I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 73 - Isi Hati Wanita


__ADS_3

Waktu sudah menunjukan pukul 21.00 sudah tak ada kegiatan lagi, Kak Anta masih sibuk nonton berita sementara aku membereskan sisa makan malam dan suasana dalam rumah saat ini menuju proses sepi.


Tapi beda dengan keadaan di luar, masih ada suara dari arah belakang pagar dapur, terdengar suara Mang Rusdi dan bapak-bapak lain yang bersahutan dan sesekali tertawa dan entah apa yang tengah mereka bicarakan, ribut main gaplek dan siap-siap jaga malam.


Dan sesekali setelah aku duduk di samping Kak Anta depan televisi, dia melirik wajahku dalam satu kali lirikan. Dan akupun tahu aku melakukan hal yang sama yaitu curi-curi pandang. Waktu ini adalah kesempatan yang tepat. Dia tersenyum dan aku membalasnya.


Anta Reza yang menikahiku lebih dari 6 bulan yang lalu, kini telah sah menjadi suamiku secara keseluruhan.


Hari ini merupakan kesempatan yang langka dalam 6 bulan belakang, saat-saat pertama di mana dia menghembuskan nafas di sela-sela wajahku, tepatnya pada bibirku, setelah aku mengetahui siapa dia sebenarnya dan apa alasannya mau menikahiku. Ya. Kami dulunya menikah tanpa cinta. Dan kami tidak menolak kenyataan masa lalu itu.


Setelah Kak Anta menyelesaikan permainannya, ku pikir itu adalah batas untuk malam ini, terutama setelah kami hening sejenak dan aku memilih berpamitan ke kamar lebih dulu sekedar untuk menenangkan hatiku yang hambis di obrak-abrik oleh permainan cukup erotis dari bibirnya yang nakal.


"Kenapa ikut ke sini?" tanyaku padanya, setelah ku sadari bahwa Kak Anta sudah ada di bibir pintu ketika aku hendak menutupnya.


"Memangnya kenapa?" Tanyanya balik.


"Tak apa, t-tapi selesaikan saja dulu nontonnya."


"Sudah selesai," jawabnya. "Aku mau ikut tidur dengan kamu."


"Ti-tidak bisa."


Otak dan ucapanku sungguh tidak sinkron. Hati ingin agar Kak Anta memang terus menyusulku, dan aku bisa bermanja padanya, aku menikmati tiap sentuhan yang dia gambarkan di badanku, tapi ucapan berkata lain.


Pukul 22.00. "Sudah boleh kan sekarang?" kata si Kak Anta. Aku yang malu pun akhirnya mengangkat kepalaku dari persembunyian selimut bunga, aku pun mengangguk pelan.


Kak Anta ternyata menungguku dengan sedikit cemberut. Namun setelah itu… yang ku pikirkan sungguh terjadi, dia yang sudah sabar menunggu kini memelukku, semakin erat dan panas. Lalu setelah itu, apa yang kami lakukan? hanya cicak dan Tuhan lah yang tahu.


Saat fajar datang aku berpikir keras bagaimana bisa keluar kamar tanpa mengeluarkan suara, bagaimana melepas benda berat semacam tangan kekar yang menindih dadaku sepanjang malam.


...****************...

__ADS_1


Sekitar pukul 7 pagi, setelah selesai sarapan, kami bersiap, tentu dengan rencana awal ku kemarin yaitu untuk menemui Marwah. Namun, begitu mau keluar dari kamar aku terkejut melihat ponsel belum masuk dalam tas selempang ku. Aku pun kembali ke meja rias dan segera keluar menuju teras di mana Kak Anta tengah menunggukumenungguku.


"Akhirnya kamu siap juga," sambutnya lembut sambil memelukku.


Kami saling berpandangan, menduga-duga adakah yang berbeda hari ini pada diri kami masing-masing.


"Kamu cantik sekali pagi ini, apa memang begini tampilanmu kalau mau pergi keluar?" Katanya.


"Oh ya?" aku tersenyum tersipu-sipu malu.


"Sampai aku lupa kalau kamu sudah jadi seorang ibu beranak satu."


"Kakak juga, dengan jaket kulit itu," kataku menggodanya.


"Pulangnya kapan? mau ku jemput atau tidak?"


"Nanti siang atau menjelang sore, aku pulang naik taksi saja kak. Kak Anta fokus kerja saja, nanti aku kabari kalau sudah balik lagi ke rumah."


Aku mengangguk.


