera berbalik dan segera ku sambar wajah sebelah kiri Kak Anta. Ku tampar pipinya agak keras. Tanganku sampai gemetar karenanya. Aku mencoba untuk memaklumi, tapi malam ini aku sudah terlanjur tenggelam dalam ratapan kecewa yang membara.
Dia terdiam, sementara aku menatapnya dingin.
"Kania... " Ucap Rambo berusaha mendekat. Namun, Kak Anta menghalangi dengan telapak tangannya.
"Tak apa Rambo! aku pantas mendapatkannya."
Gerimis hujan menemaniku untuk menghadapinya. Begitu pula angin dan bulan, juga Tuhan di atas sana. Aku diam, hanya diam, Larut dalam kehancuran yang tak berujung dan berarah.
"Kenapa masih saja diam? Lampiaskan lagi!" Katanya.
"Masuklah Kania, mandi dan gantilah pakaian. Jangan sampai sakit karena hujan-hujanan. Kamu tak seharusnya berlarut-larut. Jangan pedulikan!" Sergah Rambo, dia menatapku dengan isyarat yang dapat ku pahami bahwa dia mengerti perasaan ku saat ini. Melampiaskan dengan fisik saja tak akan membuatku puas atau bahkan lega. Tidak, tidak sama sekali.
"Pulanglah Rambo! Kamu hanya memperkeruh suasana... " ucap Kak Anta sambil menatapku dan membelakangi Rambo.
Rambo menaikkan nada bicaranya, tanpa memperdulikan Kak Anta. Dan ketika aku menuruti ucapan Rambo, "Rambo!!!" Kak Anta berteriak, berbarangan dengan itu sebuah hantaman mentah dari tangan kosong dan kekar milik Rambo mendarat di wajah Kak Anta, membuatnya tersungkur ke lantai, hampir tak berdaya.
"Kak... " Aku terkejut dan mencoba menghampiri Kak Anta untuk membantunya berdiri. Namun, aku kalah cepat begitu kerah kaus Kak Anta di tarik oleh Rambo dengan Kasar.
"Bangun kamu!"
"Seberapa hebat kamu Anta Reza, sampai berani menyakiti perempuan?!"
Satu hantaman mendarat lagi di wajah Kak Anta, kali ini di tempat yang lain, kalau tadi di kiri, sekarang di kanan.
"Masuklah Kania! jangan pedulikan soal ini, jika harus lewat fisik, biar aku yang wakilkan kamu!"
"Cukup Kak cukup, lepaskan Kak Anta. Aku sudah tak perduli lagi!"
"Selesaikan ini baik-baik dengannya! Kamu beruntung karena dia masih kasihan padamu! sebaliknya kamu tak perduli dengannya yang menunggu kamu berjam-jam sampai hujan-hujanan. Dia sedang mengandung! mengapa kamu sangat tega?" Ucap Rambo pelan, lalu menghempas tubuh Kak Anta.
__ADS_1
Sambil terisak aku segera berlari masuk ke rumah, dan Kak Anta segera bangkit menyusul ku meski dengan langkah tergopoh-gopoh.
"Kania, tolong biarkan aku bicara. Aku bisa jelaskan."
Aku memutar badan, dengan pandangan mengabur, ku tatap dia dengan sengak.
"Aku tidak lupa dengan acara makan malam kita, aku sungguh sudah izin, dan sudah bersiap ke restoran tempat kita janjian. Tapi di tengah jalan tiba-tiba aku mendapat telpon----"
"Dari Mbak Isma?" Sergahku.
"Bagaimana kamu bisa tahu? bukan, maksudku kamu sudah tahu masalahnya?"
"Berarti benar, kan. Ini karna Mbak Isma lagi! Siapa lagi Kak? kalau bukan Mbak Isma siapa lagi, yang selalu kamu pedulikan?" Ku tarik tanganku dari genggaman Kak Anta, "Pers3tan dengan masalahnya! nikmati saja waktu kalian berdua!"
"Kania! dengarkan aku dulu!" ucap Kak Anta seraya berusaha meraih tanganku kembali. "Baiklah, oke jika memang kamu jijik ku sentuh. Tadi situasinya sangat genting! Isma meneleponku karena emak jatuh di kamar mandi sampai tidak sadarkan diri. Karena itu, mau tidak mau aku memutar arah, dan bantu emak. Aku mau menghubungi kamu waktu di rumah sakit, tapi baterai ponselku kepalang habis. Oke?"
"Apa aku juga harus jatuh di kamar mandi agar kakak mau memikirkan aku, walau sedetik saja?!"
Aku berusaha untuk lebih tenang, dan menatapnya dingin untuk melihat reaksinya.
"Kania, tidak begitu. Emak butuh darah, jadi aku keliling bantu cari. Karena itu, jadi agak lama... "
"Apa aku juga harus kehabisan darah, agar kakak mau mendahulukan aku, walau hanya sekejap?"
"Tidak, tidak begitu Kania. Setelah semua urusan selesai, aku secepatnya mencari kamu, Aku cari di rumah karena ku pikir mungkin kamu sudah pulang, rupanya tidak ada. Baru mau pergi cari ke resto, rupanya kamu sudah pulang diantar Rambo. Aku memikirkan kamu, aku juga cemas padamu."
"Kita berbeda, aku tidak setega kakak meninggalkan orang lain sendirian. Aku bukan orang yang suka ingkar, Aku setia menunggu kakak di sana, seperti perjanjian kita. Aku tetap menunggu bahkan sampai resto itu tutup, karena aku khawatir kakak akan datang sedangkan aku sudah pulang, sebab baterai ponselku sudah habis."
Mbak Isma, sejak kapan semua menjadi tentang mbak Isma? padahal dulu dia yang menyuruh aku untuk memberi jarak dan jangan membahas soal mantan kekasihnya itu lagi. Ternyata semua itu hanya bohong, kebohongan. Atau jika mungkin, dia sudah berusaha untuk lupa, tapi perasannya tak bisa dibohongi.
Entahlah, aku hanya melihat bayang-bayang Rambo yang duduk di kursi teras. Mewaspadai jika mungkin sesuatu yang tidak diinginkan terjadi, mungkin dia siap pasang badan, persis seperti yang di lakukannya untukku barusan...
Kak Anta terdiam, aku diam. Suasana jadi hening... malam yang panjang dan kelabu.
__ADS_1