I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 51 - Hati Anta yang Sebenarnya


__ADS_3

"Dengarlah, sekali pun tak ada sebersit niat di hati dan pikiranku untuk berpisah darimu Kania. Apa pun yang akan terjadi aku selalu mengatakan bahwa aku telah memilihmu dan selamanya akan tetap denganmu. Ku katakan ini semua sekali lagi tepat di ujung senja yang hangat, camkan dan ingatlah baik-baik." katanya berbisik.


"Anta Reza selamanya adalah suamimu, dan anak di kandunganmu sekarang, Anta Reza lah ayahnya!"


Demikianlah dia mengatakan janjinya, Kata-kata itu datang tepat saat senja yang berkilauan. Aku semakin kedinginan, karena merasa gugup ke dalam-dalam.


"Kak Anta yakin akan tetap begitu, bahkan setelah aku mengetahui sesuatu tentang kakak?" tanyaku padanya. Setelah kak Anta melepaskan pelukannya.


"Memangnya kamu sudah tahu apa tentangku?"


Begitu Kak Anta menanyakan balik tentang hal itu, aku mengerjap, diam sejenak. Meski di dalam hati sudah meronta ingin menunjukkan fotonya bersama Petra yang sedari tadi ku simpan di kantung baju Oversize ku yang tengah ku pakai.


Sementara ku pandangi mata Kak Anta, tangan kananku sudah siap untuk menarik poto ini dari dalam saku.


"Ini----" kataku sambil menyerahkan benda itu. Dan Kak Anta segera menyambutnya.


"Sebenarnya aku belum mau bahas soal ini sekarang, karena kakak baru pulang dari rumah sakit. Tapi berhubung obrolannya pas, dan mengingat diriku yang tak kuat menanggung prasangka. Jadi, mungkin dibahas saja." kataku, sedangkan dia masih sibuk memandangi foto yang baru saja ku berikan.


"Akhirnya kamu menemukan foto ini." ucapnya sambil tersenyum simpul. Dengan ekspresi yang tak bisa ku duga.


"Maksud kakak?" dahiku seketika mengerut. Begitu dia tersenyum.


"Aku sengaja menaruh foto ini dalam album di koper, dan ku letakkan dalam lemari, Ya, notabenenya tempat yang selalu kamu buka. Itu semua karena aku memang mau kamu menemukannya."


Aku terdiam, dan menatapnya dengan tatapan tajam, berharap agar dia memberikan penjelasan yang dapat ku pahami dan ku masukkan ke dalam hati.


"Kak?"


"Maaf ya, aku ingin kamu tahu tentang ini tapi aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya secara langsung. Jadi ku pikir inilah cara yang bisa dipakai." Katanya dengan tatapan yang lesu.


Lantas segera ku pukul dia, tepat di bagian dada.


"Jahat! Kakak sengaja melakukannya, tapi kenapa saat mau ku bahas malam itu, kakak mengatakan tak ada sesuatu yang disembunyikan sama sekali!"


"Belum saatnya waktu itu aku bicara. Suasana hatimu sedang tidak baik-baik saja. Membicarakan hal itu, hanya menambah arang di antara kita." jawabnya.

__ADS_1


"Aku tak tahu harus mengambil langkah apa saat ku tahu Petra itu adalah adik sepupu Kak Anta. Aku tidak tahu harus bagaimana Kak? aku kecewa, tapi aku juga tak sanggup bila harus mengatakan pisah, aku hanya akan pergi bila kamu yang minta."


"Bisa tahu tentang Petra dari siapa?" Dia bertanya padaku dengan lembut. Dan aku kembali menunduk karena tertekan.


"Kak Rambo----" jawabku pelan.


"Memang dasar si gondrong itu!" dia menggerutu, kemudian kembali mengambil tanganku.


"Kania, berulang kali aku mengatakan; Aku tak akan pernah meminta kamu pergi, berpisah, atau pun meninggalkan kamu. Aku adalah suami kamu dan selamanya tetap begitu."


"Kakak tak akan menceraikan aku, walaupun rahasia kakak sudah ku ketahui?" kataku.


"Tidak. Justru aku senang kalau kamu sudah mengetahuinya."


"Jadi apa alasan kakak menikahi ku? karena Petra?"


