
"Mari berpisah, kak."
Dengan hati-hati dan agak gemetar, ku ambil keputusan yang begitu menyakitkan. Hatiku hancur sekali rasanya. Sementara Kak Anta segera memutar badan setelah mendengar permintaanku itu.
"Kamu bicara apa Kania? kenapa kamu suka memperkeruh keadaan? ini sudah malam, aku lelah bekerja seharian. Lagi pula kamu juga yang mengizinkan bertemu dengan Isma, aku pergi menemuinya asal bersama denganmu. Memangnya tidak cukup?" tanyanya.
Wajahnya yang selalu tenang dan syahdu, kini begitu menyala-nyala tepat pada saat itu mataku telah penuh genangan manik air. Aku yang sulit menahan kesedihanku dan mulai kembali bicara.
"Tidak cukup untuk kakak. Pilih aku atau Mbak Isma? Tidak bisa menjawab pertanyaanku kan?" seruku.
"Tidak penting! Kamu selalu berpikir berlebihan!"
"Penting! ini menyangkut perasaanku sebagai Istri kakak."
"Aku hanya membantu Isma dan keluarganya. Mereka sedang butuh bantuan ku!"
Demikianlah dia menjawab.
Sedangkan matanya melirik mataku, seperti tengah memberi isyarat bahwa dia akan terus di samping Mbak Isma, mantan kekasihnya. Mendampinginya sampai hidupnya berakhir.
Sayang, hidupnya begitu panjang dan kelabu, sementara hubungannya telah bercabang dengan gadis lain, aku. Ku dekati dia dengan berlinang air mata, berdiri di depannya, bertahan sekuat tenaga.
Ketika kudengar bunyi jam, baru aku sadar, aku bukanlah wanita yang dikehendaki dalam hidupnya. Cinta dan hatinya telah dimiliki wanita lain, Mbak Isma, Yang segalanya jauh berada di atasku.
"Kalau Mbak Isma butuh perhatian dan kasih sayang dari Kak Anta, Kakak mau nikahin Mbak Isma? sama seperti kakak nikahin aku." Ku tatap matanya meski pandanganku mengabur karena air mata.
Tapi, pikirku, kenapa aku mesti merasa rendah? bukankah itu sama saja menjatuhkan diriku sendiri? bukankah itu justru membuatku semakin terpuruk, karena di sesaki berbagai harapan dan kenyataan yang mustahil, bagai gelembung sabun yang terbang menuju awan...
Sayangnya hati tidak sesederhana pikiran. Hatiku terlalu kompleks, terutama untuk menerima realitas yang jauh melambung di atas ekspektasi. Pipiku terasa hangat saat manik bening itu terus mengalir.
"Kalau masih cinta dengan Mbak Isma, kenapa mau menikahi aku? karena kasihan?" Kataku, sambil menunjuk dada kirinya.
"Kania kita itu menikah----"
"Kita nikah tanpa cinta." Sergahku, bahkan sebelum Kak Anta menyelesaikan ucapannya.
"Kakak lupa, ya? waktu itu aku masih cinta dengan Petra, dan kakak? kakak masih cinta dengan Mbak Isma. Bahkan sampai sekarang!!!"
"Waktu kakak do'a, kakak lagi Do'akan Mbak Isma kan?" Sambung ku.
Dengan berat hati, perlahan-lahan aku mengevaluasi kembali bagaimana perjalanan pernikahan kami. Berusaha menatapnya dengan keadaan begini, sungguh tersiksa.
__ADS_1
Dengan mata berkaca-kaca, Kak Anta berkata; "Iya, aku Do'akan Isma."
Dia menundukkan kepalanya dariku. Mungkinkah dia menangis untuk Mbak Isma?
Kak Anta, kini kamu telah menyakitiku secara sempurna, cintamu menusuk jantungku, masuk ke dalam relung yang paling dalam di hatiku, merusak hidupku.
Kak Anta kurang apalagi aku untukmu, sampai kamu anggap aku begini, aku terluka namun di pikiranmu hanya tentang Mbak Isma.
Harusnya kau tahu betapa hidupku Sakit dan ku terluka karena hatimu. Rusaklah semua harapanku dan lalu kamu pergi terbang jauh hilang, membawa cintaku demi Mantan kekasih...
"Jadi, kakak Do'akan orang lain, wanita lain, di kamar kita?" Kataku dengan nada gemetar.
Dia membisu menatapku, hingga saat ku seka air mata, barulah dia bicara; "Aku minta maaf,"
"Untuk saat ini aku memang belum bisa melupakan Isma sepenuhnya dan aku pun belum bisa mengabaikan dia, karena Isma butuh aku."
Kucium derita hatiku. Sakit yang tertahan dalam diriku perlahan-lahan mengabur oleh kata-katanya yang hadir mengawang di telingaku. Suaranya mengambang di udara, menggetar di sekeliling telingaku. Sementara mataku menerawang jauh, menembus kegelapan malam yang kelabu, dengan bintang mungil berserakan bagaikan mutiara yang mustahil untuk dipetik.
"Kamu tidak akan bisa lepas dari Mbak Isma, Kak." Perlahan aku menjauh darinya, membawa semua derita yang ku dapat.
"Jadi lebih baik, aku yang lepaskan kakak."
