
Senin, satu minggu setelahnya...
"Anak-anak belum bangun---" Suara berat Kak Anta tiba-tiba muncul di telingaku. Dengan perasaan malas, dia masih bersandar di bahuku, jemarinya begitu lincah, erat memeluk ku dari belakang.
"Tak apa, Angkasa dan Samudera telat tidur, semalam. Lain kali jangan ajak nonton bola, mereka masih kecil, tidak paham soal itu sekarang." Kataku sembari memotong sayur untuk sarapan.
"Justru karena tidak tahu, makanya harus diajarkan." Katanya berbisik, sesekali juga menguap. Masih belum ku tatap matanya yang sayu, karena masih sibuk untuk siapkan bahan masakan. "Aku kangen dengan kak Rania, Ma. Dia betah sekali ikut kakeknya di kampung."
"Rania ikut ayah kan cuma sehari, baru kemarin dia pergi. Biarkanlah dia senang-senang di sana, jarang-jarang kan, Rania ke kampung? Dia bisa belajar banyak hal di sana. Kakeknya itu selain suka mancing, ada kebun juga kecil-kecilan. Kalau di sini, dia cuma main keliling rumah, sekolah, temani aku masak, itu terus. Wajar kalau bosan."
Lalu Kak Anta berbisik lagi, sambil menatapku kali ini. "Aku telpon kakeknya ya? Mau dengar suara Rania, mungkin dia juga rindu dengar suara Papa dan Mamanya. Anak lima tahun setengah, loh Ma. Masih lengket-lengketnya dengan orang tuanya, ya, kan?"
"Terserah Papa saja, jangan lupa cuci muka dulu."
Dari kejauhan ku dengar dia sudah duduk di ruang tengah sambil membawa ponselnya. Suaranya yang tadi berat langsung berubah begitu panggilan teleponnya dijawab oleh Ayah dari kejauhan sana. Suara tawa Kak Anta menggelegar, terdengar sampai dapur.
Derap langkah kakinya ku dengar dengan baik, semakin lama semakin dekat. Dia datang mendekat lagi padaku, sambil menunjukkan layar ponsel.
"Mama----" Rania memberi sapa padaku, nada suaranya semangat persis Papanya yang ada di sampingku.
"Rania, lagi apa? Sudah sarapan sayang?"
__ADS_1
"Sudah, Ma. Kakek buatkan nasi kuning pakai sambal tempe. Enak!" Jawab Rania di sana. "Rania mau cabut ubi, sama kakek dan om Arya. Papa?---"
"Ya, Kak. Papa di sini!" Sahut Kak Anta, ia segera muncul di kamera ponsel, lebih dominan. Aku pun tak masalah karena memang masih sibuk buat sarapan.
"Besok kakak bawakan Papa ubi, ya! kita minta buatkan Kue talam dengan Mama."
"Siap, bos!" Seru Kak Anta pakai sikap siap. Lucu sekali... Makin ke sini, aku bahkan sampai lupa bagaimana dinginnya sikap Kak Anta dulu. "Kakak di situ nangis atau tidak?"
"Tidak. Kakek selalu buatkan kakak makanan, seperti Mama. Kakak juga diajak mancing kemarin sore sama Om Arya."
Kak Anta menghela napas, penuh kelegaan. "Kakak jangan nakal di sana, ya. Nurut sama kakek. Besok Papa jemput, ya Kak?! Angkasa Samudera semalam tonton bola kaki, sampai sekarang belum bangun. Kakak juga tonton pertandingannya tidak? Sama kakek atau Om Arya? Seru loh Kak. Timnas Menang 5-2!"
"Papa! Kakak kan sudah ngomong, Asa dan Samudera jangan diajak begadang! Kasihan."
Aku cuma senyum-senyum saja di belakang layar. Tak perlu lihat pun, aku sudah tahu Rania akan sama marahnya denganku karena kelakuan Kak Anta. Tapi seperti kata Kak Anta; jangan khawatir. Anak-anak kami itu, kami tahu batas kemampuannya.
Sebagai orang tua, aku pun tahu mental Kak Anta sudah sangat matang, dia mampu merawat dan mendidik anak-anak bersama ku. Bahkan aku sendiri pernah hampir terkena baby blues waktu kelahiran Angkasa dan Samudera, maklum melahirkan dua anak sekaligus, merawatnya pun tidak sama saat merawat Rania dulu. Tapi, beruntungnya aku dinikahi oleh seorang pria penuh tanggung jawab, macam Kak Anta. Dia berdiri di sampingku, bersamaku, pelan-pelan melakukan pendekatan dengan anak sampai akhirnya aku menikmati peran menjadi ibu untuk mereka.
"Mama----Papa---"
Aku menoleh, begitu juga Kak Anta. Rupanya si kembar sudah bangun. Indahnya pagi ini, begitu ku lihat bening mata Angkasa dan Samudera di sini.
__ADS_1
"Kak, lihat! Asa dan Samudera sudah bangun." Seru Kak Anta, sambil memindai kamera jadi kamera belakang. "Baru bangun tidur saja sudah tampan. Apalagi kalau sudah mandi! Ya, kan Kak?" Kak Anta berkacak pinggang, sambil menggelengkan kepalanya pelan. Penuh kebanggaan.
"Papa---"
Suara Rania barusan lantas menyadarkan Kak Anta. Hingga membuatnya kembali fokus pada Kamera. Selagi mereka mengobrol, ku kecilkan api kompor dan menyambut si kembar, mengarahkan mereka ke wastafel untuk membasuh muka.
"Ya, Kak?"
"Di mata Papa ada kotoran." Jawab Rania.
Oh, betapa malunya Kak Anta....
...****************...
Halo zeyeng... ini author
Hehe... Terima kasih untuk antusiasme kalian atas Cerita keluarga Kak Anta dan Kania. Dari yang awalnya ga ada cinta sampai jadi super cinta, dari yang banyak luka sampai penuh bahagia. Dari Kak Anta yang dingin, sekarang jadi Papa Anta yang super kyuttt (づ ̄ ³ ̄)づ
Author mohon maaf karena Bonus Chapternya tidak update rutin, Author benar-benar fokus ke Om Gondrong belakangan ini... Jadi sedikit menunda Bonus Chapter Kak Anta! Maafin ya!
Ga sabar nunggu tuh bocil tiga gede! Rania yang dewasa, Angkasa yang dingin, Samudera yang lembut. AAAKKKK bocil kita kalau besar bakal jadi apa ya?! ┌(┌^o^)┐
__ADS_1
Angkasa dan Samudera said : kita mau jadi tentara thor!