
"Selamat mengulang tanggal lahir anak Papa, sudah dua bulan Rania temani Papa dan Mama di sini."
"Tidak terasa, ya Kak."
Sambil menimang Rania yang cantik, Kak Anta tersenyum padaku. Sungguh tidak terasa, sebab ini adalah bulan kedua putri kami; Bunga Rania Ananta, lahir. Dia bahkan sudah bisa tersenyum pada orang-orang.
Pagi ini, setelah merayakan tanggal lahir di bulan kedua Rania. Kak Anta pergi bekerja bersama Kak Rambo, seperti biasanya. Dan akhirnya kini Kak Rambo mengantar Marwah ke rumah kami lagi, setelah sekian waktu sejak kabar perjodohan Kak Rambo terdengar.
"Aku senang sekali kamu ke sini lagi, temani aku dan Rania lagi." Kataku, begitu ku peluk lengan Marwah di dapur.
"Rindu kan?"
"Jelas! rindu sekali dengan kamu," Jawabku. "Karena kamu sudah datang ke sini, aku akan buatkan kamu kanelbulle. Aku yakin kamu pasti suka aroma kayu manisnya yang nikmat."
"Boleh, kamu bisa ajari aku biar bisa masak makanan mewah begitu nanti."
Segera ku ambil bahan-bahannya di lemari penyimpanan. Senang sekali rasanya hari ini, bukan cuma karena Rania genap berusia dua bulan saja tapi kini akhirnya rinduku pada Marwah bisa ku lepas, setelah hampir tiga minggu tak bersua.
Aku sedikit kecewa saat tahu kalau Kak Rambo akan dijodohkan. Karena sejujurnya aku sangat berharap bahwa Marwah dan Kak Rambo bisa dekat, tapi sepertinya itu hanya menjadi angan dan sekedar harapan saja.
"Marwah?!"
Marwah segera mengalihkan tatapannya ke luar sana, memandang langit yang cerah kebiruan. "Ya, bagaimana?"
Dia tersenyum setelah memandang ku lagi.
"Kenapa kamu diam saja? Apa yang kamu pikirkan?" Tanyaku padanya.
__ADS_1
Dia tetap diam, hanya tersenyum simpul.
"Katanya mau belajar buat kue kayu manis ini. Aku bahkan sudah selesai mengadonnya loh!"
Dia menepuk pipinya dan mengambil air dari keran wastafel untuk membasuh wajahnya. Melihat auranya yang sendu, ada sebersit empatiku akan dirinya. Persis seperti Kak Rambo yang ceria tiba-tiba kehilangan semangat untuk berwarna. Ku ambil tangannya segera, lalu ku tatap dia dalam-dalam.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" Tanyaku.
"Pikirkan apa? aku cuma kurang tidur saja, soalnya semalam aku mengamen di lampu merah sampai agak larut. Sudah, ayo kita lanjut masak lagi."
"Jangan bohong begitu! aku tahu kamu sedang kepikiran sesuatu---"
"Tidak ada." Sergahnya.
Tapi aku tak berhenti, meski dia menggoreskan senyum di hadapanku, aku yakin bahwa saat ini dia sedang memikirkan sesuatu. Aku menatapnya, dengan tatapan yang tajam agar dia mau terbuka.
Aku diam sejenak menyimak setiap kata yang mungkin keluar dari mulutnya.
"Aku minta maaf ya, mungkin aku belum bisa menemui kamu lagi setelah ini. Bukan karena enggan, tapi aku akan berusaha menyisihkan uang untuk ongkos ke sini. Kamu tahu sendiri seribu dua ribu itu sangat berharga bagi kami."
"Aku paham betul Marwah, tapi tolong jangan katakan ini terakhir. Aku tidak mau lagi pisah denganmu. Dengar ya, kalaupun kamu tidak bisa berkunjung ke sini, aku yang akan mengunjungi kamu di sana." Tegas ku.
Dan Marwah mulai terisak, dia langsung memeluk ku penuh haru, seakan dia sedang membagi kesedihannya padaku. "Terima kasih," bisiknya dengan nada super pelan di telingaku.