"Untuk melindungi kamu." Katanya tersenyum simpul. "Aku menikahi kamu, untuk kamu. Bukan Alfatra."


Kami hening beberapa saat, tepat setelah dia memberikan jawabannya. Matanya yang coklat berbinar bersama dengan senja. membuatku tenggelam dan hanyut akan ketenangan dan kesungguhannya.


"Dengar ya, Kania. Sejak orang tua ku meninggal, aku memang sudah menutup diri dari dunia luar, meski aku tinggal dengan paman dan bibi (Orang tua Petra) sampai tamat SMA. Tapi aku tidak seakrab itu dengan adik sepupuku, sampai harus bertanggungjawab untuk perbuatannya." katanya sambil menggenggam kedua tanganku erat-erat.


"Tapi, saat itu kakak masih menjalin hubungan dengan wanita lain, yaitu Mbak Isma." Kataku menyela.


"Kania, saat itu siapa juga yang tidak gundah. Aku gelisah setengah mati. Aku sudah memiliki tunangan, tapi aku pun tak bisa bila harus mengesampingkan dirimu. Anakmu itu juga memiliki hak untuk hidup. Saat mengantar kamu pulang dan melihat reaksi ayahmu, hatiku semakin terketuk. Meski harus melewati perdebatan batin yang berat, aku akhirnya meyakinkan diri untuk perlahan melepas masa lalu dan memilihmu."


Bergetar aku oleh jawabannya, lengkap dengan intonasi dan nada suaranya yang lembut dan syahdu. Dia menatapku dalam-dalam sementara aku mulai terisak, tenggelam bersama dirinya bagai fatamorgana.


"Jangan menangis..." katanya sambil meraih pipiku.


"Aku tidak menangis, hanya terharu." Kataku, sambil menyeka air mata. "I-itu berarti kakak sungguh menikahi aku karna rasa iba."


"Untuk melindungi kamu, lebih tepatnya melindungi."


Aku hanya diam, tak menjawab kata-katanya.

__ADS_1


"Kania---" Kak Anta kembali meraih tanganku, "Untuk ucapanmu waktu itu, bahwa kamu membenci Alfatra sampai ke akar-akarnya. Apakah bisa dicabut? Aku gelisah setiap kali memikirkan tentang itu ... karena hal itu aku sampai kesulitan untuk mengungkapkannya langsung denganmu."


"Tidak bisa. Dan tidak akan pernah."


"Jadi kamu akan membenciku terus?"


"Tidak juga. Aku mengatakan benci Petra sampai ke akar-akar, tapi kakak sendiri barusan yang mengatakan tidak seakrab itu dengan Petra. Berarti kakak adalah pengecualian."


Kami saling melempar senyum dan saling tersipu-sipu. Meski di dalam dada aku telah terharu setengah mati karena kini telah tahu semua jawaban, terjawab lah sudah semua penasaran dan lenyap lah sudah semua prasangka.


"Aku boleh peluk kakak untuk mengucapkan terima kasih?"


"Boleh, kemari lah." Lantas Kak Anta melentangkan kedua tangannya, dan aku segera masuk dalam pelukan itu.


"Terima kasih banyak Kak Anta, terima kasih karena kamu telah menjadi orang yang sangat baik."


Rasanya aku tidak percaya, setelah semua bencana dan kegaduhan yang terjadi dalam rumah tangga kami, akhirnya Tuhan mulai mendatangkan matahari, dan aku mulai merasakan bahagia bersama pelangi yang muncul setelah hujan.


"Kalau boleh, apakah aku bisa menanyakan satu pertanyaan lagi?"


"Tanyakan saja."


"Kakak mau makan malam pakai apa?"


"Yang cocok di makan malam ini apa, ya? Sepertinya tahu saja, aku bingung mau apa."


"Ku buatkan sekarang, ayo ku bantu kakak masuk, hari sudah gelap."


"Terima kasih banyak, Kania."


Dia tersenyum, demikian pula aku.


...****************...


Haloo ini author 🙋

__ADS_1


Maaf kemarin author libur ya zeyeng, dan hari ini pun cuma up satu bab dulu. Mulai besok insyaAllah kita balik seperti semula update lagi 2-3 BAB.


Happy weekend cintaa ❤


__ADS_2