
Dingin dan Datar, mungkin itulah yang kini menyelimuti hari-hari kehidupan rumah tangga kami, antara aku dan Kak Anta. Sejak dua minggu berlalu setelah peristiwa malam itu, Kak Anta berusaha mendapat maaf dariku, dan aku berusaha untuk membuka hati, meskipun kadang menjadi sedikit lebih dingin.
Mbak Isma pun sudah jarang menghubungi Kak Anta, terakhir hanya waktu mengantar bubur kacang hijau. Kalau pun ada kehendak, Kak Anta selalu minta aku untuk menemaninya agar kami tak lagi salah paham. Jika aku tak mau, maka Kak Anta tak akan pergi. Memang sudah seharusnya begitu...
Pagi ini, saat menikmati sarapannya, Kak Anta mendapat panggilan telepon dari seseorang. Sebelum diangkat, Kak Anta menunjukkan dulu padaku layar ponselnya; Mbak Isma.
"Aku mengundangmu makan malam bersama nanti, di restoran biasa kita pakai. Besok aku dan keluarga akan pindah rumah ke kampung Emak, Mas. Syukur masalah dengan Mang Haris sudah selesai. Keadaan Emak juga sudah jauh membaik. Karena aku ingin merayakan malam bersama, sebelum benar-benar berpisah." Ucap Mbak Isma dari kejauhan sana.
Kak Anta melirik ku sebelum menjawab tawaran dari Mbak Isma. Pindah? Mbak Isma akhirnya akan pindah dengan keluarganya? Anugerah Tuhan, sungguh jauh di dalam lubuk hati, aku sangat senang saat Mbak Isma pindah kini telah tiba.
Kak Anta membisukan ponselnya, lalu meletakkannya di meja. "Bagaimana? terakhir kali. Dia akan pindah. Kamu mau kan temani aku?" Aku mengangguk dan Kak Anta menangkap kode mataku. Setelah mendapat jawaban yang diharapkannya itu, Kak Anta segera mengambil kembali ponselnya.
"Baiklah, Isma." Ucap Kak Anta.
"Syukurlah, aku tunggu jam 19.00 di tempat biasa ya."
...****************...
Hujan yang turun sepanjang sore telah reda dan langit kembali cerah. Bintang-bintang bermunculan membentuk titik-titik cahaya di ketinggian angkasa jauh di atas sana. Namun, embusan angin yang memukul pepohonan yang penuh embun membuat aroma hujan yang telah reda tadi tetap bertahan sepanjang malam, seakan alam masih ingin menyegarkan diri lewat udara yang dingin dan basah. Demikianlah, kami bersiap dan segera menuju ke tempat makan yang dipilih Mbak Isma.
"Aku senang sekali, karena aku yakin kamu perempuan yang jauh lebih baik dari pada aku dulu."
Begitu Mbak Isma menyambut ku. Kami bercakap-cakap setelah lewat sepuluh menit aku dan Kak Anta sampai di restoran ini.
"Omong-omong, ini aku tidak tahu kalau kamu akan mengajak Kania, mas. Jadi aku cuma pesan dua."
"Loh, ini milikku?" Kak Anta mengangkat mangkuk yang ada di depannya.
"Iya, ini aku pesankan makanan kesukaan kamu, Sop iga ekstra bakso, dan tidak pedas. Kamu tahu kan Kania, kalau mas Reza itu tidak bisa makan makanan pedas?"
"Aku ada cerita lucu waktu kami SMP dulu." Sambung Mbak Isma lagi.
Mbak Isma menatap Kak Anta dengan sorot yang nakal, sementara Kak Anta mengisyaratkan agar Mbak Isma membatalkan niatnya untuk bercerita.
"Tidak, aku harus cerita. Ha ha Kania harus tahu bagaimana kelakuan kamu waktu dulu."
Sementara aku hanya bisa diam sambil tersenyum masam, melihat kedekatan suamiku dengan mantan kekasihnya. Tepat di hadapanku.
"Jadi ini ceritanya, Waktu kita selesai pesta perpisahan kelulusan. Kita lanjut liburan satu angkatan ke salah satu daerah wisata, daerah situ kan terkenal dengan kuliner olahan daging. Dan Aku itu suka makan makanan pedas, nah waktu aku lagi makan soto babat itu, mas Reza tuh penasaran, dia mau coba soto babat milikku yang sudah dicampur sambal empat sendok. Dan begitu dia coba yang terjadi adalah------"
"Semalaman kita tidak bisa tidur, karena dia rewel diare. Bolak-balik toilet terus, Guru kami juga sampai turun dari penginapan untuk beli obat. Kamu ingat kan, Mas?"
"Ha ha ha itu memalukan sekali... " timpal Kak Anta malu-malu.
"Kamu bolak-balik, baru keluar masuk lagi."
