
Besoknya, sesampainya di tempat kerja. Aku segera mengganti pakaian dengan seragam klinik dokter Rani. Dokter Rani belum datang, mungkin karena hari masih pagi. Suasana hening kembali menguasai ku. Aku mengambil sapu, dan merapikan ruang kerja dokter Rani. Dari kisi-kisi jendela, angin pagi bertiup sepoi dan basah, mengusik tubuhku.
Ku ambil juga kemoceng dan lap untuk merapikan mejanya. Tapi, mataku tak bisa beralih, selain pada menatap tinggi ke arah cakrawala. Rasa semangat dan senang hampir membakar seluruh ragaku. Cuci piring, sapu lantai, mengepel, merapikan meja. Aku bisa menyelesaikannya jauh lebih cepat, dikutuk kesabaran yang tak mau dibendung.
Malam ini, makan malam bersama dengan Kak Anta. Setelah berpisah sekian waktu, akhirnya dia kembali ada di sampingku, bukan karena sebuah masalah yang seharusnya tak bisa di maklumi, atau sebuah kebohongan yang jauh lebih sentimentil. Sungguh semua telah diatur.
Aku melamun sambil senyum malu-malu, Di saat itulah tiba-tiba muncul dua telapak tangan dari belakangku dan menutup mataku dengan erat. Ku pegang telapak itu, lembut sekali. Ini pasti tangan perempuan. Dan milik siapa lagi kalau bukan milik Dokter Rani.....
"Hari ini cerah sekali, ya. Secerah wajah dan senyuman ibu hamil satu ini."
"Dokter?!" Kataku.
"Ada apa sih?! hari ini beda sekali, senyum terus. Ada hal yang mendebarkan, ya?"
Dia tersenyum, manis sekali. Mengenakan pakaian seperti yang ku saksikan dalam majalah fashion pakaian panjang. Rok tutunya manis sekali. Memang cocok untuknya yang cantik dan lembut. Rambutnya di kuncir setengah ke belakang, dan jepit kupu-kupunya yang masih berwarna ungu berkilauan. Aku terpesona...
"Begitulah dok," Aku berkata singkat, sekadar untuk mengalihkan perhatian dari kecantikannya yang memancar.
"Syukurlah, aku senang kalau lihat kamu bahagia begini. Makin cantik!" Katanya menggodaku sambil mencolek nakal ujung hidungku.
"Terima Kasih, dokter."
"Eh, rotinya ada lagi tidak?"
"Oh, ada. Hari ini aku buat banyak."
"Asyik! aku minta satu ya?!" Lanjutnya sambil menunggu aku mengambil kotak makan ku di depan.
"Ambil saja, sebanyak yang dokter mau."
Hari yang tentram, bahkan meskipun hujan deras telah datang. Sore ini, ketika jam pulang kerja Dokter Rani sudah bersiap untuk pulang sedangkan aku masih menengadah ke langit, berdiri di depan teras memandangi gumpalan awan dari tepian cakrawala yang kian mendekat, membentuk mendung tebal, dan hujan semakin deras. Tak ada yang bisa ku lakukan selain menikmati langit yang kian legam.
"Haduh! baru tadi pagi ku katakan hari ini cerah, tapi sorenya malah segelap ini. Hati-hati Kania, aku do'akan semoga rencana mu berjalan lancar. Suami mu kapan jemput?" tutur dokter Rani yang sudah berdiri di belakangku, dan memegang kedua sisi bahuku untuk membuatku terkejut
"Aku pulang sendiri Dok, tunggu hujan agak reda dulu baru pesan ojek online. Kalau naik taksi cuaca begini ongkosnya lebih mahal." Ucapku malu-malu.
"Duh, kamu ini. Jangan naik ojek! Aku akan pesankan taksi online untukmu. Sebentar lagi bakal sampai."
"Dokter, tidak perlu repot-repot."
__ADS_1
"Sudah, sekali-sekali. Aku senang melihat aura dirimu hari ini, bahagia, selalu senyum, dan berseri-seri."
Dia menatapku. Tersenyum. Dan aku balik menatapnya, dengan mata berbinar cocok dengan raut wajahnya yang sumringah.
"Sekali lagi terima kasih, Dokter Rani."
Dengan kebaikan yang mengalir deras, Dokter Rani meletakkan kembali ponselnya ke dalam tas dan kembali menerawang ke depan untuk mulai menantikan taksi yang sudah dia pesan. Membuatnya sangat sibuk, walau hanya sekadar untuk membantuku, sehingga membuatku terpaksa memendam pikiran tentang Kak Anta untuk sementara.
Dokter Rani tersenyum, dan kembali menatapku. "Taksinya sudah datang." Ucapnya sambil menunjuk ke depan, arah jalan raya.
Aku mengeluarkan Kotak makan berisi roti goreng dari dalam tas dan memberikannya ke dokter Rani. "Dok, aku tidak tahu bagaimana cara balas kebaikan dokter Rani. Tapi, sementara mungkin aku cuma bisa beri ini."
Setelah melambai ke arah Dokter Rani, aku meninggalkan klinik dan berlari kecil menuju taksi, seraya bertanya-tanya besok aku baiknya membuatkan bekal apalagi untuknya.
"Dah, Hati-hati di jalan." Katanya memekik.
...****************...
Sekitar tiga puluh menit kemudian berhentilah taksi di depan rumah. Begitu keluar dari taksi, pemandangan senja yang mulai gelap tampak begitu indah dan tenang, dengan langit yang masih basah. Sebab, dari tadi semesta mengamuk, seakan mengancam ku dengan kabar buruk.
