I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 71 - Pergilah Masa Lalu


__ADS_3

"Aku cuma mau ketemu anakku Mas!"


"Sudah ku katakan, yang ada di sini hanya anakku dan Kania!"


Keributan itu masih berlanjut, untungnya warga sepi, meski suara Petra dan Kak Anta melengking. Petra yang aku ketahui, melakukan ini karena iri dengan kehidupan kami, saat dia mengatakannya barusan secara tersirat.


Sementara aku masih diam saja di teras, menyimak.


"Begini ya, Justru kalau kalian menghalangi aku begini, Mas. Aku malah berniat untuk mengambil anak itu dari kalian. Padahal aku datang baik-baik untuk bertanggung jawab dengan anak ku sendiri, tapi kalian aneh." Ucap Petra, sambil sesekali matanya menyorot, melirik ke arahku. "Dulu saja, Kania. Kamu sibuk cari aku sana sini minta pertanggungjawaban, terus sekarang saat aku datang memenuhi keinginan kamu, malah ngamuk-ngamuk tidak jelas, bertingkah seolah aku yang paling salah dan paling jahat."


"Kamu ngaca Petra! yang kamu omongkan barusan itu lebih tepat ke siapa?!" sahutku dengan nada sedikit meninggi, mungkin karena sudah puas menahan perasaan.


"Ya memang benar untuk kamulah! kenapa sekarang marah-marah melarang aku ketemu anak ku sendiri? Oh, satu lagi. Aku sudah beritahu kamu kalau Mas Reza ini, suami kamu ini adalah kakak sepupu ku!"


"Kamu tuh sinting ya?! Basi! Aku dan Kak Anta sudah mengenal satu sama lain, tidak ada lagi yang tersembunyi di antara kami. Baik aku atau pun Kak Anta, kami bakal terus hidup bersama dan bahagia." Jawabku.


Petra terdiam setelah melotot kepadaku. Dia mengecap, seraya mengusap wajahnya kasar.


"Jadi sudah tahu?" Petra mendengus dengan tawa kecil yang bisa kami dengar, "Hmph---Haha, sudah tahu tapi masih mau hidup sama-sama? tidak tahu malu ya?! Kamu tuh memang murahan Kania!"


Aku berusaha untuk tenang dan diam, sambil terus menyimak kata-katanya yang mulai sedikit melenceng. Ku pandangi dia tajam karena merasa sedikit tertekan, napas ku pun bisa dikatakan tidak karuan sekarang.


"Oh, oke aku paham sekarang. Kamu nolak aku ke sini, mentah-mentah mengusir, karena takut rumah tangga kamu berantakan? kamu takut ditinggal Mas Reza dan hidup luntang-lantung lagi, hidup miskin di kampung bersama bapak kamu yang tukang kopi sachet itu, Ya kan?" Lanjutnya.


"Jangan pernah sekali pun bicara atau merendahkan ayahku!" Aku menyela sambil mengacungkan jari telunjuk ke arahnya.

__ADS_1


"Hmph! haha sudah tahu siapa suami kamu sebenarnya, tapi masih mau hidup bersama, kenapa? karena Mas Reza sudah mapan? Polisi? Pantas saja, mencampakkan aku, saat niatku sekarang sudah baik." Katanya lagi.


"Kalau lihat ini aku memang tidak terkejut sih, kamu kan memang begitu, bakal melakukan apa pun asal bisa menumpang hidup enak dengan orang lain. Persis saat pacaran denganku dulu, rela memberikan tubuh sendiri biar bisa terus bersamaku! Harapannya bisa ku nikahi biar kamu bisa hidup enak, nikmati harta, tinggal di rumah besar dan hidup di kota, punya suami kuliahan----"


Bersamaan dengan itu, bahkan sebelum Petra sempat menyelesaikan hinaannya, sebuah hantaman mentah mendarat di pipinya yang mulus. Bogem maut dari kepalan Kak Anta yang kuat membuat Petra tersungkur dan mengerang kesakitan.


"Aw, Mas!!!!"


