
Aku mengambil kopiku, Pagi ini Kak Anta akan di operasi. Dokter telah bersiap, aku hanya bisa berdoa dari luar, sesaat setelah lampu ruang operasi menyala.
Sampai kemudian sekitar beberapa menit kemudian salah seorang dokter keluar, memasang raut muka yang serius membuatku semakin was-was.
"Pendarahan lagi?" Kataku.
"Ya, butuh darah A positif secepatnya, sudah kami tangani lukanya dan berhenti, tapi dia sudah kehilangan darah lagi. Saya akan coba cari stok di rumah sakit lain. Tapi kalau dari keluarga, lebih bagus. Soalnya kita butuh cepat!"
Aku menatapnya, dengan tatapan tajam karena merasa agak tertekan. Kemudian memandang ke dalam, ruangan operasi. Menerawang Kak Anta yang tengah berjuang lagi di dalam sana.
Hingga dari arah yang berlawanan.... arah koridor...
"Kania... "
"Dokter Rani, Kak Rambo... " Kataku.
Lantas setelah itu, Dokter Rani yang menyadari kepiluan yang terpancar dalam mataku segera memelukku, merengkuhku dalam dekapannya begitu lembut dan hangat. Karena kenyamanan itu lah akhirnya aku menangis di dalamnya. Sedangkan dia terus berbisik, agar aku dapat tegar.
Begitu dia melepas pelukan itu, "Bagaimana keadaan Anta Reza?" Rambo menyahut.
"Tadi di operasi, rupanya pendarahan. Butuh darah, golongan A positif. Darahku cocok, tapi tidak bisa jadi pendonor karena sedang hamil."
"Sial! darah kami berdua B." Rambo marah sambil memukul tembok, aku tahu dia mulai kehilangan kepercayaan diri sama seperti ku. "Tunggu sebentar coba ku cari bantuan dari kepolisian."
Mendung memenuhi pagi ini, matahari tenggelam di balik kabut yang menebal. Itu yang ku yakini... Hanya lampu rumah sakit, dan lampu operasi yang menyala memberi citra terang pada kegelapan. Di tengah semua ini, aku merasa murung dan gelisah, karena belum juga menemukan langkah dan jalan keluar yang tepat untuk menyelamatkan Kak Anta. Meski titik jelas telah ku temukan saat:
"Aku saja! darahku A positif."
"Mbak Isma?" Kataku dengan mata membulat, dan dia segera mendekat.
"Kamu kenapa lagi ke sini? jangan Kania, nanti malah ribut-ribut lagi. Tunggu aku cari dari kepolisian saja." Ucap Rambo seraya maju dari belakangku.
"Aku tidak akan cari ribut lagi," Katanya dengan ekspresi pilu. "Aku mohon Terima bantuan terakhirku untuk Mas Reza setidaknya aku harus balas budi untuk kebaikannya selama ini padaku dan keluarga, setelah itu aku janji Kania, aku akan pergi dari hidup kalian."
Air mata memenuhi matanya. Dia menundukkan kepala sambil mengusap kelopak matanya yang jelita dengan sapu tangan. Sementara udara dingin terus menusuk, saksi mata sebuah sejarah yang sentimentil.
"Jangan dengar kan, Kania kamu tidak ingat semalam dia bicara apa... Tunggu sebentar, aku telepon anggota yang lain dulu." Sergah Rambo, kemudian pamit pergi dengan ponsel yang sudah menempel di kupingnya.
__ADS_1
Aku dan Mbak Isma memang awalnya berkawan dengan baik, aku pun tak tahu mulai kapan bermusuhan dengannya, puncaknya saat dia mengatakan ingin memiliki Kak Anta lagi dan kemarin malam, saat dia mengatakan bahwa aku dan anakku adalah pembawa sial untuk kehidupan Kak Anta. Benarkah begitu? Namun, sebersit empatiku pada Kak Anta yang tengah berjuang hidup dan mati di ranjang operasi. Juga pada Mbak Isma yang dengan rendah hati datang lagi ke sini, meski telah malu berkali lipat semalam.
"Dokter Rani... " kataku memandang wajah nan jelita, yang bila melihat wajahnya sudah membuatku sedikit lebih tenang dengan pancaran aura positifnya yang menyala-nyala.
Dia mengangguk sambil menatapku dalam-dalam, "Turuti kata hati kamu." katanya.
Ku tatap lagi ruang operasi, lalu beralih menatap Mbak Isma. Ku tatap matanya lebih dekat untuk memastikan bahwa dia tidak main-main dengan kata-katanya. Tatapannya nanar dan pilu karena tak mampu lagi menanggung beban perasaan yang menggunung.
Sepanjang detik aku berpikir, inilah saat di mana kesetiaan dan ketegaran ku sebagai istri dan pendamping hidupnya sedang diuji. Mampukah aku melakukan segala hal untuk hidupnya? demi keselamatan hidupnya? bisakah aku membantunya?
Apa pun yang terjadi nantinya, akan ku terima. Entah Mbak Isma bersungguh-sungguh atau mungkin kembali memiliki maksud. Bila harus menunggu kabar dokter, dan Rambo yang masih menghubungi rekan, aku khawatir malah hanya memakan waktu. Tapi bila melihat Mbak Isma sekarang ini, melihat matanya saat ini, dia benar-benar tulus. Aku mencintai Kak Anta dan aku pun harus mencintai resikonya, semua... asal Kak Anta selamat.
"Mbak Isma, aku mohon bantuan Mbak untuk Kak Anta." Kataku sambil menggenggam erat tangannya. Lalu dia balas menggenggam tanganku, sambil menatapku dengan mata berkaca-kaca.
