I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 48 - Seperti Matahari Pagi


__ADS_3

"Aku mau memberikan ini, doaku semoga Mas Reza lekas sembuh." Ucap Mbak Isma sambil memberikan keranjang buah kepadaku.


"Terima kasih Mbak," Dengan penuh suka cita ku Terima keranjang buah itu darinya, "Kak Anta sudah sadar Mbak." Kataku.


"Oh, ya? syukurlah. Aku senang sekali mendengar kabar ini."


"Ayo masuk, mbak. Kak Anta baru selesai sarapan."


"Tidak apa-apa Kania, cukup di sini saja. Omong-omong, bisa kita bicara sebentar di taman?"


Sebelum menjawab, ku pandangi dulu Kak Anta di dalam, dia tersenyum seakan ia telah memahami apa yang akan terjadi. Seakan pertemuanku dan Mbak Isma ini telah berada di bawah restunya.


"Bisa Mbak, sebentar. Aku temui Kak Anta dulu."


Mbak Isma tersenyum sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Kak, Mbak Isma mau bicara denganku berdua di taman. Boleh?"


"Tentu saja, pergilah."


"Aku tinggal sebentar, ya. Nanti aku kembali lagi."


"Dengan senang hati."


"Mari Mbak,"


Benarkah apa yang dikatakan Rambo, bahwa dia memang hanya berpura-pura dan hendak mencari cara untuk kembali dekat dengan Kak Anta, pakai cara lamanya; bersikap baik dan bertingkah seolah mereka memang teman sejati? Atau, dia memang telah kembali ke karakteristik aslinya yang lembut, penuh rasa peduli dan bersahaja, hanya kali ini dia telah benar-benar menyesali semua jalan hidupnya yang sempat menyimpang? aku tak tahu apa yang akan terjadi. Yang pasti, pagi ini aku merasa begitu khidmat dan bahagia.


Kami pergi bersama-sama dengan berjalan kaki, menerobos orang-orang di sepanjang koridor rumah sakit. Udara pagi ini agak lebih hangat dari kemarin. Lampu di taman juga sudah mati, Mbak Isma duduk tenang sambil bersenandung kecil. Menikmati pagi, dengan pemandangan pasien dan keluarganya ketika surya naik ke puncak langit.


"Aku suka melihat matahari pagi di jam segini, bisa dipandang dan dinikmati karena sinarnya begitu pas, tidak terlalu menyilaukan, walau dilihat dengan mata telanjang." Katanya membuka obrolan.


Ku pandangi dia, kemudian ku alihkan tatapan ku ke luar sana, memandang langit biru yang berkilauan, "Matahari memang selalu cantik, sebab dia yang paling bersinar di alam semesta. Cahayanya berpijar bukan untuk dinikmati sendiri, tapi dia membaginya, ke seluruh benda angkasa di atas sana."


"Seperti kamu," Katanya, "Kamu terlalu bersinar, seperti matahari itu. Bahkan hari ini pun aku tak bisa bersikap tenang. Aku tak mampu bersikap seperti biasanya di hadapanmu.Tiba-tiba aku merasa begitu kecil dan redup bila berada di dekatmu, atau paling sedikitnya dalam satu tempat berada bersamamu. Aku terlalu takut dengan hidupku sendiri, begitu ku dapati dirimu yang menyala-nyala seperti matahari pagi."


Dia menghela napas sejenak sambil memandangku sejenak, kemudian melanjutkan. "Kepercayaan diriku musnah. Dan jalan hidupku berubah secara mendadak, sampai aku sendiri pun sangat terkejut ketika merenungi perubahan yang terjadi pada diriku ini. Bagaimana mungkin aku bisa menghalalkan segala cara untuk membuatmu redup dan kecewa dengan cara mengambil kembali Mas Reza dari mu. Lucu kan? Aku sendiri juga bingung, padahal di awal saat pertama kali bertemu denganmu malam itu, aku telah berkata akan mempercayakan Mas Reza padamu. Tapi, ketika kita bertemu lagi di warung sayur pertama kalinya .... aku merasa silau karena cahaya mu yang berpijar menyala terang, aku iri, aku gugup, dan merasa begitu kecil."


Aku tersihir oleh semua kata-kata yang diucapkannya, aku tetap diam, hanya tersenyum simpul.


"Sebentar," dia membalikkan badan dan mengambil sesuatu dari balik kreseknya. "Kopi, kamu pasti lelah ... " katanya memberikan kopi yang tertutup rapat didalam cup.

__ADS_1


"Terima kasih, Mbak ... "


Dia tersenyum, sambil meneguk kopi dan mengulum bibirnya yang kenyal. Merah dan mengkilat, di topang dagunya yang runcing dan halus. Dia tersenyum lagi, sambil matanya terus menatapku, seakan sedang menyelidiki perasaanku dengan berbagai ungkapan yang tertahan dalam hatinya.