Hanya kesakitan, semua perlakuan baik, kasih sayang dan perhatian yang dia berikan tak ayal bukanlah suatu bentuk tanda bahwa dia mencintaiku. Atau mungkin berusaha untuk mencintaiku...
"Aku akan pergi dari rumah ini, untuk kebahagiaan kakak."
"Kania, aku mohon." ucapnya setelah meraih tanganku.
"Untuk apa lagi? saling menyakiti? pernikahan kita hanya saling menyakiti. Kakak terluka karena terpaksa melepaskan cinta sejati, sedangkan aku terluka karena mencintai seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya."
Dia menatapku, jauh lebih dalam. Dan aku balik menatapnya, tapi dengan mimik dingin, untuk melihat reaksinya.
"Maksudmu, kamu mencintai aku?" Tanyanya padaku.
Sambil menyeka air mata, aku menjawabnya dengan sorot tajam, agar menyentuh ke relung hatinya.
"Kakak tak akan percaya bahwa aku akan mencintai kak Anta, kan? tapi aku melakukannya."
"Aku mencintai Kakak!" tegas ku.
"Aku sangat mencintai Kak Anta, hingga aku menuruti semua keinginan kakak. Termasuk segala sesuatu tentang Mbak Isma, aku selalu menuruti meski pun hatiku sakit."
__ADS_1
Tiba-tiba suasana di sekeliling kami jadi hening. hanya ada denting jarum jam di tengah malam yang menemani. Sementara, Kak Anta masih mematung.
"Jika kakak tak bisa memilih, maka aku memahami bahwa cinta kalian memang seharusnya bersatu. Aku akan pergi dari sini dan kembali ke desa."
Ku sentak tangannya dari tanganku, kemudian melanjutkan, "Kita bisa hidup terpisah, akan ku besarkan bayi ini sendiri. Aku akan mengisi hari-hari ku dan bertahan hidup."
"Sendirian. Akan ku lakukan semuanya sendirian." ucapku diplomatis. Dan di depanku, dia masih membisu.
"Tapi, pertama-tama katakan bahwa kakak akan menceraikan aku!" kataku.
"Kakak harus memberitahuku, bahwa aku sungguh sendirian di dunia ini. Dan kakak akan melepaskan statusku sebagai istri."
Dia yang mulai kalang kabut, menatap sekeliling nanar. Seakan masih tak percaya dengan semua ucapanku padanya, dengan semua kenyataan yang menyadarkan kami saat ini.
"Aku memang tak waras Kania. Aku menikahi seorang gadis untuk membahagiakannya, tapi malah membuatnya sakit. Aku tak tahu aku ini apa? duniaku berputar 3 kali lebih cepat, sampai aku tak tahu aku ada di mana?" ucapnya.
"Katakan bahwa kakak menceraikan aku! dan aku akan pergi dari sini!" Tegas ku kembali.
"Kamu tak mau lagi hidup bersamaku?"
"Kak!" Aku menaikkan nada bicara, sesaat setelah dia menanyakan satu pertanyaan yang menurut ku terkesan konyol.
"Aku akan menemanimu di antara langit dan bumi, akan ku beritahu kakak di mana. Tapi katakan bahwa kamu mampu membuka mata!" Sambung ku.
"Kakak bahkan tak bisa memilih antara aku atau Mbak Isma, itu semua karena kakak menutup mata dan enggan melepas masa lalu. Karena itu... Ceraikan aku dan kita hidup terpisah!"
"Aku pilih kamu!!!" Tegasnya, "Oke? Aku pilih kamu!"
Mataku membulat mendengar jawaban darinya. Apa yang baru dia katakan masih jelas di telingaku. Aku mencoba meragukannya, tapi kalimat itu hidup lagi. Ku tatap dia tajam, untuk memastikan bahwa dia tidak main-main dengan kata-katanya.
"Tidak, Mbak Isma adalah pemenangnya, ceraikan aku!"
"Aku pilih kamu! aku sudah mengatakan jika sudah denganmu, maka selamanya akan denganmu!"
"Selamanya denganku? tapi hati masih terbelenggu dengan masa lalu?"
Malam terasa kian sunyi. Ada sebutir bintang yang menyendiri, Tiba-tiba aku mendapati Kak Anta memelukku erat dan aku tenggelam dalam rengkuhan dadanya. Degup jantungnya begitu cepat bagai seseorang yang tengah berlomba dalam pacuan kuda. Dia mendekatkan rahangnya di telinga ku, kemudian berbisik:
"Beri aku waktu! Paling tidak sampai anak ini lahir. Aku akan berusaha menumbuhkan cinta untukmu. Dan jika sampai delapan bulan ke depan Aku masih belum bisa melupakan Isma, Aku berjanji akan menuruti kehendak mu! kita bisa berpisah."
Aku tahu cara berbisik, dan aku tahu caranya menangis. Aku tahu tempat mencari jawaban, dan aku tahu cara berbohong. Aku tahu cara menghadapi kenyataan dan aku tahu kapan harus bermimpi. Aku tahu kapan harus mendekap mu lebih erat, dan aku tahu kapan harus memberimu kelonggaran. Aku tahu malam semakin larut dan aku tahu waktu akan berlalu.
__ADS_1
Dan aku takkan mengatakan padamu segala yang harus ku katakan padamu. Namun, aku tahu aku harus mencobanya.
Malam menemaniku dalam kesedihan dan kesunyian....