
Tiga bulan berlalu sejak kejadian itu, memang Petra tidak pernah lagi datang ke sini. Aku pun dapat sedikit lebih tenang, meski terkadang saat Kak Anta pergi ke luar rumah, bekerja, atau lain hal, aku sering ketemu dengan Marwah karena ketakutan kalau Petra bakal tiba-tiba datang seperti waktu itu.
Siang ini, hari minggu saat Kak Anta tengah bersantai di ruang tengah aku segera masuk sehabis memilih jemuran yang kering. Kak Anta rupanya sedang menonton sepak bola sambil mengasuh Rania, khusyuk menghadap layar televisi, memelototi pertandingan tim nasional mengejar bola yang kebanyakan berada dalam kuasa lawan, begitu khusyuknya sampai ponselnya bergetar pun tak ia hiraukan. Ku bisikkan pemberitahuan ke telinganya, seolah memberi berita penting baginya.
"Hah?" timpalnya sambil mengerutkan dahi.
"Ya," jawabku. "Dari tadi ponselnya bunyi-bunyi terus tapi kakak tidak lihat. Takut ada yang penting."
"Aku tidak tahu," sergahnya. "Sebentar aku lihat dulu."
Aku mendekat ke sampingnya untuk ikut melihat layar ponsel Kak Anta, sekadar penasaran saja.
Tolong jaga sikap kamu dengan anak saya, ya Anta Reza! Kamu jangan lupa siapa kamu dulu, kalau bukan saya dan pamanmu yang rawat kamu dari kecil, kamu belum tentu bisa sukses seperti sekarang!
Pesan elektronik yang dikirim melalui e-mail, tentu tanpa melihat nama pengirimnya pun kami sudah tahu siapa yang kirim. Ini bukan yang pertama kali kok, memang selama tiga bulan ini kami sering dapat pesan e-mail begitu, karena itu aku masih takut kalau tinggal sendirian di rumah.
Selain pesan tadi, rupanya masih ada juga pesan yang lain. Segera Kak Anta membukanya;
Kamu dan Kania tidak boleh lebih bahagia dari aku!
"Kenapa dihapus?" kataku, sesaat setelah Kak Anta menekan 'oke' pada perintah menghapus.
"Tidak penting, bosan." Dia memasang muka santai seraya menaikkan kedua bahunya.
"Tiap hari dikirim pesan begitu terus," Kataku.
"Ketakutan, ya?"
"Tidak terlalu," ujarku. "Cuma memang sedikit kepikiran, karena semenjak dia datang ke sini, aku merasa kita selalu hilang ketenangan."
"Jangan dipikirkan," Kak Anta mengelus puncak kepala ku dengan lembut. "Dia, atau mereka sekali pun, hanya mampu melawan lewat teks begini saja. Sampai kapan pun tak akan ada yang bisa sentuh kamu ataupun Rania, karena aku pasti akan patahkan tangan mereka, sam-pai han-cur."
"Mana buktinya?"
__ADS_1
"Tidak ada."
"Kak Anta tukang bual," aku mengomentari dirinya yang tengah bercakap ketinggian, meski sebenarnya aku sendiri tahu kalau Kak Anta memang bisa melakukan apa yang dia katakan. Hanya aku memang sedang ingin menggodanya biar suasana di antara kami tidak terlalu tegang.
Kak Anta benar, setelah menghadapinya langsung Petra sekarang hanya berani mengancam lewat teks saja. Aku sendiri juga tak paham ancaman macam apa yang diberikan Kak Anta untuk Petra juga keluarganya, rebut kembali, rebut ini rebut itu, ambil lagi, apa? aku tak tahu, enggan juga untuk mencari tahu. Menurutku, itu adalah urusan Kak Anta dan keluarganya, kalau mau beri tahu dengan senang hati akan ku dengar, tapi jika tidak, aku juga tak masalah.
"Ada notifikasi lagi," Kataku sambil menunjuk layar ponsel Kak Anta yang hidup lagi.
"Tidak usah perdulikan, nanti dari mereka lagi."
"Tapi itu panggilan telepon, bukan e-mail." Jawabku.
