
Kemarin, ruangan bersalin tempat kami menginap itu dipenuhi oleh orang-orang yang penuh dengan mimpi, optimisme, dan harapan, kini yang ada hanyalah frustrasi dan keputusasaan. Tapi aku tak mau menyerah begitu saja, aku tetap mengajak ngobrol janin dalam perutku dan meminta si calon bayi untuk tetap kuat.
"Nak, kamu betah ya di dalam? ayo keluar, mama dan papa mau lihat kamu ... " Kataku.
Lalu Kak Anta yang juga entah kenapa memiliki keyakinan tersendiri juga pada kami berdua mulai ikut bergabung; "Sayang, papa mau lihat wajah Rania, pasti cantik seperti mama. Ayo nak, kamu keluar, biar mama juga senang dan bisa istirahat.
Baik aku, Kak Anta dan calon anak kami sama-sama pejuang yang tangguh. Dan sama-sama harus meyakini, bahwa kami pasti berhasil.
Sekitar pukul 8 pagi, dokter segera memeriksa kondisi kehamilan ku dan memberikan obat untuk paru-paru bayi kami, entah kenapa dengan paru-parunya.
"Selamat pagi, Pak, Bu." Sapa dokter cantik yang ku dapati bahwa dia adalah rekan dokter Rani. "Saya izin periksa, ibu dan bayinya dulu ya?"
Dia mulai menempelkan stetoskop di dadaku untuk memeriksa detak jantung. Kemudian di susul alat lain untuk mendengar kondisi bayiku.
"Setelah minum obat, saya minta Pak Anta Reza ke ruangan saya, bisa?" katanya lagi.
"Bisa dok," jawab Kak Anta cepat.
Lantas setelah Kak Anta membantuku minum obat, yang katanya untuk paru-paru, Rania. Kak Anta ingat untuk pergi ke ruangan dokter, memenuhi panggilannya.
Akhirnya disepakati bahwa aku akan dioperasi pukul 5 sore sambil terus dipantau perkembangan kehamilannya. Satu jam kemudian, perawat datang ke kamar dan memeriksa kembali kondisiku dan calon bayi kami. Menurutnya, detak jantung bayi terlalu cepat (sekitar 177 detak/menit). Setelah melaporkan kondisi ini kepada dokter, aku dirasa oleh mereka perlu dioperasi secepatnya. Tepat tengah hari, aku pun masuk ke ruang bedah.
Sementara Kak Anta tak henti menggenggam tanganku, meski berbagai alat medis mulai menempel. Dan Kak Anta yang tak berhenti merapalkan doa di telingaku, matanya yang merah berkaca-kaca. sementara aku masih terus berjuang di antara hidup dan mati.
__ADS_1
"Sayang bertahanlah, tolong. Aku yakin kamu adalah perempuan yang kuat, kamu harus bisa selamat, Rania dan aku juga butuhkan kamu." Katanya.
Dia berbisik di telingaku, seakan aku ini akan mati saat itu juga. Memang, aku juga takut sejujurnya.
Pukul 12.30, akhirnya hari besar itu tiba juga. Kebahagiaan yang ku rasakan tak bisa dilukiskan saat mengetahui bagaimana wujud makhluk cantik nan mungil yang kehadirannya sangat kami nantikan dan kami jaga selama sembilan bulan. Pertama kali mendengar tangisannya, air mata ku menetes akibat terharu dan bahagia. Sementara Kak Anta langsung terduduk lemas di lantai menangis haru, dokter langsung memanggilnya untuk melihat bayi kami yang sangat cantik.
Kak Anta pun bergegas menemui aku yang masih terbaring lemah di ruang bedah. Tanpa basa-basi, dia pun menggenggam tangan ku dan membisikkan, "Bayi kita telah lahir sayang. Rania sangat cantik, dilahirkan dengan berat 3,2 kilogram dan panjang 48 centimeter." Ucap Kak Anta lagi di telingaku, namun aku tak mampu memberi respon apa pun. hanya air mata dan tersenyum, seketika aku bisa menangkap ketenangan dan kebahagiaan di mataku. Hari itu kami sama-sama terharu karena bahagia.
Nama putri kecil kami adalah Bunga Rania Ananta.
Begitu, Kak Anta yang memberinya nama lengkap. dia memang sudah menyiapkan nama ini dari lama sekali. "Bunga : itu cantik, Rania itu : Reza dan Karunia, sedangkan Ananta : Anak Anta." Dia menegaskannya waktu itu.