"Terima kasih banyak Kania. Terima kasih sudah mengizinkan aku."
Dengan cepat kami meluncur ke tempat pengambilan darah, untungnya Mbak Isma memenuhi syarat. Jadi, bisa langsung di ambil darahnya. Aku dan dokter Rani merenung di luar, sambil menunggu Rambo datang, meski penantian itu tak lama, karena rupanya batang hidung Rambo sudah terlihat.
"Kamu kok mau Terima bantuan dia?" katanya menggerutu.
"Rambo!! jaga ucapanmu." sergah Dokter Rani. "ini urusan Kania, dia berhak memutuskan."
Tak lama setelah itu, dokter keluar. "Pengambilan darah selesai, saya akan pasang infus sekarang. Tolong tunggu di depan ruang operasi dan selalu berdoa."
Demikianlah akhirnya operasi berjalan lancar, Aku akhirnya mampu bernapas lega setelah ku lihat Kak Anta yang jauh lebih baik dari segi tampilannya. Auranya lebih tenang, semoga keadaannya lekas membaik pasca operasi ini. Hari sudah sore, tinggal Rambo yang menemani aku. Sebab dokter Rani di telpon oleh pasiennya.
"Kania... "
"Mbak Isma?"
Aku bangkit begitu dia datang, nampaknya dia telah selesai beristirahat pasca mendonorkan darah.
"Bagaimana Mas Reza?"
"Kak Anta mulai membaik, tapi masih belum sadar." Kataku.
"Kak Anta sempat mengigau tadi malam... Aku pikir akan bangun, tapi rupanya belum. Tapi, beruntung, Kak Anta tidak mengalami kelumpuhan, tadi pagi dokter periksa, kaki dan tangan Kak Anta masih beri respon."
__ADS_1
"Astaga syukurlah, aku cemas sekali kalau terjadi masalah pada tulang-tulangnya. Mengingat kecelakaannya cukup fatal." Sahut Rambo tiba-tiba, dari sampingku.
"Tidak Kak, syukurlah."
Kemudian ku tatap lagi Mbak Isma yang ada di depanku. "Mbak Isma, terima kasih." kataku sambil menggenggam tangannya.
"Aku yang Terima kasih karena kamu mau berikan aku kesempatan. Aku senang bisa membantu kalian." Katanya, "Sebenarnya, ada yang ingin aku bicarakan sama kamu."
Aku menuruti kehendaknya, setelah ku dapati tatapan matanya yang menyala-nyala. Bukti bahwa ia tengah serius dan berharap agar aku menerima ajakannya.
sesampainya di taman rumah sakit, Mbak Isma langsung menyampaikan maksudnya, setelah berbasa-basi sebentar, tentang rumah dan tempat tinggal barunya di kampung.
"Kania, aku kemarin cuma anak kecil yang tersesat, di tengah jalan aku bertemu orang baik yang tolong aku. Aku diantar pulang tapi aku malah mau lebih, tanpa aku sadar di rumah orang baik itu sudah ada keluarganya yang tunggu."
Dia meraih tanganku lagi, dan mulai terisak.
"Kania, Mas Reza sudah menepati janjinya dan dia memang telah memilihmu menjadi pendampingnya. Aku saja yang masih berharap dan mencari pertolongan di tempat yang salah. Karena ulahku, Mas Reza yang harus bayar sampai harus ribut dengan kamu."
Ku pandangi dia, dia masih menangis sampai badannya bergetar ku lihat. Kali ini, aku mendapati batin Mbak Isma yang sesungguhnya, jiwa dan karakteristik dirinya yang sebenarnya. Karena merasa terenyuh ku balas menggenggamnya.
"Kak Anta, tidak akan menyalahkan Mbak Isma. Yang penting sekarang semuanya baik-baik saja, Kalau kata Kak Anta, ini semua adalah ujian hidup dari Tuhan dan kita bisa ambil hikmahnya."
Lantas setelah itu, ku peluk dia. Dengan hangat dan tulus. Aku tahu kini dia telah benar-benar menyesali perbuatannya, dan menyadari bahwa dia telah berjalan di jalan yang salah.
"Maaf ya Mbak, karena, mungkin oleh kehadiran ku hubungan Mbak Isma dan Kak Anta jadi renggang. maafkan aku untuk semua masa lalu kalian."
"Kania, kamu benci aku?" katanya dengan suara yang bergetar.
"Aku sudah berhenti marah, semenjak Kondisi Kak Anta kritis."
Ku raih kedua sisi bahunya, ku gosok-gosok dan ku tegakkan, layaknya sebuah arca yang murni.
"Sudah banyak air mata yang Mbak Isma keluarkan, ini saatnya Mbak Isma untuk cari kebahagiaan Mbak sendiri, tidak mudah memang aku tahu! tapi Mbak harus berusaha. Di depan sana masa depan Mbak sudah menanti, Mbak Isma adalah wanita yang cantik, cerdas, keibuan dan berpendidikan tinggi. Jadi, jangan menyiakan semua itu untuk hal yang tidak baik bagi Mbak Isma, ya?"
"Maafkan aku ya Kania! Maafkan aku karena bicara tidak baik tentangmu dan anakmu semalam." dia memelukku lagi, menangis dalam dekapan ku. "Aku minta maaf Kania, aku minta maaf."
"Kania," Katanya, begitu dia melepas pelukan itu. "Sebelum Mas Reza blokir nomor ponselku, dia sudah mengucapkan perpisahan padaku."
__ADS_1
"Iya, Mbak." kataku dengan nada tenang.