Sambil memegang kedua bahunya, aku berkata; "Kamu jangan menangis, kita bisa terus sama-sama, sampai anak cucu kita nanti bila perlu."
"Kalau sampai anak cucu bakal lama tunggu aku. ha ha ha---" ucap Marwah dengan nada mengejek.
__ADS_1
Namun, di balik wujudnya yang menyala-nyala dan tawanya yang nyaring, terdedah ekspresi penuh duka, ingin rasanya aku bertanya tentang hubungan mereka, yang terakhir ku dengar kalau Kak Rambo memang akan memecat Marwah karena mau menikah. Tapi, bagaimana?
"Kamu sedih cuma karena tidak bisa rutin lagi bertemu denganku, atau juga karena tidak bisa bertemu lagi dengan Kak Rambo?"
"Kamu bicara apa sih? kenapa aku harus sedih karena tidak kerja atau ketemu lagi sama Om gondrong, justru aku senang bisa lepas dari Om Om seperti dia. Tengil, c4bul, gondrong, jelek, semaunya lagi, terus apa ya.... Badannya besar seperti gorila, brewokan mirip buah rambutan... terus ya dia itu cerewet, tukang ngejek terus dia itu----"
Aku memeluknya lagi, bahkan sebelum Marwah menyelesaikan kata-katanya. Entah apa, meski mulutnya berkata demikian aku tahu dan berani bersumpah bahwa hati Marwah berkata berlawanan.
Ku pandangi dia, dia mulai terisak lagi, "Kamu suka ya sama Kak Rambo?"
"Mana mungkin!" Katanya sambil menyeka air mata di pelupuk matanya yang jelita. "Lagi pula siapa aku berani menaruh hati untuknya, aku sadar diri Kania. Dia orang berpendidikan, pekerjaan dan karirnya bagus dan bersahaja dia lahir dari keluarga baik-baik dan terhormat. Sementara aku... tidak punya orang tua, hidup di jalanan, luntang lantung tidak jelas, pendidikan untung-untung tamat SMA."
Marwah diam sejenak, menggantung kata-katanya karena sesegukan, kemudian melanjutkan. "Dengan semua kenyataan itu, jangankan untuk dicintainya balik, aku menaruh perasaan padanya pun sudah tidak pantas. Aku itu tidak sepadan dengannya."
"Jangan bicara begitu! kamu lihat aku dan Kak Anta, memangnya aku ini sepadan dengannya?" Kataku tegas. "Kalau kamu cinta dengan Kak Rambo, kamu harus bisa memperjuangkannya!"
Lantas Marwah tersenyum sambil menggenggam tanganku. "Aku tak berani melawan takdir Kania, aku tak ada sedikitpun alasan untuk berani mencintainya. Biarlah dia bahagia dengan wanita pilihan, yang memang sepadan untuknya, berpendidikan tinggi, kaya dan bersahaja."
"Tatap aku, dengarkan aku baik-baik." kataku.
Dan ketika Marwah menaikkan wajahnya, ketika kedua mata kami bertemu. Ku pegang kedua sisi pipinya sambil ku elus-elus, menghapus air matanya.
"Kalau kamu takut terluka, kamu tak akan pernah bisa mencintai orang lain. Seandainya kamu bisa jujur, mengatakan perasaanmu sendiri, apa pun hasilnya, pasti akan menjadi cinta yang indah... "
Demikianlah hari ini, menjadi pertemuan penuh haru dan hubungan antara sahabatku dan sahabat suamiku yang di ujung perpisahan. Memang hati tak bisa ditebak, apalagi jika kasta menjadi patokan untuk menaruh rasa. Aku paham betul apa yang dirasakan Marwah saat ini, tentang cintanya yang tak bisa dijangkau, dan aku pun bertanya-tanya bagaimana tanggapan semesta tentang cinta beda kasta?
Mundur perlahan atau justru maju di tengah keniscayaan dan hilangnya rasa percaya diri.
__ADS_1
Malamnya, Marwah pulang bersama Kak Rambo, setelah Kak Rambo dan Kak Anta sampai di rumah. Tidak seramai biasanya, tidak ada lagi guyonan dan keributan, mereka jadi hening dan berjauhan ...