Terakhir yang ku ketahui bahwa bayi kami dirawat dalam sebuah inkubator. Perawat mengatakan, jika keesokan hari kondisinya membaik, Rania akan dibawa ke kamar untuk menemui aku, ibunya.
Hari itu, kami mendapatkan banyak ucapan selamat dan doa untuk Si Kecil, termasuk dari ayah yang kegirangan. Meski sayang, beliau memang belum bisa berkunjung secepatnya karena satu dan lain hal. Juga dukungan dari Rambo yang belum bisa hadir sekarang, karena masih bekerja, dan Dokter Rani yang selalu setia menunggu.
Aku hilang kesadaran beberapa saat...
Keesokan hari, momen yang ditunggu-tunggu itu pun tiba. Si kecil Rania akhirnya bisa menemui ku, ibunya. Momen yang sangat mengharukan sekaligus membahagiakan. Putri kami sepertinya memberikan kekuatan lebih padaku yang sedang terbaring lemah pasca operasi. Begitu pun denganku yang penuh semangat menggebu bisa duduk dan bercanda dengan putri kami, setelah sebelumnya hanya terbaring lemah.
Sementara Kak Anta tak henti-henti untuk berterima kasih dan memberikan apresiasi padaku lewat tangisan dan sentuhan fisik yang lembut.
"Rania, ini mama nak." Kataku penuh haru, "Benar kata papa mu, kalau kamu memang sangat cantik."
__ADS_1
Masa-masa pemulihan ku di rumah sakit sangat berat. Aku hanya bisa terbaring lemah di tempat tidur sambil menahan sakit akibat pembedahan di rahim. Sesekali para perawat masuk untuk memeriksa kondisiku, termasuk tekanan darah, cairan infus, dan kantung urin (aku buang air kecil melalui selang catheter yang disambungkan ke kantung urin. Urin akan dibuang setiap kali kantung telah penuh).
Aku juga merasa kesakitan setiap kali perawat menyuntikkan antibiotik ke dalam pembuluh darah melalui selang infus. Nyut-nyutan dan sakit sekali buat terkejut Karena mungkin terlalu lama tertusuk jarum infus, lengan ku sendiri sampai bengkak, dan perawat terpaksa memindahkan saluran infus ke lengan lainnya. Sekali lagi, sebuah kesabaran dan ketangguhan yang luar biasa ditunjukkan dan dirasakan oleh seorang ibu. Setiap malam, Kak Anta selalu menginap di rumah sakit begitu juga dokter Rani dan Rambo sambil menjaga ku sekaligus bayi Rania.
Malam ini Rambo datang, membawa oleh-oleh dan menangis haru seperti biasa,
"Dimana keponakan ku!----" Dia merintih dan berderai air mata.
"Jangan teriak!" jawab Kak Anta sambil menutup mulutnya dengan jari telunjuk. "Nanti Rania bangun."
Lalu Rambo refleks menutup mulutnya, meski masih berkaca-kaca; "Oh, maaf. Aku sungguh-sungguh terharu. Akhirnya aku jadi paman, dan sahabatku Anta Reza yang kaku bisa jadi seorang ayah. Ini momen yang mengharukan dan aku sangat tersentuh. Mengingat Anta Reza bukanlah laki-laki biasa, dia itu pria istimewa."
Aku tersenyum, bisa ku pahami dengan jelas makna ucapan Rambo. Wajar jika dia selalu berekspresi berlebihan untuk semua hal yang berkaitan dengan Kak Anta, sahabatnya. Karena berteman lebih dari sepuluh tahun itu, tentu sudah tahu seluk beluk jalan hidup kawannya.
Aku masih belum bisa menjawab ucapan dari orang lain, cuma bisa memberi senyum saja. Sementara bisa ku lihat Kak Anta bangkit dari tempat duduk dan berjalan mendekati Rambo.
Ku pikir dia akan marah-marah, namun Reaksi lain muncul dari Kak Anta, dia mendekat pada Rambo dan memeluknya erat-erat.
"Terima kasih," katanya sesegukan. "Terima kasih sudah ada di sini."
Rambo pun membalas pelukan Kak Anta, dengan menaikkan tangannya tepat setara dengan punggung belakang Kak Anta, lalu di gosok nya lembut.
"Selamat, kamu sudah resmi menjadi ayah. Jadilah orang tua yang baik, untuk anakmu." ucap Rambo.
__ADS_1
Dan aku pun ikut terharu ....