I Love U! Suami Dadakan

I Love U! Suami Dadakan
BAB 44 - di Ujung Hidup dan Mati


__ADS_3

Melemas aku, begitu ku dengar ucapan Rambo yang menyampaikan kabar tentang Kak Anta. Anta Reza kecelakaan, di tabrak truk. Aku tak tahu harus apa dan bagaimana, Aku tersesat dan hilang arah bersama dengan seluruh energi dan kekuatanku yang melayang...


Kak Anta, aku menggumam; Setiap kali aku melihatmu, seluruh cahaya mentari seperti mengalir melalui gelombang di rambutmu. Dan setiap bintang di langit mengarah ke matamu seperti sebuah lampu sorot. Detak jantungku adalah sebuah genderang dahsyat yang tersesat, dan genderang itu sedang mencari irama yang sama seperti dirimu.


Kau bisa mengusir gelap dari lubang malam, dan mengubahnya menjadi lentera yang terus menyala terang. Aku harus mengikuti mu, karena segala yang ku tahu tak akan ada gunanya hingga ku berikan itu semua padamu.


Aku bisa membuat malam ini terasa selamanya, atau aku bisa membuatnya lenyap, saat menjelang fajar. Namun, aku tidak akan pernah bisa melakukannya jika tanpamu, Apakah kamu benar-benar ingin melihatku berantakan? Merangkak memohon agar kamu tetap di sisiku, dan mengizinkan aku tetap di sampingmu.


Karena aku takkan pernah bisa melakukannya seperti dirimu, memunculkan cinta dari hal-hal yang biasa-biasa saja, begitu sederhana.


Lantas tiba-tiba, dengan gerakan yang tak ku sadari, Rambo meraih kedua sisi pipiku menyadarkan aku. "Kania! aku tahu ini sulit untukmu, tapi saat ini Anta Reza butuh kamu! Cepat! kita harus ke rumah sakit sekarang."


Berangkatlah kami, Sepanjang jalan, di atas motor ku peluk erat-erat rompi Kak Anta meski air hujan memudarkan bercak darahnya, namun hawa Kak Anta.... Hanya itu yang bisa membuatku bergairah.


Begitu sampai, aku dan Rambo segera berlari dengan gontai. Ku coba untuk menepis pikiran buruk yang ada di benakku tentang Kondisi Kak Anta. Harapku, Dia tetap baik-baik saja bahkan lebih baik dari yang sering ku lihat di berita televisi. Namun sayang Prasangka buruk mengenai Kak Anta pun semakin kuat  merajai pikiranku.


Rambo berhenti di depan ruang bertuliskan ICU, di depan sana sudah ramai anggota kepolisian.


"Iptu Anta Reza masih dirawat di dalam, sopir truk sudah kami amankan." Seorang polisi bicara padaku begitu aku sampai.


Aku terdiam, tak memberi respon apa pun, dadaku sesak menahan isak yang berada di ujung tenggorok. Satu-satunya yang menyelamatkanku hanyalah rompinya yang basah, ku rengkuh dan berada dekat di jantungku.


"Sabar Kania, sabar ya. Kita berdoa supaya Anta Reza selamat, ya?!"


Rambo mengusap punggungku untuk menguatkan, meski sebenarnya aku pun tak merasakan dampak apa pun dari sentuhannya.


Aku segera berbalik dan memutar badan menuju jendela bening untuk menatap Kak Anta di dalam. Hanya bisa mematung di bibir jendela, Ku tatap semua orang yang berada di samping ranjang Kak Anta satu persatu. Beberapa orang dokter dan perawat. Lalu, Kak Anta? Aku hanya bisa melihat jemarinya yang menjuntai, lengkap dengan cincin kawin yang melingkar di jari manisnya. Kak Anta akan baik-baik saja, kan? Batinku menerka-nerka.


"Kania, Karunia... kamu harus kuat, Berdoa oke?" Rambo masih berada di belakangku, rupanya ia tidak jera untuk menguatkan kami.


"Kak..... Kak Anta!" Aku merintih.


Begitu ku dengan monitor di sampingnya bergaris hampir lurus, semua perawat menjauh, hanya tinggal satu dokter yang bersiap pakai alat mirip setrika. Ku lihat kondisi Kak Anta yang parah, wajahnya penuh luka, dan sekarang penglihatan ku jauh lebih baik.

__ADS_1


"I'm clear, you're clear, everybody's clear, shock!!"


Tubuh Kak Anta terguncang begitu alat itu menyentuh langsung di kulit bagian dadanya. Aku mematung, Buliran air bening itu terasa menghangat mengalir di wajahku. Aku mendekatkan pandangan ke arah Kak Anta yang tengah berjuang melawan mautnya, mataku membelalak tak percaya ketika alat itu kembali menyentuh permukaan dada Kak Anta untuk kedua kalinya.


Pasien yang berada di hadapanku ini adalah benar-benar Kak Anta, sosok Pria hebat, suami sekaligus calon ayah yang mau menjaga dan menerimaku.