Mbak Isma tertawa, Kak Anta tertawa. Mereka menikmati nostalgia dengan sangat akrab, bagai reuni teman lama. Namun, anehnya aku malah merasakan sakit, dan tersiksa.
"Kak, Mbak, aku ke toilet, ya?!"
"Kamu mau ke toilet?" tanya Kak Anta padaku.
"Ya."
__ADS_1
Aku segera bangkit dari kursi kemudian pergi menuju toilet, sayup-sayup aku masih bisa mendengar mereka bercanda satu sama lain.
"Aku sudah lupa cerita itu, kamu malah ingatkan lagi."
Aku membasuh muka di wastafel toilet. Bodoh, aku gampang sekali menangis hanya karena melihat keakraban sepasang mantan kekasih itu. Mungkin karena dari kecil tak ada yang bersikap lebih baik padaku, selain Kak Anta, Walaupun dia juga lah yang menyakiti ku paling sakit. Aku memandangi diriku yang menyedihkan di pantulan cermin. Aku harus bertahan, hanya itu saja yang ku pikirkan.
Setelah perasaanku sedikit lebih tenang, aku kemudian keluar, mencari sedikit udara segar untuk menenangkan diri seraya kembali menuju bangku pesanan kami tadi.
Dari belakang, aku mendengar percakapan mereka;
"Mas, mau ya?" Ucap Mbak Isma.
"Bagaimana ya, maaf sekali Isma, aku sudah ada janji dengan Kania."
Begitu mendengar ucapan Kak Anta yang menyebut namaku, aku segera mendekat menuju kursi ku yang ada di sampingnya.
"Masa kamu tega mas, aku mengemudi mobil sendirian selama tiga jam? abah sudah tua, matanya sudah agak mengabur."
"Tiga jam?" Kataku, Seraya menarik kursi. "Siapa yang mau mengemudi sampai tiga jam? Kakak?"
"Oh, bukan. Ini Isma, mereka besok akan pindah balik ke kampung emak. Sudah beli rumah di sana. Perjalanan dari sini ke kampung emak sekitar tiga jam. Jadi, mereka minta antar ke sana." Jawab Kak Anta tersenyum padaku, setelah aku kembali duduk. "Sayangnya kita tidak bisa, ya kan? kita sudah ada janji."
"Atau kalau tidak, Kania ikut saja?! kan kalau beramai-ramai lebih seru, mas?! Mau ya Kania?"
Aku menatap Kak Anta, dan dia balik menatapku. Kemudian kami menatap Mbak Isma lagi.
"Maaf Mbak.... "
"Maaf ya...." timpal Kak Anta sambil tersenyum tipis.
Mbak Isma lantas menaikkan kembali tubuhnya yang tadi sempat condong ke depan. "Ya sudah tidak apa-apa. Kalau begitu kami pindahnya aku mengemudi sendiri saja, tidak apa-apa kok. Lagi pula aku jadi tidak enak Mas, Aku dan keluarga belakangan kan selalu merepotkan kamu, Aku tidak mau kalau sampai Kania salah sangka lagi, nanti dia pikir Kamu lebih perhatian denganku dari pada istri sendiri." ucapnya dengan ekspresi muka penuh kecewa.
"Kamu tidak berpikir begitu kan, Kania?"
Aku terdiam setelah mendengar pertanyaan Mbak Isma. Namun tiba-tiba tangan Kak Anta datang menyambar tanganku yang sedang gelisah di atas meja. Dia mengelusnya dengan lembut.
"Tidak kok, aman." setelah menatapku, Kak Anta tersenyum pada Mbak Isma yang ada di depannya.
Mendengar jawaban Kak Anta itu, Mbak Isma membalas dengan menggenggam tangan kanan Kak Anta, mengelusnya lembut, melakukan hal yang sama di lakukan Kak Anta padaku barusan. Tapi, yang menyakitiku adalah alih-alih menarik tangannya, Kak Anta malah tersenyum dan menikmati sentuhan Mbak Isma yang mungkin sudah lama ia rindukan.
"Tapi, aku tetap berterima kasih banyak ya Mas. Karena selama satu bulan ini, kamu masih ada, menemani dan membantu ku dan keluarga, kamu mau ku repot kan, Aku mungkin akan susah bertemu dengan pria sebaik kamu, mas."
Kak Anta tersenyum, menatapnya begitu lembut dan Khidmat. "Jangan berlebihan begitu, aku melakukan ini semua karena kamu itu sahabat ku dari kecil. Kita sudah dekat seperti keluarga sendiri." ucapnya setelah membalas genggaman tangan Mbak Isma yang menelungkup di punggung tangannya.