"Boleh ku lanjutkan?" Katanya.


Ku jawab dengan menganggukkan kepala.


"Saat menyadari hal itu, niatku yang awalnya memang ingin berteman baik denganmu dan menerima guratan takdirku dengan Mas Reza yang harus kandas, tiba-tiba memental jauh, melambung dan buyar. Apalagi saat ku dapati bahwa kamu hamil, aku semakin iri, iri dengan semua kebahagiaan kamu. Padahal aku selalu merasa bahwa aku memiliki nasib yang lebih baik darimu, dan ku yakini jauh di depan aku akan lebih bahagia dan lebih beruntung dari kamu. Tapi, ternyata salah, hidup kamu begitu sempurna di mataku, bahkan setiap melihat kebaikan Mas Reza padamu, aku sakit hati dan iri."


Aku masih diam, menyimak setiap kata-katanya.


"Karena itu saat abah berurusan dengan polisi, aku mengambil kesempatan untuk mendekatinya dan membuatnya kembali mengingatku. Aku berusaha keras sekali agar bisa mengambil semua waktunya. Tapi, seperti yang ku katakan tadi, kamu terlalu berkilauan, kamu memiliki daya tarik yang bisa membuat semua orang tak mampu berpaling begitu berhadapan denganmu. Persis seperti matahari di atas sana. Jarak jauh, dan sendirian di sana sampai petang, tapi malam cahaya tetap berpijar dengan membaginya pada bintang. Kamu itu .... tak bisa diacuhkan begitu saja, dan setiap kali Mas Reza bersamaku, yang di pikirannya hanya selalu tentang kamu ... "


Aku gemetar mendengar suaranya. Aku membisu, duduk diam dan kaku. Apa yang baru saja dia katakan masih jelas di telingaku. Aku mencoba untuk meragukannya, tapi kalimat itu hidup lagi, terutama saat dia melanjutkan;


"Benar, di pikirannya hanya ada kamu. Puncaknya saat dia mengucapkan salam perpisahan, dan memintaku untuk turut menjauh, karena dia tak ingin ada salah paham dengan kamu, istrinya. Padahal kalian sudah berjarak sejauh itu." Dia terisak. "Aku tak bisa menolak takdir bahwa aku sungguh kecewa, sekalipun aku tak kuasa memaksakan kehendak agar bisa merebutnya darimu."


"Mbak .... " kataku.


"Aku minta maaf Kania," ujarnya dengan napas yang berat. "Aku sampai mengatakan hal-hal buruk yang menyakiti hatimu, maaf karena aku sampai diplomatis mengatakan untuk mengejar cinta Mas Reza lagi. Semua itu sampai keluar dari mulutku, karena ketakutanku akan dirimu. Aku gelisah dan resah terutama saat ku dapati semua kenyataan ini. Kania, kini ku sadari Mas Reza itu adalah milikmu, satu-satunya milikmu."


Dia terdiam sejenak, membetulkan jaketnya yang terbuka, lalu kembali berkata.


Dia tersenyum menatapku, dan aku balik menatapnya dengan dahi mengkerut.


"Maksud Mbak Isma?"


"Aku mau pamit Kania, hari ini aku akan berangkat ke Borneo. Kemarin dapat panggilan kerja di salah satu perusahaan tambang di sana. Karena itu, sebelum benar-benar pergi aku ingin menyampaikan semua ini padamu, agar hatiku tentram dan tenang." tegasnya. "Aku titip salam pada Mas Reza, ya."


"Aku senang mendengar kabar bahagia itu Mbak, tapi menurutku, lebih baik jika Mbak Isma ucapkan langsung salam perpisahan dengan Kak Anta."


Ku pandangi dia. Dia masih terisak dan mengusap air matanya dengan syal. Aku terharu bukan oleh air matanya yang baru kali ini ku saksikan, bukan pula oleh kecantikannya yang menggetarkan melainkan oleh keberaniannya menanggung dan mengungkapkan perasaan dengan ekspresi yang murni dan rendah hati.


"Aku tidak pantas bertemu dengannya Kania, biarlah ku titip salam padamu untuknya."


Lantas ku raih tangannya, dan menggenggamnya erat-erat. "Jangan berpikir begitu Mbak, Kak Anta tak memandang Mbak Isma begitu. Ayo, mumpung Kak Anta sudah sadar dan baikan, Mbak bisa mengucapkan salam perpisahan langsung dengannya."


Dia masih diam, memandangku dengan ekspresi penuh duka. Lantas ku ambil tangannya dan ku ajak dia masuk lagi ke bangunan rumah sakit. Menerobos kumpulan orang-orang di koridor. Hingga sampai lah kami di depan kamar rawat Kak Anta.