Aku memang baru mengenal dia, dan aku sadari bahwa aku memang tak sehebat dia. Tapi, sejak pertemuan pertama ku dengannya, dari bantuan yang diberikannya padaku dan orang-orang disekitarnya, dia menjadi salah satu pria paling penting dalam hidupku. “kamu adalah kehendak ku, wujud dari keinginanku, dan tempatku beristirahat yang memberikan ketentraman dari penggambaran jiwa ku ini. Kamu adalah alasan aku harus merubah kepribadian ku; bagai hewan yang bermain terlalu bebas.”


"Kak Anta-----"


Sambil berdiri di depan jendela, memandangnya dari sela-sela gorden yang terbuka. Ku peluk erat rompinya, "Kak, kamu harus sehat. Rompi kebanggaan mu ada di sini. Aku tidak mau peluk rompi ini, aku mau peluk kamu." kataku dalam hati.


"Kak... " Kataku, begitu Rambo berdiri di sampingku, bersama dengan anggota polisi yang lain.


"Anta Reza itu laki-laki yang kuat, dia jauh lebih kuat dari yang bisa kamu duga. Jangan berhenti berdoa, dia sedang berjuang di dalam." katanya, membuat hatiku makin bergejolak.


Hingga tiba-tiba dari kejauhan, dari lorong yang lurus... seseorang memekik memanggil namaku dengan derap kaki yang kencang terburu-buru.


"Kania!"


"Apa yang terjadi? Mas Reza di mana?" katanya sambil memegang kedua bahuku begitu sampai.


"Kak Anta di dalam, Mbak. Masih ditangani dokter."


"Kenapa bisa separah itu, apa yang terjadi Kania?"


"Dia kecelakaan, di tumbur truk dari depan." Sergah Rambo.


Mendengar itu Mbak Isma melemas, persis seperti yang ku rasakan saat ku dengar ini pertama kali dari mulut Rambo.


"A-abah!! Mas Reza bah!" Dia berlabuh di pelukan ayahnya, "Emak!" Katanya menangis.


Sekitar satu jam lamanya, pintu ICU akhirnya terbuka, suster dan dokter segera ke luar. "Besok pagi saya akan mengambil tindakan operasi luka dalam di dada kanan. Karena itu, keluarganya kalau bisa temui saya secepatnya untuk tanda tangan surat. Untuk sekarang kondisi pasien Masih koma, tapi sudah boleh dijenguk. Satu-satu saja, kalau ada masalah tekan tombol di atas kepala ranjang."

__ADS_1


Mendengar itu semua, Aku memang merasa sedikit lebih tenang. Begitu dokter hendak beranjak pergi, aku bersiap untuk masuk, sebelum akhirnya pergi lagi ke ruangan dokter untuk urus berkas operasi Kak Anta.


"Kak," kataku sambil memandangi Rambo.


"Syukurlah Kania, cepat masuk! Anta Reza pasti cari kamu, walaupun belum sadar." jawabnya.


"Terima kasih, dokter." kata Mbak Isma, "Abah, aku masuk dulu."


Kami masuk berbarangan, sehingga mulai saling bertubrukan begitu sampai di bibir pintu.


"Kania," ucap Mbak Isma sambil melotot.


"Maaf mbak, boleh jenguk tapi nanti." kataku.


"Kamu ini apa-apaan sih! Mas Reza itu lagi koma, dia butuh aku, dan aku berhak untuk menjenguknya."


"Satu-satu Mbak," Jawabku mengulangi kata-kata dokter barusan.


"Makanya aku duluan! Mas Reza itu butuh wanita yang dia cintai, dan itu aku! bukan kamu." Dia menjawab dengan bahasa tubuh yang kurang sopan, menunjuk-nunjuk aku bagai tak ada lagi penghormatan darinya untukku "Kamu masih belum sadar, ya? Mas Reza kecelakaan itu karena kamu dan anak haram kamu ini! kalian itu pembawa sial!"


"Isma!" Pekik ayahnya.


Sementara tamparan dari tanganku melayang di pipinya yang mulus.


"Cukup, ya Mbak Isma!" Kataku dengan nada meninggi, tak tinggal ku mainkan pula telunjuk untuk melengkapi kemarahanku. "Beruntung aku masih menerima kamu di sini, aku tidak perduli siapa wanita yang dicintainya. Karena saat ini, akulah yang dinikahinya! dan sampai saat ini, aku masih menjadi istri sahnya, jadi aku yang lebih berhak."


Mbak Isma terdiam, sementara Rambo mendekat dari belakang.


"Sebaiknya kamu pulang! Kedatangan kamu di sini cuma buat gaduh. Lagi pula di saat gawat darurat begini, memang keluarganya lah yang patut menjaganya. Bukan kita, temannya."


"Aku ini kekasih Mas Reza!"


"Mantan, oke?!" sergah Rambo.

__ADS_1


Mbak Isma terdiam, agaknya kali ini dia menemukan kata yang tepat paling menyakiti hatinya. Dan kata itu keluar dari sahabat ku dan Kak Anta, Rambo.


"Kita pulang Isma! kamu buat Abah malu." Abah nya menarik tubuh Mbak Isma dari samping. Dia di geret laksana sapi yang mengamuk di pematang sawah, sementara dia meronta-ronta, ayah dan ibunya hanya diam dengan wajah seram namun sangat tegas.


__ADS_2