Saat kendaraan memasuki jalan raya, pemandangan kota begitu ramai oleh orang-orang yang mau berangkat kerja. Rania pun begitu tenang dan tentram dalam timanganku. Hingga sekitar 30 menit lamanya perjalanan, sampailah kami di sebuah perkampungan dalam gang sempit. Kak Anta sendiri terpaksa memarkirkan mobilnya di bahu jalan dan kami melanjutkan dengan berjalan Kaki.


"Loh, bapak ibu pasangan romantis ini ke sini? kenapa tidak ngomong dulu, jadi biar aku saja yang jemput Rania kecil di depan gang ya." Sambut Marwah setelah meletakkan ember besar berisi pakaian basah, dan segera menghampiri Rania untuk bercanda kecil-kecilan.


"Istriku lagi kangen denganmu." Ucap Kak Anta mengejekku.


Marwah tersenyum sambil melirik ke arahku. Kemudian tak lama setelah itu Kak Anta pamit untuk langsung berangkat ke kantor.


"Kamu sudah sarapan?"


"Marwah aku tidak mau basa basi!"

__ADS_1


"Hah? kenapa? ada yang salah padaku Kania?"


"Tidak ada," jawabku sambil menatap Marwah dalam-dalam. "Bagaimana perasaanmu dengan Kak Rambo?"


Sedangkan Marwah memilih diam, hanya tersenyum simpul.


"Kamu yakin untuk memilih mundur bahkan sebelum mengatakan perasaanmu sendiri padanya? Kenapa? apa karena takut tak terbalas dan kamu takut terluka? ayo jawab Marwah jangan diam saja, katakan apa yang kamu pikirkan?"


"Perasaanku ini tidak penting untuk diungkapkan Kania," dia diam sejenak, membetulkan posisi duduknya, lalu kembali berkata.


"Bagi semua orang mungkin ini sesuatu yang aneh. Bagaimana mungkin aku bisa mencintai Om Gondrong? Aku cuma seorang Marwah yang kesepian, ditinggalkan kedua orang tuanya dan hidup keras di jalanan, berwatak bengal dan tidak berkembang. Akhirnya, untuk pertama kali, aku menaruh hati pada seorang pria yang kehidupannya berbanding 180 derajat dariku. Tentu aku bahkan semut pun tahu Om Gondrong bukanlah sandinganku, dia terlalu jauh untuk ku gapai bagai bola mutiara yang hilang dalam sekejap." Katanya.


"Lalu kenapa kamu berharap agar aku terus berlari dan mengejar dia? sementara jiwaku sendiri tak kuat dengan semua kenyataan bahwa dia terlalu tinggi untuk diriku yang jauh di bawahnya."


Aku gemetar mendengar jawaban Marwah, meski tahu apa yang dia katakan, dengan sejuta makna yang amat dalam. Yang hanya bisa dirasakan oleh orang-orang kelas bawah ketika jatuh cinta tak pada tempatnya. Tapi aku sangat berharap dia tak menyerah;


"Karena kamu mencintainya," tegas ku. "Kamu harus menyatakan cinta ini karena ini adalah milik Kak Rambo, sebab kepadanyalah cinta mu dialamatkan. Dan sungguh jahat menyembunyikan sesuatu milik orang lain. Seandainya di hati kecilmu kamu ingin terus menyimpannya untuk dirimu sendiri, kamu sama saja melakukan kejahatan. Itu bukan tabiatmu. Maka sekarang bukan lagi tentang kuasamu melainkan kuasa cintamu lah yang membuatmu harus menyatakannya pada Kak Rambo."


Dia terisak setelah terpaku menatapku. "Aku takut Kania, aku tak bisa menolah bahwa aku mencintai Om Gondrong, sekalipun aku tak kuasa memaksanya untuk menerimaku. Aku pun merasa tak pantas apalagi setelah ku tahu dia akan menikah."


Pagi yang sunyi, di antara pembicaraan yang mendalam ini, ada Rania bermain boneka beruang di tengah-tengah kami.


"Dengarkan aku," kataku sambil menegakkan bahu Marwah agar kembali kokoh.


"Kalau kamu takut terluka, kamu tak akan pernah bisa mencintai orang lain. Seandainya kamu bisa jujur mengatakan perasaanmu sendiri, apa pun hasilnya pasti akan menjadi cinta yang indah... "


Ku pandangi lagi Marwah. Dia masih terisak dan mengusap air matanya dengan kasar.


"Kamu harus mengatakannya, agar di masa tua nanti tak akan ada lagi penyesalan." kataku lagi.


"Aku harus menyampaikannya, agar aku tak menjadi penjahat yang menyembunyikan cinta untuk orang lain." Timpalnya.

__ADS_1


"Benar, itu yang harus kamu lakukan." Balas ku.


__ADS_2