Aku masuk ke dalam rumah dan segera mandi untuk bisa menyiapkan malam pertemuan yang sudah aku dan Kak Anta sepakati. Apakah dia juga menungguku di sana. Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia juga berdebar-debar dan berpura-pura tenang? Tapi, astaga rupanya jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Aku harus bergerak cepat! pikirku.
"Roti sudah,"
"Ayam goreng sudah, sayur bening juga sudah."
Ku absen satu persatu menu makan malam ini, perasaan kian berdebar dan kencang begitu semua persiapan telah siap. Rasanya jantungku mau copot. Tapi, ah, indahnya. Aku harus tetap tenang, tidak boleh gugup. Bukankah ini adalah waktu yang baik untuk kami mulai mencoba mencari solusi dan jalan keluar, bicara baik-baik; meski kenyataannya aku hanya bisa berpura-pura tenang dan berpura-pura gugup.
"Semoga malam ini jadi awal yang baik untuk kami."
Aku gugup, begitu gugup sampai berapa kali ku pandangi jarum jam di dinding. Kadang jarumnya terlihat berputar cepat, tapi kadang pula nampak berputar lambat.
"Kak Anta di mana, ya? coba ku telpon."
Kania, aku sudah izin. Sebentar lagi aku akan sampai. Salam sayang untukmu!
Baru hendak menelponnya, rupanya sudah ada pesan singkat. Syukurlah, rupanya dia akan datang sebentar lagi. Aku mulai nanar dan berdebar hebat, haruskah aku sedikit berdandan? atau haruskah aku berganti pakaian yang feminin, seperti permintaannya waktu dulu?
Malam begitu meraja dalam ketentraman. Hujan masih menderas, ada pula kilat-kilat kecil menerangi langit. Sempat pula beberapa kali lampu mati, sampai lilin pun berapa kali ku hidup dan matikan. Aku termenung, duduk lesu bertopang dagu, rasanya aku mulai bosan setelah beberapa jam menunggu.
__ADS_1
"Sudah dua jam lebih, tapi Kak Anta masih belum sampai ke rumah."
"Mungkin dia sedang mampir beli sesuatu. Atau mungkin masih mengobrol dengan rekannya di kantor?" pIkirku, meski agak kurang masuk akal untuk prasangka kedua.
Angin malam masuk, berkitaran di dalam ruangan yang kian menghitam, tubuhku rasanya menggigil oleh dinginnya yang menusuk, bisa jadi juga karena kelewat gugup. Ku ambil ponsel. Tapi, mataku tak lagi mampu untuk menatap layarnya. Rasa penat hampir memadamkan seluruh seleraku. Bergerak malas, dandanan pun mulai tidak rapi. Aku hanya bisa termenung di meja makan, memandangi hidangan yang mulai mendingin, dikutuk kesunyian yang mematikan.
"Sudah jam Sebelas. Masih belum datang."
Ku tuliskan pesan singkat untuknya, untuk memastikan.
Kak, sudah dimana? jadi kan pulang ke rumah? aku masih tunggu di meja makan.
"Apa Kak Anta ingkar lagi dengan janjinya?"
Memang ini bukan sekali ku rasakan, bukan sekali ku alami. Tapi aku tetap saja merasa resah dibuatnya, jangan buat aku begini! jangan buat ini terulang lagi. Aku tak ingin lagi disesaki prasangka buruk tentangmu, aku meyakini bahwa kamu memang mau berubah. Karena itu, aku akan setia menunggumu di sini, di rumah ini....
Aku tersadar dari lamunan, begitu ku dengar suara ketukan dari pintu depan. Tentu saja aku senang,
"Kak Anta?! Dia datang!" wajahku yang sendu langsung berbinar dan segera bangkit dari kursi.
"Selamat datang Kak An---" Kataku menggantung, begitu ku buka pintu depan rumah. Namun sayangnya yang ku temui bukanlah sosok Kak Anta, melainkan sahabat karibnya.
"Kak Rambo?"
Aku agak heran melihat penampilannya yang berantakan, air menetes dari rambutnya yang panjang. Semua basah, dari ujung ke ujung. Memang dia sering melawan hujan, hanya saja entah mengapa malam ini nampak lain. Dilihat dari caranya menatap, dia menatapku dengan tatapan tak biasa, matanya lesu tak berbinar dan semangat seperti biasanya,
"Ada apa? tumben sekali malam malam ke sini." Kataku.
Lantas dia berbalik, mengambil sesuatu yang dia sembunyikan dari balik badannya. "Kania, ini."
"Ini-----" Aku mengambil benda itu dari tangannya,
"Rompi Polisi, punya siapa?" mataku melebar begitu ku lihat banyaknya bercak darah di sana. Namun, Rambo membisu, terdiam kaku.
"Ini, Rompi Kak Anta?" Kataku mulai bergetar,
Ku hela nafas panjang, dengan mata yang mulai berair. "Kak Anta di mana?"
Namun dia masih diam, diam bagai patung. Dia enggan menatapku, namun aku tahu ada yang dia pendam. Sesuatu yang sulit dia sampaikan. Karena itu, ku raih kerah kausnya dan ku tatap dia tajam. "Kak, jangan diam saja! Katakan padaku Kak Anta di mana?"
__ADS_1
"Dia baik-baik saja, kan?"
"Kania, Anta Reza kecelakaan di tabrak truk rem blong di pertigaan. Dia sekarang di ICU.... "