I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 54 - Ayah Kandung


__ADS_3

Di sore hari yang sejuk, angin berhembus meniup rambutku ketika duduk di beranda samping rumah, dingin dan sepoi-sepoi. Ku ambil lagi jarum rajut dan benang wol yang tebal dan merah. Semangka segar sudah habis sampai ke bagian bawah, semangka yang selalu dibeli Kak Anta sebagai stok dari 7 bulan yang lalu.


Benar, tidak terasa hari ini adalah bulan ke 9 aku mengandung anak pertama ku. Tinggal menunggu beberapa hari saja untuk melahirkan. Aku pun sudah semakin kesulitan berdiri dan beraktivitas, karena itu Kak Anta selalu menyempatkan waktu untuk membantuku beres-beres rumah. Di penghujung senja ini, sambil menunggu kak Anta pulang kerja aku memilih melanjutkan kembali merajut syal untuk Kak Anta dan calon anak kami nanti, aku pun kembali bergairah.


Mataku menerawang jauh, jauh sekali ... ke tempat di mana kak Anta berada. Ke tempat di mana kami bertiga akan berkumpul bersama, dan mungkin nanti juga akan ada anggota baru dalam keluarga kami. Pasti akan semakin khidmat dan lengkap, akan semakin terang dan berwarna. Dan pada saat aku membayangkan itu semua, seseorang datang mengetuk pintu depan. Pasti Kak Anta, pikirku.


"Tunggu sebentar," Kataku agak memekik. Dan berjalan pelan sambil menopang pinggang, layaknya seorang nenek tua yang kesulitan jalan.


"Tidak biasanya pulang jam segini, kak----"


Aku terdiam menggantung kata-kataku begitu ku buka pintu masuk, sosok seseorang berdiri kaku dengan pakaian santai. Tentu dia bukanlah kak Anta.


"Kamu----" Kataku,


"Selamat sore, Kania kekasihku." Sapanya.


Aku menjauh dari muka pintu, lalu dengan raut gelisah aku berkata; "Kenapa kamu bisa ke sini? Apa tujuanmu?!"


"Pelankan suaramu sayang, nanti suami mu dengar. Kamu harus tenang, masa menyambut ku dengan raut wajah begitu." Jawabnya, "Kamu lupa ya?! Suami mu adalah kakak sepupu ku, tentu saja aku bisa ke sini."

__ADS_1


Terdiam aku, melihat dia. Napas ku berhembus cepat dengan tempo jantung yang cenat-cenut tidak karuan. Dia tersenyum membuatku semakin gemetar dan merinding.


"Mau kamu apa kemari, Petra?! Pergilah! aku tidak ada hubungan apa pun lagi denganmu ... " Kataku dengan nada sedikit meninggi, lalu ku raih gagang pintu dan berusaha menutupnya rapat-rapat.


"Hey! hey! sabar sayang," dia menghalangiku dengan menahan pintu dari depan.


Sementara aku tak mampu lagi bertahan, karena perutku sudah mulai keram. Petra dengan sebagian kekuatannya berhasil menumbangkan pertahanan diriku dengan mudah,


"Tampaknya kamu sangat bahagia sekali ya, hidup dengan kakak ku! padahal terakhir kali bukannya kamu yang cari keberadaan ku, sekarang aku sudah berdiri di hadapanmu sayang, kenapa menyambut ku begini? kamu masih rindu denganku kan? Sini biar ku peluk----"


Lantas Petra mendekat, menghampiri aku dengan tangan terbentang seakan ingin menenggelamkan aku dalam dadanya.


"Pergilah Petra! apa tujuanmu kemari?! kita sudah hidup dengan pilihan masing-masing, jadi tolonglah jangan datang lagi di hidupku!"


Begitu aku berkata demikian, dia berhenti di muka pintu, menatapku dengan wajah naik turun. Seakan tengah menerka-nerka perubahan apa yang terjadi padaku.


"Kandungan mu sudah besar ya sayang," Katanya. "Kapan mau melahirkan?"


"Bukan urusanmu!" Jawabku dengan sedikit meninggi, "Lagi pula sejak kapan kamu peduli dengan anak ini?! kamu hanya sibuk memintaku untuk menggugurkan dan pergi hilang tanpa memikirkan sedikitpun tanggung jawab."

