
Pagi ini, awal waktu di hari minggu yang panjang. Aku kembali ke kamar setelah membuatkan Kak Anta kopi hitam. Namun, sedikit membuatku terkejut sebab dia telah bersiap dengan jaket kulitnya yang bagus. Santai, tapi tetap keren. Ini memang dandanan andalannya kalau mau keluar rumah.
"Mau kemana Kak?"
"Temani Rambo mencari barang hantaran."
"Hantaran?" Timpal ku sambil mengerutkan dahi.
"Ya," Jawabnya. "Ibunya suruh beli dan siapkan dari sekarang. Awalnya mau pergi dengan ibunya biar tahu apa saja yang dibutuhkan, tapi mungkin Rambo malas jadi minta aku saja yang temani dia."
"Memang calonnya sudah pulang dari luar negeri Kak?"
"Belum, tapi keluarga Rambo mau siapkan saja dari sekarang. Mungkin lebih dulu perhiasan, ini kan yang utama. Lagi pula hubungan mereka sudah jalan sebulan, Rambo pun sudah sering komunikasi dengan gadis itu."
Hancur aku mendengar kabar ini dari Kak Anta, terutama bila membayangkan tentang Marwah sebulan yang lalu. Rupanya, Kak Rambo telah menghubungi tunangannya tepat setelah dia memecat Marwah, dan Marwah menghilang dari hari-hari kami.
Perasaan semacam ini muncul mungkin karena aku sudah tahu apa yang dirasakan Marwah pada Kak Rambo.
"Kenapa pasang raut wajah sedih begitu?"
__ADS_1
"Marwah----" Jawabku berjeda, "Mereka benar-benar sudah tidak berhubungan lagi ya Kak?!"
"Sudah, aku paham apa yang kamu pikirkan. Awal bertemu dengan Marwah pun aku juga berharap yang sama, aku merasa mereka berdua sangat cocok. Tapi kan kita tidak bisa memaksakan perasaan orang lain, kalau Rambo sudah memutuskan untuk menerima perjodohan dan Marwah juga demikian. Tak apa ya, kalau itu memang jalan kebahagian mereka, kita patut mendukung. Toh, tujuan kita mendekatkan mereka harapannya, agar mereka bahagia."
Tapi Marwah tidak bahagia Kak, pikirku.
"Aku pergi dulu ya, kamu di rumah baik-baik. Istirahat saja sama Rania di kamar." Ujar Kak Anta.
"Hati-hati Kak."
Kak Anta kemudian masuk ke dalam mobil. Matanya menoleh ke luar, mengamati aku dan Rania yang berdiri di depan teras.
Aku menatap mobilnya yang mulai mengabur dalam pandanganku. Kemudian memandang ke atas, melihat langit yang cerah kebiruan silau karena matahari yang sudah tinggi. Biru memenuhi pagi, cuaca hari ini nampaknya akan sangat berseri dengan panas yang kian menusuk.
Setelah itu kami masuk kembali ke rumah, sayangnya aku belum bisa langsung masak karena Rania masih terjaga, jadi untuk sementara aku duduk di beranda samping tempat jemur pakaian sambil menimang Rania, hitung-hitung ajak dia berjemur.
"Terakhir aku memang sempat mengunjungi Marwah, sekitar dua minggu yang lalu. Dia masih sibuk mengurus adik-adik angkatnya di jalanan. Kami pun sempat mengajar bersama untuk anak-anak di sana. Tak ada yang berbeda nampak di mata Marwah, dia telah menjadi dirinya yang dulu. Dan aku meyakini untuk kembali ke tahap awal itu bukanlah hal yang mudah, perlu keyakinan diri yang kuat dan tangguh, dan Marwah sudah menunjukkan itu, dia memang telah yakin untuk menjauh dan melupakan Kak Rambo."
Aku bicara sendiri pada langit, masih tak habis pikir dengan semua kenyataan ini. Keheningan menggiring ku pada ingatan di mana aku bertemu dengan Marwah saat itu, di mana kami mengobrol dalam sebuah tema perasaan, yang pada intinya seingat ku, seperti ini;
__ADS_1
"Kamu sungguh yakin dengan keputusan ini? keputusan untuk tak lagi berhubungan dengan Kak Rambo?" Kataku saat itu.
Lalu dengan senyum khasnya Marwah menjawab; "Aku sudah meyakini itu, aku tak mau terbuai mimpi lebih jauh."
"Tapi, ini belum terlambat untuk kamu mengungkapkan isi hatimu padanya." Kataku lagi, namun kali ini dengan nada sedikit naik, agar Marwah tahu bahwa aku bersungguh-sungguh tentang ajakan itu.
Namun Marwah hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.
Begitulah....
Lalu aku langsung tersadar dari lamunan, begitu ku dengar suara ketukan di pintu depan. Minggu pagi, awal pagi yang menyenangkan di hari libur, tidak biasanya ada tamu yang mau datang jam segini, hari ini. Pasti bukan Orang lain, dan siapa lagi? Ay, dasar Kak Anta ini pasti ada barang ketinggalan makanya balik lagi.
"Ada apa Kak? ada yang tinggal ya?" sahutku setelah membuka pintu.
Namun, begitu aku menaikkan pandangan dan membuka mata rupanya ada lagi kejutan lain yang ku dapat. Yang ku temui bukanlah sosok Kak Anta, suami yang paling baik dan paling baik, melainkan;
"Petra?! -----"
Dia berdiri di depan pintu sambil membawa dua tenteng tas besar berisi oleh-oleh dan perlengkapan bayi.
__ADS_1
"Maafkan aku," katanya.