I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 81 - Bulan Ke-Empat


__ADS_3

Bulan kelima kehamilan ku, aku mulai merasakan gejala


Hari demi hari ku lalui dan aku tidak melakukan bed rest; perbanyak istirahat begitu seperti saran dokter Rani, aku tetap melakukan kegiatan dengan aktivitas yang cukup padat, ya beres-beres seperti biasa. Terutama masak, aku tidak bisa biarkan Kak Anta masak lagi seperti kemarin-kemarin. Hingga pada suatu hari, Bulan keempat kehamilanku, aku bangun tidur dan terkaget-kaget melihat darah yang cukup banyak di kasur!


"Tuhan, darah apa ini?"


Aku langsung pegang perut khawatir keguguran. Rasanya campur aduk, antara sedih, merasa bersalah, merasa berdosa karena tidak bed rest dan menjaga, tapi juga kehamilan yang di luar rencana, ah pokoknya campur aduk lah! Nangis sampai sejadi-jadinya.


Kak Anta yang tidur di sampingku pun menyadari teriakan dan kecemasan ku saat ini langsung bangun.


"Kenapa?" tanyanya sambil menggosok mata.


"Aku keguguran kak!"


"Hah?!!!!"


Kak Anta pun lekas cari ponsel untuk telepon Dokter Rani atau Kak Rambo, berharap mungkin dokter Rani tidak pergi liburan kemana-mana, karena ini sudah masuk liburan akhir tahun. Syukurnya setelah dokter Rani angkat telepon, dia sedang ada di rumah dan punya alat USG terpisah dari yang di klinik. Mengingat keadaanku yang kupikir sudah gawat darurat, sedangkan jarak ke klinik bisa habis 30-40 menit. Tapi kalau ke rumahnya, hanya 15 menit saja.


Kak Anta jelas cemas, aku pun begitu. Berdebar hebat dada ini, kepikiran takut keguguran! takut sekali kalau yang ku khawatirkan sungguh kejadian.


Kak Anta pun segera memanaskan mesin mobil selagi aku ganti pakaian, Rania kami titipkan sebentar ke Pak Omar dan Istrinya.


Begitu kami sampai di rumah Dokter Rani dan diperiksa,


"Syukurlah Kania, janinnya sehat tidak terjadi apa-apa. Tapi kamu jangan terlalu capek yaa, harus bed rest, dan Istirahat total." Ucap Dokter Rani kemudian.


Syukurlaaaah, akhirnya aku dan Kak Anta bisa bernafas lega padahal mata sudah bengkak.


"Eh-eh bentar-bentar Kania, kok ini jantungnya ada dua yang berdenyut?!" kata Dokter Rani lagi.

__ADS_1


"Maksudnya mbak?" Tanya Kak Anta kaget! sama seperti yang ku alami.


"Iya Anta Reza, ini artinya kembar! Ada 2 bayi, sebentar ku cek lagi, jenis kel4minnya apa," Dokter Rani mulai memainkan lagi alatnya, alat macam cobek yang ditempel ke perut itu, aku tak tahu namanya. "Anaknya laki-laki semua! Ya Tuhan,selamat ya kalian!"


Ya Tuhan! Ya Tuhan! Kami berdua Kak Anta yang tadinya nangis-nangis tiba-tiba dibuat senyum bahagia tidak keruan dalam hitungan menit. Sungguh Tuhan memang maha pembolak balik hati.


Yang paling mau ku lakukan setelah ini cuma taubat dan syukur. Ya Tuhan yang Maha Pemaaf, maafkanlah aku yang kurang bersyukur dititipi amanah ini, aku malah mikirin hal yang bersifat “duniawi” saja, kerja-kerja rumah, buat kue, bahkan beberapa bulan terakhir karena banyak warga yang menyukai roti buatanku, aku sampai terima pesanan roti dari mereka. Dan porsinya tidak sedikit, tapi sehari bisa 50-80 buah.


Eh tapi kalau di ingat-ingat, beberapa hari sebelumnya Rania suka gambar-gambar kami sekeluarga, termasuk adiknya yang masih dalam kandunganku, aku pun terheran-heran karena dia selalu menggambar coretan sampai lima dan bayinya (adiknya) dibuat ada dua. Aneh tapi nyata, mungkin Rania sendiri sudah merasakan kehadiran mereka.


Hikmah apa ini? Setelah aku sadari, ini adalah teguran yang indah dari Tuhan, Tuhan mengingatkan aku untuk lebih meluruskan niat lagi; sebetulnya amanahku sebagai ibu yang utama apa, tujuan aku hidup apa, aku mulai merintis usaha, aktualisasi diri untuk apa dan siapa, dan banyak intinya.


Setelah periksa, dan kami mengobrol-ngobrol sedikit. Suasana rumah dokter Rani yang di dominasi putih juga bunga lily putih kesukaan ku, benar-benar membuatku nyaman dan menikmatinya. Sayangnya, suami dokter Rani tidak ada di sini, beliau sedang kerja di luar negeri. Maklum, aku pun salut sekali dengan keluarga mereka bergelimang harta sekali. Kami pun pamit pulang.