Kak Anta menangkap maksudku hingga kemudian segera dia mengalihkan pandangan ke ponsel yang ada dalam genggaman tangannya. Rupanya kali ini notifikasi datang dari sahabatnya, 'Om Gondrong' kalau kata Marwah.
"Syukurlah kalau dia sudah datang. Kan memang kamu sudah berhubungan baik dengannya, sambutlah dan coba lah untuk lebih dekat." Ucap Kak Anta di telepon pada Kak Rambo di jauh sana.
"Coba dulu pelan-pelan, setelah itu ikuti kata hati kamu." Kata kak Anta lagi, sebelum kemudian mematikan telpon.
"Calon Rambo, hari ini pulang dari Venezia. Katanya sore nanti sampai di bandara."
"Terus bagaimana perasaan Kak Rambo setelah tahu tunangannya sudah kembali lagi ke tanah air?" tanyaku.
"Rambo masih ragu dengan perasaannya," Jawab Kak Anta. "Tapi wajar saja, mungkin karena ini perjodohan jadi Rambo belum sepenuhnya yakin dengan isi hatinya."
Bagaimana kalau Kak Rambo ragu karena telah mencintai orang lain, seperti jatuh cinta pada Marwah mungkin. Kataku dalam hati.
"Oh, iya Kak." Jawabku tersenyum masam.
Begitu banyak masalah yang ku alami, tapi aku tetap tak mampu mengalihkan tentang Kak Rambo dan Marwah. Mereka itu seperti telah memiliki tempat tersendiri dalam otakku, yang membuat aku terus memikirkan tentang mereka. Entah mengapa aku yang terkesan tak rela jika mereka tak bersatu, aneh bukan? bukan memaksa, tapi memang itu yang aku rasakan.
Andai saja salah satu dari mereka mengatakan perasaannya secara terang-terangan, mungkin semua tidak akan serumit ini. Mereka memang memiliki alasan masing-masing mungkin.
"Hei! kenapa melamun?"
__ADS_1
"Ehm, aku sedang memikirkan di mana sepatu bot Kak Anta sebelah? Cukup keras dan bagus, tadi mau ku sikat tapi sebelahnya tidak ketemu." Jawabku ngawur.
"Kamu ini hebat sekali, pikirannya bisa bercabang-cabang. Sejenak bisa mikir A, terus nanti pindah ke B. Bisa senang, terus tiba-tiba sedih. Kompleks sekali---" Katanya menggodaku.
"Ah, Kakak suka sekali mengejekku."
"Memang!" Ujarnya.
Setelah bicara panjang lebar dengan Kak Anta dalam suasana yang hangat di siang ini. Ku coba untuk menyampaikan niatku. Jujur, berhubung besok Kak Anta kerja, aku ingin sekali menemui Marwah, coba bicara lagi dengannya sekali lagi dari hati ke hati untuk memastikan.
Harapanku, mungkin bisa meyakinkan lagi perasaan Marwah. Aku ingin sekali mereka bahagia bersama, karena sesungguhnya aku berani bersumpah kalau mereka berdua memang telah menyimpan perasaan satu sama lain.
"Kak----"
"Ehm?"
"Aku besok izin yaya, mau ketemu Marwah."
"Boleh, Bawa Rania?"
Aku mengangguk pelan, tentu aku mengerti kekhawatiran Kak Anta karena membawa anak kecil seperti Rania ke jalanan. Tapi, meski kerja di jalanan, tempat tinggal Marwah justru cukup bersih dan tenang. Kini, dia telah mengontrak rumah dari sisa gaji yang diberikan Kak Rambo padanya waktu itu. Berulang kali aku meyakinkan Kak Anta tentang ini.
"Iya, sebentar saja kok, Kak." Jawabku memelas, "Aku mau mengobrol dengannya."
"Boleh," Kak Anta tersenyum. "Tapi aku yang antar."
Aku mengangguk pelan.
"Rania sudah setengah tahun, sudah boleh pisah kamar belum ya?"
"Tidak tahu Kak, memangnya kenapa?"
Kak Anta hanya tersenyum.
__ADS_1