"Ayo Mbak, masuk." Kataku.

__ADS_1


Namun dia membeku di bibir pintu, enggan untuk menuruti kehendak ku.


"Tidak apa-apa Mbak," ku ajak lagi dia.


"Kania, aku cukup batas sini saja. Sampaikan saja salamku pada Mas Reza."


"Masuklah Isma .... " Ucap Kak Anta dari dalam.


Begitu mendengar panggilannya itu, akhirnya Mbak Isma menurut dan ku bantu dia untuk mendekat pada Kak Anta. Dari dalam Kak Anta menyambutnya dengan senyuman hangat.


"Kak, Mbak Isma mau bicara padamu." Kataku lembut, dan Kak Anta tersenyum simpul.


"Mas .... "


"Katakan saja Isma, jangan merasa sungkan."


"Aku ucapkan terima kasih untuk kebaikan Mas tempo ini dengan ku juga mak dan abah, aku pun ingin minta maaf karena sempat merecoki rumah tangga kalian, bahkan aku pun mengatakan kata-kata tak baik tentang Kania dan anak kalian. Aku minta maaf Mas, karena buat kalian berselisih paham dan bertengkar. Sungguh aku sangat menyesalinya."


Demikianlah Mbak Isma menyampaikan permohonan maafnya secara langsung pada Kak Anta di hadapanku. Dengan ekspresi rendah hati, dia memohon kebesaran hati kami untuk memaafkannya. Pada hari yang cerah, bersama dengan kondisi Kak Anta yang mulai membaik ....


"Aku sudah memaafkan kamu, Isma. Kamu adalah gadis baik, aku yakin di masa depan kamu akan bertemu dengan kisah baru di lembar yang baru pula. Karena itu jangan sia-siakan kesempatanmu untuk mengukir cerita lain, yang justru menyakiti hatimu sendiri." Kak Anta berhenti sejenak untuk menarik napas, dia memang masih agak kesulitan bicara panjang-panjang katanya, karena dadanya masih agak sakit.


"Aku pun berterima kasih padamu. Istriku menyampaikan kalau kamu mendonorkan darah untukku saat aku di operasi. Terima kasih banyak .... "


Ku pandangi wajah mereka bergantian, dan betapa bersyukurnya aku permasalahan cinta segitiga ini agaknya telah menemui titik terang, begitu Mbak Isma mengungkapkan seluruh isi hatinya dan berpamitan untuk merantau jauh di Pulau seribu sungai.


"Sudah sepatutnya aku melakukan itu Mas, setidaknya ada bagian diriku yang bisa bermanfaat untuk orang lain." Ucap Mbak Isma.


"Aku tahu kamu memang orang yang seperti itu," Kata Kak Anta.


"Terima kasih banyak Mas, Kania ... sebenarnya selain meminta maaf, aku juga ingin mengucapkan salam perpisahan Mas. Aku mau terbang ke Borneo untuk bekerja hari ini, lamaran kerjaku di salah satu perusahaan tambang di sana di terima."


Kak Anta menatapku tersenyum, dan aku balik menatapnya. Dia menggenggam jemariku dan ku balas. Lalu kami beralih menatap Mbak Isma lagi.


"Hebat sekali! Bagus, semoga perjalanan karier mu di sana berjalan mulus dan semakin meningkat. Juga ku doakan semoga di sana bisa dapat jodoh," Jawab Kak Anta tertawa kecil untuk menggoda suasana.


Mbak Isma yang tadinya tegang dan sendu, kini melepas tawa malu-malu sambil mengalihkan pandangan menatapku.


"Do'akan saja Mas," katanya, "Tapi kalau boleh jujur, aku lebih menantikan kehadiran keponakan-keponakan kecilku saat menikah nanti. Jadi ku harap, saat aku pulang ke sini lagi nanti, aku sudah bisa lihat anak-anak dari pernikahan kalian. Lahirkanlah keponakan yang lucu sebentar lagi, aku tak sabar untuk dipanggil bibi." Katanya sambil meraih dan menggosok perutku.


Aku dan Kak Anta saling berpandangan dan saling tersipu-sipu, rupanya godaan Mbak Isma jauh lebih mematikan bagai kekuatan spiritual yang memabukkan.

__ADS_1


"Minimal tiga," tambahnya sambil mengacungkan jari telunjuk, tengah dan manis berbarangan.


Oh, pecah hatiku bagai ribuan bintang yang bertabur. Jantungku berdetak kencang bagai gelombang air ombak di tepi pantai, sungguh sebuah harapan. Lekas ku Aminkan semoga Tuhan mengabulkan dan memberi jalan.


__ADS_2