Tapi, oh perasaan aneh macam apa ini? saat kami berada di luar, malas dan enggan sekali ku lihat mobil kak Anta. Mual!


"Mbak, kami pamit pulang dulu ya?! sungguh aku berterima kasih sekali dan maaf karena sudah merepotkan pagi-pagi begini."


"Jangan sungkan, aku senang sekali bisa mendampingi kehamilan dan kelahiran anak kalian berdua."


Kak Anta mengangguk pelan sambil tersenyum. Kemudian melirik ke arahku.


"Ayo kita pulang, pelan-pelan biar ku bantu." Ucap Kak Anta padaku.


"Aku tidak mau pulang!"


Mereka terdiam sambil memandangi ku penuh tanya. Apa yang terjadi padaku? mungkin itu yang mereka pikirkan setelah aku berkata begitu.


"Aku tidak mau pulang naik mobil itu kak." Lanjut ku sambil menunjuk mobil Kak Anta.

__ADS_1


"Loh kenapa? tadi kan kita naik mobil itu, kenapa sekarang tidak mau? Kalau tidak mau naik mobil itu, bagaimana kita pulang?" Jawab Kak Anta dengan nada yang sangat sopan, karena takut menyinggungku. Karena setiap hamil emosi ku sungguh tak karuan, sangat sensitif dan mudah ambil hati.


"Aku tidak mau naik mobil itu, tapi aku maunya naik mobil polisi!"


"Hah???"


"Iya. Aku mau pulang kalau naik mobil polisi." tegas ku.


"Sepertinya sekarang istrimu sedang ngidam. Coba kamu turutkan saja, kasihan nanti anak kalian." Timpal dokter Rani.


Karena aku tetap bersikukuh untuk naik mobil polisi, Kak Anta mau tidak mau cari jalan keluar yang pas. Mungkin dia pun sedikit tertekan karena agaknya aku sekarang sungguh tengah mengidam berat. Kak Anta akhirnya menghubungi sahabatnya Kak Rambo untuk pinjam dan bawa mobil dinas polisi ke sini.


"Aku mau dihidupkan sirinenya!" kataku setelah akhirnya Kak Rambo datang dengan mobil polisi yang ku idam-idamkan saat ini. Melihat mobil itu tiba, mataku berbinar ijo, serasa melihat uang 10 gepok.


"Aduh, si kembar permintaannya berat sekali. Pagi-pagi begini, hidupkan sirine yang keras itu ada peraturannya sayang. Tidak sembarangan."


"Tapi aku mau sirine nya hidup! keras-keras. Kalau tidak dituruti aku tidak tahu perasaan kesalnya bisa ku kendalikan atau tidak nanti." Jawabku sambil memandang kesana kemari, memperhatikan setiap detail yang ada di mobil polisi yang ku tumpangi ini.


Tak ada yang bisa dilakukan Kak Anta sekarang, selain menuruti kehendak ku. Mesin menyala dan sirine pun hidup keras, enak sekali aku mendengarnya, merdu dan membuatku sangat puas. Kak Anta yang menyetir, sedangkan Kak Rambo mengemudikan mobil kami di belakang.


Hari yang panjang dan tak bisa ditebak...


Sewaktu bed rest itu seperti dikasih waktu sama Tuhan untuk banyak berfikir dan merenung, introspeksi diri juga. Bersyukur dan ternyata, jauh sekali dari waktu hamil Rania. Makan tetap lahap, dikasih kesempatan bisa punya usaha sendiri lewat hobby yang baru terasah waktu menikah, yang artinya bisa punya uang dari penghasilan sendiri, bisa merawat suami dan anak tanpa bantuan pengasuh atau asisten rumah tangga, dan kerjaan juga tetap bisa dikerjakan.


Bedanya hamil anak kembar yang sekarang dengan hamil Rania adalah tidak tahu kenapa jadi rajin banting tulang hihi, mungkin ini bawaan anak laki-laki ya. Sebetulnya beda yang sangat terasa itu di usia kehamilanku sekarang. Perut hamil 4 bulan sudah seperti hamil 7 bulan! Besar! hihi


"Tuh kan! Kamu tuh suka takut dan tidak mau nurut. Padahal dokter Rani dan aku sudah berkali-kali ngomong, kamu itu harus banyak istirahat. Aku tidak halangi kamu buka usaha roti kok, tapi itu nanti, jangan sekarang. Kondisi kamu sekarang lebih mengkhawatirkan, hamil anak kembar tidak semudah hamil tunggal loh." Kata Kak Anta, sambil menjentik jidatku. "Jangan lagi bicara soal keguguran, aku takut sekali."


"Maaf kak, aku kalap. Aku usahakan untuk lebih dengar dan nurut apa yang kakak dan dokter Rani katakan."

__ADS_1


__ADS_2