Berat sekali nampaknya Kak Anta berpisah dengan Mbak Isma di sini, jauh di lubuk hatinya mungkin Mereka masih ingin menghabiskan waktu bersama. Hanya takdir berkata lain, ada apa Kak Anta? kalau memang berat bagimu berpisah dengan Mbak Isma, lalu kenapa mau menikahi aku? Kasihan... kasihan... kasihan...
Aku lebih menyedihkan bila melihat sikapmu yang begini.
Sekitar pukul 21.00 malam, acara makan malam perpisahan dengan Mbak Isma selesai. Aku dan Kak Anta sampai di rumah tiga puluh menit setelahnya.
"Kania, aku langsung mandi ya, capek. kamu kalau mau istirahat tidurlah duluan, oke?" ujar Kak Anta sambil melepas jaketnya.
"Iya, tidak apa." kataku, "Wajar kalau kakak capek. Satu bulan harus bagi waktu untuk istri dan mantan kekasih."
__ADS_1
"Kania.... "
"Kalau ada yang mau dibicarakan, katakan saja. Jangan seperti barusan, selama ini kan aku selalu izin denganmu dan kamu tidak keberatan. Bahkan aku tidak mau bertemu Isma, kalau kamu tidak ikut. Ya, kan?" timpal Kak Anta.
Mataku mampu menangkap sorot dari matanya yang penuh kecewa akan sikapku, sekaligus menanggung gangguan lemas karena waktunya full habis untuk dua orang wanita.
"Iya, memang benar kok. dan aku sangat menghargai itu." Sergahku, kemudian melanjutkan; "Tapi aku hanya, dari tadi aku kepikiran, Mbak Isma itu tadi sempat mengatakan; Aku mungkin akan susah bertemu pria sebaik kamu mas. Apa itu maksudnya Kak?"
"Kania...." Kak Anta memelankan suaranya. "Isma itu hanya berandai-andai, dan ucapan itu tadi keluar hanya sekedar caranya berterima kasih. Isma itu cuma mengejek ku saja, Kania."
"Kamu kenapa jadi aneh begini? kamu gelisah dengan Isma?"
"Aku tidak perlu gelisah, kalau kakak lebih bisa sadar diri sudah punya istri. Aku cuma mau bertanya, ini mau sampai kapan Mbak Isma selalu ada dalam hubungan kita? sampai kapan kakak akan selalu ada untuknya?"
Aku terisak, namun berusaha untuk ku tahan. Jika ku lepaskan, mataku ini akan menderita perih yang menyiksa karena hampir satu bulan ini, dia harus bekerja ekstra keras.
"Satu bulan aku yang jadi Istri Kak Anta, Kalah buat mantan kakak, biar kakak bisa menghabiskan waktu dengan Mbak Isma. Kakak yakin cinta untuk Mbak Isma sudah selesai? yakin?"
"Begini, ya Kania. Ini kita bahas besok, sekarang kamu tenangkan dirimu dulu. Mungkin kamu juga capek, ya. Kamu tidur, ya."
"Sekalian tidak usah dibahas lagi. Kalau kakak masih bagi waktu sama Mbak Isma, Aku yang menepi."
Aku memalingkan muka, begitu manik bening itu jatuh membasahi pipi ku. Segera ku seka, ku hapus jejaknya lewat gosokan jemari tanganku yang agak gemuk gemulai.
"Maksudnya bagaimana ya?"
Aku kembali menoleh padanya, ku tatap matanya dalam-dalam untuk memastikan,
"Pilih aku atau Mbak Isma?"
"Ka-kamu ... Kok kamu jadi begini? kamu tidak serius kan suruh aku memilih."
"Aku serius! pilih Aku atau Mbak Isma?" Kataku, "Atau kalau kakak memang bingung mau pilih aku atau dia, Kakak pilih saja Mbak Isma! Kalau kakak memang memilihku sebagai pendamping selamanya----"
Selamanya, persis seperti ucapannya padaku tempo dulu; "Kalau sudah denganmu, maka selamanya tetap denganmu."
"Kakak tidak akan bingung pilih siapa!"
Kak Anta diam beberapa saat, dia menatapku dingin, dengan Isyarat yang tak bisa ku tebak apa kehendak yang diinginkan olehnya.
"Sejak kamu suruh aku pilih barusan, aku sadar kalau kamu tidak akan pernah percaya padaku."
Dia masuk kamar, menghilang bagai bayang.
Momen ini mengingatkan aku pada sebuah lirik yang ku ingat, menggambarkan persis keadaanku saat ini;
Cinta memang tak selamanya bisa indah, Cinta juga bisa berubah menjadi sakit
Begitu yang kurasakan kini, Perih hatiku tinggal kehancuran
Tak pernah terbayangkan Dan tak pernah terpikirkan Cintamu dan cintaku akan berpisah.
Namun harus ku relakan itu Untuk hidupmu agar lebih baik.
__ADS_1