"Jaga mulut kamu! jangan pernah sebut sesuatu apa pun tentang istriku."


"Lah memang aku benar Mas?!"


"Petra!" Sahutku.


"Gila kamu! kok bisa ada manusia seperti kamu di dunia ini?! aku punya salah apa padamu? Justru kalau mau dendam dan marah, seharusnya aku lah yang berkata demikian dengan kamu, bukan sebaliknya. Demi Tuhan aku tidak habis pikir dengan semua yang ada dalam pikiran kamu." Ucapku.


Cuma, meskipun aku berkata sambil berkaca-kaca. Petra nampaknya masih ingin melanjutkan kata-katanya yang menyakitkan dan terlalu fana jika di logika kan terjadi di dunia nyata, sementara aku di sini masih berusaha keras untuk tegak dan menahan bening yang menumpuk di kelopak bawah mata.


"Pergi dari sini! Alfatra. Kamu ini memang tukang buat onar." Ucap Kak Anta sambil menarik kerah baju Petra dan membangkitkannya dari duduk. "Oh atau begini, biar ku beri tahu juga kamu, jangan pernah samakan Kania dengan diri kamu. Kania memilihku karena memang aku jauh lebih baik dari kamu, aku mampu mencintai dia lebih tulus, aku bisa menerima dan menghidupi dia, bukan seperti kamu, masih kuliahan kan?"


Ku lihat itu, jauh pada dalamnya sorot mata Kak Anta ke Petra, berlatar pada ekspresi tegasnya dan goresan bibirnya yang datar, agaknya Kak Anta akan membalas;


"Kamu benar, kamu itu memang belum siap jadi seorang ayah dan suami. Bicara sana sini, menjelek-jelekkan istriku hanya untuk menutupi kepercayaan diri kamu, Kamu takut ya bersaing? kamu merasa rendah saat bersanding denganku."


Kemudian setelah itu, Kak Anta kembali menghempas badan Petra ke depan, arah pintu pagar. "Pulanglah! sudah ku katakan dari tadi jangan sampai aku tak segan lagi padamu."

__ADS_1


"Kurang ajar!!" jawab Petra, "Jangan sombong kamu Mas! Kamu lihat saja, kamu juga dengar Kania! aku bakal ingat terus kejadian ini. Kalian tunggu saja aku pasti datang lagi, ku ungguli kamu Mas dan saat aku sukses nanti akan ku rebut anakku dari kalian! Ku pastikan itu!"


Demikianlah setelah dia mengatakan itu, Petra mengambil tasnya yang mulai berceceran di bawah dan pergi keluar pagar. Kepergiannya itu memang selalu meninggalkan bekas di hatiku, begitu membekas sampai akhirnya aku kini bisa bernapas dan tak perlu bersusah lagi menahan tangis.


Kak Anta mengunci pagar rapat-rapat kemudian berputar badan, berlari ke arahku.


"Kania, aku di sini."


Dan kini, dia pun kembali memelukku. Menenggelamkan aku dalam rengkuhan dadanya yang hangat dan menenangkan. Harum wangi tubuhnya kembali tercium di hidungku, aroma kuat alkohol yang maskulin, memabukkan aku dalam imajinasi dan rasa sedih yang komplit.


Aku mulai merintih, "Kak----"


"Sudah, tak apa-apa. Jangan dengarkan omongan dia, ya?!"


Dan dia menaikkan tangannya ke kepala bagian belakangku, mengusapnya lembut penuh kehangatan dan kasih sayang.


"Aku memang tahu Petra itu orang yang seperti apa, tapi entah kenapa----" Kataku pelan dan terbata karena terisak. "Rasanya tetap sakit sekali Kak."


Aku tak tahu...


Sudah berapa banyak air mata yang mengalir dari pelupuk mata ku hanya karena segala cobaan hidup yang silih berganti.


Tapi yang aku tahu...


Aku akan tetap baik-baik saja, selama Kak Anta masih ada di sisiku, selama tubuhnya ini masih terus mendekap ku...

__ADS_1


__ADS_2