__ADS_1


"Waktu itu aku masih belum siap, tapi sekarang keadaannya sudah beda. Aku benar-benar sudah mantap untuk menjadi ayah dan pemimpin untuk keluarga kita." Dia menyunggingkan kedua ujung bibirnya, tersenyum simpul. "Ceraikan Anta Reza! dan kembalilah padaku, kita akan menjadi keluarga yang utuh dan menjadi figur kesempurnaan bagi para manusia zaman ini."


"Pergilah, menjijikkan! aku sudah muak dengan semua kebohongan yang keluar dari mulut busuk mu itu!" ucapku nanar dengan kepala yang panas. "Katakan, apa mau mu yang sebenarnya?!"


"Aku mau anak itu," Katanya sambil melirik perutku. "Setelah dia lahir, aku akan mengambilnya. Dia akan terjamin bila hidup bersamaku ayah kandungnya."


Dasar Petra yang sinting! dia sudah kehilangan akal. Aku tak tahu apa yang terjadi padanya, sampai otaknya melayang tak tersisa. Dia yang pergi jauh dariku, meninggalkan semua tanggung jawab, semua itu ia bebankan pada ku sendirian, dan sekarang dia meminta itu semua kembali, dari mana dia mendapatkan keberanian itu? Mengatakan semua kebohongan dan bualan, tapi aku tak akan perduli... ketika dia menunjukkan caranya menyakitiku.


"Kamu sudah kehilangan akal sehat kah, Petra? darimana kamu memiliki kepercayaan diri macam itu? terjamin katamu? bahkan kamu tak menunjukkan sedikitpun tanggung jawab untuknya saat dia hadir di rahim ku!" Kataku melotot.


"Tidak sedikitpun! bahkan seujung jari," kataku sambil menjentikkan ujung telunjuk di depan matanya. "Dari aku mengandung dan ku katakan padamu, kamu hanya memintaku untuk menggugurkannya, menghilangkan dia dari hidupmu dan hidupku. Kamu minta aku pergi dari rumah, lalu kamu buang aku sendirian di kota orang dalam keadaan hamil muda! Lalu Katakan padaku, dimana letak terjamin nya kehidupan anakku di tanganmu?! Katakan padaku, di mana letak hak mu untuk mengambil anak ku saat dia lahir nanti?!"


Dia terdiam beberapa saat, sedikit ku lihat dia menelan saliva kuat-kuat. "Oh, jangan pernah kamu lupa Kania. Aku tetaplah ayah kandung anak kita, dia ada karena aku juga turut di dalamnya."


"Anakku, jangan pernah menyebutnya "anak kita" kamu tak ada kepentingan sedikit pun untuknya, lagi pula anakku sudah memiliki ayah lain, yang jauh lebih bertanggungjawab dan jauh lebih mencintainya di banding kamu, sampah!"


"Anta Reza?" dia mendengus, "Apa yang membuatmu seyakin itu bahwa Mas Anta bertanggung jawab dan begitu mencintai anak kita dengan tulus, apa yang bisa menjamin itu? dia baik dan terlihat bertanggung jawab karena mencintai kamu, ibunya. Biar ku beri tahu kamu! tidak ada orang tua tiri yang mencintai seorang anak melebihi cinta dan kasih sayang orang tua kandung!"


Terdiam aku, bagai pohon yang tersambar halilintar. Kehilangan tempo dan kata-kata, sementara dia kembali mendekat, menghampiri ku dengan penuh keyakinan.

__ADS_1


"Dengarlah sayang, aku akan selalu kembali menghampirimu, aku pasti akan menemanimu melahirkan anak kita nanti. Tapi maaf, aku akan tetap mengambil hak asuh ku sebagai ayahnya." Katanya, mendekati telingaku, kemudian berbisik; "Jadi pikirkanlah dengan baik, sayangku. Jika kamu tak ingin berpisah dengan anak kita. Berpisah lah dengan Mas Anta Reza, dan kita menikah. Kita akan hidup bahagia bersama secara lengkap; aku, kamu dan anak kita."


__ADS_2