
Morning sickness ku awet sampai usia kandungan tujuh bulan. Untung mulai bulan keenam dan ketujuh rasanya jauh berkurang, tapi tetap pasti ada muntahnya setiap hari, minimal sekali sehari.
Kak Anta pun berkali-kali lipat memantau keadaanku, karena di kehamilan kali ini aku jauh lebih aleman dan paling banyak kesusahan. Untungnya Rania pun jarang rewel, dia sudah bisa mandiri kalau mau sesuatu, dan sudah pandai jika aku meminta bantuannya.
Pagi ini pun, seperti biasa aku nampaknya sudah sangat berlangganan dengan wastafel. Kak Anta selalu setia di sampingku, berdiri sambil memijat dan menggosok pelan punggungku, walau terkadang dia juga suka ikutan muntah.
"Air minum, Kak?"
Kak Anta menuang minuman lagi dan aku meneguknya.
"Tambah?" Sela Kak Anta. "Biar aku yang bantu tuangkan lagi untukmu."
"Oh tidak Kak, sudah cukup."
Pengalaman hamil kembar memang luar biasa terasa sangat beda dari hamil sebelumnya. Ku pikir setelah pernah melahirkan satu kali, aku tak akan terkejut lagi. Tapi rupanya pengalaman ini tidaklah sama, pada tahap ini yang rasanya paling beda adalah ukuran perut. Aku hamil empat bulan, tapi seperti hamil 6-7 bulan. Aku hamil tujuh bulan, tapi seperti hamil sembilan bulan. Perut ku besar sekali, sampai sulit gerak; menunduk, pasang kaus kaki, bahkan sisir rambut pun susah.
Hamil sebelumnya, aku sama sekali tidak akrab dengan daster. Cuma sering pakai kaus dan rok panjang saja. Nah, di kehamilan kembar ini, semua baju ku di keluarkan tidak bisa dipakai saat usia kandunganku sekarang enam bulan.
Alhasil aku harus akrab dan nyaman dengan daster untuk pakaian sehari-hari hingga persalinan nanti. Aku juga sering pakai baju kaos dan celana boxer Kak Anta, dan dia tidak akan protes, malah dengan senang hati asal aku nyaman dan merasa sehat.
Gerakan si kembar, di perut ku pun aktif sekali. Jenis kelamin mereka sudah kami ketahui 3 bulan yang lalu dimana keduanya adalah laki-laki.
Dalam hati aku berpikir, Pantas saja aku separah ini morning sickness-nya. Ternyata anakku keduanya laki-laki. Teman-temanku di warung sayur, bahkan ibu RT pun mengakui, hamil anak laki-laki itu lebih berat dari hamil anak perempuan.
__ADS_1
Setelah membantu ku istirahat lagi di kamar, Kak Anta masih tetap duduk di sampingku bantu pijat pijat agar aku semakin rileks. Bantu tenangkan aku, tapi dia malah ikut menangis, lihat aku yang kesakitan. Katanya ingat waktu aku lahirkan Rania.
"Kenapa Kak?"
"Aku tidak tahu harus bahagia atau sedih," Katanya bergetar. "Kamu mengandung, tapi dibuat termehek-mehek begini. Sakit sekali kan? Aku harus menebusnya pakai apa? aku janji akan penuhi semua keinginan kamu, Aku minta maaf karena buat kamu menahan kesakitan."
"Sakitnya itu tidak sepadan dengan rasa bahagianya Kak. Kak Anta sekarang cuma lihat sakitnya saja, tapi kan kakak tidak lihat bahagia dan bangganya seorang wanita saat mengandung. Jangan sedih, kasihan si kembar kalau Papanya seperti menyesal begitu."
"Aku tidak menyesal, aku bahagia sekali karena kita kembali di anugerahi anak. Tapi, sumpah andai kamu bisa membagi sakitnya aku bersedia terima, biar kamu cukup rasakan bahagianya saja." Ucap Kak Anta.
Aku tersenyum tipis. Lalu ku sentuh lembut pipinya yang coklat dihiasi bulu janggut tipis, yang kalau disentuh bikin bulu kuduk merinding, geli-geli.
"Jangan dipikirkan Kak Anta, lagi pula seorang ibu dan ayah punya cerita sendiri saat memiliki anak."
Bagaimana jika besok Aku tiba-tiba kontraksi dan harus melahirkan? Kalo aku harus melahirkan prematur, apakah kedua anak kami bakal selamat, atau jangan-jangan aku harus merelakan pergi salah satunya?
Horor sekali kan pikiran ku? Semua kekhawatiran ini berpangkal pada kekurangan berat badan si kembar waktu aku periksa dua hari yang lalu dengan dokter Rani. Untung dokter Rani tak henti menyemangati ku dan mengatakan biasanya berat janin kembar melesat setelah tujuh bulan.
Pokoknya aku harus tetap mengisyaratkan positif, jaga kesehatan, jaga asupan dan nutrisi, plus berdoa.
Setelah selesai melamun itu, tiba-tiba kami dapat panggilan telepon. Panggilan dari sahabat lama, yang sudah jarang bahkan tidak pernah lagi komunikasi sejak dia pergi merantau ke Borneo; Mbak Isma.
"Halo?" Sapa Kak Anta lebih dulu, tidak lupa teleponnya di loudspeaker agar aku bisa ikut dengar.
__ADS_1
"Mas Reza? sendiri atau ada Kania?" jawabnya.
"Ada mbak, aku di sampingnya. Kak Anta bantu angkat ponselnya tadi." Timpal ku.
"Ah, syukurlah kalau begitu. Aku takut salah paham nanti. Kebetulan kalian sekarang berdekatan, aku mau kabari sesuatu. 2 bulan ke depan aku mau pulang hehe."
"Serius mbak? syukurlah. Jangan lupa mampir ke rumah kami ya mbak."
"Hmm, kebalik." Jawab Mbak Isma. "Yang harus mampir itu kalian, kalian mampir ke rumahku. Karena aku mau ada acara."
"Acara apa mbak?"
"Aku mau menikah! hihi.... " Katanya malu-malu. "Aku sudah dilamar di sini, dia rekan kerja di kantor. Nanti kami pulang sama-sama dengan keluarga Calon suami, juga abah dan emak."
"Ah, syukurlah mbak... selamat ya! semoga acaranya nanti lancar sampai sah. Aku dan Kak Anta bakal usahakan datang!"
"Harus!!! aku sedih kalau kalian tidak hadir. Memang masih lama sih, tapi aku mau kabari kalian, terutama kamu. Aku senang sekali soalnya dan kamu adalah orang pertama yang harus tahu soal pernikahanku."
"Siap Mbak, Terima kasih masih ingat sama Kania."
"Bicara apa?! Kania itu sekarang sudah lebih dari sekedar teman. Sudah seperti adik, tidak mungkin lupa hihi. Aku matikan dulu teleponnya ya?! nanti ku kabari lagi."
Begitu lah telepon mendadak itu kemudian berakhir.
__ADS_1
Waktu berjalan cepat, sungguh tidak bisa ku duga. Banyak kejadian yang telah terjadi, dari aku, Kak Anta, dan orang-orang di sekitar kami.